
Pagi hari seperti biasa nya Afar akan meminum kopi di teras rumah sambil menikmati bunga. Ada panggilan masuk dari seseorang.
"Tumben telpon"
Gumam Afar.
"Selamat pagi mas!"
"Hari ini Arin akan bekerja di restoran bintang lima ku, jadi jangan khawatir jika dia pulang telat"
"Oh, baik mas"
Klik.
"Eh, lelaki tua ini selalu seperti ini"
Afar juga tidak keberatan dengan kerjaan yang Rindi sukai, jika dia mengikuti kakak kandung dari istri nya itu.
Rindi juga sudah dianggap sebagai Putri lelaki tua itu karena dia tidak memiliki keturunan.
Afar segera pergi sarapan, dia hari ini agak siang bekerja karena perusahaan sepi tender. Rindi turun dari lantai atas menuju meja makan dengan pakaian rapih. Melina tertawa geli melihat dandanan yang Rindi kenakan.
"Rapih amat non?"
Ucap Melina meledek anak tiri nya.
"Selamat pagi mah"
Afar melihat itu, mata membulat karena setelah di make up sedikit saja Rindi seperti mendiang istri nya.
'Aku kira kau hadir untuk mengunjungi ku, namun nyata nya itu anak mu!'
Gumam Afar dalam hati, sejenak jantung nya berdetak kencang karena melihat orang yang sudah tiada hidup kembali. Melina juga melihat ekspresi Afar itu sebentar, dia tersenyum devil.
Mereka makan dengan tenang, namun tiba- tiba Lisa datang dan tertawa geli melihat dandanan yang Rindi kenakan.
"Apa tidak bisa kau diam dan sarapan saja?"
Lisa jadi kicep mendengar suara sang papah.
"Arin akan bekerja di sebuah restoran bintang lima, apa salah nya berdandan dengan pakaian seperti itu?"
"Oh pelayan resto doang"
Ucap Lisa acuh.
Rindi hanya tersenyum, sambil menyuapkan roti kedalam mulut nya. Sekarang rumah tidak pernah gaduh lagi, Afar merasa ada yang hilang. Dulu Afar mengira jika Rindi selama nya akan manja pada diri nya.
"Pah, Arin berangkat dulu ya"
"Iya"
Hanya kata itu yang Afar bisa katakan, entah mengapa perasaan nya ada sedikit ketakutan dalam diri nya. Namun dia tepis semua ketakutan apa pun putri bungsu nya hanya gadis polos tidak mungkin melakukan trik apa pun.
__ADS_1
"Ada apa pah?"
Melina bertanya karena benci dengan pandangan suami nya itu, pandangan yang sama saat wanita yang merebut lelaki tercinta nya itu mati, maka pandangan itu lah yang Afar tunjukkan.
"Tidak mah, rumah kita sekarang benar-benar sepi tanpa pertengkaran anak-anak"
"Mereka kan sudah dewasa, memang nya mau anak-anak terus!"
Melina mengira suami nya iba tapi nyata nya lelaki itu masih rindu keramaian di rumah.
"Iya papah aneh"
"Tunggu kita punya cucu pah kalau begitu"
Rindi berjalan keluar gerbang, satpam rumah nya merasa aneh dengan pakaian nona kedua mereka ini.
Rindi akan memulai hidup baru, hidup yang tidak pernah bergantung lagi pada ayah nya tentu nya, dia akan membuka jalan takdir nya sendiri.
Flashback on.
5 hari lalu saat Rindi di kurung, dia terjaga di tengah malam karena melihat ada dua orang yang mengobrol di dekat tangga. Obrolan mereka begitu nyaring hingga sampai ke gudang atas.
"Mah, apa benar anak itu di kurung?"
"Tentu saja"
"Kok tidak ada suara menangis atau kesakitan ketika di pukul dan kelaparan saat malam?"
"Apa orang kan berubah ketika dewasa mah"
"Siapa tahu dia kan anak perempuan yang mati itu"
Mata Rindi terbelalak, jantung nya berdetak lebih cepat. Orang yang dibicarakan jelas adalah diri nya, namun kakak perempuan dan wanita yang mereka bahas adalah ibu nya.
'Jadi selama ini aku ank tiri dari mamah, dan adik seayah dengan kak Lisa'
Gumam Rindi dalam hati.
"Bener juga ya mah"
"Wanita itu kan getol banget pengen dinikahi sama papah mu, akhir nya hanya bisa nikah siri dan mati setelah melahirkan anak perempuan nya itu"
"Pelakor ya mah"
Lalu nampak nya mereka turun kebawah setelah beberapa saat. Kedua nya tersenyum, saat itu karena sudah memasang jebakan untuk mangsa mereka.
Namun seorang Rindi tidak bodoh, dia tahu persis sifat mereka. Jadi Rindi putuskan dia tidak bertanya apa pun pada siapa pun. Dia tidak akan mengambil umpan apa pun karena Rindi tidak ingin menanggung resiko dengan diri nya yang meledak-ledak.
'Aku sudah tahu sebagian cerita nya pantas mereka memperlakukan ku tidak wajar jadi ini alasan nya, aku harus mencari cerita keakuratan nya'
Gumam Rindi bertekad, mulai sekarang dia akan diam dan tidak terpancing apa pun oleh mereka yang memunculkan fitnah nanti nya.
Flashback off.
__ADS_1
Rindi sudah sampai di rumah sang paman sesuai dengan alamat yang paman nya berikan.
"Selamat pagi non Arin"
Seorang pelayan yang berusia sepuh, terlihat pelayan itu kaget melihat diri nya. Rindi tersenyum manis dan menyapa pelayan itu.
"Tuan besar sudah menunggu di dalam non"
"Terimakasih bi"
Rindi masuk, pelayan itu menunduk datang mengikuti Rindi di belakang nya.
"Tuan besar, nona sudah datang"
Lelaki yang rambut nya sudah memutih semua itu menoleh, dia juga nampak kaget namun itu hanya sekejap saja dan tergantikan dengan senyum hangat.
"Keponakan paman sudah datang, ayo kesini"
Sang paman menunjukan tempat ke taman belakang rumah nya, disana sudah ada guru yang akan mengajari nya tentang materi yang sama seperti di universitas.
"Ini pengajar mu"
"Halo, saya Arindi, panggil Arin atau Rindi"
"Hai saya tim pengajar mu"
"Baik lah, paman ke restoran dulu, bi tolong awasi Arin ya"
"Baik tuan"
"Buatkan dia makan siang, camilan juga makan malam, boleh istirahat dari jam 12 sampai jam 2 siang ya"
"Baik tuan"
Sepeninggal sang paman ada bibi yang mengawasi diri nya dan beberapa bodyguard itu. Rindi diajari dengan telaten ilmu yang paman nya inginkan dia kuasai serta tata Krama makan, berjalan, elegan nya berpakaian dan bersikap dalam perjamuan.
Rindi juga diajarkan untuk pelatihan membela diri, karena dia sering pulang pergi sendirian. Rindi merasa lelah hari ini, dia mengabari Jika diri nya tidak bisa datang untuk mengejar Andra kepada lelaki itu.
"Lelah sekali bi"
Si bibi hanya tersenyum, tingkah nona muda persis seperti mamah kandung anak ini. Relatif manja, ceria dan penyayang.
"Istirahat dulu non, kalau sudah terbiasa juga nanti akan ketagihan"
"Iya sih bi"
"Bibi siapkan makan malam dulu"
"Iya bi, aku juga sudah laper banget nih, jadi nya tidak bisa mengejar pangeran tampan ku nih"
Bibi mendengar perkataan terakhir yang nona kecil nya itu ucapkan, dia segera mengirimkan pesan pada tuan besar nya untuk memeriksa pergaulan nona kecil nya itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1