
BUUKKK.......
Badan Andra ambruk menimpa meja yang ada dibelakang nya, nenek serta papah nya menengok dan langsung di papah beberapa orang, Roy dengan sigap mengambil air putih dan minyak angin.
"Minum dulu tuan"
Ujar Roy memberikan segelas air putih untuk tuan nya.
"Ada apa nak?"
Daddy Rei menghampiri putra nya yang langsung terduduk lemas dengan dibuka nya kotak dari brangkas milik Elian tersebut.
Flashback on.
Andra yang saat itu tinggal bersama Bu Amelia dan putri tunggal nya Saputri Alesa, atau yang kerap di panggil Alesa itu adalah gadis remaja yang cantik terpaut 7 tahun itu dengan nya.
Usaha dagang es di lampu merah, di sawah bahkan keliling sekolah sudah menumbuhkan hasil. Pada hal saat itu ibu Amelia sudah memiliki toko yang cukup berkembang.
"Dek"
Alesa menempuh lelaki kecil yang sedang duduk di bawah pohon, lelaki berusia 5 tahun namun tinggi nya setara dengan bocah kecil berusia 8 tahun di desa itu, adik kecil lelaki nya yang tampan dan imut itu sangat dia sayangi.
Andra menengok ke arah tepukan bahu itu.
"Akak"
Ucap nya cedal.
"Lihat tabungan kakak sangat banyak, kakak mau belikan ibu emas"
Andra kecil mengangguk.
"Beli emas....Beli emas!"
Sorak nya pada hal saat itu dia tidak tahu benda bernama "emas" itu.
"3 bulan lagi ulang tahun ibu kita dek, ayok kita beli"
Keadaan saat itu masih siang, anak gadis remaja dan bocah lelaki kecil itu berjalan menuju pasar yang hampir sepi. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah toko besar, banyak benda berkilau.
"Wah emas akak?"
Andra menunjuk sambil bertepuk tangan sementara gadis remaja di sebelah nya tersenyum mengangguk gembira.
"Dek diam dulu kakak mau tanya dulu sama penjual nya ya"
Andra mengangguk sambil memperhatikan satu persatu benda-benda berkilau.
"Akak nanti adek ketemu Oma akak adek kasih satu"
Sambil menunjuk kalung besar yang ada dalam kaca itu, meski Alesa tidak mengerti tapi gadis itu mengangguk.
"Baik lah"
Mengelus kepala kecil itu yang tersenyum dengan tampan.
Petugas toko datang menghampiri kedua bocah itu yang tinggi nya tak terlalu tinggi.
__ADS_1
"Ada apa dek?"
Petugas toko memperhatikan jika kedua anak itu bukan pengemis karena baju mereka hanya usang saja.
"Mba saya punya uang, mau beli emas untuk kado ibu saya yang akan berulang tahun 3 bulan lagi, tolong hitung uang saya bisa beli emas berapa gram ya mba?"
Meski Alesa baru kelas 1 SMP tapi dia pintar berbicara dengan sopan dengan orang lain.
"Kau pintar sekali dek, sebentar mba panggil teman mba ya buat hitung uang kamu"
Alesa dan Andra mengangguk mereka saling melihat dengan tersenyum. Hampir 1 jam mba penunggu toko mas menghitung uang mereka dan menentukan harga emas itu.
"Adek mau emas muda atau mas mahal dek?"
"Memang apa beda nya mba?"
"Mas muda itu mas yang gampang pudar warna nya, kalau di jual ke toko lain harga nya lebih murah"
"Bagaimana kalau mas yang mahal?"
"Mas mahal itu emas yang karat nya lebih besar, tidak pudar dan harga nya relatif naik jika di jual di toko mana pun"
Mereka berdua mengangguk saling berpandangan satu sama lain.
"Kami sepakat membeli kalung warna putih saja mba"
"Oh baik lah kalau kalung warna putih adek bisa mendapatkan 10 gram emas putih ini"
Mulut Alesa dan Andra terbuka mereka senang sekali dan penunggu toko mas juga tersenyum karena kedua anak yang lucu itu.
"Bagaimana dek?"
"Baik tunggu mba buat kuitansi nya ya"
Menunggu selama 10 menit akhir nya selesai surat emas yang dibuatkan itu.
"Ini dek emas nya karena adek sangat berbakti pada orang tua maka bisa mengatakan memberikan kotak cantik ini secara gratis pada adek berdua"
"Wah terimakasih mba"
"Ini juga sepasang payung ya"
"Wah terimakasih lagi mba"
"Sama-sama dek"
mereka berdua berjalan menuju rumah dengan bahagia.
"Dek kita kasih saat hari ulang tahun ibu saja ya"
"Aku setuju kak"
Kotak bludru dengan warna ungu cantik itu, Alesa simpan dalam kantong nya karena sangat kecil maka gadis remaja itu membawa nya setiap saat.
"Kalau kita punya uang lagi kita beli cincin ya dek buat kita berdua"
"Beli cincin.... beli cincin"
__ADS_1
Seraya Andra mengangguk, Alesa mengelus sayang adik lelaki nya. Dia sangat bersyukur diberi adik lelaki meski bukan ibu nya yang melahirkan.
"Kakak mau beli baju yang bagus dek"
Andra juga mengangguk, kakak nya memilih dress merah tanpa lengan untuk dikenakan di hari ulang tahun ibu nya, serta Alesa membelikan kemeja berwarna biru yaitu warna kesukaan adik nya.
"Lihat kau tampan sekali dek"
"Ya....ya tampan sekali"
Andra kecil begitu bersuka cita mendapat baju itu.
"Ayo kita pulang ini sudah sore dek"
Andra mengangguk seraya menggandeng kakak nya itu.
Kejadian itu siang hari sebelum toko ibu Amelia dibakar habis sesudah di rampok sebulan lalu.
Flashback off.
Andra menggenggam gelas yang Roy berikan untung gelas itu elastis jadi tidak pecah yang bisa melukai telapak tangan Andra.
Andra menceritakan kisah nya bahkan Novan dan Anita pun mendengarnya namun saat ini mereka dalam misi rahasia.
"Kalian foto dan bawa juga semua isi brangkas nya"
Perintah Rei pada kedua asisten kepercayaan anak nya.
Kini Novan dan Anita segera menggeledah ruangan itu kembali ditemukan obat-obatan di rak lemari yang tersusun rapi. Obat itu di foto dan ambil beberapa botol dari setiap jenis obat untuk diteliti.
Waktu 1 jam untuk membersihkan 3 lantai pun sudah selesai kini tinggal 1 jam acara akan di mulai. Novan melihat anak buah dari pesaing pengawal rahasia nya.
'Mereka cukup banyak rupa nya'
Novan hanya berlagak seperti pelayan biasa saja, disana juga ada musuh bebuyutan nya yang menyandang senjata.
"Masuk markas segera"
Novan dan Anita menyelinap masuk ke markas mereka.
"Mana hasil penyelidikan kalian?"
"Ini tuan"
Novan memberikan pada Roy, lelaki itu segera menguji obat yang Novan dapatkan dari rak itu.
"Memang itu obat apa?"
"Ini obat semacam halusinasi yang menyebar di otak, korban nya akan tertidur seperti orang koma kelihatan nya, pada hal korban sedang terkena obat halusinasi, obat ini hanya diberikan tiap 6 bulan sekali dengan dosis 3 tetes untuk bisa membuat korban koma selama 2 tahun"
Rei kaget dia teringat istri nya apakah ini ulah dari Elian lagi.
"Lalu yang 3 berikut nya itu apa?"
"Ini obat penawar nya tuan, beruntung Novan membawa semua obat itu yang masih bersih karena di pindahkan wadah nya kalau tidak wadah nya sudah mulai di cemari oleh virus karena mungkin pemilik nya ingin obat penawar ini musnah"
Rei mengangguk perlahan mendengarkan penjelasan dari Roy.
__ADS_1
BERSAMBUNG.