TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.223


__ADS_3

Rei telah menyelesaikan serangkaian perhelatan Akbar pernikahan nya. Dia juga mengadakan jumpa pers untuk mengkonfirmasi tentang pernikahan nya yang kedua ini, meski semua orang terkejut namun inilah kenyataan nya. Rei seorang duda yang menikahi seorang wanita lajang. Tidak ada yang janggal dengan pemberitaan itu, berita eksklusif itu sampai di tanyangkan ke seluruh media dunia karena lelaki muda itu sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dua tahun belakangan.


"Ayo sayang cepat tidur"


Seorang wanita 23 tahun itu sedang mengejar seorang balita yang baru menginjak usia 2 tahun itu. Namun balita lelaki yang menggemaskan itu terus berlarian kesana kemari.


"Ya sudah mamah tinggal tidur ya"


Lelaki kecil yang tampan itu, Arvino nigham Mid menganggukkan kepala nya seraya tersenyum manis.


"Sudah nakal ya kamu"


Sang mamah berbicara sambil berkacak pinggang pada buah hati nya. Tapi bukan nya takut Vino malah tertawa terbahak-bahak.


"Ya sudah lah........."


Min sedikit kesal pada anak lelaki tunggal nya itu.


"Ada apa ini? sudah malam, Vino masih belum tidur ya"


Ayas lelaki kecil berusia 2 tahun itu menggelengkan kepala nya.


"Mau tidur sama Oma?"


Kembali Avin menggelengkan kepala nya.


"Kalau begitu tidur ya cucu Oma yang tampan"


Oma Mandy mendekati cucu kecil nakal nya seraya menggelitik hingga lelaki kecil itu kegelian dan tertawa nyaring.


Avin memberikan dua robot baru yang ingin dia mainkan bersama mamah nya atau Oma nya.


"Masih mau main? ini sudah malam loh dek"


Avin nampak terdiam lesu, anak itu ingin bermain dengan puas namun harus tidur karena malam pada hal dia menunggu semua orang pulang untuk bermain dengan nya.


"Ayo tidur, besok kita ke pantai oke"


Avin mengangguk dengan cepat, Min segera membopong tubuh kecil itu untuk segera pergi ke ranjang mereka. Nyonya Mandy memandang kedua ibu dan anak itu.


"Anak yang malang, semoga nasib baik menemani mu"


Gumam nyonya Mandy karena melihat nasib Min yang agak kacau dalam usia muda nya.


Tepat tengah malam bayi kecil yang sudah menemani tidur nya selama dua tahun kini sudah terlelap meski botol susu masih dia sedot isi nya.


Avin dari dalam kandungan hingga berusia dua tahun tidak pernah menyusahkan nya. Min bermaksud menyekolahkan nya ke play group, meski anak semata wayang nya itu belum bisa berbicara dengan panjang lebar.


Min tersenyum, lantas dia bangkit untuk mengambil laptop nya melihat jadwal pemotretan juga jadwal syuting iklan ternama nya dalam Minggu ini.


"Padat sekali, hanya bisa dua jam saja menemani si tampan"


Min mengusap kepala anak nya, dan menciumi nya tersedot bau minyak telon ke rongga hidung nya. Bau yang selalu dia rindukan kapan pun, baik senang atau pun sedih nya Min. Avin seolah jimat hidup yang selalu harus membuat diri nya semangat.

__ADS_1


Drrtt .....ddrrtt.....drrtt.


Ponsel Min bergetar menandakan seseorang sedang memanggil diri nya. Min lekas melihat layar ponsel canggih nya, disana tertera nama lelaki yang sudah menemani diri nya selama dua tahun ini, siapa lagi jika bukan Andreas.


"Iya"


"Apa kau ada waktu?"


"Kapan?"


"Besok"


"Baik lah kita bertemu setelah aku mengantarkan Arvino"


"Baik, aku menunggu mu"


Saluran ponsel dimatikan oleh Min, dia segera membaringkan tubuh nya diatas ranjang bersama bayi mungil yang baru berusia dua tahun itu.


Keesokan hari nya Min sudah memandikan anak lelaki nya, menyapukan telon juga bedak yang wangi serta mengenakan seragam dan tas di punggung anak nya itu.


"Ayo sayang hari ini kita ke sekolah"


Arvino atau yang sering disapa Avin itu mengangguk sambil menggandeng tangan sang mamah.


"Kalian sudah mau berangkat ya?"


Nyonya Mandy Mid datang menghampiri cucu lelaki tampan nya juga anak perempuan nya itu.


Arvino seolah mengerti jika dia di cium oleh orang maka wangi bedak serta telon nya akan hilang. Maka dari itu dia menolak ciuman yang akn mendarat di pipi mulus nya dari sang Oma.


"Loh kok Oma tidak boleh kiss?"


Arvino menggelengkan kepala nya.


"Kenapa Oma tidak boleh kiss?"


Ucap Min pada anak lelaki kecil nya.


"Nanti Avin tidak wangi lagi mamah"


Bocah itu berbicara dengan masih cedal dan terbata-bata pengucapan nya.


Tidak hanya Min bahkan nyonya Mandy pun tertawa dibuat nya, perkataan Arvino bukan penolakan tapi kelucuan serta keimutan yang membuat mereka semakin gemas pada nya.


"Apa anak mamah sudah besar?"


Arvino mengangguk, dia tersenyum dengan tampan dan itu sedikit mengingatkan Min akan dia yang tak pernah dia sebut apa lagi kenang.


Mereka sekarang menuju ke meja makan untuk menyantap santap pagi nya untuk mengawali aktifitas mereka.


"Nak"


"Iya mom"

__ADS_1


"Mom denger dari Andreas kau sudah menjadi model sukses, karena kinerja mu yang sangat baik pada setiap kontrak yang kau jalani, maka banyak sekali perusahaan yang membutuhkan diri mu untuk produk perusaan mereka, selamat ya"


Nyonya Mandy mengelus tangan halus Min.


"Terimakasih mah"


"Jangan lupa luangkan waktu untuk jagoan kecil mu itu"


"Iya mah, pasti"


Min mengelus rambut hitam.legap sang anak yang nampak lahap memakan sarapan nya berupa bubur Tim dengan daging nya.


Min mengelap mulut kecil yang baru saja menghabiskan bubur Tim nya. Menurunkan nya dari kursi, lalu menggandeng nya untuk menuju mobil yang terparkir dihalaman.


Tak berapa lama Min sudah sampai di paud anak nya.


"Jangan nakal, lindungi diri, tidak boleh cengeng, harus belajar dengan rajin"


"Oke bos"


Si kecil Arvino kini mengatupkan tangan nya pada kepala membentuk orang hormat pada upacara bendera. Min tersenyum lantas mengelus kepala putra semata wayang nya itu.


Setelah melihat dan memastikan sang anak masuk ke kelas nya, Min segera melajukan mobil nya untuk ke sebuah restoran menemui Andreas.


"Sudah datang?"


Andreas berdiri menggeser kan kursi duduk untuk Min.


"Kau perhatian sekali"


"Jika kau menjadi istri ku, maka aku akan sangat lebih perhatian"


"Gombal"


Andreas tersenyum, nyata nya diri nya tidak akan dapat masuk ke dalam hati wanita beranak satu ini. Wanita yang dia cintai sudah terlalu menderita oleh kaum nya wajar jika wanita itu membangun tembok tinggi untuk menghalangi jejak lelaki masuk kedalam hati nya.


"Jadi ada apa kau meminta bertemu?"


"Ini masalah pekerjaan"


"Bukan kah bisa di kantor, membicarakan nya sama saja bukan?"


Andreas terdiam, Min melihat muka lelaki itu yang sedang dalam kebimbangan.


"Ini bukan masalah biasa Min?"


"Masalah nya lebih serius kah?"


Andreas mengangguk membenarkan ucapan Min.


"Baik lah, aku mendengarkan"


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2