
Min kini sedang menikmati malam di negara kelahiran nya, masih sama seperti dua tahun delapan bulan lalu. Jalanan yang ramai, lagi dia berada di tempat ini kembali meski dengan status yang berbeda. Hari-hari di negara H, Min semakin baik, terlihat dengan lancar nya pemotretan tema outdoor ini.
"Terimakasih sudah bekerja sepanjang hari ini"
"Itu tugas kami nona, sampai bertemu besok pagi"
Perusahaan Rei memang menyediakan tim nya sendiri untuk mengatur agar iklan produk mereka lancar tanpa hambatan.
Min kembali ke resort dengan rasa lelah karena seharian bergulat dengan kamera, make up serta busana.
"Huh, lelah sekali"
"Nona air panas sudah disiapkan, silahkan mandi"
"Baik lah, terimakasih"
Min melangkah menuju kamar mandi dan berendam disana, agar badan nya kembali segar di pagi hari nanti.
Min selesai dengan berendam nya lantas menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh pelayan restoran. Min memakai pakaian kasual, dia turun ke pinggir pantai, bagaimana pun Min ingat dia pernah ke pantai saat masih mengandung bocah lelaki tersayang nya.
"Mommy jadi merindukan mu"
Min segera menghubungi ponsel sang Daddy di negara A.
"Ada apa nak?"
Nyonya Mandy yang menjawab nya.
"Mana Arvin mom"
"Dia baru saja tidur, bagaimana keadaan mu disana?"
"Aku baik"
"Hubungi juga Andreas sayang, dia khawatir, kadang dia juga mengantar Arvin ke sekolah"
"Iya mom"
"Ya sudah kamu cepet istirahat, jangan begadang jaga kesehatan"
"Iya mom, mom juga disana"
Min menutup panggilan ponsel nya lantas segera beranjak menuju resort, dia naik ke lantai 6 resort itu. Min segera tidur agar pemotretan besok pagi dia fit kembali.
Sementara Rei sudah berada di perusahaan cabang D, di desa dimana dia pertama kali mengenal dan bertemu dengan Jasmin istri pertama nya. Tak dia pungkiri jika hotel dan jalanan ini dia rindukan, bahkan rumah kumuh yang menjadi rumah gadis itu dulu beberapa kali juga Rei kunjungi. Rumah itu sudah terlantar, beberapa kali diperbaiki dan dirawat seseorang atas perintah Rei.
Rumah itu sudah di jual mamah dari istri nya, pelayan yang Rei siapkan untuk mamah mertua nya sudah dipecat, dan sang mamah entah pergi kemana. Rei membeli rumah itu dengan harga lima kali lipat karena si penjual bersikeras tidak ingin menjual rumah nya.
"Tuan"
Seorang peronda malam menyapa Rei ketika dia lewat.
"Oh pak, sedang meronda ya?"
"Benar, kapan pulang kampung mas?"
"Baru dua hari lalu, pak"
"Wah tampak nya nambah sukses ya mas, bagaimana keadaan mamah dan Jasmin?"
"Oh, baik, mereka sangat baik"
"Oh begitu ya, syukur lah, mereka pantas bahagia"
Rei mengangguk tersenyum manis kepada para beberapa bapak peronda malam di desa itu.
"Kalau begitu kami permisi, mas"
"Silahkan"
Setelah sekelompok peronda itu pergi, Rei segera masuk ke halaman rumah. Tampak tak berbeda, namun terlihat kosong tanpa ada penghuni nya. Rei duduk di kursi yang tersedia di teras rumah, dia memandang gelap nya seolah sosok gadis belia tersenyum pada nya dari ribuan bintang yang bersinar malam itu.
__ADS_1
Rei menghela nafas panjang, sudah dua tahun kepergian gadis itu bahkan lebih. Rei sangat menyesal jika pertemuan nya dengan gadis itu kembali terulang maka dia tidak mungkin menyalahkan gadis itu, benar kata Herdan gadis itu sangat istimewa. Rei kembali masuk ke mobil nya meninggalkan rumah itu.
Sudah empat hari Rei sudah mulai menyelesaikan semua masalah cabang nya di desa itu mungkin tiga hari lagi dia akan segera kembali ke kota.
Drrtt.....drrtt......ddrrtt.
Rei melihat nama pemanggil itu, seperti nya nomor asing yang tak dikenal. Rei mengabaikan panggilan itu namun ponsel nya tanpa henti berdering hingga pagi.
Rei setelah mandi, mengangkat ponsel nya karena berisik.
"Siapa?"
"Hei bro, masih ingat aku kan?"
Dengan percaya diri seseorang diseberang sana, menampakan diri nya melalui panggilan video call.
"Siapa?"
"Oh aku tidak percaya kau sudah lupa dengan ku?"
Rei mengingat namun otak nya tidak memiliki memori dengan lelaki ini.
"Maaf aku tidak mengenal mu?"
"Ha....ha, tuan besar Aryandy kau sama sekali lupa ya?"
Deg.....deg.
Orang yang memanggil nya itu hanya satu dari sekian teman nya. Dia gelandangan yang pernah Rei tolong lalu bertemu orang tua angkat yang kaya raya hingga dia menjadi tuan muda yang disegani.
"Hei bocah tengik"
"Hanya dengan satu kata saja kau sudah mengenali ku tuan besar"
"Apa kabar mu?"
"Tentu saja aku semakin sukses karena pertolongan mu waktu itu"
"Kau serangan ada dimana?"
"Kebetulan aku juga sedang di desa yang sama dengan mu, maaf kemaren malam ku lihat mobil mu melintas ingin mengejar tapi sedang ada meeting"
"Kau licik sekali, bodoh"
"Hei, kau meremehkan ku, kalau kau berani temui aku di resto xxx sekarang"
"Aku banyak pekerjaan"
"Oh ya, seperti nya sudah jam 8 pagi kau belum keluar dari sangkar mu"
"Kau memantau ku tengik"
"Apa yang tidak bisa ku lakukan hah!"
"Tuan muda yang arogan"
"Tuan muda yang sok dingin"
Mereka saling memaki dengan kata-kata yang tak terbatas.
"Baik lah, aku tunggu kau menemui ku, kalau tidak datang akan ku jemput paksa"
"Berani nya kau jemput paksa aku!"
"Tentu saja"
Angga Reksa Utama adalah konglomerat yang baru mendirikan bisnis di desa itu tentu saja bisnis yang berbeda dengan milik Rei.
Dengan malas Rei turun ke lobi hotel, meski pun niat awal nya tiga hari kedepan untuk beristirahat.
"Bocah brengsek itu berani mengancam ku!"
__ADS_1
Rei mengendarai mobil nya dengan lamban meski perjalanan hanya 20 menit namun Rei menempuh nya menjadi 45 menit.
Setelah sampai Rei segera mencari seseorang yang menunggu nya itu, nampak di sudut paling pojok. Lelaki dengan jaket kulit yang terlihat mahal dan jeans yang robek di lutut nya itu, sudah menghabiskan satu menu diwaktu bukan siang apa lagi pagi karena saat ini masih jam 9.45.
Krek.
Rei menarik kursi untuk duduk di depan lelaki yang nampak jenuh itu.
"Gua sudah lumutan bro"
"Oh ya sepanjang apa lumut lo"
Terlihat muka masam nya jika lelaki itu kesal pada nya, Rei hanya tersenyum tak tahu diri.
"Seneng amat liat gua tersiksa nih"
"Jelas, aku persen makan dulu ya, lapar nih"
"Pesan lah"
Rei memesan beberapa menu yang dia suka, lantas tak berapa lama menu yang Rei pesan segera datang. Dengan lahap Rei memakan masakan ala rumahan itu.
'Bocah ini seperti tidak pernah makan masakan ala rumahan saja'
Gumam Angga dalam benak nya.
"Kenyang nih?"
Rei mengangguk setelah mencuci tangan nya.
"Kenyang banget"
"Kaya gak pernah makan makanan ala rumahan aja lu, bro"
Rei hanya tertawa tak menjawab atau pun menolak pernyataan sahabat nya itu.
"Oh ya, kenapa kau meminta bertemu?"
"Tentu saja ingin pamer loh"
"Pamer apa?"
"Gua sudah sukses, dan ya sekarang ada disini niat nya mau mendirikan perusahaan cabang"
"Lalu?"
"Seperti nya tidak sesuai, cukup di kota saja"
"Bagus lah, jika tahu prospek kedepan nya"
"Oh ya kau kapan meluncurkan produk mu?"
"Sedang digarap"
"Nah perusahaan Daddy gua juga bro akan launching produk, tinggal menunggu giliran model internasional nya saja"
"Apa tidak ada model yang lain?"
"Model ini profesional, memang banyak model internasional tapi model sangat profesional, gua juga sudah mengajukan beberapa model teman-teman seangkatan kita dulu"
"Oh, mereka banyak juga ya yang jadi model?"
"Benar, lihat ini foto-foto hasil produk mereka"
Angga menyodorkan semua model yang pernah satu universitas dengan mereka, wajar Angga lebih tahu karena dia tinggal disana sedangkan Rei kembali ke tanah air.
"Mereka memang sangat profesional"
"Tapi kalah dengan yang ini bro"
Rei melihat foto terakhir yang Angga berikan.
__ADS_1
Deg.............
BERSAMBUNG.