TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.313


__ADS_3

Mereka masih berkumpul di ruang pasien dimana Min masih dirawat.


"Bagaimana keadaan ibu Amelia, Yah?"


Andreas yang sedang menyuapkan buah kedalam mulut nya terlihat berhenti sejenak.


"Dia sedang di obati, ada terapi hipnotis pula"


Andra terlihat mengangguk dengan jawaban ayah Andreas.


"Ibu Amelia ada di lantai 20, blok A, kau bisa kesana, kami akan berjaga disini"


"Baik Yah"


Andra bangkit dari sofa nya lantas keluar dari ruang rawat sang mommy diiringi Roy dibelakang nya dan beberapa bodyguard.


Andra memasuki lift untuk turun menuju lantai yang ayah Andreas maksud.


Ting......


Lift berbunyi pertanda telah sampai pada lantai 20. Di lantai ini sekitar terdapat dua lantai yang sengaja tertutup untuk orang yang tidak berkepentingan, karena ada dua sekuriti yang berjaga di luar pintu masuk satu-satu nya.


"Maaf anda siapa?"


Andra tak banyak bicara dia menunjukkan kartu akses yang dimiliki oleh pengunjung VVIP kelas 1 di lantai 20 itu.


"Maaf, silahkan masuk pak"


Andra mengangguk lantas masuk dengan meninggalkan dua bodyguard nya di luar.


Andra memperhatikan tiap ruangan dengan sekat besi, mereka dijaga ketat dan sangat aman. Terdapat beberapa perawat yang tinggal dengan mengurus seluruh pasien di lantai 20.


"Permisi, saya mau ke kelas A"


"Bisa tunjukkan kartu akses anda, tuan"


Andra memberikan kartu akses nya.


"Silahkan ikuti kami terlebih dahulu ke ruang dokter"


Andra tak membantah lantas mengikuti perawat lelaki, di lantai ini tak ada perawat atau dokter yang perempuan di pekerjakan.


Tok....tok...tok.


Nampak perawat tadi mengetuk pintu ruang praktek dokter yang ada di lantai 20 ini.


"Masuk"


Ucap suara bariton dari dalam ruangan itu.


"Maaf dokter, pengunjung kelas A meminta berkunjung"


Urai perawat lelaki yang membawa Andra ke ruang dokter tersebut.


"Baik suruh masuk"


Lanjut dokter yang berada di dalam sana.


"Silahkan tuan masuk, dokter sudah menunggu"


Ucap perawat itu pada Andra. Andra masuk ke dalam lantas bertatap muka dengan dokter yang ada di ruangan itu. Ruangan nampak luas seperti sebuah rumah saj dengan fasilitas modern yang canggih lagi sangat nyaman.

__ADS_1


"Silahkan duduk tuan Alkatiri!"


Ucapnya serta menjabat tangan Andra.


"Terimakasih dok, maaf anda ada perlu apa sampai saya harus datang ke ruangan anda?"


"Saya akan menjelaskan kondisi ibu Amelia"


Dokter menjeda ucapan nya dia melihat lelaki muda yang duduk bersebrangan dengan nya itu, sebentar mengamati ekspresi datar itu.


"Baik lah, ibu Amelia nampak nya tidak terlalu stres akibat suatu kejadian namun otak nya hanya kadang membayangkan kejadian tragis itu saja hingga membuat pikiran nya terhenti di kejadian tragis itu"


Andra mengangguk mengerti.


"Semua kemampuan yang kami punya sebagai ahli terapi dan dokter sudah kami kerahkan dengan mengobati beliau juga dengan meminimalisir efek nya sedikit mungkin"


"Baik lah, lalu"


"Sekarang ibu Amelia sudah membaik, meski pun kadang kami sedikit menterapi nya dengan terapi hipnotis, tapi tidak akan membahayakan pasien justru kami menawarkan solusi karena kami hanya bisa masuk lewat mimpi itu"


Andra bernafas lega.


"Pengobatan pemulihan juga sedang kami lakukan"


"Lalu bagaiman dengan ingatan nya?"


"Tidak masalah, justru itu kami mengobati nya dengan terapi hipnotis karena ingin menarik sebagian kewarasan nya dengan solusi kami agar dia lebih bisa mengontrol emosi nya"


"Bagus, saya sangat berterimakasih dok"


Dokter mengangguk.


"Andra bisa menengok langsung dengan perawat kami bagaimana pun kunjungan anda harus di dampingi oleh tim medis kami"


"Tentu tuan silahkan"


Dokter dan perawat berjalan lebih dulu untuk menunjukkan ruang rawat milik ibu Amelia yang berada di ujung.


Tok....tok....tok.


"Masuk"


Andra kaget mendengar suara itu yang sangat dia kenali, ya suara itu milik ibu Amelia.


"Maaf ibu Amelia, kami berkunjung kembali"


Ucap sang dokter dengan lembut menyapa wanita paruh baya yang rambut nya sudah sedikit berubah warna. Wanita itu tersenyum dengan hangat, senyum yang sudah Andra nantikan selama 35 tahun itu.


"Apa boleh kami membawa tamu?"


"Tentu saja boleh"


Ibu Amelia mendekat pada sang dokter tepat disana ada ruang tamu kecil.


"Memang nya siapa?"


Sang dokter menggeser tubuh nya lalu terlihat lah tubuh tinggi tegap nan tampan.


"Arviandra, putra kesayangan ibu!"


Lirih ibu Amelia, Andra kaget ibu Amelia sudah bisa mengucapkan nama nya dengan menyematkan kata kesayangan ibu itu. Perlahan lelehan bening melaju begitu saja keluar membelah pipi nya.

__ADS_1


Ibu Amelia segera memeluk anak lelaki yang sudah dianggap anak kandung nya itu.


"Kenapa diam saja, tidak kangen dengan ibu nak?"


Andra tak bisa berkata-kata bahkan hanya menangis dalam diam ketika di peluk ibu Amelia.


"Maafkan ibu nak"


Andra menggelengkan kepala nya, itu semua bukan salah ibu ingin sekali Andra berkata demikian namun hanya tangis tak bersuara yang bisa Andra lakukan.


"Kau sangat tampan dan sudah menjadi lelaki yang setinggi ini"


Ibu Amelia mengurai pelukan nya lantas memandang anak lelaki di hadapan nya, ibu Amelia mengusap air mata lelaki muda itu. Andra tersenyum mengelus wajah tua ibu Amelia.


"Jangan menangis ibu sudah kembali nak, maafkan ibu karena meninggalkan mu"


Andra menggelengkan kepala nya.


"Ekhm......."


Sang dokter berdehem, ibu Amelia tersenyum.


"Maaf dokter seperti nya aku berkencan dengan putra ku malam ini, banyak yang ingin kami bicarakan"


"Ha....ha, ya begitu lah diri ku jika sudah bosan kau acuhkan"


Ibu Amelia memukul lengan dokter yang bername tag Ervan itu, lelaki baya yang masih sangat energik itu.


"Kau lelaki dewasa bagi ku dok, dia anak lelaki tampan ku yang dulu manja dan selalu ingin di gendong"


"Iya kau benar, berbicara lah aku akan meninggalkan Stard disini"


"Kau tidak percaya pada ku?"


Dokter Ervan menggelengkan kepala nya.


"Justru karena aku sangat percaya pada mu maka nya meninggalkan diri nya untuk mu"


"Baik lah kau pandai sekali menggombal"


Dengan tersenyum dokter Ervan keluar dari ruangan.


"Maaf ya nak, dokter Ervan sudah menjadi teman ibu ketika ingin mengobrol, ibu membutuhkan teman untuk mengobrol"


"Maaf Bu, Andra tak sempat untuk menemani ibu"


"Tidak masalah, kau harus menemani istri mu"


"Ibu tahu aku sudah menikah?"


"Tentu saja, aroma dan tingkah mu sudah berbeda ketika masih bujang"


Andra tersenyum bahkan tanpa memberitahukan ibu nya, maka ibu nya itu sangat hapal tingkah laku nya.


"Dokter Ervan sangat menyukai ibu?"


"Tentu saja ibu mu masih cantik"


"Benar ibu memang sangat cantik"


Malam itu mereka mengobrol bahkan makan malam bersama dihabiskan ibu dan putra nya karena jarang sekali mereka bertemu seperti ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2