
William bergegas menjalankan mobil nya menuju jalan raya ke sebuah apotek ternama di kota di negara A. Karena sebelum membeli obat penahan kehamilan itu, Will sudah menanyakan pada istri nya di apotek mana dia harus membeli.
"Permisi, selamat sore"
"Sore"
Ucap penjaga apotek itu.
"Saya ingin membeli obat xxx"
"Yang bagaimana ya pak?"
"Oh ini contoh nya"
"Berapa botol"
"10 botol saja"
"Oke tunggu sebentar"
Tak berapa lama akhir nya penjaga apotek tiba memberikan sepuluh botol obat yang William maksud.
"Ini pakai kartu bayar nya"
"Baik"
Pelayan apotek itu menggesek kartu milik William lantas William segera bergegas kembali pulang.
1 jam William sudah sampai di rumah.
Tok....tok ....tok
KLEAK.
Lisa nampak membuka pintu kamar nya, Lisa juga nampak sehabis mandi.
"Ini"
Lisa menerima kresek besar, lalu di lihat nya ada 10 kotak obat yang sama. Lisa melihat William dengan wajah sendu nya.
"Terimakasih tuan"
Ucap Lisa hanya disahuti deheman oleh William.
"Ingat janji mu"
"Iya"
Lisa segera masuk lantas, menaruh obat itu di kotak laci nya, dia merasa lega tidak khawatir apa pun.
Sementara William sedang tersenyum di kamar nya. Tak lupa menghubungi seseorang.
"Terimakasih"
"Sudah di cek?"
"Iya aman"
"Di jalan mau di tukar seseorang, mungkin di kamar Lisa ada penyadap nya"
"Aku akan lakukan rencana ku untuk mengusut si penyadap"
"Oke bersenang-senang lah"
William sangat senang, dia tidak merisaukan apa pun.
Lelaki itu segera mandi, berganti baju.
Tok....Tok.....
"Iya"
"Temani aku jalan"
"Aku ganti baju dulu"
"Aku tunggu dibawah"
William turun ke bawah lantas segera duduk di ruang tamu berselancar di dunia Maya sambil menunggu istri nya.
Lisa turun ke bawah dengan menggunakan celana selutut dan sweater yang pas di badan, tas kecil dan sepatu.
"Ayo"
William memperhatikan out fit Lisa, tertutup tapi manis.
"Ayo"
William berteriak memanggil bibik, wanita paruh baya itu datang.
"Iya tuan"
__ADS_1
"Aku mau pergi keluar bilang pada Daddy dan kakak jika mereka tanya, tak usah tunggu kami makan malam"
"Baik tuan"
William segera menarik tangan Lisa untuk segera masuk ke mobil mereka. Sehingga bisa segera ke tempat tujuan.
"Bagaimana obat nya?"
Lisa hanya menoleh saja.
"Sudah di makan?"
"Kan aturan nya seminggu sekali"
"Oh"
William kini menuju pusat perbelanjaan di kota di negara A itu.
"Kita makan dulu"
Lisa mengangguk menuruti semua ucapan William. Mereka memasuki restoran mahal yang ada di pusat perbelanjaan itu.
"Mau makan apa?"
"Samakan saja"
"Minum nya"
"Jus mangga saja"
"Oke, apa lagi"
Lisa menggelengkan kepala nya, William melihat dari lantai 2 restoran itu ada Carmen dengan pacar model nya.
'Awet ternyata'
Gumam William dalam hati.
Tak berapa lama pesanan mereka datang dan terhidang dengan demikian mereka segera menyantap makanan itu dengan lahap.
"Mau puding?"
"Tidak"
"Puding nya disini paling enak loh"
"Boleh"
Lisa menggelengkan kepala nya.
"Aku tidak akan berdiet"
"Bagus lah"
William memesan puding, ice cream, serta camilan seperti coklat dan makanan manis lain nya.
"Kau suka manis kan?"
"Suka"
Dessert yang mereka pesan pun sudah datang ke meja mereka, William dan Lisa memakan nya dengan sangat santai hitung-hitung menikmati waktu senggang.
"Aku sudah kenyang"
"Ayo kita belanja"
"Tidak bayar dahulu"
"Restoran ini milik ku"
Lisa kaget, lalu dia tersenyum malu.
"Ayo"
William menggandeng tangan Lisa dengan erat seolah mereka pasangan normal. Memang normal kan mereka sudah menikah meskipun belum mengadakan resepsi.
"Oh manis nya sedang berdua nih"
Suara yang mampir ke telinga William tidak asing namun Will tidak memperdulikan nya sama sekali.
"Will kau lupa pada ku?"
"Aku sudah menikah jadi aku hanya mengingat istri ku"
"Istri, seorang budak seperti dia?"
Carmen menunjuk pada muka Lisa.
"Jangan kurang ajar kamu, dia istri ku"
BYYUURR....
__ADS_1
Tak segan-segan Carmen menyiramkan jus jeruk pada muka Lisa membuat sweater biru nya bernoda kuning.
William segera menarik tangan Lisa, dia tidak ingin ribut di tengah keramaian.
"Kita pulang saja ya?"
Lisa mengangguk, mereka sekarang ke parkiran untuk masuk ke mobil. Terlihat Carmen mengejar mereka, namun Will dengan cepat masuk dan menancap gas nya.
"SIAL!"
Teriak Carmen yang masih terdengar oleh Will.
"Kita kaya pasangan yang selingkuh ya?"
William menatap Lisa, dia tersenyum.
"Iya, istri sah harus nya yang ngelabrak ini malah pelakor nya"
"Jaman sudah modern"
Akhir nya dengan rasa kesal William.membawa istri nya kembali ke rumah.
"Loh tuan sudah kembali, ini nona kenapa?"
"Kita di tabrak orang gila bik"
William membawa istri nya naik keatas.
"Mandi lah"
William kesal atas perbuatan yang Carmen lakukan. Dia nanti tidak akan melepaskan wanita jadi-jadian itu.
"Eunghhh........."
Rindi melenguh, karena dia merasa kepanasan, dia melihat jam tangan nya sudah pukul satu siang.
"Pantas kepala ku agak sakit nih"
Rindi mencoba bangun, tapi.....
BRUUKK......
Pandangan mata nya berubah jadi hitam, namun samar-samar ada yang memanggil nama nya.
Ternyata Rindi jatuh untung di tangkap oleh Anita.
"Bik saya mau bawa ke rumah sakit dulu non Rindi nya"
"Hati-hati saya akan kabar kan pada tuan ya non"
"Iya tapi jangan panik, mungkin non Rindi hanya kelelahan"
"Iya non"
Anita menggotong nona nya sendirian, meski Anita kurus namun dia sudah terlatih sebagai agen rahasia. Mobil yang Anita kemudikan menuju ke rumah sakit untuk memeriksa penyakit nona nya.
Bibik segera menghubungi tuan nya yang masih belum pulang. Tak berapa lama sambungan ponsel itu pun diangkat majikan nya.
"Iya bik"
"Tuan non Rindi kelelahan, dia di bawa non Anita ke rumah sakit, tadi sempat lemes"
Bibik mengatakan lemas karena tak.inhin majikan nya khawatir.
"Oh baik saya akan menghubungi Anita dan menyusul bik, terimakasih ya, jaga rumah"
"Iya tuan"
Paman pun berpikir sebentar, kenapa keponakan nya sampai kelelahan perasaan pekerjaan nya tidak ada yang beres karena kemalasan bocah itu dua hari ini.
Paman pun segera menghubungi Anita yang sudah berada di rumah sakit menunggui nona nya.
"An bagaimana nona mu?"
"Sedang di periksa dokter tuan"
"Oke saya akan menyusul sebentar lagi, kamu jaga dia disana jangan tinggalkan dia ya"
"Baik tuan"
Paman segera menghubungi supir nya untuk menjemput nya di perusahaan dan segera meluncur ke rumah sakit.
"Tuan saya sudah sampai?"
Pak supir menghubungi paman karena sudah sampai.
"Baik lah kamu tunggu saya turun ya, kita nanti ke rumah sakit, Arin di rawat soal nya"
"Baik tuan"
BERSAMBUNG.
__ADS_1