
"Saya sudah makan malam, saya harus pulang"
Setelah 1 jam menghabiskan hidangan yang terdapat di meja ruangan itu, Rei bermaksud pulang.
"Kok pulang, kami keluarga mu, kau mau pulang kemana?"
Cinta mengelus lengan anak bungsu nya itu.
"Maaf ini akan larut, nenek pasti khawatir"
"Semua keluarga mu disini nak"
"Maaf tante, nenek pasti sudah menunggu"
Opa Ditya memperhatikan menantu nya yang sedang menahan keinginan cucu nya sendiri.
"Rei"
Opa mendekat karena anak itu tidak suka, sedangkan ibu nya memaksa.
Rei menengok kearah opa Ditya.
"Keluarga mu semua nya disini, kau adalah cucu kandung ku, mereka kedua orang tua mu"
Rei terdiam, lalu berdiri.
"Maaf opa, Rei tidak bisa meninggalkan nenek"
"Lihat ini"
Opa Ditya nampak memberikan berkas pada cucu lelaki bungsu nya. Rei dengan seksama membaca nya, mata nya membulat dan berkas tadi jatuh berserakan. Cinta memeluk erat putra nya yang telah hilang belasan tahun, berkas tes DNA itu nyata. Cinta begitu bahagia dan beberapa kali mencium tangan anak bungsu nya ini.
"Terimakasih dad"
Lirih nya pada mertua lelaki nya yang sigap.
"Dia juga Alkatiri, sejak dia mengantar papah nya, Daddy sudah yakin dia cucu bungsu kami"
"Nak lihat, kau sudah yakin bukan?"
Ucap Cinta di sertai Iskan tangis bahagia, Aksara mengusap pundak istri nya lantas tersenyum bahagia.
"Jadi fix dia adik kita kakak-kakak"
Sambut Riana dengan gembira serta berpelukan dengan dua gadis kakak perempuan nya.
Rei nampak syok, bagaimana tidak nyata nya pertemuan nya dengan opa Ditya tadi pagi ingin menjemput nya tapi Rei sendiri malah datang ke rumah sakit.
"Maaf Rei harus pulang"
"Tidak sayang mamah tidak mengijin kan mu"
"Nenek sudah menunggu ku maaf Tante"
"Aku mamah mu, bukan Tante mu"
Rei bergegas pergi keluar rumah sakit.
"Dino pergi lah dampingi dia"
__ADS_1
"Baik bos"
Dino bergegas mengejar Rei, juga memastikan bocah lelaki itu pulang dengan selamat mengingat akan semakin malam di jalanan maka semakin berbahaya pula.
Di sebuah club malam terbesar di negara ini tepat nya, seorang pemuda lajang namun tak dikatakan bahwa dia bukan penikmat wanita juga. Dia pemuda kaya raya nan tampan dari keluarga terhormat pula jadi sebisa mungkin menjaga imeg nya di dunia bisnis dan dunia luar.
"Big bos, anda berkunjung?"
"Hem"
"Pesanan yang sama bos?"
Pemuda itu langsung menarik kerah pelayan bar tersebut lalu menampar nya tanpa beban.
"Ampun bos"
"Sudah tahu sakit, masih berani membuka mulut untuk tawar menawar dengan ku!"
"Maaf, segera saya siapkan pesanan bos"
Pelayan bar itu langsung lari terbirit-birit karena takut kena tendang setelah kena pukul.
"Bos"
"Apa si bodoh itu datang?"
"Benar bos"
"Layani kemauan nya, masukan ke tagihan kartu ku"
Memberikan kartu limit tanpa batas pada pelayan itu, pelayan itu langsung mengambil nya dengan senyum riang gembira.
Pelayan itu bergegas pergi sementara pria paruh baya itu mengawasi pemuda yang kini sudah duduk di ruangan mewah dengan beberapa wanita yang baru mereka rekrut.
"Datang lah gadis pada Daddy!"
wajah pemuda itu sudah Semerah udang karena mabuk menenggak 3 botol wine, meski minuman mahal dan tidak cepat merusak badan namun tetap saja jika menenggak nya dalam jumlah banyak akan teler juga.
CCRRAASSSHH.......
Rokok mahal dia nyalakan, asap mengepul di ruangan itu namun para wanita malam itu menikmati nya. Lagi pula yang ada dihadapan mereka adalah pria tampan nan kaya raya.
"Kapan kita mulai bermain sayang?"
Salah satu nya bertanya, wanita berdress mini sepangkal paha itu mengelus dada bidang milik Raksa. Ya Raksa yang tak tahan melihat mereka semua menyambut kedatangan Rei, juga dipastikan jika bocah itu adalah adik bungsu nya tidak terima. Sudah hampir 2 malam ini Raksa menyambangi club malam terbesar di negara Z ini.
"Kau sudah tidak sabaran cantik, lihat dia belum bereaksi"
Ucap Raksa melirik pangkal paha nya dimana terdapat senjata tempur nya yang perkasa.
"Bagaimana kalau dibangunkan secara paksa?"
"Tidak itu tidak asik sayang"
Meski mabuk berat, Raksa selalu tahan banting tidak terkecoh dengan pemalsuan apa pun termasuk obat perangsang terkuat sekali pun.
"Kau memang berbeda sayang"
Wanita berdress merah itu terus melekat pada diri nya.
__ADS_1
"Itu hadiah dari ku tuan muda"
Nampak lelaki paruh baya mengenakan jas hitam dengan tampilan bossy namun klasik yang elagan.
"Seperti nya berpengalaman tuan?"
"Benar dia bisa apa pun"
BRATT.....
Raksa langsung merobek dress yang wanita itu kenakan.
"Buang semua bahan yang ada di tubuh mu, lalu menarilah buat dia bangun"
Raksa menunjuk ke ************ nya. Wanita itu melotot lantas membuang semua Daleman yang masih melekat di tubuh nya setelah si bos mengangguk tentu nya. Wanita itu menari dengan lincah tanpa busana, bahkan sesekali menggoda kepada Raksa dengan genit nya, hampir 30 menit Raksa memperhatikan.
SSRRAASSHHH.......
Raksa melempar jas nya juga berlian kepada wanita yang menari itu.
"Pergi aku tidak tertarik pada mu, oh ya tuan terimakasih hadiah nya, tapi aku tidak selera karena bekas beberapa lelaki"
Ucap Raksa dengan tenang meski berdiri agak sempoyongan.
"Kau hebat juga, brengsek"
Ucap lelaki paruh baya itu, yang menggunakan kaca mata hitam. Sebenar nya dia sudah mencari pelacur yang sudah terinfeksi oleh penyakit kelamin menular, tapi rupanya Raksa mengenali penyakit itu hanya dari kulit wanita itu saja.
Raksa menyeret seorang wanita malam yang baru direkrut, meski bukan virgin namun setidak nya belum terjamah banyak lelaki.
"Kemari lah"
"Baik tuan"
Raksa menarik wanita itu, dengan kasar langsung melucuti seluruh pakaian nya. Menyatukan bibir nya, menindih nya dan langsung menyatukan diri nya kedalam inti bagian tubuh wanita itu.
Pergulatan panas yang Raksa lakukan dari larut malam hingga pagi tanpa henti. Meski wanita yang melayani nya beberapa kali meminta untuk beristirahat, Raksa seolah tuli dan apa hubungan nya itu bukan kah itu profesi wanita malam melayani pelanggan nya hingga puas pikir Raksa.
"Aku sudah puas"
Raksa berguling ke sisi sebelah wanita yang melayani nya semalaman.
"Ambil lah"
Raksa menyerahkan sebuah cek kepada wanita itu.
"Bersihkan kamar ini, pergi lah jangan mandi disini"
"Baik"
Wanita itu bergegas pergi, setelah memakai pakaian nya yang berserakan. Merapikan tempat tidur sebelah Raksa juga pakaian lelaki itu dilipat di letakan diatas sofa.
"Saya permisi tuan, terimakasih"
"Hem"
Raksa tertidur hanya dengan menggunakan selimut saja, lelaki itu sejenak tertidur dengan nyenyak nya, tanpa memikirkan keluarga nya di rumah sakit atau perusahaan di negar B atau negara Z
BERSAMBUNG.
__ADS_1