
Lisa sangat pusing, dia kira menjadi Presdir dan menggantikan sang papah itu sebuah reward nya nya dia dituduh menggelapkan uang perusahaan.
BRAAAKK.
"Astaga......!"
Melina sampai kaget mendengar anak gadis nya itu mendorong pintu rumah dengan keras.
"Mamah di rumah?"
BUMM.....
Sekarang pintu kulkas yang ditutup dengan keras, entah apa maksud nya.
"Memang mamah tidak boleh ada di rumah?"
Lisa diam saja, dia membuka tutup botol kaca dan langsung menenggak isi nya dengan kasar.
"Kamu kok pulang dengan kekerasan?"
"Maksud mamah apa?"
"Tadi tutup pintu dengan keras sekarang tutup kulkas dengan keras, buka tutup botol juga sembarangan loh, kamu kenapa sih?"
Lisa menggelengkan kepala nya.
"Lisa mau ke kamar dulu mah"
Melina tidak memahami putri nya yang sekarang sangat kasar.
Sementara Lisa sedang berpikir di kamar bagaimana cara nya agar diri nya mendapatkan uang 5 miliar itu dengan cepat. Kepala nya sungguh berdenyut karena masalah uang proyek yang raib tanpa pelaku dan justru mengarah pada nya.
Sementara Rindi sudah sampai siang ini di bandara, dia tidak memberitahu siapa pun karena paman nya tahu besok dia baru sampai di negara Z.
Rindi langsung membeli mobil sendiri ke showroom terdekat. Setelah selesai dengan membayar nya, dia pergi ke resto terdekat untuk makan siang. Hampir sore Rindi baru pulang ke rumah paman.
"Selamat sore paman!"
Sang paman tersenyum senang karena keponakan nya datang dari luar negeri tanpa memberitahu pesawat nya sudah tiba.
"Gadis nakal!"
Sang paman mengelus pucuk rambut keponakan nya dengan sayang. Dia melihat gadis yang dulu masih lugu dan polos kini tumbuh menjadi gadis yang cantik, elegan lagi sangat menarik.
"Kau cepat sekali bertumbuh nak?"
"Karena aku makan nasi setiap hari paman"
"Ha....ha....ha"
Sang paman hanya tertawa dengan lepas.
"Ayo masuk, kau pasti lelah beristirahat lah besok kita berbincang lagi"
Begitu titah sang paman, Rindi hanya mengangguk mengerti dia segera naik ke lantai atas memasuki kamar ibu kandung nya.
"Masih seperti 5 tahun lalu"
Gumam Rindi lantas segera mandi dan beristirahat karena seharian lebih dia naik pesawat.
Sedangkan Andra segera membereskan pekerjaan nya karena sudah sore.
Tok....tok.....tok.
"Masuk"
"Tuan ada dokter Andalas meminta bertemu"
"Suruh masuk"
Dokter paruh baya itu tersenyum, dia duduk di depan Andra.
"Selamat sore tuan Arvin, maaf mengganggu anda"
"Tidak apa dokter, katakan ada apa dokter mengunjungi ku?"
"Saya akan kembali ke negara saya seminggu disana, untuk terapi nya akan di urus Rebeca, jadi mohon tutup putri tunggal saya"
__ADS_1
"Baik, jangan khawatir selama disana"
"Permisi, sore ini juga saya berangkat"
"Baik tuan, selamat jalan"
Dokter itu tersenyum lantas bangkit dari duduk nya dan segera pergi meninggalkan kantor pasien nya itu.
"Tuan"
"Katakan"
"Terapi anda hanya tiga kali lagi bisa jadi seminggu ini dilakukan"
"Jelaskan?"
"Ada yang aneh dengan dokter Andalas masa akan meninggalkan putri nya yang notabene wanita di negara orang"
"Nanti motif mereka juga ketahuan"
"Iya tuan"
"Beri putri dokter Andalas itu pengawal yang siap 24 jam, sekaligus mengawasi gerak-gerik nya itu, aku sudah curiga dari awal mereka datang"
Roy terkejut dengan pernyataan tuan nya.
"Kenapa tuan menerima nya?"
"Karena mereka berguna"
Roy mengangguk.
"Ayo kita pulang dulu"
"Baik tuan"
Di bandara dokter Andalas menghubungi anak tunggal nya yang masih di apartment yang Andra berikan selama mereka menjadi dokter terapi nya.
Ddrrtt....ddrrttt.
Rebeca yang sedang mengecat kuku nya terkejut hampir saja merusak tatanan kuku yang indah itu.
"Daddy sudah bilang pada tuan Andra, seminggu terakhir kamu yang urus terapi nya"
"Bagaimana reaksi nya?"
"Dia setuju saja"
Rebeca langsung tersenyum manis.
'Ternyata kau juga menyukai ku, tapi kau perlu rangsangan, baik lah tuan tampan aku akan ikuti permainan mu'
Gumam Rebeca.
"Hei jangan melamun apa lagi sore-sore begini mengkhayalkan pria dewasa"
"Ih apaan sih dad!"
"Anak perawan tidak boleh mesum"
"Siapa yang mesum dad, ngaco aja"
Diseberang sana sang Daddy tertawa renyah, karena putri nya menjawab dengan terbata-nata.
"Baik lah Daddy mau berangkat, pesawat akan take off, jaga diri mu taklukan cinta ku dengan hati jangan curang"
"Iya siap dad"
Selesai bertelpon ria dengan sang Daddy, tiba-tiba unit apartment nya. diketuk seseorang dari luar.
"Tok ...tok...tok.
"Sebentar"
Klek.....
Rebeca membuka pintu apartment nya, dan terlihat sepuluh orang lelaki kekar.
__ADS_1
"Permisi nona Rebeca, anda anak dokter Andalas bukan?"
"Iya kenapa dengan daddy saya?"
"Tuan Andalas sudah take off dengan pesawat nya menuju negara A, sebelum nya beliau meminta tuan Arvin menjaga anda, jadi kami yang menjaga anda dikirim oleh tuan Arvin"
"Oh, maaf aku sudah salah sangka"
"Tidak apa-apa nona, saya asisten kedua nya tuan Arvin jadi ini kartu nama saya, jika ada apa pun bisa hubungi saya 24 jam"
Rebeca menerima kartu nama itu lantas segera mengantongi nya.
"Terimakasih"
"Nama saya Novan, saya pamit dulu nona"
"Baik lah, selamat tinggal"
Novan segera bergegas kembali ke kantor untuk kembali melapor, namun ini sudah gelap jadi dia hanya mengirim bukti percakapan pada email Roy. Setelah nya Novan menuju tempat tinggal nya untuk istirahat.
"Tuan, Novan sudah mengerjakan tugas nya"
Andra hanya mengangguk lantas segera menyuruh Roy untuk pulang.
Pagi hari nya, Rindi sudah bangun dan mandi. Lantas menuju ke pantai bawah untuk menemani sang paman sarapan.
"Selamat pagi paman"
"Selamat pagi cantik"
"Paman mau kerja?"
"Iya, kenapa?"
"Aku mau ke rumah papah"
"Baik lah, lakukan apa yang ingin kau lakukan"
"Paman hati-hati kerjanya"
Sang paman mengangguk lalu pergi setelah mengelus pucuk kepala Rindi.
Rindi pergi dengan mengendarai mobil nya sendiri, mobil sport yang khusu di pesan mini dan nyaman hanya untuk diri nya sendiri.
"Maaf siapa ya?"
Satpam rumah papah nya atau rumah keluarga Mukti menyambangi nya. Dengan cepat Rindi menyapa satpam rumah nya yang sudah mulai sepuh itu.
"Non Arin, sudah kembali non, ya ampun bapak sampai pangling non"
Rindi hanya tersenyum.
"Tolong buka pagar rumah ya pak"
"Baik non"
Setelah masuk ke rumah, Rindi memberi bingkisan dan uang untuk satpam itu.
"Tidak usah non"
"Ambil pak ini oleh-oleh dari Arin"
"Oleh-oleh nya saja non, jangan uang"
"Tidak apa untuk jajan bocik di rumah"
"Baik non, terimakasih banyak, tapi di rumah tidak ada orang"
"Memang pada kemana?"
"Non Lisa ke perusahaan menggantikan tuan besar yang sakit, nyonya ke arisan, tuan besar kan di rawat di rumah sakit non"
"Oh, ya sudah, bawa mobil saya masuk pak"
"Baik non"
Rindi masuk ke dalam rumah dan langsung ke lantai atas kamar nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.