
Min mengepak beberapa pakaian untuk ganti, karena diperkirakan hanya seminggu di negara H. Dia tidak ada planning selanjut nya selain setelah bekerja lantas bermain bersama dengan putra tunggal nya. Si kecil baru saja sarapan, hari ini sabtu mungkin rencana lelaki kecil itu akan diajak liburan. Dia meloncat-loncat diatas kasur, dikira akan menginap di resort karena sang mommy nya mengepak baju.
"Sayang jangan loncat-loncat"
Dengan lembut Min memperingatkan. Putra tunggal nya hanya tersenyum senang.
"Kenapa senang banget?"
Sambil mengelus rambut di kepala kecil itu.
"Mom mau ajak adek main pantai?"
"Tidak sayang"
"Kenapa?"
"Mom akan bekerja selama seminggu di luar negeri"
"Mom tidak ajak adek?"
"Mom bekerja sangat jauh, adek tinggal sama Oma dan opa saja ya"
Arvin kecil menggelengkan kepalanya tanda dia tidak setuju. Anak lelaki itu bersedekah di dada nya.
"Adek marah"
Kata nya di ucapkan dengan lucu, bukan nya membuat kasihan atau marah Min malah tertawa karena tingkah anak lelaki nya itu.
"Mommy mau kerja sayang, bukan mau liburan"
"Tapi naik pesawat"
"Adek pengen naik pesawat?"
Lelaki kecil itu mengangguk lantas menatap sang mommy.
"Jangan sekarang ya, sekarang mommy mau kerja dulu, nanti kalau liburan mommy ajak adek boleh ya?"
Masih terdiam, seolah anak yang baru masuk ke pelukan Min itu bersiap untuk menangis.
"Adek menangis?"
Arvino menggelengkan kepala nya, dia ingin menyangkal.
"Bener dong, lelaki itu tidak boleh cengeng tidak boleh menangis juga"
Memang air mata itu belum mengalir di pipi anak lelaki nya, biasa pasti sudah nangis kejer.
"Mom sayang banget sama adek, tapi kan mom harus cari uang biar adek bisa beli mainan"
Tidak menjawab membuat Min serba salah, Min berusaha mengelus kepala kecil anak lelaki kesayangan nya itu.
"Boleh ya mom pergi kerja?"
Mengangguk meski lemah dan hanya sekali anggukan.
"Adek ijinin ya, deal ya?"
Min masih mempertegas keputusan putra tunggal nya, bagaimana pun anak kecil tampan ini nanti nya akan dewasa dan tumbuh. Min tidak mengajarkan sifat pengecut dan sikap tidak mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
"Ayok antar mommy keluar yuk?"
Meski memang lemas dan melarang mommy nya namun anak tunggal nya itu masih menurut mengantarnya keluar. Min juga baru kali ini meninggalkan anak semata wayang nya, jujur Min juga sedih.
"Eh cucu Oma sudah bangun"
Tidak seperti biasa nya cucu lelaki nyonya Mandy itu diam, biasa nya dia sangat cerewet, berlarian ketika akan sarapan.
"Ada apa? kok Arvin lesu?"
Cucu lelaki mereka diam bahkan tidak menjawab.
"Sini duduk sama opa"
Dia langsung berpindah tanpa berkata.
"Ada apa?"
Tanya nyonya Mandy.
"Dia marah karena aku akan kerja keluar negeri mom, tadi nya mungkin karena hari sabtu aku ngepak baju dia semangat banget, pas dibilang eh malah begitu"
__ADS_1
Nyonya Mandy tertawa, membuat Min heran seketika.
"Kok mom ketawa sih"
"Dia pasti lucu saat ngambek itu"
"Memang, dia sok bersedekah di dada dan mau menangis juga"
"Tenang saja mom akan kasih dia pengertian, Daddy mu akan mengajarkan nya semangat juang, lihat mereka sudah kompak"
Min melihat Daddy Jorge memang mengajarkan cara makan yang lebih elegan dan berkelas bangsawan.
"Makan seperti opa ya"
Tutur nya halus, bocah kecil itu mengangguk lalu melakukan nya sesuai instruksi yang opa nya berikan.
"Baik lah aku berangkat ya mom, dad"
Mereka segera mengantar Min sampai ke halaman.
"Hati-hati sayang"
Mereka melambaikan tangan termasuk putra kesayangan nya yang berada di gendongan sang Daddy. Tampak senyum ceria yang menguatkan hati Min untuk pergi.
"Nah mommy mu sudah pergi bekerja, jangan sedih lelaki itu tidak menangis, lelaki itu harus lebih kuat dari wanita, mengerti"
"Mengelti opa"
"Huruf R saja tidak bisa di ucapkan, sok mengerti"
Ucap Daddy Jorge, yang otomatis di dengar oleh nyonya Mandy. Nyonya Mandy langsung mencubit perut suami nya.
"Kau sendiri yang mengajarkan, kenapa juga harus mengumpat, benarkan dia menjawab"
"Aduh sakit mom, lihat bocah kecil itu bertepuk tangan"
Nyonya Mandy segera menghentikan aksi nya.
"Mau ikut opa ke perusahaan tidak?"
"Mau"
Dengan cepat mengangguk tanpa menolak sedikit pun.
"Oke boc"
"Huh bilang bos saja masih pakai huruf c kapan dewasa nya"
Merek sudah melipir naik ke kamar Min untuk mengganti pakaian milik Arvino.
Daddy Jorge segera menghubungi Card.
"Saya tuan"
"Pergi ke butik buatkan setelan kerja untuk cucu ku"
"Baik tuan, mau berapa setel"
"100 setel"
"siap tuan"
"Harus jadi nanti sore"
"Baik"
Daddy Jorge segera menutup sambungan ponsel nya, bergegas kedalam untuk mengambil tas dan membawa cucu lelaki nya.
"Dad, mom tidak bisa ikut ada acara amal"
"Tidak apa mom, dad bisa jaga bocah kecil ini"
"Ih, lambut adek sudah di pomad opa"
"Lembut bukan lambut"
"Ini lambut"
Arvin menunjuk kepala nya yang ditumbuhi rambut hitam. Sang Oma tidak bisa menahan ketawa nya, bahkan rasa greget nya pada suami nya yang selalu membuat bocah itu marah.
"Dad!"
__ADS_1
"Kalau dia marah, aku suka mom"
"Ya tidak begitu juga kali dad"
Sementara bocah itu sudah berjalan ke depan halaman, menuju mobil opa nya.
"Uncle Cad, ayo kita berangkat"
"Tunggu opa dulu ya tuan kecil"
"Opa suka buat adek marah"
Ucap nya dengan cepat kadang bisa mengucapkan huruf R untuk beberapa kata yang sudah dilatih kadang juga masih terbiasa cadel maklum lah balita dua tahun.
Card yang melihat nya, rasa nya ingin tersenyum sambil mencubit pipi lelaki kecil itu. Tapi sayang itu cucu tuan nya, dan mungkin lelaki kecil itu akan marah besar.
Tak berapa lama sang opa keluar, dia memasuki mobil nya.
"Adek duduk nya di kursi balita itu"
"Tidak mau"
"Kalau duduk disini nanti seat belt nya kebesaran"
"Kan adek sudah besar"
"Nanti kalau uncle card kenceng nyetir nya adek akan terbang"
"Apa iya uncle?"
"Benar tuan kecil"
"Oke deh opa"
Arvin lekas berpindah tempat menuju kursi balita itu, memasang seat belt nya sendiri.
"Sudah opa"
"Ayo kita ke perusahaan"
Lelaki kecil itu tertawa bahagia sambil bertepuk tangan dengan kencang nya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di perusahaan.
"Adek, kita........"
Daddy Jorge menggantung ucapan nya, karena balita itu sudah tertidur pulas. Daddy Jorge menghela nafas lalu menggelengkan kepala nya dan tersenyum manis.
"Baik lah kita bawa bos kecil ini turun"
"Baik tuan"
Card hendak menggendong cucu dari bos nya namun segera di tahan oleh Daddy Jorge.
"Bawa tas ku, aku akan menggendong nya"
"Baik tuan"
Daddy Jorge segera masuk kedalam lift, lelaki kecil itu menggeliat.
"Opa kita dimana?"
"Tentu di perusahaan opa"
Tling lift pun berhenti dan terbuka, terlihat ruangan yang ada beberapa karyawan, juga ruangan besar milik opa nya.
"Wah opa, adek jadi boc ya"
"Boc apa? bocok atau bacok?"
Yang tadi senang Arvin jadi cemberut.
"Hei jangan cemberut, bos itu harus ramah"
Si opa mencubit hidung mancung cucu nya.
"Opa hidung adek"
"Ha....ha....ha"
Daddy Jorge tertawa dengan keras lantas mengajak cucu tunggal nya itu untuk masuk kedalam ruangan nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.