
Flashback on.
Setelah 3 hari masa persalinan Cinta dibawa ke ruang operasi, sesaat setelah melihat wajah muram sang suami dipinggir pantai pada sore itu.
"Mari nona silahkan ikuti kami"
Cinta dibawa kesebuah ruangan, setelah itu Cinta tak merasakan apa pun lagi. Yang terdengar seminggu ini hanya para dokter ahli bedah itu yang berbicara.
Dokter bedah ahli yang di sewa oleh Karenina dengan bayaran yang fantastis langsung membuat wajah, tubuh, luka melahirkan bahkan nyaris tak ada jejak Cinta yang dulu dalam tubuh baru itu.
"Nona minumlah obatnya!"
Bahkan setelah operasi itu Cinta diminta untuk terus menerus meminum ramuan herbal juga obat-obatan kimia.
Tubuh Cinta diolah, digerakkan bahkan Karenina juga melakukan operasi keperawanan pada diri Cinta.
"Terimalah itu, untuk menyempurnakan penyamaran mu, ingat perintah ku mutlak tak ada bantahan"
Cinta hanya bisa mengangguk.
Meski menolak namun itu tidak ada artinya, semua makanan Cinta juga di urus dengan baik.
"Nona kami akan membuka perban anda!"
"Baik"
"Silahkan lihat, nona"
Ucap para dokter itu, karena selama seminggu Cinta dalam masa perawatan itu dia tidak diperbolehkan untuk melihat wajahnya.
Cinta memandangi dirinya, di cermin nampak semua nya asing.
'Apakah benar ini wajah ku?'
Gumam Cinta dalam hati, sambil mengelus wajahnya yang seminggu ini berada dibalik kain kasa itu.
"Bagaimana bagus kan karya para dokter handal ku?"
Cinta hanya mengangguk.
"Baik lah, sekarang tugas mu akan segera dimulai, ikut lah dengan mereka yang akan membawa mu pada ibu mu, ingat panggil wanita itu dan ingat juga anak mu ditangan ku, dan besok sekertaris ku akan membawa mu memasuki perusahaan Alkatiri"
"Baik nona"
"Jangan beri tahu identitas mu pada sekertaris ku sekali pun"
"Baik nona"
__ADS_1
"Jess bawa dia ke rumah itu, dan bereskan juga para dokternya"
Setelah Karenina berucap demikian, Cinta dibawa keluar menuju sebuah mobil. Sementara didalam rumah itu terdengar beberapa kali suara tembakan.
1 jam perjalanan Cinta telah sampai di rumah yang dituju, nampak seorang wanita paruh baya dengan rambut yang memutih sedang menyapu halaman rumah. Cinta perlahan mendekat, dia masih menggunakan pakaian pasien rumah sakit. Mendengar langkah nya wanita paruh baya itu menoleh lantas tersenyum lalu berlari kearah Cinta.
"Ibu"
"Indy, Anindy anak ku, kau sudah kembali nak?"
Wanita itu memeluknya dengan erat, tidak seperti kemaren yang bahkan enggan menyapa menatap pun dengan dingin dan arogan. Wanita itu menyuruh nya untuk masuk ke rumah, karena di luar banyak sekali tetangga yang lewat berbisik tentang kedatangannya.
"Ayo mandi lah dulu, mamah akan memasak untuk mu!"
Cinta mengangguk, setelah membersihkan diri Cinta melihat pakaian dress berwarna pink cerah berada di atas ranjang nya.
"Itu pakaian kesukaan mu, pakailah dan ke meja makan kita makan bersama mamah sudah menyiapkan makanan untuk mu"
Cinta kembali mengangguk 20 menit dia sudah berada di meja makan.
"Biar Indy ambil sendiri mah!"
"Biar mamah ambilkan nak, kamu baru keluar rumah sakit"
Cinta mengalah dengan tingkah ibu itu, dan pada akhirnya mereka makan dengan lahap.
Tok....tok...tok.
"Cari siapa ya?"
Wanita paruh baya itu membuka pintu untuk lelaki berusia sekitaran 40 tahun dengan jas nya yang serba licin.
"Saya mencari Indy, saya ada lowongan kerja untuk nya nyonya"
"Baik lah silahkan masuk"
Cinta keluar dari kamar nya, lantas menghampiri lelaki berjas abu itu.
"Indy, ayo ikut saya untuk masuk kerja"
Dengan cepat Cinta mengikuti lelaki itu dengan mobil berbeda Tantu nya.
1 jam perjalanan akhirnya sampai di perusahaan raksasa Alkatiri, terlihat deretan manusia dengan antrian memanjang. Cinta tak pernah menyangka jika sang suami lelaki yang sesibuk itu.
'Dimana dia? benar dia sedang mengalami gangguan atas jiwa nya'
Gumam Cinta dalam hati, lantas wajahnya berubah murung.
__ADS_1
"Indy dengarkan saya adalah sekertaris nona Karenina, saya ditugaskan untuk memasukan mu sebagai OG, kau tenang saja hanya tinggal antri sesuai prosedur dan kau di pastikan akan diterima di perusahaan"
Cinta mengangguk, lantas turun dari mobil setelah instruksi tersebut dia terima.
"Hey, kenapa kau diam saja dia menyerobot antrian mu!"
Ucap salah seorang gadis itu, karena melihat Cinta melamun.
"Oh iya, maaf aku tidak melihat"
"Oh tidak bukan begitu, kau tidak usah minta maaf pada ku, siapa nama mu?"
"Anindy panggil aku Indy"
"Aku Sofialy umur ku 21 tahun"
"Aku 19 tahun"
"Wah salam kenal ya, mau kah kau berteman dengan ku?"
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Cinta, sedangkan Cinta hanya mengangguk lantas menjabat tangan gadis itu.
"Baik lah kita harus di terima bersama kerja disini, kau tahu meski OG disini tapi gajinya sekitar tiga kali lipat dari perusahaan lain loh"
"Begitu kah?"
"Kau ini polos sekali, makanya mereka rela berebut antri disini dari pada di perusahaan lain"
Cinta mengangguk.
Akhirnya giliran mereka di uji, di wawancarai juga dites salah satu kemampuan standar mereka. Cinta dan Sofialy lulus wawancara otomatis mereka diterima bekerja di sana mulai besok.
Cinta segera menaiki bus menuju rumah sakit setelah Sofialy pergi dengan ojek online nya. Cinta berkunjung dengan baju yang sama karena ini kedua kali nya dia mengunjungi anak-anak nya, meski hanya 5 menit saja.
'Anak-anak mamah, kalian sehat ya, kuat sayang'
Itu lah kata-kata yang sering dikatakan Cinta didalam hatinya sambil mengelus box kedua bayi nya. Putra pertama dinamakan Ibran Rayz Alkatiri dan putra kedua Abran Rayz Alkatiri, tentu nama itu hanya Cinta yang tahu. Setelah nya Cinta pulang ke rumah, untuk beristirahat dan kembali ke perusahaan itu esok hari.
Esok harinya Cinta sudah bekerja di perusahaan Alkatiri, tepat jam 10 pagi rupanya harapannya terkabulkan terbukti dirinya melihat bayang suaminya memasuki kantor. Cinta berkali kali membersihkan ruangan dekat kantor CEO itu, dan benar saja dia di minta untuk membuat teh hangat.
'Akhirnya aku bisa menggunakan kesempatan ini'
Cinta sangat senang. Teh dibuat sehangat mungkin dan dengan gula dua kali takaran teh normal nya. Cinta perlahan masuk, namun tak menyadari Aksara berjalan terburu kearahnya hingga menumpahi baju nya dengan cepat. Cinta berharap lelaki itu marah, namun lelaki itu hanya diam bahkan terkesan dingin lagi angkuh.
Tak berputus asa, Cinta kembali meraih tong sampah asal, ketika Aksara berada di lobi hendak memasuki mobilnya. Berpura-pura berjalan sambil menelpon lalu menjatuhkannya di kaki Aksara, namun lelaki itu tak melihat hanya berhenti sejenak lantas melanjutkan langkahnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1