
GRREPP.....
Rave memegang tangan Min lantas memojokkan nya ke sofa, meski empuk namun tetap saja nyeri apa lagi beberapa waktu lalu luka cambuk yang Min miliki belum kering sepenuh nya.
"Mas, apa yang mau kau lakukan pada ku!"
Min mencoba meronta, dan mengajak Rave agar baik-baik berbicara.
"Jangan sok kuat, kau tahu Rei tidak pernah menyukai mu, dia adalah monster berwujud manusia"
"Mas sakit!"
Min merintih namun seperti nya Ravenda di kuasai nafsu.
"Ikut aku pergi maka kau tak akan menyesal Jasmin"
"Lepaskan aku"
Min berteriak namun seperti nya percuma dia hanya membuang waktu saja.
"Ikut aku!"
Rave menyeret tubuh langsing Min yang memakai high heels.
"Lepaskan aku mas!"
Min berpegangan pada besi pembatas di lantai itu.
"Kau suka bermain rupa nya, baik lah"
SRRAATT.....
Ravenda merobek salah satu lengan dress milik Min.
"Lepaskan aku!"
Min kembali berteriak ketika Rave membopong tubuh Min kembali ke dalam dan langsung menindih nya. Meski tubuh Ravenda tak setinggi Rei namun dia tetap lelaki tenaga nya lebih besar dari Min.
"Mas sadar, jangan lakukan ini"
Rave tertawa seperti iblis, di mata nya hanya ada nafsu. Min sudah gemetar setengah mati, air mata nya sudah bercucuran dengan deras.
"Lepaskan aku, siapa pun tolong aku!"
Suara teriakan Min bercampur dengan tangisan.
BRAAKKK.......
Meja nampak ditendang dan melayang kearah punggung Ravenda, sementara Min dengan cepat berguling dan bersembunyi di balik sofa karena dress nya yang sudah compang camping.
"Apa yang kau lakukan hah?"
Rei, suara itu milik Rei yang baru datang, untung Rei hanya pergi 20 menit seperti ucapan nya itu.
"Hei sobat, jangan ganggu kesenangan ku ya"
Ucap Rave dengan tenang.
"Maka cari lah wanita dibawah sana untuk bersenang-senang"
Suruh Rei pada sobat terbaik nya.
"Memang kenapa dengan pilihan ku?"
Tanya Rave dengan polos nya.
"Lantas apa mau mu?"
Rei malah balik bertanya pada sobat nya itu.
"Aku ingin dia, gadis cantik yang polos itu"
Tunjuk Ravenda pada Min yang bersembunyi di balik Sofa.
__ADS_1
"Jangan ganggu dia pulang lah"
Tutur Rei.
"Lepaskan dia! aku menyukai nya dan kau tidak menyukai nya"
Rave mengutarakan perasaan nya, Rei hanya tersenyum mengejek.
"Jangan harap!"
Dengan arogan Rei berucap.
"Aku akan menyetujui syarat mu"
Pinta Rave dengan elegan.
"Aku tidak butuh apa pun"
Sergah Rei akan ucapan Rave.
"Lepaskan dia! dia bukan apa-apa mu!"
Pinta Rave pada Rei dengan penuh amarah.
"Dia milik ku, apa pun yang sudah menjadi milik ku tidak bisa dimiliki oleh orang lain"
Ucap Rei penuh dengan penekanan akan kekuasaan nya.
"Persetan Rei, seluruh benda bisa kau miliki, bisa bertuan tapi tidak dengan manusia"
Ucap Ravenda menggebu-gebu.
"Apa beda nya hah!"
Muka Rei sudah merah padam di buat Ravenda.
"Jelas beda, kecuali jika kau menikahi gadis yang ku sukai itu"
Cecar Ravenda pada Rei.
Elak Rei, dia tidak ingin berdebat tentang status nya dan Min untuk saat ini sekira nya.
"Apa kau bisa memperlihatkan akta nikah mu dengan nya"
Sindir Rave dengan nada mengejek.
"Diam lah!"
Teriak Rei.
Bug......bug.....bug.....
Rei memukuli habis Ravenda, namun lelaki itu hanya tertawa.
"Kau pengecut Rei, pukulan mu sama seperti gigitan semut!"
Teriak Rave sambil meronta ketika di diseret oleh Aryos dan anak buah nya.
Rei terdiam, Ravenda diseret anak buah Aryos.
"Keluarlah sudah beres"
Rei menengok gadis yang bersembunyi di balik sofa itu yaitu Min.
"Terimakasih om"
Ucap Min sedikit terbata-bata.
Rei melihat Min tubuh gadis itu masih gemetar.
"Pakai ini"
Min mengangguk, Rei segera memakaikan jaket milik nya yang hanya sepaha. Lantas menggendong Min menuju parkiran. Wajah Rei terlihat jelas sangat tampan, memiliki karir yang cemerlang bahkan seorang lajang yang tidak memiliki hubungan dengan wanita mana pun.
__ADS_1
Min menundukkan wajah nya, hari ini kembali Rei menyelamatkan diri nya. Kalau lelaki yang menggendong nya saat ini terlambat semenit saja maka milik Min yang berharga akan direnggut oleh lelaki lain.
"Minum ini"
Dengan lembut Rei menyodorkan air mineral yang sudah terbuka kemasan nya. Min menerima dengan tangan bergetar, wajah gadis itu sangat pucat.
"Tenang lah, sudah tidak apa-apa"
Rei memeluk tubuh langsing gadis itu yang sangat pas di pelukan nya itu.
"Dibelakang ada dress tanpa lengan pakai itu, kita tidak mungkin pulang dengan penampilan mu yang berantakan"
"Baik om"
Min kebelakang sementara Rei keluar, Min dengan cepat mengganti dress nya.
"Sudah?"
Min mengangguk, di sepanjang jalan dia hanya terdiam tanpa mengatakan apa pun.
"Jangan sedih lagi, semua sudah berlalu"
"Iya om"
Sesampai nya di villa, Rei menggandeng Min. Rei sangat perhatian pada Min, membaringkan gadis itu di ranjang empuk nya.
"Tidur lah, disini, jangan khawatir aku akan menemani mu"
"Terimakasih"
Rei tersenyum manis dan hangat. Min segera terlelap tak berapa lama setelah nya ponsel Rei berbunyi. Ada pesan yang masuk kedalam ponsel pribadi nya.
"Bagaimana?"
"Semua sudah beres"
"Bagus lah, rencana kita lancar"
"Terimakasih sobat"
"Jangan sungkan"
Rei menghapus semua pesan kalau menyimpan nya diatas nakas. Dia pergi ke balkon memandang hamburan ribuan bintang yang bertabur di langit gelap malam ini. Menenggak segelas minuman beralkohol lalu menyalakan sebatang rokok kesukaan nya.
Rei memandang seorang gadis yang terbaring diatas ranjang nya, lalu tersenyum smirk.
"Kau segera aku taklukan, bagaimana reaksi Herdan ketika adik nya ku sakiti"
Rei tersenyum tipis sambil menghalalkan wajah garang seseorang.
"Cinta mu sebagai kakak atau cinta adik mu tangan akn kau pilih, berani-berani nya kau mengadukan semua pada mamah"
Ya seminggu sejak makan malam di restoran mewah itu, Rei langsung didatangi oleh sang mamah saat makan siang. Dia seperti penjahat kelamin yang sudah menganiaya anak gadis orang tanpa perasaan.
Sudah 2 jam Rei memandangi tubuh gadis sang istri.
"Si bodoh itu hampir membongkar identitas mu"
Rei membelai lembut rambut istri nya yang tertidur dengan pulas.
"Aku tidak sabar, bagaimana rasa nya mencicipi diri mu yang manis ini"
Rei menyentuh pipi dari istri nya yang halus.
"Bagaimana kalau ku jilat, atau ku mainkan sebentar dan video nya dikirim ke kakak lelaki tersayang mu"
"Tapi aku ingin kau jatuh cinta pada ku, kucing manis"
Rei meracau sendirian seolah ada lawan bicara yang menanggapi setiap perkataan nya.
"Kau seperti mawar yang baru mekar, wangi dan enak, tunggu sampai kau jatuh ke pelukan ku maka bersiap lah untuk ku makan"
Rei tersenyum lantas merebahkan diri nya di samping Min yang sudah tertidur dengan pulas nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.