TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.221


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, karena Min melahirkan dengan normal dua hari kemudian dia sudah diperbolehkan pulang.


"Cucu Oma yang tampan"


Mamah Mendy menggendong bayi merah yang terbungkus selimut itu, sedangkan papah Jorge memperhatikan nya. Sang papah memperhatikan bentuk wajah dari bayi lelaki itu, begitu tampan meski hanya mata dan bibir yang diturunkan oleh anak pengganti nya.


"Pah tampan ya pah?"


"Sangat tampan"


Sang mamah tersenyum, cucu lelaki mereka juga mirip dengan bentukan wajah keluarga besar mereka.


Mamah Mendy terus mengelus bayi mungil itu, sesekali juga menggeliat. Tingkah tidur nya juga sangat imut dengan berbagai pose.


"Kita sudah sampai"


Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di rumah keluarga. Begitu pun bayi kecil itu membuka mata nya dengan lebar, menggeliat imut sekali.


"Pah seperti nya cucu mu suka rumah keluarga kita, lihat dia bangun"


"Masih kecil sudah sepintar ini"


Ucap papah Jorge, tak lupa jari nya menoel pipi yang selembut sutra itu.


"Mah, dia lembut sekali"


"Kan baru lahir pah"


Sang papah tersenyum, dia mengambil alih cucu nya ketika akan memasuki rumah. Secara otomatis kakek dari Cate adalah uyut dari anak nya.


Sang kakek begitu mendengar keluarga anak nya tiba sudah menyiapkan pesta penyambutan sederhana. Negara ini bebas, status apa pun diterima oleh semua keluarga tanpa mengungkit masa lalu.


"Cicit ku......!"


Sang kakek lah yang pertama menyambut cicit pertama nya datang.


"Pah, jangan berlari"


Semua juga menghadiri pesta sederhana itu meski dengan muka yang berbeda ekspresi.


"Duduk lah dulu lah"


Sang kakek menurut saja karena ingin menggendong cicit tampan nya.


"Ayo berikan uyut mau lihat"


Sepasang suami istri yang menggendong anak Min itu saling berpandangan lantas memberikan cucu mereka.


"Tampan nya cicit uyut"

__ADS_1


Kakek melihat semua keseluruhan wajah si cicit yang baru dua hari berada di dunia indah ini.


"Kau begitu tampan, jagoan uyut mau mengambil gen terbaik dari semua nya ya?"


Kakek berkata demikian sedangkan bayi kecil yang hanya berbobot 3,5 kilo gram itu meraba-raba janggut nya. Tak lama tersenyum dengan imut meski tanpa gigi.


"Sudah mengerti ucapan uyut ya?"


Semua tertawa karena bocah lelaki baru itu. Memang tak diragukan anak Min itu membawa kebahagiaan tak terhingga.


Kamar Min sudah direnovasi menjadi satu dengan kamar bayi, meski bayi mungil nya itu selalu tidur disisi ranjang Min.


Sudah seminggu berlalu tinggal bersama dengan bayi kecil lelaki nya di rumah keluarga Mid. Min sudah terbiasa, dia juga mengurus anak lelaki nya selama cuti dari kantor dalam waktu tiga bulan kedepan.


Tok....tok....tok.


"Masuk"


Min sedang mengganti pakaian si kecil. Bayi kecil tampan itu menggeliat senang karena hangat dipakaikan baju oleh mamah nya. Senyum dan celoteh nya kadang tangis nya membuat hiburan tersendiri bagi Min.


"Mamah......."


"Nak, dede sudah mandi?"


"Sudah mah"


"Tampan nya cucu Oma"


"Iya ada tamu yang ingin berkenalan dengan kamu"


"Oh, Cate belum mandi, mah"


"Sini mamah gendong jagoan kecil kita"


Sejak Min menggantikan posisi Cate, mamah Mandy selalu menyuruh Min untuk membiasakan diri sendiri memanggil Cate bukan Jasmin lagi. Biarkan nama itu terkubur didasar lautan dengan status meninggalkan dunia ini dengan sejuta beban.


"Kamu mandi dulu lalu turun kebawah, kita akan makan siang bersama"


"Iya mah"


Min segera pergi ke kamar mandi untuk mandi setelah memandikan bayi mungil nya. 1 jam setelah nya Min selesai mandi langsung berpakaian dengan rapih, bagaimana pun Min sehabis melahirkan baru 15 hari ini. Badan nya masih lemah, tapi berkat obat dari dokter juga obat herbal yang mah Cate berikan tubuh nya sedikit segar dan asi nya juga lancar.


"Selamat siang siang semua"


Min menyapa semua tamu yang hadir, dia masih di belakangi seorang lelaki muda.


"Sini sayang duduk, kita kenalan lagi dengan keluarga sahabat nya kakek. Tanpa membantah Min langsung duduk, secara langsung Min sudah berhadapan dengan lelaki muda yang dibawa oleh kerabat dari kakek nya.


Namun karena fokus Min hanya pada bayi nya bukan siapa pun, lelaki muda itu tersenyum dengan manis.

__ADS_1


"Nak, kenalkan ini cucu dari sahabat kakek nama nya Andreas Wirata"


Min mendongak, mata nya membulat sejenak diri nya kaget namun segera dia netralkan kembali karena dia tidak ingin siapa pun mengetahui jati diri nya.


"Hai, Andreas"


Pemuda tampan itu menjulurkan tangan nya meminta berkenalan dengan Min.


"Cate Mid"


Min menerima ukuran tangan lelaki itu, lelaki yang pernah dikenalnya saat bekerja di perusahaan mantan suami nya.


"Dre, dia cucu tunggal dari kakek"


Andreas mengangguk lantas tersenyum manis, seluruh keluarga makan siang dengan suasana meriah. Sedangkan si kecil tampan anggota terkecil keluarga besar Mid itu tertidur dengan nyenyak setelah menenggak setengah botol susu milik ibu nya.


Andreas sebenar nya ingin berbicara banyak dengan Min namun dia urungkan, tidak pantas rasa nya dia menanyakan hal yang menyangkut privasi ibu muda dengan satu anak itu.


Tapi usaha Andreas tak terhenti disana, dia sudah ada kontak sang Tante yang merupakan mamah dari Cate itu.


"Andreas bagaimana pendapat mu tentang anak nya Tante Mandy?"


Sang mamah menanyakan itu, namun Andreas malah tersenyum sendiri saja.


"Anak mu sedang kasmaran mah"


Sang mamah menengok ke belakang, ternyata benar anak nya sedang berkhayal tentang wanita muda tadi. Senyum nya terasa bodoh, dan itu terlihat sangat menjijikan.


"Kenapa kita punya anak sebodoh dia pah?"


"Entah gen dari siapa keturunan itu?"


"Yang jelas bukan dari mamah"


Sang papah hanya menghela nafas nya sambil menyetir mobil mereka menuju rumah.


Min sedang menemani bayi nya untuk tidur siang dikamar mereka. Mamah Mandy menemani Min jika diperlukan cucu lelaki itu ketika rewel.


"Nak"


"Eh, mamah"


"Bagaimana nak Andreas menurut mu?"


"Dia seperti nya baik, mah"


Sang mamah mengangguk dengan segera. Min melirik ekspresi mamah dari Cate ini, dia tidak ingin mengatakan jika sebelum nya Min sudah kenal baik dengan Andreas. Biar lah semua kenangan terkubur dengan kecelakaan pesawat itu, saat ini dia adalah Cate Mid. Dia tidak ingin siapa pun mengungkit masa lalu, Min hanya punya masa depan bersama dengan putra kecil nya tercinta.


"Dia memang lelaki baik, sopan, lembut, karena dididik dengan baik, lain hal nya dengan Cate yang suka bertingkah bar-bar. Maka nya saat mendengar mereka dijodohkan mamah agak khawatir dengan tempramen Cate"

__ADS_1


Sang mamah bercerita sambil memandang kearah halaman luar di balkon kamar Min. Seolah di luar ada kejadian menarik saat Cate anak tunggal nya berada di masa kecil nya. Meski kesedihan kentara terdengar di setiap ucapan mamah Mandy namun wanita paruh baya itu tetap tegar.


BERSAMBUNG.


__ADS_2