
Sejak kejadian kecelakaan pesawat yang berakhir pada informasi buntu. Rei seolah terlahir kembali, namun diri nya seorang penggila kerja, dingin bahkan sadis pada lawan bisnis nya. Tapi meskipun demikian bisnis yang digeluti berkembang dengan pesat.
"Mah"
"Kau semakin gila kerja saja, untuk apa?"
"Ini tugas Rei, mah"
"Tugas apa? siapa yang membuat mu menjalankan tugas ini?"
Sang mamah datang karena anak bungsu nya semakin menggila saja setiap hari nya.
"Tolong mah"
"Aku sudah tidak bisa menolong mu, kau abaikan istri mu, berapa wanita lagi yang mencintai mu harus berkorban nyawa"
Rei malah seolah tuli dengan ucapan sang mamah karena banyak pekerjaan numpuk di meja nya.
Sudah barang seminggu Rei juga mencari keberadaan Min, namun anak buah nya tak kunjung mendapatkan hasil. Rei semakin merasa bersalah, di benak nya terngiang akan ucapan nya sendiri yang membuang darah daging hasil cinta nya dengan Min.
"Tuan"
"Kenapa Yos?"
"Perusahaan yang di desa anjlok"
"Persiapkan kita kesana"
Meski tak ada alasan lagi, bahkan akan membuka luka karena desa yang akan di kunjungi adalah desa dimana Rei menemukan Min.
'Apa ini sebuah karma atau berkah, niat awal ku memang untuk menuntaskan dendam tapi tidak demikian tuhan memberikan jalan. Jasmin maaf, karena egois ku membuat mu harus pergi dengan cara sekejam ini'
Gumam Rei dalam penyesalan terdalam nya.
Sore ini Rei bermaksud mengunjungi desa yang indah ini, dia berharap jika istri nya tidak menaiki pesawat itu dan pulang mengunjungi sang mamah. Rei sudah menyampaikan kabar duka atas kepergian nya, namun tentu tidak mengatakan alasan sebenar nya kepergian Min menaiki pesawat itu.
"Kita sudah sampai tuan"
"Sampai jumpa"
Rei bergegas masuk ke salah satu kamar hotel yang dulu dia beli. Rei mengingat semua kenangan juga bagaimana menjebak gadis itu agar dia dapatkan.
Rei segera mandi, lantas mengenakan pakaian rumahan dengan sopan dan mengendarai mobil sewaan yang disewa nya dari pihak hotel.
Sampai di sebuah rumah sederhana, dia melihat seorang wanita paruh baya seusia mamah nya. Ya itu mamah dari Min yang sedang duduk di kursi memandang ke halaman rumah. Semua sudah di pastikan bahwa wanita itu menunggu putri tunggal nya yang secara tidak langsung Rei sakiti, Rei kecewakan dan juga menjadi ajang balas dendam bagi Rei meski anak gadis wanita itu tidak tahu apa pun.
Klek.
Rei membuka pintu mobil nya dan turun ke halaman untuk sekedar menemui wanita itu.
"Mah......."
Rei tahu rasa kehilangan terbesar dalam hidup seseorang, dia tidak ingin egois jika hanya menghibur maka akan dia lakukan.
wanita yang sudah ada banyak kerutan dan nampak lusuh itu menengok kearah sumber suara.
__ADS_1
"Nak Rei"
"Mah, maafkan Rei"
"Semua itu musibah nak, jangan berpikir terlalu banyak ya"
Rei mengangguk, bagaimana jika wanita dihadapan nya tahu jika anak kesayangan nya tak pernah dia sayangi apa lagi perhatikan. Konsekuensi apa yang akan dia terima, sedangkan saat ini Dimata yang mulai renta itu terlihat jelas kesedihan akan kehilangan yang mendalam.
"Mamah juga jangan bersedih, jaga kesehatan agar bisa selalu mendoakan Min"
"Iya, mamah tahu"
Mamah dari istri Rei itu tersenyum hangat, tangan yang hangat itu menyentuh telapak tangan Rei.
'Maaf mah, maafkan Rei, dosa Rei sungguh tak terampuni, maaf Rei tidak bisa jujur'
Ucap Rei penuh penyesalan, Rei hanya diam saja.
"Ayo masuk, mamah baru saja memasak dibantu bibik yang kamu pekerjakan nak Rei"
"Iya mah......."
"Temani mamah makan ya"
"Iya mah"
Saat makan malam pun Rei bersedia tinggal untuk menemani sang mamah. Peninggalan Min satu-satu nya setelah istri nya tiada hanya seorang ibu yang sudah lanjut usia ini. Karena buah cinta Rei dengan Min, sudah Rei musnahkan dengan tangan nya sendiri. Dosa yang Rei pikul dan tanggung tak bisa ditimbang lagi dan tak terhitung jumlah nya.
"Ayo ambil nasi dan tambah lagi, Min paling suka sayur lodeh, dia pasti tambah nasi kalau makan saat mamah masak sayur lodeh tuh"
"Iya mah"
Memang rasa sayur ini enak, empuk dan berempah.
"Enak kan"
Rei mengangguk.
"Menginap lah disini, kamar Min paling depan dari pintu masuk"
"Baik mah"
Rei menuruti semua permintaan mamah mertua nya, setelah makan malam Rei bergegas mandi. Dia membawa baju ganti yang ada di mobil nya, lantas masuk menuju kamar yang tadi ditunjukan sang mamah mertua.
"Rapi....."
Rei melihat beberapa foto, piala, hiasan juga bantal dan sprei yang selalu diganti oleh sang mamah dengan warna kesukaan dari sang putri tercinta nya.
Rei juga membuka lemari pakaian yang masih terdapat beberapa pakaian Min, istri nya.
'Apa kau membenci ku?'
Rei meraba pakaian yang pernah Min gunakan.
"Maaf....."
__ADS_1
Lirih Rei.
Pintu kamar Min sedikit terbuka, sang mamah yang lewat melihat pemandangan sedih itu. Hati mamah Min juga sangat sedih, dia sampai harus opname karena kabar yang tiba-tiba itu.
Bahkan tanpa jasad atau pun tanpa informasi apa pun Min pergi tanpa kembali. Bukan hanya setiap hari namun setiap malam sang mamah tidak lelap dalam tidur karena menanti kedatangan putri nya, mamah yakin Min belum meninggal seperti kabar itu.
"Mah, belum tidur?"
Sang mamah mendongak kearah menantu lelaki nya.
"Mamah sudah biasa duduk di teras begini, sejak Min mulai sekolah, jujur Min tidak pernah pisah dari mamah"
Meski air mata sudah meleleh di pipi renta itu, namun tetap bibir wanita tua itu tersenyum. Rei pun duduk di sebelah nya, untuk sekedar menemani mertua nya itu.
"Nak pergi lah tidur, sudah larut, angin dingin tidak baik untuk kesehatan tubuh mu, kau besok harus bekerja bertemu orang-orang penting"
"Iya, mah"
"Mamah sebentar lagi juga akan masuk"
"Iya, mah"
Rei bergegas masuk, dia bukan nya tidak ingin menyuruh mertua nya masuk, tapi dia takut memaksa akan membuat mertua nya tambah sedih akan kehilangan putri tunggal nya.
Pagi menjelang, Rei segera mandi. Sementara mertua nya sudah bergelut memasak di dapur.
"Mah, bibik mana"
"Eh, sudah bangun nak?"
"Sudah"
"Bibik ke kebun di samping sedang memetik sayur buat makan sehari-hari"
"Kenapa tidak beli, mah?"
"Mamah suka yang tanpa pestisida"
"Oh, baik lah"
Rei menambahkan dua kali lipat uang belanja juga kebutuhan sehari-hari sang mamah. Rei telah selesai dengan urusan mandi nya.
"Ayo nak sarapan dulu"
Mereka bertiga sarapan bersama dengan menu nasi goreng ala kadar nya.
Seminggu Rei tinggal di desa tempat tinggal Min, seminggu itu pula dia bolak-balik mengunjungi sang mertua meski hanya untuk berbicara saja.
Rei kembali ke kota, setelah berpamitan pada mamah mertua nya.
'Semoga kau melihat ku, menerima permohonan maaf ku, menebus salah ku pada mu, aku janji akan menjaga mamah sampai aku mati'
Gumam Rei, menaiki pesawat terbang kembali ke kota.
BERSAMBUNG.
__ADS_1