
Aksara terduduk lemas di sofa, ponsel nya terjatuh begitu saja. Semua yang sedang berkumpul memandang nya, Cinta segera mendekat lalu memeluk tubuh Aksara itu.
"Mah, maafkan papah!"
Tubuh Aksara bergetar, dia menangis.
Semua terdiam, Riana mendekat pada kedua orang tua nya itu.
"Ada apa pah?"
Indri menarik adik kembar nya untuk kembali duduk, namun Riana menolak.
"Ada apa pah? dimana kak Rieka?"
Indri menari Riana secara paksa untuk duduk.
"Diam dan duduk lah Riana!"
Raksa meninggikan suara nya untuk mengatur kedua adik kembar nya.
"Biarkan papah tenang dulu, Ri"
Memegang bahu adik ketiga nya itu, karena Riana tampak emosi. Rei hanya terdiam saja, mengamati semua nya. Aksara nampak tenang meski dengan keadaan lemas.
"Jasad kakak Rieka akan diantar kemari 20 menit lagi"
DUAARR......
Riana langsung menjerit histeris dengan datang nya berita sang papah, isak tangis memenuhi ruangan itu. Semua begitu terpukul, berita sudah di tayangkan bahwasannya model ternama luar negeri meninggal karena tenggelam di dasar laut. Rei nampak terkejut dengan semua itu, dia belum bertemu secara langsung dengan model cantik internasional yang ternyata kakak nya sendiri.
"Jangan menonton lagi itu tidak baik"
Opa Ditya merebut remote televisi lalu mematikan nya, mereka masih di ruang bawah tanah. Namun seseorang pasukan bayangan yang terpercaya memasuki ruangan.
"Ada apa lagi?"
"Gawat bos"
__ADS_1
"Ceritakan lah"
Si mata-mata bayangan menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah keluarga Aryandy.
"Mamah........!"
BBBRUUKK.
Jeritan itu berasal dari Cinta, bagaimana tidak pingsan wanita paruh baya itu baru beberapa hari lalu menemukan keluarga kandung nya.
"Mah, cepat angkat ke tempat tidur, Riana temani mamah mu"
Aksara berteriak, dia sangat panik sambil memperhatikan anak bungsu nya, Rei diam mematung masih di tempat nya pemuda yang akan berulang tahun besok yang ke 18 itu tatapan nya datar, dingin, bahkan tanpa ada suara meski air mata nya keluar.
Riana melihat arah pandang sang papah, lantas dia segera masuk ke dalam kamar bersama Indri menemani sang mamah yang sedang pingsan.
"Rei"
Ucap Aksara lembut, namun yang di sebut justru mendengarkan cerita dari mata-mata bayangan itu.
"Sudah tuan"
"Rei"
Masih tanpa jawaban, Aksara sangat takut anak bungsu nya mengamuk.
"Rei"
"Paman"
"Saya bos kecil"
"Sambungkan ponsel mu dengan pak Arto sekarang"
"Baik"
Dino menghubungi pak Arto lantas menghubungkan dengan komunikasi yang tersedia di ruang bawah tanah.
__ADS_1
"Maaf aku mau memakai peralatan disini"
"Pakai lah, semua juga milik mu"
Ucap Aksara masih dengan mengamati gerakan sang putra bungsu nya.
"Bos sudah tersambung"
Rei segera bertatap muka dengan pak Arto di Vidio call.
"Tuan......"
"Jangan bertanya apa pun, buat konferensi pers besok pagi, umumkan bahwa rumah keluarga Aryandy terbakar karena kecelakaan, jangan biarkan reporter meliput, adakan meeting dengan ku secara live setelah nya jam 10 pagi"
"Baik tuan muda"
Klik.
"Rei"
"Maaf aku ingin beristirahat"
Rei segera pamit untuk merebahkan diri nya di kasur yang ada.
"Dino"
"Dia sudah dewasa tuan, dia sudah dididik jadi penerus kakek nya, bahkan ketika aku masih berharap dia menyandang nama Alkatiri namun Aryandy tekad nya ada pada putra bungsu mu"
"Itu lebih baik, dampingi dia"
"Baik lah"
Klek.
Aksara memasuki ruangan menemani istri serta kedua anak nya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1