
Min kembali membawa menu sarapan pagi nya, meski agak banyak namun tetap dia bawa. Kadang ada cleaning servis yang tidak makan siang karena berhemat maka dia bagi menu sarapan yang jadi makan siang. Atau teman sekantor yang hanya ingin mencicipi lauk enak yang Min bawa itu sudah lumrah. Min tidak punya teman Akrab atau siapa pun di kantor sebesar milik Rei ini.
"Sedang membuat apa?"
"Buat teh hangat"
Min menengok ke belakang ternyata Andreas sedang tersenyum kearah nya, lelaki tampan yang jarang berinteraksi ini.
"Mau sekalian"
"Aku tidak menoleh teh dari gadis cantik"
Andreas masih dengan senyum mengembang nya. Sementara sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan ya siapa lagi jika bukan Ravenda.
"Baik lah, tunggu sebentar"
Min kembali membuat secangkir teh hangat.
"Ini....."
"Wah lebih harum, dan lebih manis pasti nya"
Min tertawa geli, begitu pun Andreas.
"Aku masuk duluan ya"
"Baik lah"
Setidak nya ada yang kenal dengan Min meski pun lelaki.
"Kenapa aku tidak di tawari teh juga"
Suara familiar seorang lelaki, ya dia lah Ravenda.
"Maaf pak, jam kantor sudah mau mulai"
Min bergegas pergi karena terkahir kali kepergok Rei mereka bersama Rei marah besar.
"Seperti ketahuan selingkuh saja"
Gumam Min.
Baru saja Min mengerjakan setengah laporan pemberkasan nya, seorang wanita sexy, cantik lagi harum dengan parfum menyengat menghampiri nya lagi.
"Kau tidak sibuk bukan?"
Min mendongak, jujur dia malas berbicara dengan wanita licik. Bagaimana pun tidak ada orang yang mengakui pekerjaan orang lain jadi milik nya namun wanita ini sungguh licik mengakui pekerjaan yang Min kerjakan adalah hasil dari kerja keras nya.
"Ini, hanya sedikit jadi sebelum jam kerja selesaikan lah, agar tidak lembur"
"Kenapa tidak menyuruh yang lain?"
"Apa kau keberatan?"
Min terdiam.
"Kau hanya parasit di tubuh kak Rei bukan?"
Min begitu malas bertengkar, bukan karena perih nya luka punggung nya namun karena sedang datang bulan.
"Bukan hanya teman tidur, tapi juga budak di kantor, jadi jangan macam-macam dengan ku"
__ADS_1
Elian melempar berkas itu ke hadapan Min, lantas bergegas pergi karena tak ingin berlama-lama takut ada yang tahu kecurangan nya.
"Kerja ya kerja saja mengungkit yang bukan ranah nya"
Min segera merancang berkas yang diberikan Elian, hingga selesai tepat saat jam makan siang.
"Untung agak gampang tidak seperti kemaren susah sekali"
Min membuka kotak makan yang dia bawa dari rumah, camilan juga beberapa botol jus segar. Sementara karyawan yang lain berbondong-bondong ke kantin. Min menarik uang makan siang dan camilan nya itu dikumpulkan tiap Minggu nya ke rekening bank pribadi nya.
"Sendirian saja, boleh mas temenin?"
"Makanan di kantin kantor lebih enak mas"
"Pelit banget sih"
Berkata demikian namun tetap duduk mengambil sekotak nasi lain dan menyendok lauk pauk milik Min juga.
"Enak banget, lebih sedap, kamu masak sendiri ya"
Min mengangguk, Ravenda tersenyum lantas tangan nya mengelus kepala Min. Mereka tak tahu jika seseorang melihat adegan mesra mereka dengan dada bergemuruh bak lahar panas yang menyembur dari dalam gunung berapi.
"Terimakasih makan gratis nya"
Ravenda menyelipkan amplop kedalam kotak makan itu.
"Kebiasaan banget"
Tapi Min tetap mengambil nya dan menabungkan nya kedalam rekening pribadi nya.
Rei sampai di kantin restoran memesan salad buah dan jus segar saja. Selera makan nya entah menguap kemana setelah melihat adegan mesra tadi, ditambah gadis itu tersenyum kearah si pemuda dengan manis nya.
"Tuan"
Rei segera kembali, di depan pintu ruang kantor nya Elian sudah berdiri menunggu nya.
"Masuk"
Elian masuk mengekor dibelakang Rei.
"Ada apa?"
"Kak tolong ganti hukuman nya"
"Aku tidak menghukum mu, memang di cabang sedang butuh CEO, tidak ada yang lain yang bisa ku andalkan selain diri mu"
Final memang keputusan Rei tidak dapat di ganggu gugat oleh siapa pun.
"Baik, Elian pamit kak, Elian berangkat sekarang juga"
"Hati-hati di jalan"
Elian keluar kantor dengan sangat marah, semua ini gara-gara simpanan kakak nya siapa lagi selain Jasmin.
"Aku akan buat kamu menyesal Jasmin!"
Elian mengemasi semua barang-barang milik nya, dan bergegas pulang untuk berkemas.
Drrtt....ddrrtt.
"Ya"
__ADS_1
"Buat wanita yang ada di Poto itu terlihat seperti dilecehkan lelaki terdekat nya dan kirim poto-poto itu ke alamat itu"
"Baik"
Elian tersenyum puas, ratusan juta dikeluarkan tak akan sia-sia untuk membuat seorang Jasmin menderita di tangan sang kakak.
"Rasakan kau Jasmin, nikmati kesengsaraan mu itu mulai sekarang"
Elian pergi ke bandara, terbang ke tempat tujuan sore itu setelah melakukan misi nya.
3 hari kemudian datang sebuah paket ke villa itu atas nama Arei Rafiensah Aryandy. Sebuah kotak segi empat beludru dengan design cantik.
"Tuan ada paket kiriman spesial untuk anda"
Ucap paman James, sekarang saat tengah hari yang panas di week end Rei sedang menikmati kolam renang di taman belakang villa nya. Lelaki bungsu dari Alkatiri dan pewaris tunggal Aryandy itu bertelanjang dada dengan bentukan perut sixpack, bahu kekar lagi sangat tampan.
"Taruh di ruang kerja ku saja James"
"Baik tuan"
Rei melanjutkan acara berenang nya, sambil menikmati jus jeruk yang segar dan menikmati wangi bunga yang ditanam nya.
"Tuan"
"Kenapa lagi James?"
"Makan siang mau menu apa tuan?"
"Aku makan di resort saja James, sediakan untuk nyonya"
"Baik tuan"
Rei sudah lelah dengan acara berenang nya, lelaki itu sengaja duduk di pinggir kolam. Melihat pantulan seorang gadis, Queena pacar pertama nya yang sudah tiada seolah tersenyum manis pada nya.
"Kau ingin ku jenguk bukan?"
Rei berbicara sambil mengelus air kolam itu.
"Iya aku selalu sibuk jadi lupa sudah lama tidak berkunjung"
Rei tersenyum hangat sekali, Min memperhatikan dari balkon.
"Aku akan mengunjungi mu, kalau kau kangen pada ku, ya aku juga kangen pada mu, Queena"
Min mendengar nama seorang gadis disebut oleh Rei.
"Om punya pacar, kenapa tidak membawa nya tinggal bersama, Kenap malah membawa ku tinggal disini?"
Gumam Min di balkon kamar Rei.
Rei segera bergegas untuk naik keatas menuju kamar nya, lelaki itu mandi dan berdandan dengan sangat tampan seperti remaja yang mau mengencani teman wanita nya. Bau badan Rei sangat wangi, tidak seperti biasanya lelaki itu menggunakan parfum yang berbeda.
"Om mau kemana?"
"Aku mau keluar, kau di rumah saja, makan dan istirahat"
Rei bergegas nampak terburu-buru. Dia juga membawa paket yang tadi baru datang itu.
"Malam nanti aku tidak pulang ya"
"Iya"
__ADS_1
Min melihat kepergian Rei begitu saja.
BERSAMBUNG.