TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.271


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, sekarang saat sesi acara pertunangan mewah dan megah yang orang tua Andra gelar untuk Andra dan Sisi.


Design baju di buat khusus untuk kedua calon tunangan, juga gaun dan jas yang buat khusus juga untuk keluarga kedua calon tunangan itu. Semua kolega di undang, pers, dan kerabat baik dekat maupun jauh.


Undangan disebar secara berkala dengan design yang mewah, lantas pemberitaan pertunangan mereka semakin santer di media elektronik bahkan di cetak di surat kabar.


Semua tamu adalah para pembisnis internasional kelas kakap, juga para bangsawan yang hadir disana. Di perkirakan akan jadi acara akbar bagi kedua keluarga bahkan seluruh perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan yang mereka miliki.


"Akhir nya kau akan memiliki menantu kandung mu?"


Ujar paman Rindi, ketika Rei secara langsung bertandang ke kantor lelaki lapuk yang masih lajang itu.


"Aku hanya mengantarkan undangan pertunangan bukan pernikahan"


"Benar juga"


Asisten paman Rindi mengantarkan dua cangkir kopi panas.


"Ayo ngopi dulu"


Rei melihat teman nya ini sedikit berbeda, mungkin tersinggung karena keponakan tunggal nya itu menyukai anak tunggal nya.


"Maaf aku tidak ikut campur masalah percintaan para anak muda"


"Itu lebih baik"


Ucap paman Rindi dengan nada lemah.


"Ada apa?"


"Gadis kecil ku menangis 2 hari lalu sampai seharian"


Rei terdiam mendengar cerita sahabat nya.


"Tapi aku tidak bertanya pada nya, dia juga tidak mengirim makan siang pada seseorang lagi namun lebih murung"


Rei mengangguk.


"Mungkin kami juga terlalu memaksa Arvin namun ketika Sisi mengatakan sudah hamil, Arvin tidak menolak nya"


Paman Rindi mendongak kearah teman karib nya itu.


"Kok bisa?"


"Entah lah"


"Meskipun lumpuh anak mu menuruni gen kakek nya, subur"


"Hey, jangan begitu"


"Benarkan, kau juga memiliki anak tunggal karena nasib bukan turunan"


"Jangan mengolok-olok ku lagi"


"Baik lah sobat, aku meminta maaf"


"Sudah mau sore aku akan kembali ke rumah"


"Baik lah"


Rei berpamitan pada sahabat karib nya, dia segera meluncur kembali ke rumah untuk menikmati makan malam nya.


Sementara Rindi sedang berada di rumah papah nya, dia sedang malas belajar juga latihan. Seharian dia hanya duduk sambil ngemil dan menonton televisi.


Tok....tok....tok.


"Masuk!"


"Rin catokin rambut kakak dong"


"Kenapa tidak ke salon saja"


"Buru-buru"


Rindi segera turun ke ruang santai lantas segera mengerjakan tugas yang kakak nya berikan.


"Memang mau kemana kak?"

__ADS_1


"Tentu saja ke kantor lelaki yang ku sukai meski jadi yang kedua aku tidak keberatan"


"Oh"


Rindi hanya ber oh ria saja karena dia sudah pernah tahu siapa lelaki yang sedang kakak nya kejar.


"Ya sudah aku pergi dulu, ya"


Lisa segera berangkat, sementara Rindi kembali melanjutkan menonton televisi. Pemberitaan tentang pertunangan pewaris tunggal pembisnis internasional makin marak saja, isu-isu dan seputar nya kini sedang di buru para reporter.


"Membosankan sekali"


Drrtt....drrtt.


Ponsel canggih milik Rindi berdering, disana nampak nama paman nya sedang memanggil.


"Iya paman?"


"Kapan kau berkunjung?"


"Aku sedang malas"


"Kenapa?"


"Tidak ada alasan"


"Kalau bosan pergi lah berlibur"


"Tidak"


Lama Rindi terdiam.


"Malam ini Rindi ke rumah paman deh"


"Oke, nanti bibi masak enak buat mu"


"Siap paman"


Sebenar nya Rindi sudah tidak selera untuk makan karena dia melihat berita pertunangan Andra berseliweran di semua sosial media. Rindi turun berat badan karena kurang nafsu makan dan sering menangis sendirian di kamar.


Rindi segera mandi lantas bersiap untuk pergi ke restoran, sebelum itu dia menghubungi papah nya dahulu.


"Aku akan ke rumah paman ya, pah"


"Baik pergi lah"


"Sampai jumpa papah"


"Hati-hati ya"


"Baik, pah"


Rindi menutup saluran panggilan nya dengan sang papah lantas menuju hal bus untuk menuju rumah paman nya.


Benar juga sampai disana, bibi baru saja selesai memasak makan siang.


"Paman mana bi?"


"Tiba-tiba ada klien penting kata nya tadi, jadi bergegas ke kantor"


"Oh, begitu, kirain ditinggalin"


Akhir nya Rindi makan sendirian, tanpa ada yang menemani. Tepat ketika telah larut sang paman baru pulang.


Ketika paman hendak menaiki tangga tak sengaja melihat kilat cahaya dari televisi. Rupa nya keponakan kecil nya belum beranjak untuk tidur.


"Belum tidur?"


Klak


Saklar lampu dihidupkan oleh sang paman, ruangan langsung terang seketika.


"Paman, baru pulang ya?"


"Iya, kenapa belum tidur?"


"Arin sengaja menunggu paman"

__ADS_1


"Menunggu ku ada apa?"


"Apa Arin boleh meminta sesuatu?"


"Katakan, jika paman bisa paman akan mengabulkan nya"


"Janji"


"Janji"


"Paman, Arin ingin kuliah di luar negeri, apa boleh?"


"Tentu boleh"


"Apa masih bisa?"


"Tentu saj bisa, apa pun yang Arin ingin paman akan mendukung mu"


"Benarkah?"


"Iya benar"


"Baik lah, terimakasih paman"


"Kapan kau ingin berangkat?"


"Kalau bisa besok pagi"


"Baik lah, mungkin agak siang, kau nanti akan ditemani 2 asisten dan 10 pengawal agar aman disana"


"Baik lah paman, terimakasih"


"Nanti papah mu biar paman yang urus"


"Iya paman, satu lagi boleh?"


"Tentu berapa pun permintaan mu?"


"Aku ingin memakai nama belakang mamah"


Sang paman mengelus pucuk kepala keponakan nya, ini sangat di luar dugaan. Memang benar usaha tak akan menghindari hasil nya.


"Tentu sangat boleh, kau adalah satu-satu nya pewaris paman"


Rindi mengangguk senang, begitu pun sang paman nya.


"Baik pack barang yang kau butuhkan, nanti paman siapkan besok siang kau akan terbang untuk belajar ke luar negeri"


Ucap paman menegaskan.


"Paman mau istirahat dulu ya"


"Iya paman, selamat malam"


Rindi tersenyum puas karena permintaan nya akan segera terkabul meskipun sudut mata nya mengalirkan cairan bening namun dia tidak terisak.


"Aku kuat, aku bisa"


Sambil menguatkan hati dan menata hidup yang baru, melupakan kehidupan yang lama.


'Ini keputusan ku, keputusan ku sudah benar dan bulat, dengan melihat nya bahagia maka aku akan bahagia'


Ucap Rindi memberi semangat pada diri nya sendiri.


Rindi hanya beberapa jam tertidur, setelah nya segera membersihkan diri dan mengepak barang yang di perlukan saja. Rindi turun kebawah, dibawah paman nya sedang sarapan.


"Kau sudah bangun, mereka yang paman janjikan semalam, dan itu tiket, kunci rumah, kunci mobil juga biaya hidup mu selama disana"


"Baik paman, terimakasih"


"Ayo sarapan dulu"


Rindi mengangguk dan segera sarapan. Setelah menyelesaikan sarapan pagi terakhir nya bersama sang paman Rindi segera pamit untuk pergi ke bandara.


"Rindi pamit paman"


"Iya, hati-hati di jalan dan juga jaga kesehatan"

__ADS_1


Rindi mengangguk dia sebelum berangkat memandang paman nya dan melambaikan tangan nya. Rindi segera menuju ke bandara untuk melakukan perjalanan ke negara lain untuk belajar.


BERSAMBUNG.


__ADS_2