TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.158


__ADS_3

"Rumah sakit privat keluarga Aryandy"


Deg........


"Dimana rumah sakit itu dokter?"


"di kota yang jarak nya ratusan kilo meter dari sini Min, tapi kondisi mamah mu sangat memburuk, kantor darah yang mengalir ke tubuh mamah mu itu yang terakhir"


"Apa yang saya harus lakukan dokter?"


"Perusahaan tempat kau bekerja adalah milik dari penerus tuan besar Aryandy"


Min terdiam, yang arti nya ucapan dokter itu adalah dia harus memohon pada lelaki yang tadi pagi meminta imbalan atas info hutang mamah nya pada rentenir itu.


"Apa rumah sakit tidak bisa mengusahakan?"


Min memandang dokter Ervan dengan tatapan memelas.


"Seluruh rumah sakit terdekat tidak ada stok darah milik mamah mu Min, maaf hanya rumah sakit itu lah yang memiliki bank darah paling komplit dan selalu ada stok darah yang di butuhkan"


Min menghela nafas nya dengan perlahan.


"Waktu mamah mu hanya 3 jam saja Min"


Min mengangguk lalu dengan secepat kilat dia segera pergi kembali ke perusahaan tempat dia bekerja.


1 jam Min menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor yang dipinjamkan oleh sang dokter, hati sudah mulai sore namun Min yakin lelaki itu masih di ruang kerja nya.


"Nona Jasmin anda mau kemana?"


"Mau bertemu pak CEO Rei"


"Beliau sudah pulang nona"


Min mengangguk, segera dia menstarter motor milik nya itu dengan kecepatan tinggi karena jalanan sedang lengang menuju malam.


"Ini baru 1 jam 10 menit semoga sempat"


Min sampai di apartment tempat Rei menginap. Min tahu letak lantai juga kamar nya karena lelaki itu pernah menyekap nya.


"Maaf nona anda bukan penghuni apartment ini"


Langkah Min segera di hentikan oleh scurity yang menjaga lift itu.


"Tapi aku salah seorang teman dari penghuni apartment ini pak"


"Di lantai mana?"


"Lantai 23"


"Mohon maaf nona mohon anda kembali"


"Aku ada urusan penting pak"


"Pemilik apartment dari lantai 15 itu tamu privat nona, jadi mohon kerja sama nya"


"Sebentar aku telpon dulu"


Beberapa kali Min menelpon Rei, namun tak ada jawaban sama sekali.


"Bagaimana nona?"


"Dia tidak menjawab telefon ku pak"


"Jika begitu mohon nona untuk segera pergi jangan mengganggu"


"Pak tolong telefonkan pak Rei untuk saya tolong pak ini darurat"


"Maaf nona....."


"Tolong pak sekali saja"

__ADS_1


Scurity itu segera menelfon lewat telefon apartment yang tersedia, beberapa kali tak ada jawaban.


"Tolong sekali lagi pak, kalau beliau tidak menjawab juga maka saya akan pergi"


Scurity pun menuruti permintaan Min, nampak ada suara mengangkat panggilan itu.


"Iya pak"


"Maaf tuan muda, ada seorang nona yang memaksa masuk apartment karena mencari mu"


"Lalu?"


"Apa nona ini harus saya usir paksa?"


SREETTT.....


Min merebut telefon itu dari tangan scurity.


"Pak Rei, tolong ijinkan saya bertemu anda!"


Ucap Min dengan lantang.


"Memang ada urusan kantor apa?"


"Tolong pak saya butuh bantuan anda"


Ucap Min, diseberang panggilan Rei tersenyum smirk, dia begitu menikmati adegan berburu waktu ini.


"Baik naik lah, berikan telefon nya pada scurity"


Min segera memberikan telefon pada scurity lantas Rei terdengar berbicara sedikit dengan scurity tersebut.


Si scurity itu mengantar Min hingga sampai di depan apartment mewah milik Rei.


Klek.


"Terimakasih pak"


Scurity tadi pamit undur diri.


"Ayo masuk, apa kau akan berdiri disana seperti patung?"


Min segera masuk, Rei berjalan menuju lemari pendingin mengambil sekaleng jus jambu juga minuman kaleng bersoda dan beralkohol untuk diri nya sendiri.


"Minum lah"


"Pak, saya mohon tolong lah saya"


"Minumlah dulu, kau pasti lelah"


Dengan segera Min meminum jus kalengan yang bos nya suguhkan.


"Tolong mamah ku, dia kekurangan stok darah"


"Mandi lah dulu, lalu memasak lah makan malam untuk ku"


"Tapi.........."


Rei segera masuk ke dalam kamar untuk mandi, dia sendiri baru tiba di apartment nya itu. Min melihat jam dinding, dia baru saja keluar dari rumah sakit sekitar 1 jam 30 menit yang lalu.


"Mungkin masih sempat kali ya"


Min pergi mandi, lalu memasak spaghetti dengan sedikit keahlian nya memasak makanan western.


"Akhir nya selesai"


Min pergi ke ruang kerja Rei mengetuk pintu lalu masuk setelah lelaki itu mempersilahkan diri nya masuk.


"Tuan makan malam mu sudah siap"


Rei mendongak, tersenyum tipis lalu mengangguk. Lelaki jangkung itu segera berdiri dari duduk nya, Rei lelaki dengan usia dewasa 33 tahun, tampan, berkharisma juga kaya raya bukan sekedar mapan.

__ADS_1


"Tuan apa saya boleh bicara?"


"Hem"


"Tuan mohon tolong lah nyawa mamah ku"


Min berucap dengan lirih, sambil meremat jari jemari nya. Rei melihat gadis itu sangat panik, Rei tersenyum tipis sambil memperhatikan gadis cantik itu.


"Apa jaminan yang bisa kau berikan jika aku menolong mamah mu?"


"Apa pun ucapan mu akan ku turuti tanpa bertanya apa pun"


Rei tersenyum penuh kemenangan ini lah hari yang dia nantikan, gadis itu sudah tunduk dibawah kaki nya.


"Apa kau serius"


Min mengangguk dengan pasti.


"Aku serius tuan"


"Termasuk jika aku meminta mu menjadi ****** ku yang selalu telentang diatas ranjang ku?"


"Iya"


"Tanda tangani berkas itu, dan tunggu 30 menit lagi akan ada orang yang menghubungi mu"


Rei dengan tenang menyuapkan spaghetti nya ke dalam mulut. Setelah selesai memakan habis hidangan mereka di meja makan.


"Hanya tanda tangan ini saja"


Min menyerahkan berkas itu pada Rei, Rei menerima nya dan menyimpan nya di laci.


"Ya karena ucapan bisa saja berubah dan kau berkhianat"


"Aku selalu memegang teguh ucapan ku"


"Baik lah, meskipun demikian nona Jasmin tapi aku seorang pembisnis harus memiliki bukti suatu janji saja itu seperti angin lalu"


Drrttt...ddrrt.


Min mengangkat ponsel nya yang tertera nama dokter Ervan yang memanggil.


"Iya dok"


"Mamah mu sudah selesai melakukan operasi tumor, kau bukan hanya membawa bank darah kesini tapi juga dokter ahli tumor luar negeri untuk menangani mamah mu"


Min melihat kearah Rei dengan mata berkaca-kaca.


"Apa mamah sudah sadar?"


"Belum, mamah mu masih beristirahat mungkin 3 jam lagi beliau akan sadar"


"Tolong jaga mamah dok, Min ada urusan dulu"


"Baik lah Min"


Tut.


Sambungan ponsel terputus, Min mengusap air mata nya yang sempat meleleh di kedua pipi mulus nya.


"Bagaimana? bereskan?"


Min mengangguk.


"Istirahat lah disini, sekarang sudah malam, besok pagi kau boleh menemani mamah mu di rumah sakit"


"Baik, terimakasih tuan"


"Tidak perlu, karena itu sepadan"


Min terdiam, dia nampak tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu. Namun Min tak ambil pusing karena sang mamah sudah selamat, dia pun sudah sangat senang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2