TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.320


__ADS_3

Semua anak buah mengepung Yohen.


"Siapa kalian?"


Yohen dengan segala akal licik nya menekan tombol yang ada disisi kasur nya sehingga membalik tempat tidur itu dan tertutup rapat.


"Brengsek, dia kabur!"


Umpat Roy.


Saat itu juga menghubungi Andra. Sementara dia dan anak buah yang ikut dalam pengejaran itu bergegas mencari Yohen.


"Bagaimana?"


"Dia kabur"


"Dapatkan dia"


"Siap tuan"


Padahal Roy paling benci jika bermain detektif ini buka keahlian nya.


"Cepat lacak lelaki itu, kita istirahat sebentar"


Roy dijalan di luar hotel yang tadi.


Roy masih mengintai target dengan seksama, bersama anak buah nya setiap hari Roy menyusuri kota di negara A. Terutama kota yang banyak di huni oleh preman, club' dan tempat terlarang lain nya.


"Kenapa si Novan tidak diajak kalau begini aku lebih baik jadi penembak jitu dari pada main detektif"


Gerutu Roy.


Ya keahlian Roy adalah menembak bukan seorang mata-mata.


"Bos kita menemukan titik lelaki itu"


Tiba-tiba anak buah ayah Andreas yang berprofesi sebagai pelacak handal berbicara.


"Bagus"


Ucap Roy.


"Segera meluncur"


Lanjut Roy


"Di dalam cafe itu"


Tunjuk anak buah nya, setelah menyusuri titik merah yang menyala di komputer anak buah nya selama 1 jam.


"Apa dia menyamar?"


Ucap Roy, karena penampilan Yohen berbeda dengan yang di tunjuk oleh anak buah Roy terakhir kali.


"Benar bos"


Jawab nya singkat.


"Baik lah, aku juga ikut menyamar"


Roy menyuruh anak buah nya untuk membeli alat penyamaran seperti kumis, rambut yang kecoklatan terang dan jambang tipis. Ya tubuh Roy memang tinggi jadi tidak terlalu mencolok jika diri nya bukan dari negara A.


Di tempat ramai itu lelaki yang bernama Yohen nampak mengobrol dan itu sudah 1 jam dengan teman nya setelah dari cafe ke mall di seberang jalan. Roy pun lekas turun.


"Aku turun pantai terus keadaan"


Ucap nya pada anak buah nya itu di dalam mobil.


"Baik tuan"


Roy berjalan menuju tempat yang sama yaitu di jajaran food court.


"Lelaki kok ngrumpi"


Ucap Roy yang sedari tadi memperhatikan Yohen. Akhir nya lelaki bernama Yohen itu bangkit menuju toilet lantas Roy pun bergegas mengikuti nya dari belakang dan ikut ke toilet.


"Hai bro"


Tak ada siapa pun nampak nya Yohen mengajak Roy berbicara, Roy hanya tersenyum saja.


"Punya mu panjang ya?"


'Pertanyaan konyol apa itu'


Gumam Roy dalam hati.


"Meski pun belalai ku normal saja namun aku memiliki 3 istri kau tahu!"


'Ini laki ngajak duel jumlah bini apa gimana?'


Roy hanya menyimak sambil mengeluarkan hajat kecil nya. Nampak lelaki itu sudah selesai tanpa mencuci belalai nya.


'Jorok banget nih orang'


Roy memandang sinis. Yohen mencuci tangan nya di wastafel karena bekas memegang rudal nya barusan.


"Kaya nya aku baru lihat kau bro"


Roy mencoba akrab.


"Saya hanya turis awal nya namun karena beristri orang negara A jadi nya orang sini juga'


"Kerja dimana?"


"Serabutan"


"Mau kerja dengan ku bro?"


Yohen melihat Roy dengan stelan necis nya, membuat lelaki itu tersenyum pada Roy.


"Boleh jabatan apa?"


"Serahkan lamaran nya dahulu, baru tentukan posisi, siapa tahu kemampuan mu lebih bagus dari posisi mu"


"Boleh, mana kartu nama mu?"


"Ini"


BUUKK.......


Roy menumpukkan sapu tangan pada muka Yohen, sehingga lelaki itu pingsan di toilet.


"Kalian masuk, angkut dia kedalam karung"


"Baik tuan"


Anak buah Andreas lantas mengarungi tubuh pingsan Yohen lantas membawa nya menuju mobil.


"Si brengsek ini sangat menyebalkan dan menguras waktu ku"


Roy meninju perut lelaki yang pingsan itu.


Lantas menghubungi bos nya yang sedang berada di kantor.


Andra terlihat masih menunggui mommy nya, di ruang rawat beberapa saat jam lalu Andra sempat khawatir karena sang mommy kembali kejang.


Beruntung nya dapat kembali di tenangkan.


Drrtt....drrttt.


"Roy"


"Tuan saya sudah menangkap orang yang bersangkutan"


"Baik tahan dia nanti Daddy Rei dan om Aryos akan mengintrogasi nya"


"Siap tuan"


Di seberang sana, Yohen nampak memberontak, dia tidak terima karena di bekuk oleh seseorang. Tangan nya diikat kebelakang sedangkan kepala nya tertutup kain hitam.

__ADS_1


"Lepaskan! siapa kalian ini, apa salah ku, LEPAS!"


Teriak nya kesetanan karena tak terima telah tertangkap.


Roy atas perintah tuan nya menahan Yohen, dia membawa lelaki jangkung itu menuju ruang bawah tanah milik Andreas karena asisten nya sudah berada di luar menyambut Roy.


KLEAK.....


Pintu ruang rawat terbuka menampakkan daddy Rei beserta om Aryos dan ayah Andreas.


"Roy sudah membekukan pelaku, sekarang berada di ruang bawah tanah milik ayah"


"Baik kami akan kesana"


Mereka bertiga segera turun kebawah untuk menemui orang yang sudah dengan sengaja meracuni Jasmin.


Mobil yang dikendarai supir Andreas mengangkut tiga orang telah membelah jalanan selama 1 jam mereka kini tiba di rumah Andreas.


"Ini rumah mu?"


"Benar"


Rei dan Andreas terlihat perbincangan seru saat hendak masuk ke rumah nya. Baru saja Roy akan naik setelah menaruh Yohen di ruang bawah tanah.


"Tuan besar"


"Kau masih disini?"


"Iya tuan"


"Pergi lah ke rumah sakit, Arvin membutuhkan mu, titip Arvin dan mommy nya ya"


Ucap Daddy Rei pada Roy.


"Baik tuan"


Roy segera melesat menuju rumah sakit, sementara Daddy Rei, Aryos, dan Andreas kini sedang mengintrogasi korban nya itu.


"Siapa kau?"


"Saya Yohen, lepaskan saya!"


"Apa imbalan saya jika saya melepaskan mu?"


"Kau bisa mendapatkan informasi tentang apa pun"


"Baik lah siapa tuan mu?"


Yohen nampak terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan orang asing di hadapan nya.


"Baru satu pertanyaan saja kau tidak bisa menjawab lalu jaminan apa yang mau berikan pada ku saat kau bebas?"


Ucap Daddy Rei.


"Tolong......tolong saya tuan saya tidak bersalah"


"Saya tidak bisa menolong mu tanpa imbalan"


"Saya akan mengambil uang saya untuk anda tuan"


"Jadi nyawa mu hanya seharga kertas-kertas bertuliskan angka itu?"


Lelaki yang bernama Yohen itu menggelengkan kepala nya.


Daddy Rei memanggil bodyguard nya lantas segera menyuruh mereka memulai siksaan nya.


"Akkhhh.....akhhhhh"


Jerit Yohen menggema di ruang rahasia yang dijadikan penjara bagi penjahat besar.


"Semoga dia bukan anjing setia?"


"Benar, kita akan kehilangan jejak dia sampai tak bisa buka mulut"


Kedua lelaki paruh baya itu sedang menyusun siasat agar Yohen mengaku. Sedangkan Roy baru saja tiba di rumah sakit terbesar di negara A dimana mommy dari bos nya itu dirawat.


Roy segera menaiki lift ke lantai paling atas untuk segera memberi laporan pada tuan nya itu.


TING.....


Tok...tok...


"Masuk"


Roy segera masuk menemui tuan nya itu.


"Kau sudah datang Roy, bagaimana?"


"Saya sudah menangkap Yohen itu, tapi nyata nya dia hanya anjing setia yang di suruh seseorang kalau pun menemukan jaringan itu pasti nya juga dibayar oleh orang lagi tuan"


"Oh begitu ya"


Roy mengangguk.


"Baik lah kau istirahat saja, setelah nya kau temui ibu Amelia"


"Baik tuan"


"Aku akan menjaga mommy ku"


Roy pun segera keluar namun Andra kembali memanggil nya.


"Kenapa tuan?"


"Nanti kau ikut dengan ku menemui dokter itu"


"Baik tuan"


"Pergi lah istirahat"


Meski sudah tengah hari Roy merebahkan tubuh nya yang lelah karena sehabis main detektif. Hampir 3 jam Roy terlelap dengan nyenyak.


Aryos datang bersama Daddy Rei ke rumah sakit.


"Dad"


"Dimana Roy?"


"Sedang istirahat"


"Ini makan dahulu"


Daddy Rei membawa makanan yang di pesan dari restoran yang tak jauh dari rumah sakit.


Andra segera bergegas untuk makan ke arah sofa.


KLEAK......


"Tuan"


"Ayo makan dahulu Roy"


Roy mengangguk nampak membuka sekotak nasi yang Daddy Rei bawakan dari restoran seberang.


Tak berapa lama dia kotak makan sudah habis di lahap kedua lelaki sebaya itu.


"Dad aku mau minta ijin dahulu"


"Memang nya mau kemana?"


Daddy Rei curiga karena Andra akan pergi dan ijin pada nya.


"Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Roy"


"Baik lah, kalian hati-hati, dan jangan lama-lama"


Andra mengangguk keluar dari ruang rawat diiringi oleh Roy. Mereka berdua berjalan menuju lorong lintas ke lift menuju lantai 10 ini.


TING.....

__ADS_1


Lift terhenti di lantai 10, lantas mereka keluar bergegas menuju ruang dokter untuk menemui seorang dokter.


"Permisi"


Disana ada beberapa orang dokter yang sedang makan, termasuk dokter yang Andra cari.


"Silahkan anda berdua mencari siapa?"


"Dokter


"Dokter Erik dan dokter Ervan"


Mereka dokter yang nama nya Andra sebut nampak kaget lantas segera berdiri.


"Mari ikut saya"


Andra segera menuju ruang khusus yang disediakan di rumah sakit ini.


Dokter Ervan kaget karena lelaki muda itu memanggil nya bukan kah mereka tak ada masalah.


"Silahkan anda berbicara tuan Alkatiri?"


"Dokter Ervan, maaf saya rasa ibu Amelia sudah sembuh jadi saya akan membawa nya pulang ke negara Z"


Dokter Ervan nampak kaget, dia sangat tida tahu apa pun.


"Maaf tuan kalau boleh tahu ada ap sebenar nya?"


"Tidak ada hanya saja saya rasa ibu saya sudah cukup di rawat di rumah sakit ini, anak buah saya sudah memindahkan ibu Amelia untuk pergi ke rumah keluarga Mid"


Deg........


"Siapa anda sebenar nya tuan?"


"ARVINO ZAKUTA MID"


Memang itu adalah identitas diri nya sebelum kejadian naas yang menimpa sang mommy.


"Anda pemilik rumah sakit ini bekerja ini?"


"Benar, dan saya sangat percaya pada anda oleh karena itu saya menyudahi perawatan ibu Amelia karena saya percaya pada anda"


"Baik tuan, terimakasih"


Dokter Ervan segera memohon diri dari cucu pemilik rumah sakit besar ini.


"Dokter bagaimana dengan anda?"


Andra sengaja bertanya pada dokter yang ada di hadapan nya yang sedang menunduk dalam itu.


Andra memandang sang dokter yang sudah lanjut usia itu, 35 tahun lalu dia ingat jika dokter ramah ini lah yang menjadi dokter keluarga Mid.


BRUUKK........


"Maafkan saya tuan muda Mid"


Ucap nya lirih.


"Lantas apa yang dokter inginkan?"


Dokter itu diam rasa nya dia tidak sanggup berkata-kata lagi.


"Kakek dokter, apa kau hanya akan bersujud begitu saja?"


Dokter paruh baya itu mendongak.


"Kau masih mengenali ku, Ar?'


"Tentu"


"Maafkan aku tak berdaya akan hal ini, aku bersalah, mommy mu harus nya sudah sembuh namun aku memberikan obat perangsang otak jadi mommy mu agak kejang-kejang"


"Penjahat itu sudah ku tangkap, terserah kakek dokter mau apa?"


"Kau tida melaporkan ku pada polisi, Ar?'


"Karena kau teman opa ku"


Lalu Andra bergegas keluar dari ruangan itu, sebelum keluar Andra mendengar suara dokter tua itu terisak.


"Maafkan kakek Ar"


Lirih nya, mungkin dengan air mata penyesalan nya.


"Aku memaafkan mu"


Andra keluar dengan perasaan yang kecewa.


"Maaf aku membuat keluarga mu yang dulu menyanjung ku menjadi kecewa, Jorge maafkan aku karena menyakiti anak dan cucu tersayang mu"


Harus nya dokter itu menjaga keluarga sahabat nya namun kerena ancaman seseorang dia tega membuat kepercayaan itu menjadi kekecewaan.


Andra menghela nafas nya, dia tidak mungkin tega memenjarakan kakek dokter nya yang ketika sakit dahulu selalu memberikan permen agar obat yang di minum terasa manis.


"Tuan"


"Aku tak apa Roy, aku hanya teringat opa ku saja, sudah lama aku tak berkunjung ke rumah terakhir nya"


"Mu ku antar, tuan"


Andra menggelengkan kepala nya karena dia harus masih menjaga mommy nya.


"Tentu nanti setelah mommy ku bangun dari koma"


"Baik tuan"


"Ayo kita kembali ke ruang rawat mommy ku"


Mereka kembali berjalan menuju lift untuk kembali ke lantai 25 gedung rumah sakit itu. Bahkan disana sudah ada visit dokter.


"Bagaimana dad?"


"Mommy mu aman"


"Apa ada pergerakan?"


"Mata nya bergerak mungkin dia masih betah untuk tidur"


Andra mengangguk lantas duduk di samping sang mommy, beberapa dokter datang termasuk kakek dokter nya itu. Lelaki lanjut usia itu tersenyum pada Andra begitu pun selanjut nya. Lelaki tua itu mendekat.


"Apa kau tak ingin permen dari kakek?"


Andra mendongak, dia merasa heran dengan perkataan lelaki itu.


"Tetap lh di rumah sakit ini kek, bagaimana pun opa membangun ini karena dia yakin sahabat nay akan menjaga nya"


Kakek dokter tersenyum, lalu menyodorkan permen untuk anak-anak.


"Kakek sempat sedih kehilangan lelaki kecil yang merindukan permen ini, sekarang bahkan lebih tinggi dari kakek"


Daddy Rei mendengarkan percakapan anak tunggal nya dengan kakek dokter itu.


"Bahkan setelah aku mengingat masa kecil ku pun, aku tidak punya waktu untuk sekedar mengunjungi mu"


Kakek dokter itu tersenyum.


"Kakek kaget ketika orang itu bilang ada cucu pemilik rumah sakit ini, ternyata kau lelaki kecil kakek yang manja itu"


Andra tersenyum.


"Jika opa mu melihat mu tumbuh segagah ini pasti dia meledek ku karena tak memiliki cucu seperti mu"


Mereka sama-sama tertawa, dokter yang lain hanya menggelengkan kepala nya saja.


"Baik lah kakek permisi ya"


Sesudah kepergian mereka para tim dokter, Andra segera menyanyikan lagu tidur seperti biasa.


"Aaaaakkkkk..........!"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2