
Lain halnya Haris yang sudah menemukan jantung hatinya. Tapi mungkin permulaan perjuangan bagi Aksa, bagaimana tidak jika kini ia sudah memanjat jendela namun sudah tertutup otomatis. Sungguh lelaki beristri daun muda itu tidak seberuntung malam malam sebelum nya.
"Kenapa terkunci!"
Aksa melihat istri nya tertidur diranjang besar miliknya itu.
"Aku selalu datang jam segini, kenapa dia tidak bangun sih?"
Gerutu Aksa di luar jendela.
"Kenapa mendadak dingin"
Tak berapa lama setelah Aksa berucap, gerimis turun semliwir tipis tipis menghampiri bumi. Memang tidak sampai langsung ke Tubun Aksa namun atap balkon yang hanya terbatas juga bertiupnya angin menyemburkan gerimis dengan hawa dingin itu mengenai badannya.
"Huh, dingin sekali"
Aksa duduk di kursi balkon dengan dudukan dari Dakron empuk, sedikit mengurangi dinginnya untuk sesaat. Hingga menjelang pagi, burung berkicau sinar hangat mentari menyelinap masuk melalui jendela kamar milik Aksa yang sekarang ditempati Cinta selaku istrinya.
"Cerah sekali? semalam habis hujan kah? pantas tidur ku nyenyak"
Cinta tersenyum sambil meregangkan ototnya, dia lupa sesaat tapi itu entah apa. Cinta bangun hendak ke kamar mandi, namun sesaat kemudian dia bangkit lantas teringat sesuatu.
"Ya ampun aku lupa semalam, apa si om ga dateng ya?"
Monolog Cinta.
Cinta berlari segera menuju balkon, dibukanya pintu kaca yang menghubungkan kamar nya dengan balkon.
"Ya ampun om"
Cinta melihat tubuh jangkung suaminya terduduk di kursi balkon dengan pakaian basah.
"Dia semalaman berada disini?"
"Om, om bangun"
Tak ada respon, Cinta begitu panik hingga mendekat memeriksa keadaan Aksa.
Grep....
Tangan besar Aksa meraih tubuh yang tak jauh dari dirinya. Memeluk erat istrinya, lantas dengan segera menautkan bibir nya. Menabrakkan bibirnya secara kasar pada bibir istrinya yang semalam dengan tega mengabaikannya, sementara wanita pengisi hatinya itu nyaman dengan selimut hangat terbuai mimpi.
"Heemm......"
Desah bibir manis Cinta ketika bibir nya dikuasai sang suami, Aksa tersenyum tipis sambil memperdalam ciumannya. Dan Cinta merasakan tubuhnya terbang karena diangkat suaminya, namun mereka masih bertautan bibir. Saling membelit, Aksa mencurahkan segenap rindunya juga perjuangannya hingga pagi diguyur gerimis yang dingin.
"Om, Cinta belum mandi loh"
"Nanti kita mandi bersama"
"Baju om basah"
Namun seketika Aksa sudah melucuti pakaiannya sendiri hingga berserakan di lantai.
"Sekarang bisa kan?"
Cinta tersenyum kikuk, benar merek tak butuh pakaian adanya. Namun si suaminya yang sudah layaknya om baginya karena mereka memiliki perbedaan umur yang terlampau jauh, tubuhnya sangat sexy lagi sangat tampan hingga orang yang tidak tahu memandang mereka pasangan serasi.
'Suami ku ini sangat sexy'
Cinta tersenyum, dan Aksa memperhatikan arah pandang istrinya juga tangan istrinya yang sudah mengelus dada suaminya.
'Heh kenapa aku jadi mesum'
Cinta hendak menarik tangannya, namun Aksa segera menarik tangan istrinya untuk meraba dada nya hingga melewati pusar milik nya.
__ADS_1
"Om"
"Semua kan milik mu, kau sudah menikmatinya setiap malam"
Aksa berkata sambil tersenyum mesum pada istrinya, dia bermaksud menggoda sang istri dengan perkataan jahilnya.
"Kan om suami Cinta"
Aksara tertawa renyah, kembali menyatukan bibir mereka, hingga mereka melakukan pergumulan panas di pagi hari.
Kedua insan di kediaman Alkatiri sedang menikmati indah cinta mereka begitu pun sepasang suami istri di kediaman Dimitri. Seorang suami yang dulu selalu membuat sang istri terluka dengan tingkahnya yang dianggap lelaki itu sebagai tanggung jawab kini lelaki itu sudah sadar dan menempeli istrinya dari sejak kemarin sang istri kembali padanya.
"Mas sudah pagi"
"Hem, masih pagi ayy, bobo lagi yuk"
"Tapi kan aku harus pergi buat sarapan"
"Ada mamah dan para bibik, kita di rumah utama kalau sayang lupa"
Benar kata sang suami penempelnya ini.
"Iya tapi ......."
Haris segera mengecup bibir bawel istrinya.
"Mas"
"Sebentar lagi"
"Tapi aku gerah pengen mandi, kamu nempel terus"
"Aku kan kangen sama dedek, ayy"
Alesan pikir Rista, bisa bisa nya lelaki itu saja kangen dedek, manja nya setelah dia kembali lagi.
Gumam lelaki itu sambil menduselkan hidungnya mengendus leher Rista.
"Mas geli ih, aku tidak ingin ke pantai"
"Dedek yang minta sama papah buat ajak jalan jalan katanya"
Rista mengerutkan kening nya, sejak kapan anak dalam kandungannya bisa bicara.
"Dia kan masih dikandungan aku mas"
"Kenapa emang?"
"Mana bisa dia bicara?"
"Bisa kan mas papah nya, iya kan sayang?"
Haris mengelus lembut perut sang istri, ada gerakan lembut dari janin milik mereka.
"Tuh dia menendang"
"Terserah lah, aku mau mandi, gerah"
"Mas ikut ayy"
Mereka segera mandi bersama, acara mandi bersama dimanfaatkan Haris untuk kembali bersatu dengan sang istri. Rista memang sama sekali tidak menolak, dia menuruti semua mau lelaki itu.
Mereka berdua turun kebawah untuk sarapan, Haris selalu memasang senyum tampannya. Rista mengambilkan sarapan pagi berupa nasi goreng.
"Mas mau pakai toping apa?"
__ADS_1
"Kamu"
Semua anggota keluarga Dimitri memandang putra sulung mereka yang sedang tersenyum memandang istrinya dengan daster hijau toska.
"Mas"
Sheyla mencubit lengan kakaknya tak tanggung tanggung hingga memerah.
"Sakiitt......"
Haris menjerit histeris, dia menoleh pada sang adik.
"Shey kenapa dicubit kakak?"
"Lalu mesum tuh di kamer jangan di meja makan, jijik tau, senyum terus kaya orang gila"
Papah Alan tertawa sedang kan mamah Paramitha terkikik geli juga istri Haris sendiri menahan tawanya.
"Kok semua tertawa sih?"
"Abis kamu lucu kak"
Sahut sang mamah.
"Jadi mau lauk apa mas?"
"pakai telor ceplok aja sayang"
"Ga mau pake sosis"
"Udah punya sendiri"
Rista kembali menggelengkan kepalanya.
"Kakak ih, jorok ahh"
"Apa yang jorok sih, tadi bilang mesum kakak hanya memandang istri kakak yang cantik, sekarang bilang sosis aja jorok, orang kamu juga makan sosis kok"
"Pah"
"Papah mau kerja"
Sang papah seger berdiri, lantas diikuti sang mamah. Sheyla segera ikut berdiri, saat ini hanya ada Haris berdua dengan istrinya di meja makan.
"Ayy, sini mas pangkuin"
Rista menuju ke kursi yang Haris duduki, kemudian naik kepangkuan sang suami. Haris dengan telaten menyuapi istrinya, sambil memeluk juga menciumi wangi istrinya itu.
"Hari ini sayang wangi banget sih"
Rista hanya diam, sambil mengunyah makanan di mulutnya dengan pelan. Suapan demi suapan Haris berikan pada Rista.
"Udah kenyang mas"
"Sekali lagi sayang"
"Udah kenyang banget"
Kini Rista yang menyuapi suaminya, Haris mengunyah makanan itu dengan lambat agar lebih lama dengan istrinya tercinta.
"Cie, bucin"
"Biarin wehh, istri ku, yang bilang tidak punya suami"
Sheyla menghentakkan sepatunya sambil berlalu menuju keluar rumah untuk bekerja di butik mommy Diah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.