TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.284


__ADS_3

"Lepaskan kami!"


Melina menatap nyalang polisi yang menyeret merek berdua. Pasal nya mereka adalah orang berpengaruh di kota itu, kini niat mereka hidup di lain kota dengan bahagia musnah sudah.


BUKK...KRATAKK....


Suara tubuh kedua nya dimasukan ke sel dan sel segera di kunci rapat.


"Hei kau polisi, lepaskan kami, kau tidak tahu siapa kami kan"


Polisi hanya diam dan segera duduk di tempat untuk berjaga seperti biasa nya. Polisi tak menggubris teriakan atau ocehan mereka berdua. Penjaga masih sepi karena ada di kepolisian untuk penahanan sementara bukan di lapas.


Dengan sendiri nya akhir nya mereka terdiam juga.


"Mah, Lisa haus"


Melina pun kembali bersuara.


"Hei polisi, anak ku haus cepat ambilkan tas kami yang ada di bus di luar itu"


Tak lama supir bus mengantar semua barang yang penumpang nya itu miliki.


"Kau jangan pergi ya, karena tugas mu mengantar kami belum selesai"


"Maaf Bu, tapi harus sesuai waktu yang dijalankan ada pun kalian tertahan atau kecelakaan itu bukan urusan kami, kami hanya mengantar sampai batas waktu perjanjian saja"


"Apa!"


Melina naik pitam, dia hendak mencengkram kerah di supir namun dengan sigap supir itu menghindar.


"Mah berikan Lisa air, haus sekali ini"


"Ini"


Lisa langsung meneguk habis air kemasan yang sang mamah sodorkan.


"Kau ini seperti kerbau saja"


Lisa tak mendengar lagi Omelan mamah nya dia pergi ke ranjang sempit dan merebahkan tubuh nya diri nya sangat mengantuk.


"Belikan makanan buat kamu saja pak supir"


"Man uang nya nyonya"


"Mana KTP mu, lalu ku beri kau uang buat beli makan nya"


"Ini"


"Ini uang kau beli makanan jangan terlalu enak tapi harus banyak"


"Baik lah"


"Tidak usah beli camilan ya"


Si supir mengangguk.


"Pak polisi pinjam ponsel atau telpon, aku mau bicara pada suami ku"


"Ini pakai lah"

__ADS_1


Melina menerima ponsel dari polisi penjaga kantor polisi itu.


Sementara Afar di rumah nya sedang makan malam karena malam ini Rindi memesan makanan mewah dari restoran sang paman. Itung-itung merayakan kepulangan sang papah dari rumah sakit.


"Seharus nya pesan makan di warteg saja nak"


"Tidak apa lah, Arin punya banyak uang kok"


"Ya sudah papah berterimakasih buat makan malam enak nya"


Arin mengangguk dengan senang. Mereka berdua makan malam dengan hidangan serba mahal. Tiba-tiba ponsel nya bergetar nyaring. Afar mengabaikan panggilan itu entah berapa kali nomor asing itu memanggil.


'Sudah lah, lebih baik makan malam enak dulu'


Jujur Afar baru merasakan nikmat makanan lagi setelah sekian lama. Karena tidak bisa memakan makanan kesukaan nya dan lagi tidak ada uang untuk memesan nya.


Makan malam pun selesai dengan hangat, tiba-tiba ponsel Rindi bergetar itu dari sang paman.


"Pah, Arin mau angkat telepon dulu ya!"


Sang papah tersenyum lantas mengangguk dengan pasti. Ketika anak nya menelpon Afar pergi ke ruang tamu untuk sekedar membaca berita harian dan menonton televisi tentang berita juga. Afar juga iku membeli saham kecil-kecilan untuk penghasilan nya atas nama akun nya yang lain tanpa siapa pun tahu.


"Iya paman"


"Melina dan Lisa sudah berhasil di tangkap sebelum keluar kota"


"Bagus lah, bagaimana dengan bukti-bukti nya?"


"Semua sudah lengkap, tapi jika kau menemukan sesuatu di rumah papah mu laporkan pada paman ya"


"Siap paman"


"Baik lah paman"


Sambungan ponsel Rindi di tutup dari seberang karena sudah mulai larut.


'Mereka bagaimana ya tidur di penjara?'


Gumam Rindi.


"Pah"


"Pergi lah istirahat sudah malam"


"Papah juga"


Afar mengangguk, Rindi naik ke lantai atas untuk beristirahat.


"Sebaik nya besok saja beri tahu papah mereka di penjara"


Rindi pun segera mandi dan bergegas untuk tidur lebih awal karena masih libur belum bekerja.


"Tuan"


Asisten Afar datang malam sekali untuk melapor.


"Katakan?"


"Nyonya dan nona pertama ditahan di kantor polisi"

__ADS_1


"Lalu?"


"Ini kasus tentang nyonya kedua"


"Uhuukk.....uhuukk"


Afar terbatuk-batuk ketika asisten nya menyebut nyonya kedua. Kenapa begitu kebetulan batin Afar bertanya dalam hati.


"Mereka dicegat polisi dengan 3 mobil sebelum sampai di perbatasan kota, di kantor polisi juga masih ada mobil travel dan barang-barang milik nyonya dan nona.


Afar terdiam, sementara asisten nya gelisah menunggu perintah majikan nya itu.


"Kau pergi lah istirahat jangan terlalu banyak begadang'


"Baik tuan"


Afar seolah menutup mata akan keadaan mereka, dia melihat panggilan dari nomor asing sebanyak 200 kali namun tak ada yang dia angkat sekali pun.


"Mungkin ini saat nya kau bertobat mah, maafkan aku harus melupakan hubungan kita, aku sudah tidak memiliki beban atau ke khawatiran apa pun"


Afar naik ke atas ranjang lantas untuk beristirahat, jika Melina membutuhkan nya mungkin kali ini Afar akan tutup mata dan telinga.


Melina memakan nasi warteg dengan telor dadar yang berukuran setengah telapak tangan nya. sayur kol beberapa biji, dan oreg tempe. Si supir membawakan nasi sepuluh bungkus dengan lauk kering yang dipisah. Rupa nya si supir ini cerdas juga.


"Waktu saja sudah habis nyonya saya pamit"


"Baik lah pergi lah"


Melina tak berniat memberikan tip pada si supir begitu pun si supir hanya pamit lantas pergi dari kantor polisi. Pagi menjelang, Lisa lebih dulu bangun, dia ke kamar mandi yang berada di dalam sel lantas membuka bungkusan nasi itu dan memakan nya 3 bungkus sekali makan ludes.


"Hah!, kenyang nya"


Mendengar desisan dari Lisa, Melina terbangun meski agak kantuk.


"Bagus ya, bangun langsung makan, tidak ada usaha sama sekali"


"Kan ada mamah, jadi Lisa tinggal tenggak"


Melina berkacak pinggang dia lantas pergi ke kamar mandi begitu lama.


"Mamah boker kali ya di kamar mandi lama amat"


Lisa memainkan ponsel nya berselancar di dunia Maya, ada beberapa berita pagi ini sang papah masuk ke kantor.


"Ck, Kenapa ke kantor bukan nya menyambangi kita disini"


Lisa geram pada sang papah sejak lima tahun lalu, papah nya sudah tidak lagi lembut dan sayang pada Lisa.


Sementara di perusahaan yang Afar bangun itu, kini dia mengajak anak bungsu nyam. Semua melihat fashion yang Rindi gunakan saat itu, sopan namun modis dan cocok untuk wanita muda yang berkarir.


"Perusahaan papah besar juga ya?"


"Mana ada, tidak mungkin perusahaan paman mu lebih kecil dari milik papah"


"Bener juga sih pah"


Afar hanya memperkenalkan pada seluruh karyawan jika Rindi adalah putri kandung nya juga.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2