
Wanita cantik 24 tahun dengan dress biru muda kini sedang menatap pantai dengan pasir putih nya berkilau ketika tersengat cahaya matahari.
Baju pantai itu berkibar dengan topi besar yang menutup atas kepala nya, jika dilihat sekilas tak ada yang aneh namun siapa sangka dia sedang menikmati pantai tidak sendirian melainkan bersama buah hati tercinta nya yang masih berbentuk janin itu.
Flashback on.
2 hari setelah mendarat di negara S itu, Rindi mengunjungi butik nya yang semakin berkembang pesat, memang selama ini usaha pribadi Rindi tak lepas dari campur tangan sang suami.
Sore itu Rindi pergi ke showroom mobil guna membeli mobil untuk transportasi nya.
Juga membeli beberapa stelan kerja yang elegan karena dia akan sibuk di butik nya sendiri. Ya Rindi sudah hampir setahun tak berkunjung atau sekedar bertanya tentang usaha kecil-kecilan nya itu.
Pagi nya Rindi sudah rapih, dengan stelan kerja dan mengendarai si putih nya melaju membelah jalanan negara S.
Hanya butuh 25 menit Rindi sudah sampai di butik nya. Asisten yang Di di percaya memegang butik nya sudah menyambut di depan lobi butik.
"Selamat datang nyonya Arindi?"
"Terima Kasih"
Rindi tersenyum karena disambut hangat oleh asisten nya itu.
"Maaf aku baru bisa berkunjung sekarang, dan aku juga akan mengelola langsung lagi butik ini"
Asisten itu pun hanya mengangguk sambil mengantarkan Rindi ke ruangan kerja nya itu.
"Jika siapa pun yang mencari ku, bilang saja kamu masih mengelola nya"
"Baik nyonya"
Rindi masuk kedalam ruangan nya lalu dia mendesign gaun sendiri. Sibuk dengan pensil dan kertas hingga dia mendapatkan 4 gambar yang menurut nya bagus lagi estetik.
"Nyonya waktu nya sudah jam makan siang"
Ucap asisten nya itu.
"Oh iya aku hampir lupa"
Rindi segera bangkit dari duduk nya hendak berjalan keluar karena ingin makan di luar.
Namun tak berapa jauh dari pintu ruang kerja nya Rindi nampak berpegangan pada pintu entah mengapa demikian.
"Nyonya, ada apa?"
Rindi menggelengkan kepala nya lantas segera berdiri terdiam hingga.......
BRUGH.......
Rindi terjatuh dan pingsan setelah nya. Semua karyawan nya panik melihat owner butik itu pingsan.
"Bagaimana ini?"
"Kita bawa ke rumah sakit saja"
Usul mereka beberapa karyawan Rindi yang ada di sana. Dengan pertimbangan matang, akhir nya mereka membawa Rindi ke rumah sakit.
Rindi segera ditangani oleh dokter spesialis. Hingga 1 jam pemeriksaan Rindi.
Dokter menyarankan agar Rindi di periksa ke bagian obgyn karena masalah nya. Mereka karyawan Rindi hanya bisa mengangguk.
Brankar di dorong perawat menuju dokter obgyn tersebut dan Rindi langsung di periksa.
Infus tertancap di lengan kiri Rindi, hingga 1 jam wanita itu baru bisa membuka mata nya.
"Kepala ku sakit sekali"
__ADS_1
Rintih Rindi.
"Sabar nyonya, dokter sedang memeriksa anda"
Ucap asisten milik Rindi.
Tak berapa lama dokter paruh baya wanita datang lalu memberikan hasil nya.
"Selamat ya nyonya di jaga kandungan nya"
Rindi masih terdiam menerima uluran amplop itu, dia baru sadar saat pintu kamar rawat nya di tutup.
"A....Apa!, tadi kata dokter apa?"
Lirih Rindi, bertanya pada asisten dan karyawan nya yang masih menunggui diri nya.
"Selamat ya nyonya anda sedang hamil, itu kata dokter"
Perasaan Rindi membuncah sangat bahagia dia sedang di Landa kebahagiaan yang amat teramat besar. Hingga air mata nya menetes.
"Nyonya anda menangis"
"Aku terharu"
Rindi meminta asisten nya untuk janji temu dengan dokter kandungan. 1 jam menunggu akhir nya mereka sudah bisa bertemu dokter kandungan.
"Aku masuk sendiri saja, kalian tunggu disini"
Mereka semua mengangguk saja lantas menunggu nyonya mereka.
"Silahkan duduk calon mamah"
Rini tersenyum, mengelus perut rata nya, sungguh tak bisa di percaya jika diri nya tengah mengandung anak lelaki yang amat dia cintai.
"Mau USG juga?"
Rindi mengangguk dokter melakukan USG sesuai prosedur.
"Selamat ya mamah kemungkinan kembar loh, jadi nutrisi nya harus lebih banyak di konsumsi mamah untuk tumbuh kembang janin"
Rindi mengangguk.
"Ini baru 3 mingguan janin nya"
Menyerahkan lembar uang yang sudah dicetak memang ada 2 biji kacang saat ini di dalam kandungan nya.
Rindi mengelus foto itu, dia sampai terharu karena bahagia.
Dokter menyerahkan resep yang harus dia rebus untuk menguatkan kandungan dan menutrisi tubuh nya supaya lebih kuat lagi mengandung janin kembar.
Rindi nampak mengelus perut rata nya, setelah nya di meminta asisten membeli semua kebutuhan ibu hamil dan bayi nya lebih baik belanja saat kehamilan masih muda dari pada nanti lebih rentan karena anak nya kembar.
Saat itu juga Rindi menghubungi paman nya.
"Iya Arin?"
"Paman aku hamil kembar"
Sang paman tak merespon, dia hanya terdiam saja.
"Paman.....!"
"Maaf paman shock, selamat ya nak akhir nya kamu akan menjadi ibu kembali, jaga kesehatan dan jaga emosi ya"
"Iya paman, tapi aku sangat bahagia"
__ADS_1
"Kau memang harus bahagia nak, demi si kembar"
Rindi mengangguk dan tersenyum, dia akan kembali semangat untuk kedua buah hati nya yang akan 8 bulan lagi hadir di dunia.
"Mamah sayang kalian dedek"
Ucap Rindi pada sang buah hati yang suda ada di dalam perut nya.Dia tidak tahu kemaren tidak sempat makan siang jadi mereka protes dan menunjukkan diri mereka.
"Maaf ya mamah tidak makan jadi kalian marah"
Rindi berkeliling mencari semua kebutuhan semasa hamil sehingga nanti ketika hamil besar tak memikirkan apa pun.
"Oh iya lupa, aku belum mengabari papah"
Rindi segera memencet nomor ponsel sang papah yang masih berada di Negera A.
"Nak apa benar ini Arin yang telpon papah?"
"Benar papah"
"Apa kabar nak?"
"Aku baik pah, aku sangat baik malah pah"
"Tumben anak papah seperti nya sedang senang"
"Iya dong coba tebak apa kesenangan ku ini?"
Papah Afar berpura-pura menebak.
"Dapet tender raksasa?"
Rindi menggelengkan kepala nya sambil tersenyum.
"Lebih dari itu"
"Apa ya?"
"Ayo tebak pah"
"Papah menyerah nak"
"Aku hamil"
Lirih Rindi.
Mata papah Afar melotot.
"APA!"
"Sstt......jangan bilang siapa pun pah, janji"
"Janji sayang, papah akan tutup mulut"
"Hanya papah, aku dan paman ya yang tahu hal ini"
"Oke kau tenang saja nak, papah tak akan ingkar janji loh"
"Baik lah, aku percaya pada papah"
Ucap Rindi sambil mengakhiri panggilan ponsel mereka dengan cepat takut ketahuan oleh orang lain di seberang sana.
Flashback off.
BERSAMBUNG.
__ADS_1