
Sementara Rindi masuk ke dalam rumah bersama sang paman. Paman nya tidak terlihat marah atau tidak terlihat senang. Paman mengamati keponakan nya, dirasa ada yang janggal namun keponakan nya juga tidak menjelaskan apa pun.
"Maaf paman"
Kata-kata itu seperti dejavu bagi sang paman, lantas sang paman memandang kearah keponakan nya itu.
"Tadi Arin tidak pamit di perjamuan pergi begitu saja"
Sambil menunduk Rindi berkata pada paman nya, dia tidak sopan jika tidak meminta maaf.
"Kenapa harus meminta maaf?"
"Karena Arin salah paman, Arin meninggalkan jamuan tanpa pamit"
"Tidak apa, paman bisa mengatasi nya, kau anak muda cepat bosan acara seperti itu wajar"
Sang paman melirik keponakan nya yang tersenyum manis.
"Memang kalian pergi ke mana?"
Rindi berpikir lalu ingat sesuatu.
"Tadi, Arvin mengajak Arin ke kantor urusan agama, paman"
"Apa!"
Sang paman kaget lantas berbicara hingga berdiri, Rindi kaget di buat nya.
"Kenapa paman?"
Sang paman menggelengkan kepala nya.
"Kenapa ke tempat seperti itu?"
"Entah lah, dia hanya mengajak ku berfoto, setelah nya selesai sekitar 15 menit lalu memberi ku ini"
Rindi memperlihatkan paper bag dan sebuah kotak cincin. Kening paman nya mengkerut, keponakan nya tidak mengungkit masalah pernikahan mereka. Apa mereka menyembunyikan nya atau memang benar-benar tidak tahu apa pun.
"Memang apa isi nya?"
"Ini kotak cincin"
"Sepasang?"
"Tidak, tapi dia hanya menyematkan milik ku ini"
Memperlihatkan cincin simpel dan elegan sang cocok tidak terlalu mencolok namun dengan harga yang fantastis yang baru saja di pamerkan. Sang paman menghela nafas begitu saja, keponakan nya itu sangat polos, tentu saja cincin itu sepasang. Anak sahabat nya itu begitu licik bahkan gerakan nya yang mendadak tidak disadari siapa pun.
"Lalu apa isi paper bag itu?"
"Aku belum membuka nya"
Rindi mencoba membuka nya disana ada gaun malam nya saat di perjamuan, disana juga ada sebuah kotak lagi. Rindi membuka kotak itu, menatap nya dengan aneh. Rindi mengambil buku kecil seperti buku saku ketika di sekolah menengah.
"Ini apa ya?"
"Buka saja"
Rindi membuka nya, dihalaman pertama ada foto diri nya dan Andra. Rindi membaca kalimat yang tertera di buku saku itu. Seketika sadar mata nya membulat sempurna.
"BUKU NIKAH!"
__ADS_1
"Memang nya kapan kalian menikah?"
"Ini bagaimana bisa? aku kesana sama Arvin hanya berfoto dengan beberapa pose lalu sudah selesai"
"Coba paman lihat"
Sang paman melihat surat-surat nikah, dokumen juga lain sebagai nya.
"Ini asli"
Rindi terkejut bukan main melihat nya lantas memeriksa nya kembali.
"Benar ini asli"
Sang paman mengangguk dengan pasti.
"1 jam yang lalu papah mu menghubungi ku, kata nya kita tidak menghubungi dia untuk menikahkan mu, jadi paman kaget"
Rindi mengerutkan kening nya.
"Terus kapan ijab qobul nya?"
"Mungkin papah mu tahu"
Rindi mengangguk, dengan linglung dia menaiki anak tangga lantas menuju ke lantai atas.
Rindi segera mandi lantas setelah segar diri nya bermaksud menghubungi Andra. Dia melihat sosmed lelaki itu nampak memposting tangan bergandengan dengan memakai cincin yang sama.
"Kok aku bodoh ya, kenapa begini?"
Rindi heran lelaki itu menikahi diri nya tanpa berbicara atau meminta ijin dari nya terlebih dahulu, apa lagi ke orang tua.
"Oh, kenapa dia selalu muncul di kepala ku sih!"
Rindi membolak-balik posisi nya mencari posisi ternyaman nya hingga beberapa jam ketika menjelang pagi Rindi baru terlelap.
Paman bangun, beliau sudah bersiap dengan seragam kantor nya. Lama menunggu namun yang di tunggu tak kunjung turun bahkan mungkin sedang enak mendengkur.
"Arin kemana bik?"
"Belum turun tuan"
"Jam segini tumben? kenapa bocah kecil itu?"
Sang paman baru ingat peristiwa semalam, dia menepuk jidat nya. Keponakan perempuan nya seakan baru kemaren ketika sang adik memamerkan foto nya dengan seorang bayi perempuan, namun semalam keponakan nya menjadi pengantin seorang lelaki. Meski pengantin gelap karena tak meminta ijin secara tersng-terangan pada kerabat gadis nya.
"Keterlaluan anak si Rei, bapak sama anak sebangsa suka banget bikin orang pengen nyubit ginjal mereka"
Sudah hampir 1 jam, lalu ada langkah kaki menuruni tangga dengan lesu.
"Selamat pagi paman!"
Bahkan pemilik suara itu masih menguap lebar.
"Kalau mu tidur jangan di meja makan masuk kamar"
"Aku tidak bis tidur semalam paman"
"Bagus lah"
"Kok bagus"
__ADS_1
"Jadi kamu bisa cuti kerja"
Rindi menggelengkan kepala nya.
"15 menit lagi akan siap paman"
Gadis itu berlari menari tangga.
"Hati-hati!"
Seru paman nya yang masih bisa Rindi dengar.
Dikediaman nya sendiri pagi ini, Andra tersenyum dengan hangat. Senyum nya tak pernah luntur apa lagi ketika melihat cincin di jari tengah nya itu. Meski diri nya menyematkan untuk diri sendiri toh mereka memakai cincin yang sama juga. Jadi tidak ada beda nya siapa yang memakaikan.
"Tuan"
"Ayo berangkat"
Mereka menuju perusahaan, hari ini entah sirna kemana sifat dingin milik Andra yang tak tersentuh lagi galak. Senyum nya selalu mengembang, bahkan beberapa karyawan disapa nya, juga satpam yang berjaga di pos.
Andra berkutat dengan berkas nya yang setumpuk dan agenda meeting di beberapa tempat sesuai janji dengan klien nya. Saat makan siang Andra sedang di restoran ala China, dia tidak menunggu siapa pun tapi hanya ingin mampir saja mencoba menu baru.
Ada seorang gadis karir lewat, Andra tahu dari siluet gadis itu saja.
"Sama siapa?"
Andra mendongak lantas tersenyum.
"Sama kamu"
"Aku baru datang dan tidak janjian"
"Ya sudah kita janjian"
Rindi nampak cemberut melihat sekeliling sampai pada tangan kiri Andra memakai cincin di jari tengah nya. Lantas Rindi melihat cincin nya, mata nya membelalak cincin mereka sepasang ternyata.
"Ayo duduk, kita makan siang"
"Gak romantis"
"Nanti malam saja, mau?"
Goda Andra dan sukses membuat Rindi bersemu merah. Gadis itu nampak cantik berkali lipat.
"Jelaskan?"
"Jelaskan apa nya?"
"Cincin di jari mu dan ini"
Rindi mengeluarkan buku nikah dan menunjuk cincin yang ada ditangan Andra.
"Apa yang harus dijelaskan? orang menikah ada akta dan buku nikah serta cincin pasangan iya kan?"
Rindi gemas sendiri lantas mencubit pinggang lelaki matang atau lebih cenderung ke tua itu.
"Sakit loh, kalau gemas nanti malam boleh?"
Rindi akan mencubit kembali pinggang lelaki yang duduk di seberang nya itu. Namun Andra segera menangkap tangan gadis cantik yang memanyunkan bibir nya itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1