TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.42


__ADS_3

Rista bangun lebih pagi karena hari ini begitu terasa sejuk ditubuh nya, angin semilir, Rista mencoba untuk berolah raga. Memakai pakaian olah raga nya dengan pas karena agak kebesaran sewaktu beli tahun lalu. Bercermin sebentar sambil sambil memperhatikan penampilannya, memang belum banyak makan juga belum menginginkan makanan yang aneh, yang biasa disebut orang orang ngidam.


'Belum begitu terlihat, benar lagi pula kan aku baru pertama hamil'


Gumam Rista tersenyum sambil perlahan mengelus perutnya.


'Kamu gak nakal ya de'


Mengelus perutnya dengan sayang.


Dengan segera Rista berjalan menuju taman, lalu melepaskan sepatu, dia seperti wanita kebanyakan yang bugar lagi bertambah cantik.


'Tapi kalau berpakaian kerja akan sedikit terlihat bagian perutnya kan aku masih belum gemuk, bagaimana ya?'


Lama Rista berpikir, lalu muncul sebuah ide, Rista tersenyum kemudian dia segera pulang.


Sementara Haris bangun, merasa tempat disampingnya agak dingin.


'Kemana dia?'


Ucapnya dalam hati.


Haris bangun dari baringan nya lantas ingin langsung berdiri namun mendadak kepalanya berputar.


"Aww....."


Pekiknya karena tak tahan melihat sekeliling tempat tidurnya memutari dirinya.


"Ada apa ini?"


Tanya nya sendirian dengan segera Haris duduk ditepian ranjang sedikit sedikit bergerak hingga menuju kepala ranjang. Diam disana begitu lama hingga seseorang memasuki kamar miliknya.


Klek....


Pintu kamar terbuka, memperlihatkan wanita cantik miliknya yang memakai seragam olahraga berwarna merah yang menampilkan kulit tubuhnya semakin bercahaya.


"Sudah bangun?"


Mata Haris menelisik tubuh istrinya, namun tidak menjawab pertanyaan sang istri.


"Dari mana?"


Malah balik bertanya pada istrinya.


"Habis jalan pagi"


Jawab Rista santai.


"Dengan siapa? tumben?"


Rista berbalik hendak mengambil handuk untuk segera mandi.


"Tunggu........"


Bughhh....


Tubuh jangkung Haris terjatuh dilantai ketika hendak menyusul Rista, dengan cepat Rista berjalan menghampiri suaminya yang terkapar dilantai.


"Ada apa? lantainya licin?"


Haris menggelengkan kepalanya dengan cepat lantas berdiri sempoyongan, Rista memapah tubuh suaminya yang nampak lemah.


"Mas sakit?"


Tanya nya namun lelaki itu hanya dia.


'Apa dia sakit sedari tadi? pantas belum bersiap ke kantor!'


Gumam Rista dalam hati nya.


Rista membantu Haris duduk ditepian ranjang.


"Disini saja, kepala ku berputar sejak tadi jika bergerak, perut ku mual sekali"

__ADS_1


Deg.......


Rista terdiam, ucapan Haris mengingatkan dirinya. Dia melihat perutnya apakah anak nya sedang memberitahu sang ayah bahwa dia sudah hadir dalam dirinya.


'Nak, kamu ingin kasih sayang papah mu kah?'


Ucap Rista seolah berbicara dengan si buah hati yang sudah 3 bulan ini bersemayam didalam tubuhnya.


"Mas sakit kenapa diam saja"


Haris terdiam lalu menatap wajah cantik istrinya, menarik tangan lembut itu untu mendekat lalu Haris memeluknya dengan erat.


"Panggil dokter ya"


Haris menggelengkan kepalanya.


"Begini saja sebentar"


Haris memeluk tepat di mana letak perut Rista, hangat lagi nyaman Rista rasakan.


'Apa kau senang dipeluk papah mu, lihat dia manja sekali'


Gumam Rista sambil mengelus rambut suaminya.


Haris menelusupkan tangan besarnya, mengelus perut Rista, Rista yang mendapat perlakuan dadakan itu sempat terkejut karena suaminya mengelus perutnya. Sesekali bahkan Haris mengecup lembut perutnya itu.


"Mas geli"


"Sekarang kamu kok perutnya agak gendutan ayy? apa dia sudah disini?"


Sambil berkata Haris menunjuk perut sang istri.


"Mana bisa?"


Rista menjawab sambil memalingkan mukanya, lantas tersenyum hambar.


'Maafkan mamah nak!'


Lirih Rista dalam hati.


Gumam Rista menguatkan hatinya.


Haris melihat ekspresi itu dari wajah istrinya.


"Apa kamu menggunakan penunda kehamilan?"


Haris bertanya dengan suara yang begitu rendah, Haris sangat berharap jika istrinya itu tidak menundanya dengan alasan apa pun.


"Tidak"


Haris tersenyum senang.


"Aku sangat menginginkannya"


Ucap Haris, Rista sempat mendongak menatap muka suaminya yang tersenyum manis dan tampan. Rista menunduk merasa bersalah menyembunyikan buah cinta mereka.


'Andai kamu tahu mas, maaf'


Rista sejenak melamun.


"Pusing ku agak mereka ayy, aku mau mandi dulu ya"


Rista mengangguk lantas terdiam lalu dia duduk dipinggir ranjang, keputusannya goyah bayi dalam perutnya milik suaminya juga lagi pula dia berhak mendapat kasih sayang dari papahnya.


Selesai mandi Haris berdandan dengan rapih, begitu pun Rista memakai baju atasan seperti biasa hanya bahannya yang menggunakan rok yang memiliki lipatan lagi terlihat lebar di bagian perut namun menampilkan kecantikan Rista yang lebih.


"Kenapa memakai rok itu?"


"Rok ini yang masih muat, aku sedikit gendut"


Haris meneliti sejenak, lantas mengangguk.


"Ayo kita berangkat"

__ADS_1


Membawa serta istrinya memasuki mobil yang sudah dikemudikan Jamie.


Haris beserta sang istri berangkat ke kantor karena Haris mendadak pingsan dijalan, hingga harus dilarikan ke rumah sakit.


"bagaimana dok? apa penyakit suami saya?"


Tanya Rista dengan cemas, dokter yang memeriksa keadaan Haris tersenyum.


"Tidak ada penyakit yang serius nyonya"


"Lantas apakah penyakit suami saya?"


Ucap Rista dengan panik.


"Apa kelelahan karena jadwal kerja dok, pada hal jadwal kerja saya tidak begitu padat tapi cenderung santai"


Dokter menggelengkan kepalanya.


"Tuan Haris anda tidak sakit, anda sangat sehat namun ini hanya sindrom kehamilan yang terjadi secara sementara"


Dag...dig....dug.


Jantung Rista berdetak tak karuan, sementara Haris memandang kearahnya sedari tadi.


"Apakah sindrom ini terjadi saat di keluarga saya ada yang hamil dok?"


"Sindrom itu diturunkan pada anda jika anda adalah ayah kandung dari bayi tersebut"


"Lalu bagaimana menghadapi nya?"


"Tidak ada obatnya tuan namun anda harus memakan atau melakukan yang diinginkan pikiran dan perasaan anda, jika tidak maka akan ada luapan emosi yang tinggi dari batasan normal emosi itu"


"Baik lah terimakasih dokter"


Haris masih memperhatikan tingkah istrinya yang selalu menghindari kontak mata dengannya.


"Jamie kita pulang ke rumah saja"


"Baik tuan"


Mereka kembali ke rumah dengan segera, Haris sangat pucat, lelah, lagi perutnya selalu mual. Mamah Paramitha tergopoh gopoh menyambut anak nya yang dikabarkan Jamie pingsan tadi.


"Mas, kamu sakit apa?"


"Tidak ada mah, Haris sehat saja"


Berkata demikian sambil melirik sang istri, sang mamah mengerti lirikan anaknya itu.


"Tapi wajah mu pucat?"


"Haris sehat mah"


Suara Haris sedikit meninggi. Kemudian lelaki itu sadar, dengan segera memegang tangan sang mamah.


"Maaf mah"


Sang mamah mengangguk, lantas tersenyum kearah menantu cantiknya. Sang mamah baru menyadari jika menantunya tampak lebih cantik dan jika diperhatikan tampilan seragam kerjanya berubah.


"Kamu mau mamah masakan makanan kesukaan mu?"


Sang mamah berkata sambil mengelus lengan putranya itu.


"Tanyakan pada nya?"


Haris melirik istrinya yang sedari tadi terdiam disisi kirinya itu. Sang mamah hanya terdiam merasa aneh.


'Apa menantu cantik ku sudah hamil, bau juga tampilannya sangat menonjolkan itu'


Gumam mamah paramitha dalam benaknya.


Lantas menatap sepasang suami istri itu memasuki rumah mereka.


'Semoga saja benar dugaan ku'

__ADS_1


Lanjutnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2