
Mata Andra terbelalak melotot hampir saja jatuh mata jika tidak di lem oleh tuhan. Sesaat tangan besar paman menggebrak meja yang ada di hadapan mereka. Rindi menoleh melihat suami nya terjengkit kaget.
"Kau bilang apa? minta restu setelah kalian menikah begitu?"
Tanya paman dengan suara tegas lagi berintonasi.
"Benar paman"
"Meminta restu atau tidak apa beda nya, kalian sudah menikah meski kami tidak merestui nya tidak mungkin pernikahan kalian di batalkan, jika itu terjadi tidak mungkin status Rindi kembali tapi dia akan jadi janda"
Andra terdiam, menunduk seperti maling yang sedang di hakimi.
"Benarkan kami mau tidak mau harus merestui kalian"
Mereka suami istri muda itu mengangguk secara bersamaan. Ketegangan semakin menjalar, Andra menggenggam tangan Rindi, seolah dia berjanji tidak akan melepaskan istri nya walau apa pun terjadi. Andra melirik kearah istri nya yang menunduk seketika, Andra memberikan cengkraman hangat pada telapak tangan istri nya.
Semua perbuatan itu tak luput dari perhatian paman Rindi.
"Sudah lah mas, lagi pula aku yang mengijinkan Arvin menikahi keponakan mu dan aku juga wali nya.
Lelaki paruh baya yang kini sangat kurus itu keluar dari arah taman belakang. Mereka baik Andra maupun Rindi mendongak, mata nya berbinar, seraya melepaskan tautan jari nya dengan Andra dan memeluk lelaki yang baru saja datang.
"Papah!"
Lelaki yang tak lain adalah Afar itu merentangkan tangan nya bersiap memeluk anak perempuan tunggal nya itu. Namun dengan segera paman Rindi menyisihkan tubuh kerempeng Agar dan menahan tubuh Rindi di agar tidak memeluk lelaki penyakitan itu.
"Peluk keponakan ku, dasar lelaki penyakitan"
Afar menghela nafas berat kemudian.
"Paman mu selalu cemburu pada ku, dan kau tidak ijin pada nya kalau kalian menikah, celaka duabelas nama nya"
Andra tersenyum menyambut tangan papah mertua nya yang agak kurus dari sebelum nya.
"Apa kabar pah?"
"Aku baik, bagaimana kalian?"
"Sedang sidang sana-sini"
Afar hanya tersenyum begitu pun menantu lelaki nya.
"Jadi apa kau tidak mengijinkan putra ku menikahi keponakan mu?"
Tanpa permisi dari luar rumah nampak masuk seorang lelaki berumur seumuran dia orang lelaki yang tak lain paman dan papah Rindi siapa lagi jika bukan Rei Daddy dari Andra.
"Aku sedang menyidang anak mu, kenapa kau ikut campur! manja"
"Hei aku buka gadis, kau bilang aku manja tega sekali kau"
"Memang kenapa?"
"Mereka sudah menikah ya biarkan saja mereka melanjutkan rumah tangga mereka"
"Kau pikir aku akan memisahkan mereka"
__ADS_1
"Tidak ada yang bilang"
Mereka dua sahabat tua itu sedang bertengkar namun Andra malah terlihat mendekati papah mertua nya.
"Pah bagaimana keadaan mu?"
"Baik untuk saat ini"
"Bagaimana tawaran ku?"
"Rindi mendekat dengan membawa 5 cangkir teh herbal alami.
"Tawaran apa mas"
Andra menoleh pada istri nya, lantas menoleh pada mertua lelaki nya. Terlihat Afar mengangguk dengan tenang.
"Papah Afar mengidap penyakit lambung akut sayang, jadi aku menawari nya berobat ke negara A di rumah sakit di mana mommy ku dirawat"
Rindi terlihat kaget, dia baru mendengar mommy kandung suami nya yang ada di rumah sakit.
"Mommy nya mas sakit?"
"Mommy kandung ku sudah koma semenjak aku berusia 2 tahun"
Andra bercerita pada Rindi dengan tatapan sendu nya.
"Maaf mas aku membuat mu sedih"
Andra menggelengkan kepala nya, dia menggenggam tangan Rindi semakin erat ibarat lelaki yang menjadi suami nya sedang menyalurkan beban berat yang ada dalam pikiran nya.
"Bukan salah suami mu semua nya salah Daddy"
Lalu mengalir lah cerita Daddy tentang pernikahan beliau dengan wanita yang menjadi mommy Andra. Cerita masa muda Daddy Rei yang penuh lika-liku hingga Rei terlahir. Semua cerita Daddy Rei tak ada yang terlewat sama sekali, merek yang ada di ruang tamu menyimak nya dengan seksama.
"Maaf nasib Arvin itu selalu berkaitan dengan Daddy, nak"
Ucap Daddy Rei seraya menunduk dengan sedih nya.
"Bukankah itu sudah takdir Daddy, bukan penyesalan yang harus kita kedepankan tapi memperbaiki diri yang harus kita lakukan"
Ucap Rindi bijak menyikapi sebuah masa lalu dari orang tua suami nya itu.
Mereka menatap nanar semua cerita masa lalu tak di pungkiri Afar juga sama dengan masa lalu nya.
"Semua orang punya masa lalu, papah juga kau sudah dewasa papah bangga"
Ucap Afar dengan memegang tangan putri nya.
"Benar pah, oh ya tadi Andra sudah meminta tim dokter terbaik di negara A untuk mengirimkan tim mereka agar menjemput papah kemari"
"Benarkah nak Arvin, terimakasih, tolong jaga anak kesayangan papah satu-satu nya ini"
Andra mengangguk namun dia bingung jika Rindi anak tunggal papah Afar Mukti lalu Lisa bagaimana. Karena setahu diri nya Lisa lah yang memegang perusahaan milik Afar dulu.
"Lisa bukan putri kandung ku, dia hanya anak dari istri ku saat itu"
__ADS_1
Seolah Agar mengerti tentang pemikiran Andra, karena menantu nya itu terlihat sangat kaget.
"Aku mengerti pah"
Mereka asik mengobrol sedangkan satpam masuk dan melapor pada pemilik rumah.
"Ada apa pak?"
"Ada orang yang mau menjemput pasien tuan, memang disini siapa yang sakit tuan?"
"Oh, persilahkan saja mereka masuk pak"
"Tuan"
10 orang tim medis datang menjemput Afar untuk segera pergi ke negara A.
"Pah, hati-hati disana"
Afar hanya mengangguk pasrah, dia akan menjalani pengobatan ke luar negeri karena masih sayang dengan anak nya.
"Jangan menangis nak"
Rindi hanya mengangguk, sambil melepas sang papah yang mau berobat. Andra mengelus pundak istri nya mendekap ke dalam dekapan nya.
Mereka kembali masuk, teh hangat sudah di sediakan di ruang tamu dengan camilan kue kering bahkan basah atau sekedar makanan ringan saja.
Tak berapa lama satpam rumah paman dari Rindi kembali masuk. Dia nampak bingung memandang kearah mereka berempat.
"Ada apa pak?"
"Maaf tuan, ada orang rumah sakit jiwa yang mencari tuan Rei"
"Uhuuk....uhukkk"
Rei tersedak teh hangat nya, pantas menoleh pada satpam tadi.
"Memang ada apa? kok bisa dokter RSJ datang?"
"Suruh masuk, cepat"
Ucap paman Rindi memotong.
Tak berapa lama tiga orang pria berseragam putih layak nya dokter.
"Pak Arviandra Excel Pratama, kasus Bu Amelia menghilang"
"Apa sudah kalian temukan di pinggir kolam, atau ujung taman RSJ kalian"
Mereka saling pandang Lalau menundukkan kepala mereka.
"Sudah tuan, tapi tetap tak bertemu"
Andra menghela nafas nya dengan berat.
"Sayang aku tinggal dulu ya, mau mencari ibu Amelia"
__ADS_1
Rindi hanya mengangguk setelah nya sang suami meninggalkan diri nya.
BERSAMBUNG.