TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.315


__ADS_3

Andra membuka mata nya lantas menegakkan punggung nya, dia baru saja terlelap tapi ada genggaman yang kuat dari tangan sang mommy maka rasa kantuk nya jadi sirna.


Andra memencet tombol untuk memanggil dokter, karena dia di rumah sakit sendirian hany dengan bodyguard nya saja. Roy di suruh menengok ibu Amelia, sedangkan om Aryos, Andra suruh mengikuti sang Daddy. Sementara ayah Andreas pergi bekerja karena ada meeting penting dengan klien nya.


Tak berapa lama para tim dokter bergegas menuju ke ruangan mommy Andra untuk memeriksa nya.


"Bagaimana dokter mommy saya?"


Ucap Andra setelah dokter memeriksa dan meneliti nya.


"Untung guncangan tadi tidak mengganggu kinerja jantung seperti kemarin, mungkin karena suara dan genggaman tangan anda yang beliau kenal jadi beliau merasa aman"


"Baik lah dokter, saya lega kalau begitu"


"Jadi saran saya ceritakan masa yang indah untuk pasien dengar karena respon nya sangat positif"


"Baik lah kalau demikian"


Baru saja dokter berlalu dari ruangan itu, tak berapa lama Daddy Rei datang dengan tergesa karena sesaat tadi Andra menghubungi Daddy nya tersebut.


"Bagaimana keadaan mommy mu Arvin?"


"Kata dokter itu hanya respon positif saja dad"


Andra agak kecewa, lantas Daddy Rei mendekat untuk mengelus pundak sang anak.


"Itu perkembangan yang sangat baik Arvin, karena sudah 35 tahun mommy tertidur, mungkin dia menunggu mu untuk membawa nya pulang ke alam nyata bukan alam mimpi lagi"


Andra mengangguk.


"Setiap apa pun selalu membutuhkan proses nya"


"Arvin mengerti dad"


"Yos kau tidur lah di kamar sebelah aku disini dengan Arvin"


"Baik tuan"


Om Aryos melangkah untuk istirahat.


"Kalau kau lapar pergi lah ke kantin rumah sakit makan supaya kau selalu kuat untuk menunggu mommy mu sadar"


"Baik lah, Arvin ke bawah sebentar Dad"


Andra turun sendiri ke kantin bawah rumah sakit untuk makan, dia juga akan memesan sesuatu ke kantin untuk bisa dimakan oleh Daddy nya.


Andra memesan makanan western tentu nya karena hanya itu menu yang tersedia disini. Baru saja Andra menghabiskan seporsi steak nya, namun ponsel pintar nya berdering.


Drrtt ...drrtt....drrtt.


"Iya dad"


"Cepat kemari mommy mu kritis lagi"


Andra berlari menuju lift menekan lantai tertinggi, 25 lantai memang memakan waktu 10.menit. Andra sampai disana, terlihat beberapa dokter dan tim nya lagi dan lagi berada di kamar sang mommy.


"Kenapa bisa begini dad?"


"Entah lah Daddy tidak tahu, apa karena obat penawar nya blum sempurna atau karena terlalu lama rentan waktu koma mommy mu maka nya selalu kritis"


"Entah lah dad yang pasti kita haru berdoa buat yang terbaik untuk mommy"


Dokter perlahan keluar dari ruang rawat itu.


"Bagaimana dok?"


Sang dokter hanya tertunduk saja.


"Kalau boleh saya sarankan, lebih baik kalian ikhlaskan beliau"


Setelah mengatakan demikian semua dokter berlalu.


"Apa alat-alat rumah sakit sudah tidak berfungsi dok?"


Rei menahan beberapa dokter yang menangani istri nya.


"Masih tuan bahkan sangat berfungsi tapi jika tubuh pasien tak ingin lagi bangun kami tidak bisa berbuat apa pun"


Seolah mereka para tim dokter sudah tidak punya harapan tentang kesembuhan mommy Jasmin lagi.


"Dad, Arvin tidak bisa kehilangan mommy dad"


Andra memeluk Daddy nya, lelaki baya itu hanya berdiri tegap memandang kamar itu yang selama 35 tahun istri nya huni.


"Kita tidak akan menyerah"


"Kalau itu keinginan anda silahkan itu tadi hanya saran kami"


Daddy Rei mengangguk menerima saran dokter juga.


Tak lama kemudian ayah Andreas datang beserta asisten nya, begitu pun om Aryos sementara Roy tak diberi kabar oleh Andra.


"Ada apa?"


Ayah Andreas panik setengah mati begitu mendapat kabar dari Andra, dan terlihat Andra menangis.


"Dokter menyarankan agar kami melepas alat fungsi hidup mommy, Yah"


Andreas tertegun mendengar penuturan Andra, ini tidak masuk akal.


"Kenapa demikian?"


Tanya ayah Andreas tak sabar.

__ADS_1


"Sebaiknya kita masuk dahulu ke ruang rawat, ini di lorong rumah sakit"


Usul om Aryos.


Mereka semua mengangguk dengan patuh lantas berbincang di sofa dan bad rumah sakit satu nya yang lebih kecil.


"Tadi sore aku ketiduran sambil memegang tangan mommy, tak lama kemudian aku kaget karena tangan ku di genggam aku hubungi dokter dan respon nya sangat baik aku menghubungi Daddy dan lekas datang kemari"


Ungkap Andra.


"Aku menyuruh Arvin untuk makan malam dahulu, karena kondisi mommy sangat bagus, aku menjaga nya disini tak berapa lama ada visit dokter mengganti obat lantas 30 menit kemudian mommy Andra kejang"


Ayah Andreas saling berpandangan dengan asisten nya sedangkan Andra saling berpandangan dengan om Aryos.


"Apa ada sesuatu yang mencurigakan dengan obat atau dokter dan suster nya?"


Ucap ayah Andreas.


Daddy Rei mengingat kejadian itu lalu menggeleng karena obat dan semua nya tidak ada yang mencurigakan bahkan dokter nya adalah dokter yang selalu konsisten dengan jadwal.


"Kok bisa?"


Ucap Aryos.


"Entah lah kenapa bisa terjadi demikian, kondisi yang sudah membaik tiba-tiba kejang dan menjadi nol kembali"


Lirih Daddy Rei dengan lemas, karena harapan nya sudah membumbung tinggi.


"Kalian bersabar lah, banyak berdoa untuk Jasmin supaya bisa diberi berkah-Nya"


Mereka serempak mengaminkan semua ucapan ayah Andreas.


"Baik lah kalau begitu, saya akan menempatkan ruang masak untuk chef dan pelayan dari bodyguard wanita"


"Ide bagus itu Yah"


"Baik lah kalau begitu ayah segera aturkan ya"


Andra dan Daddy Rei segera mengangguk, dengan demikian ayah Andreas segera bergegas kembali dari rumah sakit untuk memilih bodyguard sekaligus memilih tambahan untuk di jadikan dapur dan juga tempat menginap.


Ayah Andreas juga mengatur banyak pekerja agar merenovasi ruangan dengan segera. Ayah Andreas menginginkan ruangan itu di perbaiki dengan memakan waktu beberapa jam saja atau ketika malam hari di kerjakan.


Waktu sudah mulai pagi Andra dan Daddy Rei tidak beranjak dari kamar mommy nya. Jika memerlukan makan maka Om Aryos yang akan keluar untuk membeli nya.


"Dad tidur lah dahulu, biar Avin yang giliran jaga mommy"


"Baik lah Daddy tidur dahulu, kalau ada apa-apa bangunkan Daddy saja"


"Iya dad"


Roy yang sudah semalaman menjaga ibu Amelia sekarang dia berpamitan sebentar pada ibu Amelia.


"Bu saya pamit dahulu untuk melapor pada tuan"


"Iya pergi lah, kau juga harus bekerja, aku disini baik saja bilang itu pada tuan mu"


Ibu Amelia mengangguk, Roy bergegas segera keluar dari ruang isolasi di lantai 20 itu. Namun langkah Roy terhenti tatkala dia samar-samar mendengar pembicaraan dua orang baya di koridor sempit di lantai itu. Roy menyalakan rekam dan video yang ada di kantong baju nya, seraya mendekat pada kedua orang tadi.


"Bagaimana?"


Nampak salah seorang diantara nya kebingungan hendak menjawab pertanyaan dari orang yang lebih berkuasa.


"Katakan bagaimana keadaan wanita bermarga Mid itu atau kau yang akan aku lenyapkan!"


Ancam nya pada dokter paruh baya itu yang nampak gemetar.


"Jangan tuan"


"Katakan bagaimana hasil nya"


"Sekarang nampak nya agak susah bergerak karena keluarga pasien lebih ketat menjaga nya, aku sudah sarankan agar wanita itu siuman dahulu setelah nya kita buat pengobatan itu gagal tuan tapi anda tak sabaran"


"Itu akan memakan waktu"


Sentak nya sampai dokter itu kaget.


"Seperti nya pasien nampak sering kejang-kejang"


"Kok bisa?"


"Kan usul anda tuan untuk mencampur nya dengan bahan yang membuat mimpi nya menjadi mengerikan"


"Apa obat itu sekeras itu"


"Entah lah saya hanya bisa memasukkan obat jika ada visit dokter tidak bisa di lab karena akan diteliti berulang-ulang saya takut tertangkap"


"Bukan kah jaminan hidup mu sudah ada"


"Memang benar tapi aku pasti akan di penjara, aku tidak mau itu"


"Halah karir mu juga sudah meredup dan hampir tak terpakai lagi"


"Tapi tidak dengan masuk penjara"


"Kau jangan mengubah skenario seenak mu laksanakan saja perintah ku, buat wanita itu tidur selama nya dan jangan lagi ada harapan"


"Aku sudah mengusahakan agar keluarga nya mencabut fasilitas hidup pasien tapi anak nya tidak setuju"


"Usulkan pada dokter kepala di rumah sakit ini"


"Itu tidak mungkin sama saja aku membongkar aib ku"


"Hah!"

__ADS_1


"Pemilik rumah sakit ini adalah tuan Mid yang arti nya kakek bocah itu dan yang terbaring koma adalah putri tunggal tuan Mid"


"Oh ****!"


"Jadi bagaimana selanjut nya jika aku memasukkan obat lagi dan kejang lagi maka jelas akan ketahuan"


"Apa tidak ada cara lagi?"


"Tentu tidak ada karena sekali lagi penawar nya akan di suntikkan maka wanita bernama Jasmin itu akan terbangun dari koma nya"


Lelaki itu tampak manggut-manggut, nampak berpikir keras.


"Sudah lah itu sudah cukup untuk mu bekerja pada ku, sisa nya aku yang akan melakukan nya untuk membereskan wanita itu"


"Aku rasa kau akan segera tertangkap oleh mereka"


"Itu tidak penting karena aku hanya pesuruh asalkan tuan ku aman maka mereka akan selalu dalam keadaan bahaya"


"terserah pada mu, aku akan pergi dahulu"


Roy segera menyimpan rekaman itu lantas menyembunyikan diri nya di selipan tembok itu. Sementara lelaki tadi melewati nya dengan santai.


Roy memperhatikan lantai mana yang lelaki itu tuju, Roy menaiki lift dan segera menyusul, sebelum nya sudah mengirimkan rekam suara dan wajah pada Andra dan saat ini dia sedang mengikuti orang tersebut.


Orang itu nampak keluar dari rumah sakit menuju sebuah mall besar di seberang rumah sakit. Roy juga menghubungi mata-mata untuk segera mencegat orang tadi.


Andra sibuk berbalas pesan dengan Roy, sehingga mengganggu kenyamanan tidur dari Daddy Rei.


"Ada apa?"


"Roy tadi aku suruh untuk menemani ibu Amelia, tapi entah bagaimana cara nya dia mendapat video dan rekam suara yang membuktikan bahwa kesehatan mommy karena ulah mereka"


Mata Rei membulat sempurna lantas dia segera menghubungi Andreas dan beberapa bodyguard bayangan nya untuk berada langsung dalam komando Roy.


Di dalam Mall besar di negara A, nampak lelaki tadi berbicara dengan teman nya. Roy pun nampak merekam itu, tak nampak pria itu berbicara dengan si pelaku. Misi pun masih terus berlanjut hingga si pelaku menaiki mobil mewah yang terparkir di basement Mall.


Roy nampak santai mengikuti mobil yang di kemudian oleh orang tersebut hingga berada di hotel tentu nya tempat orang itu tinggal. Roy menghubungi Andra karena lelaki itu tinggal di hotel yang mewah dengan keamanan ekstra.


Tak berapa lama kemudian seseorang nampak menghampiri nya.


"Tuan Roy ini dari bos"


Roy menerima kartu pas pemilik hotel, Roy nampak tersenyum lalu mengangguk setelah mengucapkan terimakasih.


Di lobi hotel ada resepsionis.


"Permisi, saya ingin memesan kamar yang lantai nya sama dengan orang yang masuk tadi"


Setelah berkata demikian Roy menggunakan kartu pas pemilik hotel.


"Oh lantai 8 pak yang sama dengan tuan Yohen"


"Apa pak Yohen itu tinggal dengan keluarga nya?"


"Iya pak tapi dengan istri kedua nya"


"Apa sudah memiliki anak?"


"Mereka baru menikah dua hari lalu di hotel ini juga resepsi nya"


"Dia bekerja?"


"Iya di perusahaan Alkatiri corp di negara A ini"


"Cabang mana?"


"Seperti nya cabang E"


"Baik terimakasih"


Roy memberikan sebuah amplop berisi cek, resepsionis itu tersenyum sembari mengantarkan sampai ke lantai 8 dengan menggunakan lift lalu menuju kamar.


"Ini kamar istimewa karena bisa membuka kamar kamar sebelah nya yaitu milik tuan Yohen karena anda adalah pemilik hotel ini"


"Baik terimakasih saya akan promosikan kamu, beri saya kartu nama mu"


Resepsionis itu memberikan kartu nama nya pada Roy.


"Selamat menikmati menginap di hotel kami tuan"


Roy mengangguk, dia segera masuk ke kamar hotel. Lantas segera menyusun rencana dan memberikan rekaman pada tuan nya Andra tentang isi percakapan nya dengan resepsionis tadi.


Andra tersenyum dan memerintahkan untuk mengevakuasi seluruh penghuni hotel agar meninggalkan hotel sesuai jam yang tertera untuk sementara. Tanpa ada pergerakan besar.


Andra sudah menyediakan tempat liburan untuk pengungsian sementara bagi pengguna hotel ke resort milik ayah Andreas. Andra sudah mengepung kamar yang ada di lantai 8 itu dengan menggunakan bodyguard andalan milik nya, milik Daddy Rei juga milik ayah Andreas.


"Apa kau sudah siap? Penyergapan sekitar pukul 2 siang"


"Baik tuan"


Roy pun segera mandi dan bergegas berganti pakaian rumahan yang nyaman. Peristiwa ini sangat mendadak sekali tapi dia sudah sering mengalami hal semacam ini.


Roy memesan makan siang nya di resto yang ada di hotel itu. Sambil menunggu jam 2 siang seperti yang tuan nya katakan itu.


Tak berapa lama Andra mengirim notif bergerak. Roy bersiap keluar dari kamar nya menuju pintu rahasia menuju kamar sebelah. Di lihat nya sepasang pengantin baru itu sedang bergulat di ranjang dengan posisi menjijikan tentu nya.


"Wah kalian sedang asik sekali"


Yohen dan istri nya dengan cepat memakai selimut dan mungkin sesuatu yang akan memicu puncak pun harus terkendala macet.


"Siapa kalian?"


Ucap Yohen dan istri nya, kaget.

__ADS_1


"TANGKAP MEREKA"


BERSAMBUNG.


__ADS_2