
"Enngg........."
Haris menggeliatkan tubuhnya karena hanya berpejam sebentar, dilihatnya jam menunjukan pukul 7 hari ini tidak ada jadwal pagi. Haris kembali memeluk bantal mengelus tempat sebelahnya yang dingin.
"Hemm pagi pagi sudah bangun"
Haris tersenyum, dia akan menunggu ditempat tidur karena Rista biasanya akan kembali ke kamar untuk mandi sebelum berangkat ke kantor.
Haris melihat seragamnya sudah tergantung disisi meja rias juga sepatu dan aksesorisnya.
"Aku akan menjelaskan tentang semalam, dia pasti mengerti dengan baik"
Gumam Haris, namun hingga sejam lebih Rista belum naik juga.
"Dia kemana? apa sudah pergi ke kantor?"
Lanjut Haris berbicara sendiri.
Drrttt...ddrrttttt.
Haris mendial sebuah nomer lantas dari seberang ada jawaban.
"Apa nyonya sudah dikantor?"
"Belum tuan"
"Baik lah"
Haris menutup ponselnya lantas meletakan nya diatas nakas.
"Ponselnya masih ada"
Haris tersenyum karena masih baik saja, lantas dia menuju kamar mandi karena Rista akan marah jika melihat sang suami yang tidak bersih untuk menyantap makanannya.
"Sepi, jendela juga masih tertutup rapat, ga ada aroma makanan disini?"
Ucap Haris, ketika mendekati dapur.
"Ayy........ayy"
Haris berkeliling siapa tahu wanita nya itu sedang menyiram bunga.
"Tidak basah, kemana sih?"
Gumam nya setelah mengamati beberapa pot.
"Ayy,.....sayang, kamu dimana sih?"
Berkeliling sekitar taman belakang, menghampiri kolam hingga sampai kedepan.
"Dimana dia?"
Haris kembali ke dapur juga masih dalam keadaan sepi.
"Apa ke mini market, tapi tidak mungkin kan!"
Haris membuka lemari penyimpanan makanan kering lalu ke tempat dimana sang istri menyimpan susu yang dikonsumsi beberapa bulan belakangan ini.
Braakk........
Haris menyenggol tempat susu kosong yang disobek dengan terburu, lantas membaca nya, seketika matanya membulat sempurna melihat tulisan itu.
"Benar jadi dia hamil"
Haris segera berlari menuju kamar nya. Secepat mungkin membuka kamar mereka, lantas membuka kamar mandi.
"Sayang....apa kau sedang menyiapkan kejutan untuk ku, sayang......"
Teriaknya semakin lantang, mencari kesegala arah hingga tiba di lemari pakaian sang istri. Betapa terkejutnya Haris melihat semu pakaian yang biasanya tergantung penuh kini tak ada sehelai pun.
"Apa ......apa maksudnya semua ini!"
Racau Haris memundurkan langkahnya.
"Tidak ......tidakkk!"
Haris berlari sekuat tenaga ke jalanan.
"Rista.....Rista........"
Teriak nya membabi buta, Haris berlari kejalanan mencari ke setiap sudut dengan berlari.
"Rista, dimana kau sayang ku"
__ADS_1
Dengan gamang lagi bingung, matanya melihat kesegala arah.
"Pak"
Seorang satpam komplek, menepuk bahu Haris yang kacau dengan baju kerjanya.
"Bapak mencari ibu Rista"
Haris langsung mengangguk dengan nafas tersengal.
"Jam 4 dini hari tadi beliau menggunakan taksi pak, katanya akan pergi ke desa mengunjungi keluarga yang sakit"
Haris terdiam matanya memejam, seingatnya tidak ada saudara yang sakit.
"Saya permisi pak"
Satpam komplek segera undur diri.
"Kau kemana?"
Baju yang Haris kenakan nampak kusut, keringat membanjiri tubuhnya, dia sendiri menarik rambutnya dan berteriak.
"Ayo pulang"
Haris mendongak, lantas menggeleng.
"Apa yang kau tunggu disini?"
"Aku sedang menunggu istri ku kak!"
"Ayo pulang dulu, aku bantu kamu mencari istri mu"
Seketika Haris bangun lantas naik ke mobil Aksa. Ya orang yang menyuruh pulang Haris adalah Aksa kerena kebetulan Aksa hari ini mengantarkan istrinya ke rumah utama mereka yang hanya bersebrangan dengan rumah Haris.
5 menit mereka sampai dikediaman Dimitri orang tua Haris.
"Ada apa ini?"
Haris hanya berjalan masuk, tanpa menggubris penampilannya yang kacau menandakan dia memiliki masalah yang berat. Mamah Paramitha menghampiri kedua lelaki muda itu.
"Aksa menemukan dia dipinggir jalan besar mah"
Ucap Aksara, seketika mamah Paramitha terkejut.
"Ada apa mas?"
Ucap sang mamah mengelus rambut putranya.
Dari lantai atas Sheyla yang baru akan turun segera berlari ke lantai bawah melihat kondisi sang kakak.
"Mah, ada apa dengan mas Haris?"
Sang mamah menggelengkan kepalanya.
"Mamah juga tidak tahu"
"kak ada apa dengan mas ku?"
"Kakak juga menemukan dia dipinggir jalan keadaannya sudah seperti itu"
"Seperti itu bagaimana kak?"
Bukan Sheyla melainkan papah dari Haris, Alan Dimitri.
"Aksa sudah menemukan Haris seperti itu dijalan pah, dia hanya berkata sedang menunggu istrinya"
Ungkap Aksara.
Sang papah menghela nafas dengan berat, lantas dia segera duduk disamping putra nya itu, mengusap pundak anak sulungnya untuk menguatkan masalahnya.
"Ceritakan pada papah"
Untuk beberapa saat Haris masih sesegukan dengan tampilan yang semrawut.
"Ceritakan, papah akan menolong mu"
"Haris nggak tau pah apa masalahnya, Haris juga gak ngerti"
Sang papah mengangguk.
"Rista pagi ini menghilang, Haris nggak tau pah"
Kembali tangis si sulung itu pecah seperti saat dia tak selalu menangis ketika kehilangan miliknya.
__ADS_1
"Kalian tidak bertengkar?"
Ucap sang mamah.
"Tidak mah, setiap apa pun Harus selalu cerita sama Rista mah"
Ungkap Haris, sang mamah melirik suaminya. Sang papah hanya mengangguk mempercayai nya.
Kemudian sang papah mendial nomor seseorang untuk dihubungi.
"Jamie, coba lihat seluruh CCTV dari sore hari hingga pagi ini"
"Baik tuan besar"
Sang papah mematikan sambungan ponselnya itu.
"Papah sudah menghubungi Jamie untuk membantu kita"
Sedangkan Aksara sudah memanggil Dino juga Melki, dia tidak pergi ke kantor karena urusan keluarga nya.
"Pah ini CCTV dari kemaren hingga pagi ini"
Aksa segera menyerahkan CCTV yang didapat oleh kedua asisten andalannya. Mereka menonton CCTV dengan suaranya hingga selesai.
Alan Dimitri melirik anak sulungnya yang terduduk lemas, bahkan air matanya sudah keluar sambil memeluk lututnya.
"Jamie periksa semua jalur darat"
Perintah papah Alan.
"Melki bantu Jamie"
"Baik tuan"
Keluarga Aksa telah datang ketika dihubungi termasuk sang istri yang masih berpiyama.
"Sayang belum mandi"
Cinta nampak menggeleng.
"Apa yang terjadi byy?"
"Tenang lah, kita selesaikan satu persatu"
Cinta mengangguk.
"Apa daddy juga harus turun tangan?"
"Tidak mas"
Alan menolak karena bila Ditya turun tangan maka media akan tahu. Dan itu akan mencoreng reputasi keluarga.
"Tuan sudah ditemukan nyonya Rista pergi dengan kereta tadi jam 5 pagi ke desa xxx turun di terminal desa itu"
Ucap Melki juga Jamie.
Deg........
"Kenapa dia jauh sekali pergi mah, aku ingin menyusulnya"
"Kita rencanakan dulu untuk menjemputnya besok"
"Aku tidak mau menunggu, aku tidak mau kehilangan mereka berdua"
Semua orang terkejut dengan omongan yang Haris lontarkan.
"Apa maksud mu?"
Ucap mamah Paramitha.
"Rista sedang mengandung anak ku mah"
Lirih Haris terjatuh ke lantai.
Sang mamah syok mendengar penuturan Haris, putranya sungguh kejam.
"Kau kejam sekali mas, kau melukai hati istri mu, bagaimana jika itu terjadi pada ku, dasar kau lelaki brengsek"
Sheyla langsung memukul kepala Haris dengan bantal, Sementara Haris masih sesegukan lagi menjambak rambutnya.
"Kau tega sekali pada kakak perempuan ku satu satunya, aku tidak akan memberi tahu mu dimana dia berada!"
Ucap Cinta sambil berlalu kembali ke rumah sang mertua.
__ADS_1
BERSAMBUNG.