
Rindi terdiam mencerna setiap kata yang papah nya lontarkan jujur papah nya memang benar.
Rindi mengelus perut bulat nya entah apa yang harus dia lakukan.
Drrtt.....drrttt.
Tertera nama sang paman yang ada di layar ponsel nya itu.
"Iya paman"
"Jangan dengarkan kata papah mu, fokus pada twin saja apa kau mengerti, ingat apa pun yang kamu lakukan masih ada paman disamping mu"
"Iya paman"
"Jaga kesehatan ingat kamu punya twins dan paman"
"Iya paman"
"Jangan menangis"
Rindi mengangguk, lantas bergegas untuk mengusap air mata nya. Dia tersenyum, mengelus perut nya.
Rindi tak ingin berpikir apa pun, dia hanya ingin fokus pada anak-anak nya.
"Tumbuh sehat ya anak mamah"
Bayi itu menendang perut nya dengan pelan.
Rindi terus mengelus perut nya yang terlihat menggemaskan.
5 tahun kemudian.
Andra di negara A, kini lelaki itu sudah mulai bekerja mengharapkan Rindi juga butuh tenaga dan semangat.
Andra sangat keras dalam bekerja, dia bahkan lebih kejam dan angkuh dari dulu sebelum kenal Rindi.
Andra menutup semua jati diri, dan identitas nya di Negera A. Bahkan dia sukses di umur nya yang sudah mencapai 42 tahun ini.
Andra masih terlihat seperti lelaki yang berusia 25 tahunan, bahkan pesona serta aura nya lebih mempesona.
Tak jarang dia tampil di majalah, televisi namun kebanyakan di blue wajah nya.
Andra sudah pasrah pada takdir akan nasib rumah tangga nya, dia tidak mengekspos apa pun tentang data diri pribadi nya.
Bahkan semua orang nampak menganggap lelaki itu gila kerja hingga tak ingin berumah tangga.
Anita sendiri sudah menikah dengan Novan, mereka sudah memiliki seorang putri yang berusia 4 tahunan.
Roy masih betah sendiri, sedangkan Aditya sudah menikahi putri Alesa yang selalu di cintai Aditya yaitu putri angkat ibu Amelia sewaktu di negara Z.
William dan Lisa kini mereka sedang menantikan kelahiran anak kedua karena putri mereka suda berusia tahun.
Andra sedang makan malam bersama mommy dan Daddy nya.
"Nak...."
Ucap mommy Jasmin pada Andra yang sedang mengunyah makanan dengan tenang.
"Iya mom"
"Apa kamu tidak lagi tertarik dengan wanita?"
Andra tak risih atau apa pun, jelas itu tak luput dari pandangan Daddy Rei.
__ADS_1
"Usia mu sudah matang, apa kau tak ingin memiliki anak seperti William dan Lisa?"
"Aku akan mencari pada saat yang tepat mom, tenang lah"
Daddy Rei hanya diam karena dia tidak ingin salah bertindak seperti kasus nya dengan Roselian dahulu.
"Baik lah mom tidak memaksa mu, tapi mom punya teman dan anak nya sangat cantik dan sopan"
"Siap mom, apa Cassandra?"
Mommy Jasmin diam.
"Apa bukti one night stand nya tidak membuat mommy puas?"
Daddy Rei melirik istri nya.
"Mungkin saja dia khilaf nak"
Lirih mommy Jasmin.
"Mommy ingin punya menantu pelacur, atau mommy ingin aku di dampingi kupu-kupu malam, berapa yang mommy mau detik ini juga aku bisa mendatangkan nya bukan hanya Cassandra"
Mommy Jasmin diam.
"Anak kita sudah tua mom, jangan memilihkan lagi"
Mommy Jasmin terisak, karena Andra sudah pergi begitu saja dan hanya beberapa suap saja memakan makan malam nya itu.
"Sudah jangan sedih mom"
Daddy Rei mengusap pundak bergetar istri nya itu.
Mereka kemudian beranjak untuk istirahat malam, sementara Andra bergegas menuju ke ruang kerja nya.
"Iy sabar, sayang"
Ya wanita itu Rindi, dia dengan telaten mengurus ketiga anak kembar lelaki nya yang amat teramat manja.
"Mommy.....!"
"Mamah......!"
"Bunda.......!"
Panggilan ketiga nya juga tak pernah sama begitu pun menu makanan apa pun tidak akan sama yang mereka inginkan.
"Iya ini sudah matang nasi goreng nya"
"Nih nasi goreng dengan telor orak Arik nya milik mas"
Anak pertama Rindi bertepuk tangan.
"Terimakasih mommy"
"Iya sayang, nih nasi goreng dengan telor ceplok yang matang tapi tidak alot buat Abang"
"Terimakasih mamah"
"Iya sayang, dan ini yang terakhir buat adek ya nasi goreng dengan dua sosis yang di bakar dengan batang"
"Terimakasih bunda sayang nya adek"
Seketika kedua saudara nya menatap nya sengit.
__ADS_1
"Kenapa? Kalian kan juga kesayangan mommy dan mamah loh"
Mereka tersenyum terpaksa.
"Bun, mereka itu selam"
Ucap si bungsu yang agak cadel tidak seperti mas dan Abang nya yang sudah berbicara dengan ucapan yang jelas.
"Mereka mas dan Abang mu dek, jangan bicara sembarangan tidak sopan"
Lirih Rindi mengajari anak ketiga nya.
"Benar kan adek tidak copan sama kita"
Ucap anak kedua Rindi.
Semua anak nya mirip bapak nya, di anak pertama Rindi hanya menyumbang mata nya, di anak kedua Rindi hanya menyumbang hidung nya, dan di anak ketiga hanya mulut nya saja.
"Iya adek cengeng"
Ucap mas nya yaitu anak pertama Rindi.
Kebetulan nya Rindi lahiran normal di 9 bulan kurang seminggu dari hpl nya. Karena di duga awal nya hanya kembar 2 orang tapi siapa yang tahu 10 menit berikut nya perut Rindi mulas lagi dan lahir lah anak ketiga yang berat nya hanya 2 kilo gram saja.
Anak ketiga nya ini, memiliki ari-ari sendiri tidak seperti anak pertama dan kedua yang satu ari-ari.
"Ayo cepat habiskan sarapan kalian"
"Oke mommy/mamah/bunda"
Ketiga anak Rindi menjawab dengan serempak.
Mereka bertiga kini dengan pakaian rapih sedang memakai sepatu.
"Ayo cepat gandeng tangan, jangan lepaskan gandengan saudara kalian dan saling jaga ya"
Mereka mengangguk dan tersenyum manis, menaiki lift. Bergandengan tangan berempat bersama ibu mereka.
Kini mereka sampai di basement, Rindi dan ketiga putra telah sampai di mobil mereka.
"Ayo masuk ke tempat duduk masing-masing"
Ketiga kursi mobil nya sudah di pasang car seat untuk para balita.
Di samping kemudi dan 2 tempat duduk di belakang untuk si Abang dan adek. Rindi memasang seat belt di kedua kursi di belakang dahulu.
Lalu menaikkan anak pertama nya di samping kemudi dan memasang seat belt nya.
"Sudah siap semua!"
"Siap"
Rindi mengantarkan ketiga anak kembar lelaki nya yang berparas begitu sangat rupawan itu menuju ke taman kanak-kanak agar mereka belajar, bisa bermain dan bersosialisasi dengan kawan dan guru nya.
"Sudah sampai para price nya mommy"
Mereka kemudian memeluk dan mencium pipi Rindi ketika akan masuk ke dalam gedung taman kanak-kanak itu.
"Belajar yang rajin dan jangan nakal"
Ucap Rindi memperingati ketiga anak nya itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1