Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 10. Ada Penampakan


__ADS_3

Darpin, Doma, Gonto, dan Benco hingga tengah malam masih tertidur pulas. Sepertinya mereka terkena sirep yang membuat mata mereka mengantuk berat.


Benco paling dulu bangun, membuka mata. Terkejut melihat sekeliling gelap dan udara malam dingin serta bunyi hewan-hewan kecil serta gemuruh Sungai Cilampit yang tiada henti.


Mengucek-ucek mata. Melihat ke sekeliling, ternyata dia tidur begitu saja di lantai tanah dangau beralaskan tikar butut yang telah tersedia di sana. Tampak kawan-kawannya masih mendengkur. Entah sedang mimpi apa mereka.


"Hai, hai bangun!" Benco menepuk-nepuk pantat Gonto yang tidur berdampingan dengannya.


"Pret!" dari ***** Gonto ada bunyi yang membuat Benco murka.


"Sialan, dibangunin malah ngentutin," gumam Benco lalu menggoengkan daun telinga Gonto.


"Auw!" Gonto seketika bangun.


"Ngapain lo? Ganggu orang tidur aja!" sungut Gonto.


"Bangun goblok! Kita di mana nih?" kata Benco.


"Duh, iya yah perasaan tadi kita tidur jam tiga kini sudah tengah malam!" kata Gonto.


Sementara Darpin dan Doma masih tengkurap di balai-balai dangau, tidur nyenyak. Segera saja Benco membangunkan keduanya. Dia ingat tadi siang bosnya Darpin mengajak kabur setelah terjadi tragedi menodai Wiwi hingga tewas. Sedangkan sekarang sudah tengah malam.


Yang dibangunkan sudah terjaga. Keduanya tampak terbengong-bengong sepertinya masih asing dengan sekelilingnya. Terutama Darpin, sangat syok, biasanya tidur di atas kasur dan bantal empuk, kini harus rela tidur di pelupuh bambu dangau.


"Bos ini udah sangat malam, bagaimana rencana kita?" tanya Benco.


"Waduh kita ketiduran. Kamu-kamu kenapa tidak membangunkan dari tadi-tadi?" tanya Darpin kesal.


"Kami juga begitu datang ke dangau tadi siang langsung ngantuk tak tahan dan baru terjaga sekarang," kata Gonto.


"Ya udah, ayo kita pergi dari sini. Kita kabur ke tempat aman agar tidak terciduk polisi," ajak Darpin sambil bersiap-siap.


"Duh lapar Bos," Doma merengek.


"Sama aku juga," kata Benco.


"Ya aku juga sama," ucap Gonto.

__ADS_1


"Kalian pikir aku juga tidak lapar? Sama juga! Ayo segera pergi, moga kita selamat tak ada rintangan. Nanti kalau sudah sampai di kota aku akan ambil uang di ATM kebetulan kartunya ada di dompet," kata Darpin menenangkan kekhawatiran kawan-kawannya.


"Bos apa benar kita akan kabur?" tanya Doma masih ketakutan mengingat kalau kabur ia harus meninggalkan keluarganya dan harus makan.


"Untuk sementara ini tak ada jalan lain, kita harus kabur dulu meninggalkan rumah kita masing-masing. Nanti kalau situasinya sudah terbilang aman dan tak ada yang mencurigai kita, ya kita boleh pulang dan katakan kepada keluarga kita bahwa kita telah bepergian. Gitu aja!"


"O ya, baik. Tapi tolong bantuin biaya hidupnya Bos ya, abis kami tak punya uang..."


"Kan aku udah bilang jika sampai ke kota akan ambil uang di ATM. Aku takkan lupa bantuan kalian, namun kita harus kompak dan menanggung risiko bersama. Aku puas telah menodai si Sarwi bahkan dia mati, aku sangat puas. Aku sangat benci kepada dia yang terang-terangan menolak cinta tulusku, ludah-ludah yang dia semburkan ke wajahku telah sangat menodai harga diriku dan dia telah membayar mahal!" Darpin mengeluarkan unek-uneknya.


"Baik kalau begitu, kami siap membantu Bos sampai kapan pun asal seperti telah dikatakan tadi bantu kami!' ucap Doma mewakili kedua rekannya.


"Sip, ayo kita pergi sekarang," ajak Darpin.


Lalu di tengah malam buta yang dingin, gemuruh air Sungai Cilampit, dan bebunyian khas malam di sawah mengiringi langkah kaki mereka.


Untung mereka membawa HP masing-masing namun kontaknya sudah pada di-silent agar tidak ada yang menghubungi siapa pun. Batreinya pun masih lumayan. Entah besok pagi. Mereka menggunakan senter HP untuk menelusuri pematang sawah.


Mereka menempuh jalan yang kembali ke gudang tempat mereka tadi beraksi karena hanya itulah jalan yang bisa dilalui. Tadinya mereka tak ingin ke jalan itu lagi. Kalau harus menyeberangi Sungai Cilampit untuk terus kabur mereka sungkan karena di seberang sungai itu kebun dan kaki gunung yang tembus ke hutan.


Itulah sebabnya mereka beranikan diri kembali ke jalan yang dekat dengan gudang tersebut.


Darpin yang berjalan paling depan sejenak menghentikan langkahnya. Sementara Benco yang paling belakang tiba-tiba pindah ingin berjalan paling depan.


"Hai Benco, ke belakang lu!" hardik Darpin.


"Takut, Bos!" timpal Benco.


"Ayo kita lanjutkan!" ajak Darpin lagi.


Sebenarnya dia pun sangat ketakutan dan bulu romanya berdiri tegak, jantungnya berdegup kencang. Namun apa boleh buat, apa pun yang harus dihadapi tak bisa dicegah lagi. Artinya tak ada jalan lain kecuali harus mengayun langkah dan segera menjauhi tempat ini.


Maka, Darpin pun melanjutkan langkahnya. Hinggga sekitar 10 meter lagi mendekati gudang, dia terkejut sebab di dalam gudang itu sepertinya ada lampu layaknya di rumah, kemudian pintunya dibuka setengahnya, dan terdengar suara orang-orang sedang bergembira, dan makan-makan.


Darpin menghentikan langkahnya lalu menunjuk ke arah gudang. Kawan-kawannya pun mendekatinya dan melihat apa yang terjadi di gudang.


"Bos, kok di dalam gudang ada lampu? Dan....lihat!" kata Doma. Jantungnya berdegup kencang ketika mlihat sesosok wanita cantik di dalam gudang dan lantas wanita muda dengan rambut terjuntai, berpakaian seksi menggoda itu membuka pintu gudang lebar-lebar seolah tengah menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Bos lihat wanita cantik sepertinya....."


"Ya, sepertinya......Wiwi," kata Darpin berbisik.


Jantung mereka berdegup tak keruan, lutut mereka sudah gemetar. Tak tahu apa yang harus mereka kerjakan.


Darpin cs hanya mampu mematung dan menatap bulat apa yang terjadi di gudang. Wanita yang seperti Wiwi itu melambai-lambaikan tangan mengajak mereka agar masuk, lalu menarik daster bagian pahayanya. Membuat para playboy kampungan itu melotot seolah mau loncat.


Wanita itu tesenyum, melambai-lambaikan tangannya, memperlihatkan belahan dada dan bagian pahanya. Membuat para pria playboy petualangan **** gratisan itu cuma mampu menelan saliva.


Untung Darpin masih memiliki kesadaran. Dia yakin wanita tu bukan sembarang wanita. Melainkan makhluk halus yang akan mengganggunya mengingat tadi siang dia telah bebuat jahat kepada pacarnya.


Kalau dihampiri wanita penampakan itu pasti akan mencelakainya. Untuk itu ia harus mengambil sikap agar bisa menyelamatkan diri.


"Ayo lari!" ajak Darpin kepada rekan-rekannya.


Dan mereka pun lantas lari tunggang langgang. Mereka lari tak lagi di pematang karena berkali-kali semuanya sempat terjatuh. Mereka lari di kotakan-kotakan sawah yang kebetulan belum ditanami dan hujan sore tadi baru yang pertama kali sehingga tanahnya hanya basah.


Dalam kondisi perut lapar dan lari sekencang-kencangnya mereka sungguh kepayahan. Namun apa boleh buat tak ada cara lain kecuali harus segera menyelamatkan dri.


Hingga akhirnya mereka tiba juga di jalan besar.


"Haduh capai Bos," ujar ketiga kawan Darpin.


"Iya, iya, sabar aja dulu kawan. Satu tahap kita sudah selamat, masih ada rintangan lainnya dan karenanya harus segera meninggalkan desa ini," kata Darpin.


"Siap Bos. Tapi ngomong-ngomong, apa benar wanita di gudang tadi Wiwi?" tanya Doma.


"Entahlah, yang pasti Wiwi sudah mati dan jenazahnya kita buang ke dalam sumur tua. Mungkin itu....."


"Penampakan....." timpal Gonto.


"Apa pun itu, satu hal yang harus kalian camkan. Kita dalam ancaman." ucap Darpin mengingatkan teman-temannya.


Keempatnya pun asyik dengan pikirannya masing-masing. Darpin memutar otak. Sejenak melihat jam di HP sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Dia berpikir apakah pulang dulu ke rumah mengambil mobil atau naik kendaraan umum saja kalau ingin pergi ke kota.


"Gimana Bos?" Doma mulai bicara.

__ADS_1


"Jadi bingung gue, Dom, Ben, Gon. Apakah kita kabur ke kota, kabur ke hutan, ngumpet di saudara, ngumpet di rumah sendiri, pura-pura tak tahu kejadian?" kata Darpin.


"Tapi kan Bos udah bilang mau ke kota dan ambil uang di ATM. Di hutan mana ada ATM," timpal Doma mencoba menepis keraguan Darpin. (Bersambung)


__ADS_2