
Hujan mulai sedikit reda, namun hari sudah mulai gelap. Didi dan Taryo saling pandang ketika baru saja keduanya sepertinya mendengar ada wanita menangis, entah di mana. Tampaknya di dalam gudang.
"Kang, dengar enggak?" tanya Taryo setengah berbisik sembari melihat lekat kepada Didi.
"Apa?" balas Kang Didi.
"Ada wanita menangis sepertinya di dalam gudang," ujar Taryo masih berbisik.
"Ayo kita lihat!"
"Jangan-jangan......." Taryo ragu-ragu, takut di dalam gudang yang jarang disinggahi orang itu ada 'penunggunya'. Lalu siapa yang tadi menangis sepertinya suara perempuan.
"Kita lihat saja, jangan takut. Siapa tahu benar ada orang," ujar Kang Didi, tampaknya ia ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri ada misteri apa sebenarnya di dalam gudang tersebut.
Kang Didi pun bangkit, lalu memburu pintu gudang yang agak terbuka. Di dalam tampak gelap meski masih ada cahaya remang-remang dari cahaya dari luar gudang.
Dengkul Kang Didi mendorong daun pintu sehingga terkuak seperempat lebar daun pintu. Cuma tampak remang-remang. Namun tiba-tiba bulu kuduk Kang Didi mulai berdiri, pun dengan Taryo yang membuntutinya dari belakang.
Kalau saja ada orang di dalam pastinya sudah terlihat walau tak jelas. Namun, Kang Didi dan Taryo tak melihat ada orang di sana cuma tiang gudang yang kokoh berdiri angkuh.
Akan tetapi ketika di luar ada cahaya kilat yang tembus juga ke dalam gudang Kang Didi begitu terkejut ketika melihat sobekan baju dan beberapa botol minuman tergeletak di lantai tanah gudang.
"Tar, lihat?"
"Apa, Kang?"
"Ada sobekan baju wanita?"
"Mana?"
"Entar tunggu kalau ada kilat lagi, kita buka pintunya lebar-lebar," kata Kang Didi.
Kemudian ada kilat. Kini tampak jelas oleh Taryo dan Kang Didi ada sobekan baju wanita dan beberapa botol.
"Wah benar juga Kang. Pasti tadi ada kejadian di sini. Kita harus bagaimana Kang? Apa perlu ke dalam gudang?" tanya Taryo deg-degan.
"Iya pasti ada kejadian di sini. Boleh jadi pembunuhan. Kita jangan masuk nanti kita meninggalkan jejak sidik jari. Bahaya kalau diketahui polisi," kata Kang Didi.
__ADS_1
"Lho Akang tadi membuka pintu?"
"Aku membuka pintu dengan dengkul," ujar Kang Didi.
"Syukurlah," kata Taryo.
"Ayo kita pulang Tar, dan dengar-dengar di kampung ada apa? Kalau ada ribut-ribut kita harus siap-siap membantu mereka," kata Kang Didi.
Lantas keduanya tergopoh-gopoh meninggalkan gudang. Beberapa langkah mereka meninggalkan gudang sayup-sayup terdengar lagi suara wanita menangis dan merintih-rintih minta tolong.
"Toloooong.....tolong.......uuuuh!"
Kang Didi dan Taryo tak menghiraukan suara yang diyakini mereka sebagai makhluk halus. Entahlah, atau cuma pendengaran halusinasi.
***
Bersamaan dengan kejadian Wiwi dinodai oleh kawanan Darpin, yaitu sekitar pukul 14.00, ke rumah Pak Muslih ada yang datang.
Dia adalah Tanu, adiknya Pak Muslih. Tanpa uluk salam atau permisi lazimnya bertamu ke rumah orang meski kepada kakak, Tanu langsung saja masuk ke teras rumah.
"Apa kabar Kang?" tanya Tanu basa-basi, lalu duduk di teras menghampiri Pak Muslih yang tengah duduk di teras dengan muka sedih karena hingga siang ini belum diketahui keberadaan Wiwi anaknya yang semalam hilang diculik sebagaimana laporan anak bungsunya, Wati.
"Kamu Tan? Ada apa?" jawab Pak Muslih dengan data-datar saja mengingat selama ini ulah Tanu suka aneh-aneh setelah dipekerjakan oleh Kades Danu. Bahkan Pak Muslih dan istrinya Ratih bekerja di Kades Danu pun melalui Tanu sehingga Tanu merasa menanam jasa.
"Saya diutus Pak Kades untuk meminta utang Akang kepada beliau," kata Tanu tak sungkan-sungkan.
"Kamu gimana sih Tan? Kakakmu lagi sedih memikirkan Wiwi belum pulang diculik orang ini malah menagih utang orang lain," geram Pak Muslih.
"Salah Wiwi sendiri. Mau dinikahi anak orang kaya menolak. Jadi aja diculik!"
"Jadi kamu tahu yang menculik Wiwi anak Kades Danu?" tiba-tiba Bu Ratih menghampiri. Tadinya ia mau menyuguhkan air minum, mendengar ribut-ribut dan diketahui yang datang Tanu, adik iparnya, jadi tak sudi.
"Ya gak tahulah, Embok," tangkis Tanu.
"Tadi kamu bilang jadi aja diculik karena Wiwi tak mau dinikahi Darpin?Berarti culiknya dia?" semprot Bu Ratih
"Saya bilang anak orang kaya, tak menyebut Gan Darpin, Embok."
__ADS_1
"Ya siapa lagi di Desa Mekarmulya ini yang paling kaya kecuali Kades Danu,"
balas Bu Ratih tak kalah gos.
"Udah, udah jangan bahas itu. Saya tidak tahu-menahu. Saya ke sini hanya mengemban amanat Pak Kades untuk menagih utang Rp 5 juta. Harus sekarang karena kata beliau itu sudah disampaikan semalam kepada Rama, dan saya sekarang disuruh mengambilnya!" kata Tanu tak ingin berkepanjangan bicara soal Wiwi.
"Tanu! Bilangin kepada Kades Danu, utang akan dibayar kalau Wiwi sudah kembali!" tegas Pak Muslih.
"Lho, gimana Akang ini. Kok utang dikait-kaitkan dengan soal Wiwi. Beda dong," kata Tanu dia geram saja kalau utang kakaknya tidak bisa dbawa, itu artinya dia takkan mendapatkan upah seperti yang dijanjikan Kades Danu.
"Terserah kamu!" ujar Pak Muslih.
Sebenarnya uang itu sudah Pak Muslih pegang. Warya sudah bercerita banyak kepada orangtuanya Haji Makmur tentang nasib Pak Muslih dan Wiwi yang hilang diculik. Ya, uang itu harus sudah ada siang ini pukul 14:00, kalau tidak terbayar Pak Muslih dan keluarga diancam akan dicelakai dan akan diberhentikan bekerja di tanah pertanian milik Kades Danu.
"Ya, kasih aja War, kasihan. Kalau Pak Muslih tak dibolehkan menggarap sawah Kades Danu dan mau bekerja di sawah Bapak juga lebih baik," kata Pak Haji Makmur kepada Warya sembari melirik Hajah Tita, sang istri untuk meminta persetujuan.
"Iya War, kasihkan aja hitung-hitung kita menolong orang kesusahan. Itu kewajiban kita yang punya dan benar juga kalau diberhentikan mengolah sawah Kades Danu, bekera di kebun atau di sawah kita pun bisa," timpal Bu Hajjah Tita.
"Alhamdulillah. Terima kasih Pak, Bu, atas kebaikannya. Semoga rezeki kita makin bertambah dan berkah. Aamiiin....." ujar Warya.
"Aamiiin..." balas Pak Haji Makmur dan Bu Hajjah Tita bersamaan.
Dan kemudian uang itu diserahkan Warya kepada Pak Muslih sebelum dia pergi bersama Rama, Anwar, dan Wati tadi pagi.
"Jangan gitu Kanglah, ayo bayar sekarang. Kan kata Pak Kades kalau tak bayar sekarang Akang dan Embok tak boleh lagi menggarap sawah dan kebun beliau. Lalu mau mencari penghasilan di mana? Sudah kutolong dikasih pekerjaan, eh disia-siakan......!" ujar Tanu.
"Emang dunia ini selebar daun kelor? Emang orang kaya cuma Kades Danu? Emang lapangan pekerjaan cuma menggarap sawah, kebun? Bilang sama Kades Danu, silakan pecat kami!" tegas Pak Muslih berapi-api.
"Jangan gitu Kanglah. Cari kerja sekarang kan sulit, apalagi di kampung. Sebaiknya pikir-pikir lagi. Dan yang terpenting ayolah bayar dulu utangnya sekarang ini sudah jam tiga nih aku disuruh secepatnya kembai!"
"Boleh, boleh, tapi Wiwi harus dikembalikan dulu."
"Alasan! Mana punya Akang duit segitu. Tak mau bayar mah tak mau bayar saja. Jadi orang harus tahu diri kalau orang miskin ya nurut sama orang kaya biar hidup tak susah seperti aku!" ujar Tanu kesal, tampaknya ia sudah tak menganggap lagi Pak Muslih sebagai kakak kandungnya.
"Jaga omonganmu Tanu! Kan aku udah bilang, utang sekarang juga akan dibayar asal kembalikan Wiwi dalam keadaan hidup dan selamat. Itu artinya aku udah punya uang!"
"Ya, kalau udah ada uang kesinikan akan kuberikan kepada Pak Kades," ujar Tanu bersikeras.
__ADS_1
"Oke, oke akan aku berikan detik ini juga asal Wiwi anakku detik ini juga diberikan atau paling tidak ada kabar keberadaannya dalam keadaan selamat!" kata Pak Muslih tak kalah gertak.
"Sialan! Jangan menyesal kamu Kang Muslih, Kades Danu pasti ke sini akan membuat perhitungan! Aku takkan menolong, biar kalian mampus!" ancam Tanu sambil pergi meninggalkan rumah Pak Muslih. (Bersambung)