Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 38. Arwah Penasaran


__ADS_3

"Udah-udah jangan menangis, Ira," terdengar oleh Warya suara Tante Yani sepertinya tengah menenangkan putrinya.


"Iya Ira. Maafin ulah anak Ibu ya. Nanti ibu akan marahi dia. Kurang ajar menyakiti anak gadis orang, disuruh nemenin malah kabur!" kata Bu Hajjah Tita.


Jantung Warya berdegup kencang, tak nyana bakal seperti ini jadinya.


"Tadi bilang apa dia ke kamu?" tanya Bu Hajjah Tita lagi.


"Gak bilang apa-apa Tante, dia langsung lari meninggalkan aku bersamaan dengan gonggongan anjing," lirih Ira.


"Iya, iya sudah. Ayo kita pulang saja. Masih banyak pemuda yang melirik kamu, Nak," lirih Tante Yani membuat hati Warya teriris pilu.


Namun, pikir Warya, harus bagaimana lagi kalau tak ada rasa cinta, apakah harus dipaksakan mencintai? Cinta terpaksa takkan bertahan lama, kalaupun lama bakal penuh drama.


"Maaf ya Bu Yani, maaf sekali lagi. Mudah-mudahan Warya berbalik pikir dan mau mengerti. Akan aku nasihati dia, kok gak mau dijodohkan dengan gadis baik-baik malah kabur," kesal Bu Hajjah Tita tak henti-hentinya memohon maaf.


"Ya mungkin bukan jodohnya Bu Hajjah. Gak apa-apa, jangan dipaksa-paksa. Barangkali anak Bu Hajjah sudah punya perempuan idaman."


"Perempuan idaman siapa? Mana mungkin aku mengajak Bu Yani bertandang ke sini kalau anak saya sudah punya perempuan idaman. Kalau idaman arwah penasaran mungkin ya," kata Bu Hajjah.


Deg!


Jantung Warya terasa mau copot mendengar kata-kata ibunya menyebut Almarhumah Wiwi sebagai arwah penasaran.


Warya sungguh tak rela ibunya mengata-ngatai itu. Kalau terdengar oleh keluarganya tentu akan sangat menyakitkan.


"Oh...pantas kalau begitu. Ya udah Bu Hajjah aku pemisi. Yu, Nak kita pulang saja...." ajak Bu Yani kepada sang putri yang tampak bermata sembap itu.


"Iya, iya......" kata Bu Hajjah.


Warya segera beranjak menuju halaman belakang rumah agar tidak diketahui oleh Tante Yani, Ira, dan ibunya.


Warya diam beberapa saat di belakang rumahnya menunggu suasana kondusif di teras rumahnya.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian Warya ke depan rumah. Tampak pintu rumah masih terbuka. Warya merasa heran, kok pintu rumah tidak ditutup oleh ibunya. Jangan-jangan Tante Yani dan Ira masih ada di dalam rumah.


Sejenak Warya melihat sandal yang tadi berada di bawah teras rumahnya, mengecek sandal Tante Yani dan Ira. Ternyata dua pasang sandal milik ibu dan anaknya itu sudah tidak ada.


Warya pun lega. Dia langsung saja masuk ruang tamu, ternyata di sana sudah ada bapaknya, Pak Haji Makmur.


"Assalaamu'alaikum," ucap Warya.


"Waalaikumsalam," jawab sang ayah.


"Baru datang Pak?" tanya Warya sambil ikut duduk di ruang tamu berhadap-hadapan dengan bapaknya.


"Iya, dari mana kamu?" tanya sang ayah.


"Dari masjid salat asar," jawab Warya singkat.


Warya belum berani memasuki kamarnya takut Bu Hajjah Tita berada di ruang tengah lalu melihatnya dan memarahinya. Dia masih ingin duduk bersama ayahnya. Kalaupun ibunya nanti marah-marah moga saja dapat bantuan dari ayahnya.


Selain itu dia pun ingin menyampaikan amanat Rama yang ditanyakan bapaknya tentang Pak Muslih bersedia atau tidaknya bekerja di Pak Haji Makmur.


"Gimana, apakah kamu sudah ketemu Rama, War?" tanya Pak Haji Makmur.


"Alhamdulillah, ternyata ayah sudah menanyakan, saatnya bicara," bisik hati Warya.


"Kebetulan sudah, bahkan tadi pagi sekitar pukul 10:00 Kak Rama ke sini Pak," jawab Warya, lega.


"Bagaimana katanya Pak Muslih siap bekerja di kita?" tanya Pak Haji Makmur.


"Jadi begini Pak," kata Warya menarik napas dalam-dalam sejenak.


"Ya," sahut Pak Haji Makmur serius membuka daun telinga ingin lebih jelas mendengar perkataan sang anak.


"Apa yang bapak katakan telah disampaikan ke Kak Rama. Kata Kak Rama, Pak Muslih masih menganggur. Bersedia atau tidaknya bekerja di kita, masih akan ditanyakan dahulu oleh Kak Rama."

__ADS_1


"Oh begitu, ya kita tunggu aja dahulu," kata Pak Haji Makmur.


"Iya kita tunggu saja Pak, semoga berkenan bekerja di kita. Tadinya kata Kak Rama kalau Pak Muslih tak mendapatkan lagi pekerjaan, akan membantu menunggui warung saja yang akan dibuat Kak Rama yang belum terwujud karena masih menunggu modal. Tapi kalau Pak Muslih bersedia membantu kita, ya gak apa-apa nanti warung ditunggui Bu Ratih," kata Warya bicara mendetail menyampaikan perkataan Rama.


"O, ya? Bagus itu. Tak ada salahnya kalau kita bantu modal buat Rama membuka warung dan Pak Muslih semoga bersedia bekerja di kita."


"Pikiran Warya juga begitu Pak. O, ya kata Kak Rama tadi, uang lima juta yang dulu diberikan Bapak ke keluarga Pak Muslih belum bisa dikembalikan, Kak Rama sedang menabung dahulu bersama adiknya Wati yang kini sudah bekerja di pabrik."


"Waduh, masih diingat-ingat itu uang. Bilangin gak usah dipikirin. Kita ikhlas membantu," kata Pak Haji Makmur.


"Kita ikhlas?" tiba-tiba terdengar suara Bu Hajjah Tita dengan nyaringnya.


Bu Hajjah Tita meletakkan minuman di depan suaminya. Lalu menutup pintu depan rumah. Tampaknya Bu Hajjah akan meluapkan emosi kepada Warya hingga harus menutup pintu depan mungkin agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh tetangga atau sekadar orang lewat. Bagaimanapun orangtua Warya adalah tokoh masyarakat yang cukup disegani.


Bu Hajjah Tita ikut duduk di samping suaminya. Warya seketika tertunduk, gelisah. Dia pasrah akan menerima luapan emosi sang ibu.


"Apa yang dimaksud 'kita ikhlas' Pak?" tanya Bu Hajjah kepada suaminya.


"Iya kita ikhlas membantu keluarga Pak Muslih, termasuk mempekerjakannya kalau dia bersedia," jawab Pak Haji Makmur dengan raut wajah agak muram melihat istrinya yang mempertanyakan ungkapan 'kita ikhlas' dan sepertinya tengah menahan emosi.


"Aku tidak ikhlas. Jadi bahasanya jangan kita ikhlas," kata Bu Hajjah Tita dengan tegas, membuat Pak Haji Makmur membelalakkan mata.


"Lho, kenapa gak ikhlas bantu orang lemah seperti Pak Muslih? Kita boleh dibilang tokoh masyarakat di desa ini Bu, wajar kita bagi-bagi rezeki terhadap yang membutuhkan agar menjadi contoh bagi yang lainnya," kata Pak Haji Makmur.


"Aku tidak ikhlas karena gara-gara keluarga Pak Muslih anak kita pikirannya kacau. Tega-teganya melukai hati gadis baik-baik anak teman aku. Dia tadi ke sini bertamu dan aku bermaksud memperkenalkan anak gadis itu kepada Warya. Tapi nyatanya dengan tega anak kita meninggalkan anak gadis itu sendirian di ruang tamu, aku malu Pak!" kata Bu Hajjah Tita sambil bergantian melirik Warya dan suaminya.


"Lho, benarkah?" tanya Pak Haji Makmur kepada Warya.


Warya mengangguk, mengiyakan.


"Lalu kenapa kamu meninggalkannya?" tanya Pak Haji lagi.


"Aku bukan meninggalkannya tapi di depan rumah ada anjing menggonggong mau masuk rumah, ya aku kejar saja karena membahayakan," kata Warya sejujurnya.

__ADS_1


"Dan baru pulang sore ini. Masak menghalau anjing sampai berjam-jam? Kamu ini bagaimana Warya? Kamu itu sarjana, orang berpendidikan tinggi, sudah dewasa, kok malah mempermalukan ibumu di depan teman? Ira pasti sakit atas ulahmu, hubungan ibu dan Bu Yani pasti terganggu." (Bersambung)


__ADS_2