Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 44. (PoV Rama) - Pinjam Uang


__ADS_3

Apa boleh buat akhirnya aku menceritakan apa yang kualami dengan Bu Hajjah Tita yang terang-terangan menyuruhku menjauhi Warya.


Adapun yang menjadi persoalan karena hingga detik ini Warya masih menyimpan rasa pada Almarhumah Wiwi, adikku.


"Bandel tuh anak, 'kan udah disampaikan olehmu Ram agar Warya tak usah lagi mikirin Wiwi?" ucap Bapak.


"Aku sudah sampaikan Pak, bahkan bukan hanya atas nama keluarga kita yang masih hidup ini. Amanat Almarhumah dalam mimpi pun sudah kusampaikan dan bahkan Warya sendiri menceritakan bahwa dia pun mimpi kedatangan Wiwi dan memintanya untuk tidak lagi mengharapkan dia," jelasku.


"Seperti bukan haji saja nyuruh-nyuruh orang memutuskan hubungan," sela ibuku.


"Aku juga heran Bu. Bagaimana aku harus memutuskan hubungan dengan Warya sementara kami berdua sudah berteman sejak kecil dan bahkan sama-sama aktif di masjid," kataku lagi.


"Biar nanti aku akan katakan kepada Kak Warya," timpal Wati, adikku.


"Udah, udah jangan bicara apa-apa lagi kamu ke Warya, Wit," sergahku, takut aja menambah runcing permasalahan.


"Habisnya dia bandel. Okelah dia sangat mencintai Kak Wiwi, tapi 'kan sekarang sudah lain-lainnya lagi. Kak Warya masih hidup normal, sedangkan Kak Wiwi sudah tiada dan meninggal dalam tragedi yang amat memilukan. Ya, udah mau apa lagi!" kata Wati lagi.


"Justru itu yang membuat Warya berat berpisah dengan Wiwi, Wat. Karena matinya yang tak wajar, kata orang tua dahulu disebut 'mati basah' sehingga seolah-olah Warya melihat Wiwi masih hidup, masih layak dicintai. Kalau sudah begini ya dilema juga akhirnya. Itulah sebabnya aku tak rela kalau harus berjauhan apalagi sampai bermusuhan dengan Warya, dia begitu mencintai Wiwi seolah-olah masih hidup," kataku menjelaskan lagi alasan mengapa Warya bersikap seolah tak wajar mencintai orang yang telah meninggal.


Bapak, Ibu, dan Wati, bergeming. Seolah sama-sama menghargai keputusan Warya, namun juga dilema jika harus berhadapan dengan keluarganya, terutama Bu Hajjah Tita yang sangat membenci sikap Warya seperti itu.


"Kita sudah berusaha memberikan pengertian kepada Warya. Kalau sikap dia seperti itu dan bersikukuh dengan pendiriannya, ya apa boleh buat. Kita hanya berdoa semoga dia berubah pikiran agar hubungan kita dengan keluarga Pak Haji Makmur tidak buruk, apalagi kita pernah dibantu dengan uang lima juta rupiah," kata ayahku.


"O, ya aku baru ingat. Sebenarnya aku pernah dimarahi Bu Tita agar menjauhi Warya. Selain itu Bu Tita menyebut Almarhumah arwah penasaran dan uang yang lima juta rupiah katanya harus dikembalikan serta Bapak tidak boleh bekerja di Pak Haji Makmur," kataku.


"Apaaaa....?" Wati terperangah, pun ibu dan bapakku.


"Maaf bukan aku mau membuka keburukan orang. Tapi ini menyangkut keluarga kita, harga diri keluarga kita. Takutnya menjadi fitnah dan tersebar kepada orang lainnya. Nah bagaimana baiknya menghadapi keluarga Pak Haji Makmur dan Bu Tita ini, terutama uang yang lima juta," jelasku.


"Kalau sudah begitu ya pulangkan aja kembali, Ram."


"Aku pikir juga begitu Pak. Bahkan kalau sudah ada uangnya sekarang juga akan aku berikan. Namun sayang aku tak punya uang. Aku pun sudah berkali-kali bilang ke Warya bahwa uang itu belum bisa dikembalikan. Kata Warya, Pak Haji Makmur tak berharap uang itu dikembalikan karena sudah ikhlas membantu keluarga kita."

__ADS_1


"Tapi kenyataannya Bu Tita meminta lagi. Ya udah kasihkan aja. Tinggal kita sekarang mencari uangnya, mungkin ada yang berbaik hati meminjamkan," kata Wati.


Akhirnya kami sepakat untuk mencari uang pinjaman lima juta rupiah bersama-sama.


"Aku akan pinjam saja ke Paman Tanu, barangkali dia punya uang banyak," kataku.


"Wah mana mau dia minjami kita uang Ram. Ingat-ingat waktu dia ke sini bersama Kades Danu bagaimana dia menghina kita dan lebih condong kepada Kades Danu," kata Bapak.


"Ya kali aja kini dia sudah sadar Pak. Masa dengan saudara tak mau saling tolong," balasku.


"Ya kalau mau coba-coba, silakan Ram. Namun kalau dia berkata yang bukan-bukan tetap hadapi dengan sikap yang baik," kata bapakku.


Sekitar pukul 10:00 aku menemui Paman Tanu di rumahnya dengan maksud meminjam uang lima juta rupiah. Kalau tak ada sejumlah itu mungkin sebagian saja dan sisanya akan meminjam kepada orang lain.


Namun ketika aku tiba di rumah Paman Tanu, ternyata dia sedang tidak ada di rumah. Kata Bi Inah, istri Pama Tanu, Paman Tanu sedang ada urusan dengan Kades Danu dan berjanji siang ini juga akan kembali pulang.


Selain Bi Inah di rumah terlihat pula Iis, putri satu-satunya Paman Tanu dan Bibi Inah.


Mengetahui Paman Tanu tak ada di rumah aku pun kembali ke rumah. Baru agak siangan sekitar pukul 14: 00 aku kembali ke rumah Paman Tanu. Kali ini dia berada di rumahnya, aku pun gembira.


"Jangan gitu dong, Mas. Terima dengan baik-baik, tanpa curiga," kata Bi Inah.


"Alaaah....keluarga sok kaya, sudah dibantu bekerja di Juragan Danu. Ini malah bikin ulah. Iya, ada apa Rama kamu ke sini?" tanya Paman Tanu dengan suara lantang.


Aku masih berdiri di pintu, belum dipersilakan masuk. Jadi ragu untuk melaju. Mau balik badan pulang, tanggung sudah masuk teras rumah.


"Ayo silakan masuk dulu Ram. Silakan duduk," kata Bi Inah.


"Terima kasih Bi," timpalku sambil duduk di kursi.


Paman Tanu pun duduk di kursi dengan wajah penuh curiga.


"Apa kabar Paman? Maaf aku dan keluargaku jarang ke sini. Ya begitulah karena kesibukan masing-masing," ujarku.

__ADS_1


"Udahlah tak perlu basa-basi. Paman buru-buru mau kembali ke Juragan Danu ada urusan penting. Silakan bicarakan ada perlu apa ke sini?"


"O ya gak apa-apa. Semoga saja Paman, Bibi, dan Iis lagi baik-baik aja. Terus terang aku ke sini memang mau minta tolong."


"Pinjam uang 'kan? 'Kan Paman tadi sudah bilang kalau urusan uang paman tidak punya," ketus Paman Tanu.


"Tadinya iya mau pinjam uang lima juta rupiah kalau ada. Tapi kalau tidak ada ya enggak apa-apa," lirihku.


"Tuh 'kan benar kata Paman dan Juragan Danu dulu. 'Kan udah bilang uang itu gak usah dibayar, asal kasus dihentikan, ada damai. Kamu dan ayah kamu malah ngotot tak mau, pura-pura kaya padahal sengsara, pura-pura sultan padahal orang miskin serbakekurangan," kata Paman Tanu mengungkit-ungkit lagi masa lalu.


"Untuk apa uang lima juta Ram?" tanya Bi Inah.


Aku tercenung sejenak mencari jawaban yang tepat. Sebab kalau berterus terang menjawab untuk mengembalikan uang bantuan dari Haji Makmur pastinya Paman Tanu bakal terus mengungkit-ungkit masalah masa lalu.


"Ada keperluan aja Bi," jawabku pendek.


"Oh...ya mungkin pamanmu sedang tidak punya uang. Maaf-maaf saja tak bisa membantu. Kalau Bibi punya pasti dibantu, namun apa boleh buat Bibi juga lagi tak pegang uang," kata Bi Inah.


"Kalaupun ada kamu tak boleh pinjamkan uang ke sembarang orang, Inah. Utang kan harus dibayar. Kalau orang punjam-pijam uang, itu tandanya dia tak punya uang...." ujar paman sepertinya belum puas menghina kami.


"Ya, kalau tak ada enggak apa-apa Paman, Bibi. Aku permisi," kataku.


"Ya, silakan. Maaf aja ya Ram, bukan tak kasihan," kata Bi Inah lagi.


"Iya, enggak apa-apa Bi. Aku permisi, " kataku


Lalu pergi meninggalkan rumah Paman Tanu membawa kepedihan hati tak berhasil pinjam uang.


Padahal aku tahu Paman Tanu orang berkecukupan karena menjadi andalan atau kepercayaan Kades Danu. Sikapnya yang selalu tunduk pada Kades Danu membuat dia dipercaya penuh untuk mengurusi sawah dan ladang Kades Danu.


Sambil berjalan aku berpikir keras untuk mendapatkan uang sebesar lima juta rupiah. Tadinya besar harapan Paman Tanu akan memberi, toh dia bukan siapa-siapa, dia adik kandung bapakku.


Akan tetapi, untuk urusan pinjam-meminjam uang tampaknya bagi Paman Tanu tak berlaku ikatan darah.

__ADS_1


Tampaknya, siapa pun yang mencoba pinjam uang takkan dikasih apalagi melihat orang miskin.


Sepertinya dia tak pernah mendapat bantuan dari orang lain sehingga tak merasakan bagaimana bahagianya jika sedang kesusahan lalu mendapat pertolongan. Entahlah. (Bersambung)


__ADS_2