Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 113. Ustaz juga Manusia


__ADS_3

Saat ini waktu sore hari sekitar pukul 16:00. Bi Utih sedang membersihkan rumahnya yang baru ditinggalinya lagi hari ini setelah hari kemarin dia diminta berhenti menjadi ART di rumah Bu Windi.


Meski Bu Windi mempersilakan kalau Bi Utih mau tetap tinggal di rumahnya, tetapi juga Bu Windi takkan menahan jika Bi Utih mau tinggal di rumahnya karena ternyata tak ada lagi orang yang berminat mengontrak rumahnya.


Maklum di kampung belum begitu membudaya istilah kontrak-mengontrak rumah. Kalaupun laku harga kontraknya alakadarnya saja.


Berbeda dengan di kota, kamar kecil pun dan tak begitu bagus masih bisa laku ratusan tibu asal ditunjang fasilitas kebutuhan pengontrak terutama air dan penerangan.


Itulah sebabnya daripada rumahnya dibiarkan rusak, Bi Utih memutuskan untuk mengisi rumahnya sendiri. Hitung-hitung tukeran dengan putrinya, Imas.


Ya dulu Bi Utih nginap di rumah majikannya Bu Windi, Imas menunggui rumah sendirian setelah ayahnya meninggal dunia. Kini, Bi Utih giliran di rumah, Imas bersama Bu Windi dan suaminya, Toto.


Kini Bi Utih benar-benar ingin istirahat total dari pekerjaannya sebagai ART seperti yang diharapkan Bu Windi dan memang dirasakan oleh Bi Utih juga sudah kelamaan membantu Bu Windi.


Sendirian di rumah takkan membuatnya kesepian karena Imas dan Toto berjanji akan menengoknya jika tak lagi sibuk. Satu-satunya harapan Bi Utih agar Imas dan Toto segera mempunyai momongan.


"Semoga saja segera terwujud aku punya cucu," bisik hati Bi Utih penuh harap.


Tangannya cekatan membersihkan kaca jendela rumahnya yang sangat berdebu. Tiba-tiba Bi Utih dikejutkan dengan suara orang yang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, eh Utaz Hamid?" sapa Bi Utih.


Dia menghentikan akivitas membersikan kaca jendelanya, lalu membalikkan badan menghadapi Ustaz Hamid yang berdiri di sisi pagar rumahnya.


Bi Utih kaget juga mengapa Ustaz Hamid menyapa lalu berhenti seperti ada keperluan kepadanya. Tapi perlu apa?


"Iya Bi. Pindah ke sini?" timpal Ustaz Hamid, seraya melangkah tanpa ragu memasuki halaman rumah Bi Utih.


"Iya. Bibi mulai hari ini akan tinggal di sini, Taz. Biar Imas di sana bersama suaminya."


"Boleh saya ikut duduk sebentar di sini?" tanya Ustaz Hamid.


Bi Utih jadi bingung. Harus bagaimana menyikapinya, maklum di rumah hanya sendiri dan yang bertamu seorang pria yang lagi menduda dan dia pun janda lagi.


Namun mengingat Ustaz Hamid bukan siapa-siapa, dia seorang tokoh masyarakat dan juga seorang ustaz, Bi Utih mencoba untuk tetap berpikiran positif.


"Boleh-boleh, tapi sebaiknya di dalam di atas kursi, jangan di teras," ucap Bi Utih.


"Enggak apa-apa di sini aja Bi," ujar Ustaz Hamid.


Bi Utih yakin Ustaz Hamid ada keperluan kepadanya. Kalau tak ada perlu untuk apa tiba-tiba ikut numpang duduk, malu-maluin saja seorang ustaz bertamu sembarangan.


"Bibi buatkan air ya Pak Ustaz? Pulang dari sawah?" tanya Bi Utih basa-basi.


"Enggak usah Bi, enggak usah," ujar Ustaz Hamid sembari menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya isyarat menolak.


Bi Utih jadi bingung. Kikuk. Apalagi sang ustaz malah cuma duduk tanpa bersuara, tetapi tampaknya keningnya seperti tengah memikirkan sesuatu.


Boleh jadi Ustaz Hamid ingin menyampaikan sesuatu kepada Bi Utih tetapi berat mengutarakannya.


"Bibi ikut berduka cita atas wafatnya Bu Aminah," ujar Bi Utih, membuka pembicaraan karena Utaz Hamid malah bergeming.


"O iya, terima kasih takziahnya Bi. Emang sangat berat ditinggalkan almarhumah," ujar Ustaz Hamid. Akhirnya dia berbicara juga.

__ADS_1


"Ya pasti to Ustaz, namanya ditinggalkan mati oleh pasangan hidup. Bibi pun pernah merasakan hal itu ketika ditinggalkan oleh bapaknya Imas. Apalagi Bu Aminah orang baik, pasti Ustaz sangat kehilangan."


"Iya, benar sekali Bi. Makanya saya ingin segera punya pasangan lagi. Menduda baru beberapa bulan rasanya sudah sangat kesepian," ujar Ustaz Hamid.


Deg!


Bi Utih benar-benar terkejut mendengar ucapan Ustaz Hamid. Tak dinyana menyebut merasa kehilangan istri tercinta tetapi sudah ingin medapat pasangan lagi.


"Lho, kok?" Bi Utih spontan mendelik agak sinis.


"Kenapa bertanya seperti itu Bi?" tanya Ustaz Hamid dengan tatapan penuh curiga.


"Ya iyalah bagaimana kata orang kalau Ustaz mau buru-buru punya pasangan


sementara belum setengah tahun ditinggalkan wafat sama Bu Aminah?"


"Halah, Bi Utih seperti kagak merasakan saja bagaimana membosankannya hidup sendiri. Oke saya memang ustaz, harus memberi contoh masyarakat. Tapi pan ustaz juga manusia, ya normal saja kalau ingin segera punya pasangan hidup lagi."


"Oh....iya ya. Bibi memaklumi.....hehe," ujar Bi Utih terkekeh.


"Trus apa yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Utih kemudian.


"Itulah sebabnya saya sengaja mampir ke sini, mungpung Bibi lagi di luar rumah, mungpung ada kesempatan."


"Iya apa yang bisa Bibi bantu, Taz?"


"Tolong saya carikan jodoh," kata Ustaz Hamid, pelan.


"Kenapa harus Bibi, Taz? Okelah, kalau begitu, mau yang perawan mau janda. Perawan banyak, janda juga oke."


"Wah malu sama anak dan menantu kalau mengharap perawan mah Bi. Janda ajalah!" tegas Ustaz Hamid.


"Ya kalau Ustaz cinta dan dia cinta, mengapa harus malu oleh anak-anak? Hehe...."


"Enggak ah, kelihatan sekali mengikuti nafsunya kalau mendapatkan gadis Bi. Tolong carikan janda sajalah!"


"Kalau begitu siapa ya janda yang sudah ditaksir Ustaz?" tanya Bi Utih.


"Ada sih. Tapi entah dia mau atau tidak sama aku. Aku mah apa atuh?" ujar Ustaz Hamid mengutip sebuah lagu dangdut yang sempat populer di negeri ini


"Ah, Ustaz mah ada-ada saja. Udah jelas orang terpandang, berjuluk ustaz, tokoh masyarakat, kekayaannya juga banyak. Masih bilang aku mah apa atuh?"


"Iya sih Mah, eh Bi. Tapi kan pandangan orang bisa berbeda-beda."


Deg!


Bi Utih terkejut juga mendengar Ustaz Hamid keseleo lidah memanggil dirinya dengan sebutan 'Mah', sebuah panggilan dari seorang suami kepada istrinya.


Namun Bi Utih buru-buru sadar bahwa itu adalah hanya keseleo lidah kalau tak sedang bercanda juga.


"Beda, maksudnya?"


"Ya bedalah. Meski saya seorang ustaz belum tentu ada wanita yang senang hanya karena saya seorang ustaz . Pilihan orang bisa berbeda-beda."

__ADS_1


Ustaz Hamid menjelaskan.


"Ya, habis siapa janda yang ditaksir Ustaz. Setahu Bibi di sini yang menjanda itu, oh iya Inah mungkin yang dimaksud Ustaz? Iya Inah yang baru menempati rumah baru, ibunya Iis mantan almarhum Tanu?"


"Aku tahu Inah. Iya memang sedang menjanda. Tapi saya pikir kurang cocok jika bersatu dengan Inah."


"Lho emangnya kenapa? Dia janda boleh dibilang masih muda. Usia tiga puluhanlah. Parasnya lumayan juga," ujar Bi Utih.


"Justru itu yang saya takutkan. Karena Inah boleh dibilang masih muda, pasti hasrat berahinya masih tinggi. Lantas saya sudah tua, semangat tempur mulai mengendur, kalau menikah dengan Inah pastilah akan membuat dia kecewa."


"Entah kalau pandangan Ustaz seperti itu mah. Padahal mau aja, urusan gituan bisa dibicarakanlah," kata Bi Utih bersemangat untuk menjodohkan Ustaz Hamid dengan Inah, ibunya si Iis.


"Iya, pokoknya bukan Inahlah."


"Iya tapi siapa lagi?"


"Coba carikan siapa lagi?"


"Oh, yang ini pasti cocok Taz. Ustaz pasti takkan menolak.Pasti!"


"Orangnya cantik, hartanya melimpah, tokoh masyarakat, panutan banyak orang. Pokoknya janda yang sangat ideal dan pasti Ustaz bakal mau. Dan kalaupun tidak mau, harus maulah! Sayang!" kata Bi Utih berapi-api.


"Siapa emang?" Ustaz Hamid mengernyitkan dahi.


"Bu Windi."


"Benar, tidak salah!"


"Jadi Bu Windikah yang diharapkan Ustaz?"


"Bukan!"


"Lho? Katanya benar, tidak salah?"


"Benar, alias tidak salah yang Mam, eh Bibi katakan tentang penilaian terhadap Bu Windi. Namun bukan dia yang saya harapkan!"


Bi Utih makin bingung. Dikasih Bu Windi janda cantik banyak harta sang Ustaz tak mau. Dikasih janda muda walau tak banyak harta namun bakal menggairahkan di atas ranjang, menolak juga.


"Lanta siapa Taz? Di sini, di desa ini kan setahu Bibi yang janda itu cuma Inah, dan Bu Windi."


"Masih ada, ah!" sergah Ustaz Hamid.


"Siapa sih?"


"Emang Bibi masih perawan?"


"Ya janda sih, janda tua mantan ART-nya Bu Windi dan Kades Danu."


"Nah itu dia. Janda ini yang kucari-cari"


Deg!


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2