Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 78. Warya Dituding Penyebab Gadis Hilang


__ADS_3

"Terus ke mana si Tanunya kok enggak ada di rumah Pak?" ujar Bu Ratih.


"Entah, kata tetangganya tak ada yang melihat, di dalam lampu menyala, di luar pun menyala. Entah ada di dalam entah pergi," ujar Pak Muslih lagi.


"Mungkin Paman Tanu sedang keluar entah ke mana. Namun yang pasti kemarin dia datang ke Kades Danu, dan berbincang dengannya di dapur entah di mana, lalu Paman Tanu pulang dan tak lama kemudian datang Bi Inah," ujar Rama menjelaskan.


"Takutnya bersekongkol, Kak Rama," ujar Warya.


"Iya takutnya begitu, War. Bisa jadi setelah kabur dari kantor polisi, Danu menjemput Paman Tanu, lalu merencanakan sesuatu," ujar Rama.


"Biar nanti saya tanyakan lagi ke Bi Inah kalau tidak lupa. O ya, Bapak dan Ibu serta Tri bai-baik saja di rumah ya. Sebab aku, Warya, dan Anwar mungkin harus menginap lagi di rumah Bu Windi takutnya Kades Danu datang dan mengancam orang-orang di rumah Bu Windi," ujar Rama.


"Ya sama-sama Ram, kalian juga harus jaga diri baik-baik. Alhamdulillah Pak RW dan RT di sini sudah mulai menggiatkan lagi ronda mengingat kejadian-kejadian penculikan para gadis," kata Pak Muslih.


"Bahkan kata Tri, di kampungnya sedang ramai dibicarakan ada gadis yang hilang. Benar 'kan Tri?" tanya Pak Muslih kepada Triana.


"Benar Wak. Semalam ibu menelepon, katanya aku harus jaga diri baik-baik karena temanku yang bernama Ira menghilang tanpa diketahui jejaknya. Hanya entah diculik atau bagaimana belum jelas," tutur Triana.


"Ira?" tanya Warya.


Mendengar nama Ira, Warya terkejut karena ke rumahnya tempo hari datang gadis bernama Ira bersama ibunya yang benama Bu Yani yang akan menjodohkan dirinya dengan Ira.


Namun Warya tak mau karena belum bisa meninggalkan almarhumah Wiwi sehingga Warya harus membuat cara meninggalkan gadis itu dengan pura-pura mengejar anjing.


Keesokan harinya sekitar pukul sepuluh ke rumah Bu Tita ada tamu ibu-ibu diantar anak prianya.


Bu Tita sudah tahu siapa yang datang, dia adalah Bu Yani atau ibunya Ira. Dia diantar kakak Ira, ke rumah Bu Tita.


Saat itu Warya sedang tidak ada di rumah karena sesuai perjanjian dengah Rama akan nginap di rumah Bu Windi. Dan mereka masih dalam perjalanan pulang setelah sebelumnya ke kantor polisi untuk membicarakan masalah yang tengah mereka hadapi.


"Jadi begini Bu Tita, kami sengaja datang ke sini bersama anak saya ini untuk minta pertanggungjawaban," kata Bu Yani.


"Pertanggungjawaban apa Bu Yani?" Bu Tita tak mengerti.


Dia rasa persoalannya dengan Bu Yani tentang perjodohan anak Bu Yani yang bernama Ira tidak jadi dengan Warya sudah diselesaikan dengan baik-baik.


Bu Tita sudah bertandang ke rumah Bu Yani di Kampung Karangsari dan memohon maaf kepada keluarga Bu Yani serta semuanya sudah dianggap selesai.


Akan teapi kini Bu Yani datang lagi dan meminta pertanggungjawaban. Pertaggungjawaban apa?

__ADS_1


"Anak saya si Ira hilang!" teriak Bu Yani, lalu menangis histeris sejadi-jadinya.


"Hilang?" timpal Bu Hajjah Tita terkejut juga.


Namun dia tak mengerti mengapa anaknya hilang kok Bu Yani menghubunginya.


"Terus?" kata Bu Tita mencoba mengorek apa maksud Bu Yani melaporkan anaknya hilang lalu datang menemuinya.


"Ya gara-gara anak ibu. Dia patah hati karena tak jadi dinikahi anak ibu. Anak saya jadi murung, setres, lalu menghilang!" ujar Bu Yani tak segan-segan membuka rahasia anaknya.


"Lho, lho, kok melibatkan aku dan anakku Bu? Kan persoalan itu sudah kita selesaikan tempo hari. Kita tak selayaknya mengungkit-ungkit lagi," tutur Bu Tita dengan lemah lembut agar Bu Yani tidak keterusan bersedih hati.


"Enggak bisa begitu Bu Tita. Anak ibu pun harus bertanggung jawab karena anak saya berubah gegara anak ibu!" Bu Yani keukeuh minta pertanggungjawaban Bu Tita.


"Terus aku harus bagaimana?" Bu Tita mulai bicara dengan nada suara tinggi.


Tampaknya Bu Yani sudah kehilangan akal untuk menemukan anaknya yang hilang. Bukankah sebaiknya lapor ke polisi? Begitu pikir Bu Tita.


"Ya tolong carikan anak saya sampai ketemu!" pinta Bu Yani sungguh di luar nalar normal.


"Kalau tidak?"


"Akan saya laporkan ke polisi, anak ibu telah membuat anak saya hilang!" kata Bu Yani.


"Gila tuh orang anak hilang malah ngerepotin orang lain yang tidak tahu menahu," gumam Bu Tita.


Tak lama kemudian Bu Tita mendengar bunyi mesin sepeda motor. Dia tahu itu sepeda motor anaknya, Warya.


Benar saja yang datang Warya diikuti oleh Rama. Bu Tita senang melihat Warya datang, demikian pula dengan kehadiran Rama.


Kini Bu Tita sudah membebaskan Warya bergaul dengan Rama dan tak mempermasalahkan hubungan dengan keluarga Pa Muslih.


Itu terjadi setelah Warya memarahinya gegara Wati diculik ketika menjual kalung bersama Yati untuk mendapatkan uang lima juta yang sedianya akan dibayarkan kepada keluarga Haji Makmur yang padahal sudah membebaskannya.


Selain itu, Bu Tita pun bermimpi didatangi dedemit yang menakutkan dan mengungkit-ungkit sikap buruknya terhadap almarhumah Wiwi dan keluarga Rama


"Assalaamualaikum," kata Warya diikuti oleh Rama.


"Waalaikumsala," timpal Bu Tita.

__ADS_1


"Seperti baru saja ada tamu Bu?" tanya Warya demi melihat dua buah gelas di atas meja ruang tamu.


Bu Tita mengangguk dengan rona wajah yang tak bersahabat alias tengah menanggug kepedihan.


"Tamu siapa Bu? Kok ibu sepertinya tengah bersedih?" cerocos Warya.


Warya takut saja ibunya didatangi tamu yang macam-macam. Lagian bapaknya sedang tidak ada di rumah.


Bu Tita lalu menceritakan bahwa baru saja dia kedatangan Bu Yani dari Karangsari dan menceritakan katanya anaknya Ira hilang.


"Ira?" tanya Warya terkejut.


Dia lantas ingat kembali omongan Triana di rumah Pak Muslih kemarin yang menyebutkan bahwa Ira temannya hilang.


"Iya Ira yang dulu ke sini," timpal Bu Tita dengan raut wajah yang masih sedih.


"Berarti yang dibicarakan Triana benar Kak Rama," ujar Warya melirik Rama.


"Iya," sahut Rama pendek.


"Siapa Triana, Ram?" tanya Bu Tita kepada Rama.


"Itu keponakan saya. Kebetulan sejak Lebaran dia tinggal di sini. Dia bercerita, kata ibunya di kampung halamannya, Karangsari, teman Triana yang bernama Ira hilang," jelas Rama.


"Kalau begitu, keponakanmu sekampung dengan Ira anaknya Bu Yani, Ram?"


"Iya tampaknya. Bahkan bukan hanya sekampung, tapi Ira dan Triana temenan, Bu," imbuh Rama.


"Persoalannya, mengapa Bu Yani kehilangan anaknya tapi menghubungi Ibu?" tanya Warya belum mengerti terhadap sikap Bu Yani.


"Itu yang membuat Ibu sedih War. Dia mengatakan Ira hilang gegara kamu. Ira jadi setres, jadi murung bekepanjangan."


"Lho kok bisa begitu. Bukankah masalah ini telah ibu selesaikan?"


"Iya, tadi Ibu telah mengatakan hal itu kepada Bu Yani. Tapi dia bersikukuh menyalahkan kita, bahkan katanya dia akan melaporkan kita ke polsisi karena telah menyebabkan anaknya hilang!" kata Bu Tita menjelaskan.


Deg!


Warya benar-benar terkejut mendengar penuturan ibunya seperti itu. Ini tidak bisa dibiarkan.

__ADS_1


"Enggak bisa begitu Bu. Sayang tadi aku tidak ada, kalau ada aku akan usir tuh wanita!" geram warya.


"Ya sudahlah mungkin Bu Yani hanya sedang kebingungan. Semoga dia segera sadar dan Ira dapat ditemukan kembali. Tapi tadi Rama bilang bahwa Ira dan keponakannya temenan, apa bisa kira-kira dipanggil ke sini sekalian menggali informasi tentang Ira dari keponakanmu Ram?" ujar Bu Tita. (Bersambung)


__ADS_2