
Ternyata dangau itu sudah kosong. Tak seorang pun dari ketiga kawan Darpin yang berada di situ. Padahal dia semalam telah mewanti-wanti agar jika ada apa pun mereka jangan pergi.
"Gila tu anak. Disuruh nunggu malah pada kabur," sungut Darpin dengan hati sangat dongkol.
"Pada ke mana dan ada apa ya mereka?" bisiknya lagi.
Tak baik berdiri lama-lama, Darpin segera saja ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu. Namun sejenak dia masuk dulu ke dalam dangau, tampak ada bara api yang sudah mengecil.
"Sialan, tampaknya mereka membuat api unggun mungkin kedinginan. Bodoh! Ya pasti ditangkap kelihatan orang."
Gumam Darpin menduga bahwa teman-temannya membuat api unggun lalu kelihatan orang dan dilaporkan ke polisi lalu ditangkap.
Akan tetapi Darpin pun berharap semoga dugaannya meleset dan kawan-kawannya bisa melarikan diri serta dia bisa kembali berkumpul dengan mereka.
Tak menunggu waktu lama, Darpin segera pergi karena di sebelah timur sudah tampak cahaya terang tanda mentari sebentar lagi beranjak dari peraduannya.
Darpin berjalan menelusuri pematang sawah lalu ke jalan setapak yang menuju ke sawah lebih jauh dari perkampungan dan tembus ke Sungai Cilampit.
Dia berharap teman-temannya berada di pinggiran Sungai Cilampit.
Langkah Darpin setengah berlari karena cahaya di sebelah timur sudah semakin jelas dengan semburat warna merah mentari pagi.
Akhirnya dia sampai ke bibir Sungai Cilampit. Dia menelusuri bibir sungai tersebut ke hilir, tidak ke hulu. Sebab, jika ke hulu dia akan sampai ke tempat yang terdapat gudang dan di situlah dia berulah ketika menodai Wiwi hingga tewas dan jenazahnya dibuang ke sumur tua.
Entah bagaimana sekarang keadaan gudang dan sumur tua itu. Apakah masih ada atau sudah dibongkar. Entahlah, Darpin tak mau tahu dan tak mau melihatnya lagi.
Sambil berjalan ke hilir dengan kondisi bibir sungai terkadang rendah terkadang tinggi sehingga dia harus berjalan hati-hati. Perutnya mulai lapar lagi, maklum semalam makan di rumahnya tergesa-gesa.
"Andai aku menurut nasihat Mama, mungkin pagi ini sedang menghirup kopi panas dengan camilan goreng bakwan kesukaanku," pikir Darpin mengkhayal.
Darpin duduk sejenak di atas batu sambil berpikir keras menentukan langkah berikutnya. Dia pun ingat rekan-rekannya ternyata dicari-cari sepanjang hampir 1 km tak ditemukan juga.
"Doooom, Beeeen, Goooon.....!" teriak Darpin memanggil-manggil nama temannya si Doma, si Benco, dan si Gonto.
Tak ada sahutan teman-temannya, kecuali gemuruh air Sungai Cilampit yang sepertinya tengah mengutuk dirinya.
__ADS_1
Mata Darpin lalu memandangi DAS Cilampit mulai hilir, tengah, hingga hulu. Aliran air itu seperti tengah menertawakan dirinya sebagai pemuda yang tak mampu mensyukuri nikmat dan bahkan malah mengikuti hawa nafsunya.
Dari hulu pandangan mata Darpin kembali ke bagian tengah. Sejenak pandangannya berhenti di bagian tengah air Sungai Cilampit yang tenang seperti air kolam. Tiba-tiba Darpin terkejut karena melihat ada kepala manusia muncul. Tampaknya dia wanita berambut panjang yang basah kuyup.
"Tolong, toloooong, tolooong......!" teriak seseorang yang diduga wanita di dalam air itu.
Tampaknya wanita itu tenggelam di sana. Darpin membuka telinga lebar-lebar dan mata membulat ingin lebih jelas. Tak ada lagi kepala muncul, namun tiba-tiba muncul lagi dan terdengar suara minta tolong seperti tadi.
Tanpa pikir pajang lagi Darpin terjun ke sungai, dan berenang dari sisi selatan Sungai Cilampit ke bagian utara tempat wanita tenggelam.
Darpin terjun ke sungai itu untuk memberikan pertolongan. Mungkin saja orang itu terpeleset atau bagaimana. Dia tak ambil pusing penyebabnya yang penting niatnya begitu kuat untuk memberikan
pertolongan. Apalagi tadi dia melihat orang yang tenggelam itu seorang wanita.
Darpin bergerak cepat memburu genangan air Sungai Cilampit yang seperti kolam. Langkahnya tidak mulus karena harus menyeberangi DAS Cilampit yang sebagian tenang sebagiannya deras dan juga di dasar DAS Cilampit banyak batu terjal dan lincin.
Ketika kakinya menginjak sebuah batu licin dan batu itu ternyata oleng, Darpin hilang keseimbangan dan dia terjatuh, tubuhnya tengkurap ke sungai. Sebagian air terhirup ke dalam mulutnya.
Mujur dia cuma sedikit nyeri di kakinya, dan pakaiannya basah kuyup, topi yang dikenakannya terlepas dan hanyut. Gegas ia mengambil topi itu dengan berenang ke hilir. Sial, air deras telah membawanya hanyut lebih cepat.
Sang topi dibiarkannya hanyut, dia lalu ingat tujuan terjun ke sungai untuk menolong wanita tenggelam. Dia pun gegas menuju bagian sungai yang airnya tenang seperti kolam dan ada wanita tenggelam.
Makin dekat, makin dekat, sampai ke kawasan itu. Matanya memandangi genangan air itu mencari-cari kepala orang tenggelam, namun ternyata tidak ada.
"Sialan, tadi jelas terlihat ada kepala orang dan terdengar minta tolong," bisik Darpin.
Dia bingung, harus kembali ke sebelah selatan sungai atau melanjutkan menyeberangi genangan air tenang ke sisi utara sungai? Darpin berpikir akan kembali ke sebelah selatan dan meneruskan pelarian ke hilir Sungai Cilampit untuk terus mencari kawan-kawannya.
Akan tetapi.....tiba-tiba di bibir sungai di atas air tenang itu tampak sesosok wanita dengan sekujur tubuh basah. Darpin pikir wanita yang tenggelam tadi telah berhasil naik ke darat.
"Apakah kamu yang tadi tenggelam di sini?" tanya Darpin setengah berteriak.
"Hihihii........" wanita itu malah tertawa bukannya menjawab pertanyaan Darpin.
"Kok tetawa?"
__ADS_1
"Hhihhiiiiiiiiiii......" lagi-lagi dia tertawa.
Darpin pikir dia orang gila. Sontak saja Darpin membalikkan badan untuk kembali ke sebelah selatan sungai. Akan tetapi.....
"Maaaaas...mau ke mana?"
Darpin membalikkan badan lagi dan menatap wanita yang disangkanya gila itu.
"Mau kembali ke sana kan kamu sudah berhasil ke darat," timpal Darpin.
"Hihihihiiiiiii......" malah tertawa lagi.
Darpin mulai kesal, namun juga bulu kuduknya mulai merinding meski saat itu sudah siang sekitar pukul 10:00. Tak ada siapa pun, kawasan itu tampak menyeramkan karena di sana sini terdapat pohon-pohon besar.
"Sialan amat berani tuh hantu melakukan penampakan di siang hari?" bisik risih Darpin.
"Mending ke sini," kata si wanita itu
Darpin tercenung. Apakah kembali ke tempat semula atau mengikuti ajakan si wanita yang sekilas tampak tersenyum di balik kecantikan wajahnya dengan pakaian setengah dada dan basah.
Akhirnya Darpin nekat menyelami genangan air mirip kolam di Sungai Cilampit mau menyeberang ke bibir sungai tempat si wanita berada.
Saat asyik-asyiknya berenang, tiba-tiba kaki Darpin ada yang menarik ke dalam air. Darpin tenggelam.....samar-samar terdengar suara wanita tadi tertawa.
"Hihihiiiii...hihihiiiii.....kacian tenggelam....." ujarnya.
Semula samar-samar terdengar karena Darpin tenggelam, namun kemudian kepala Darpin bisa muncul ke udara dan dengan jelas terdengar tertawa si perempuan itu.
Belum juga sempat melihat si wanita, lagi-lagi Darpin merasakan kakinya ada yang menarik, lebih keras daripada tadi. Di dalam air Darpin harus menahan napas, mau ke atas sulit.
Namun tiba-tiba, cengkeraman tangan misterisu dalam air itu lepas. Darpin bisa menarik napas bebas di udara.
Darpin tak mendengar lagi tertawa sinis si wanita misterius itu. Lantas dia menoleh ke tempat si wanita tadi duduk.
Begitu menoleh Darpin geleng-geleng kepala. (Bersambung)
__ADS_1