Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 41. Mayanggeni Temui Bu Tita


__ADS_3

Rama dan Warya menghentikan langkah karena sosok yang diduga pocong itu pun berhenti, bahkan menghadap kepada keduanya. Itu berhasil membuat jantung Rama dan Warya cukup deg-degan juga.


"Ayo maju, kenapa diam kalian?"


Deg!


Ternyata 'pocong' itu bisa bicara dan bertanya kepada Rama dan Warya.


"Bu, kenapa Ibu bikin kaget aku saja. Ngapain pulang salat tarawih masih mengenakan mukena? Buka deh biar gak bikin orang salah sangka," kata Warya yang segera sadar ketika mendengar suaranya bahwa yang bicara itu tak lain dari ibunya sendiri.


"Sudah, sudah jangan urus soal mukena. Ternyata kamu tak mendengar omongan Ibu, Warya. Mengapa masih bersama dia?" kata Bu Hajjah Tita sambil menunjuk Rama.


"Bu, Bu, sudahlah jangan bicarakan itu lagi. Kami berdua pengurus Irma di Masjid Al Hasanah, ya pastinya kami berdekatan, berbicara, bersatu, bukan berjauhan," timpal Warya.


Sementara Rama cuma geleng-geleng kepala ketika mendengar ucapan ibunya Warya yang mempersoalkan kedekatan dirinya dengan Warya yang sudah terjalin sejak lama, bahkan sejak kecil sebagai teman sepermainan karena sama-sama tumbuh dan besar di kampung yang sama.


"Tdak bisa. Mungpung ada orangnya di sini Ibu akan perjelas. Heh Rama, sejak kini kamu jangan mau didekati anakku. Biarkan Warya menjauhimu dan keluargamu!" tegas Bu Hajjah Tita.


"Emangnya ada salah apa aku dan Warya Bu Hajjah? Saya rasa tak ada masalah," Rama mencoba mengeluarkan pendapat.


"Bagi kamu memang tidak ada masalah, tapi bagi aku dan keluargaku ini masalah besar. Besar sekali!" kata Bu Hajjah Tita.


"Bu, sudahlah. Ini sudah malam, besok harus makan sahur, kita butuh waktu istirahat agar tidak kesiangan makan sahur untuk beribadah puasa esok hari," ujar Warya, dia sudah menduga ke mana arah pembicaraan ibunya.


"Baru jam sembilan kok. Biar Ibu bereskan agar masalahnya tak berlarut-larut. Dengarkan ya Rama. Anakku si Warya ini masih tergila-gila sama arwah penasaran adikmu!"


"Buuuuu!!!!!" teriak Warya.


Lantas Warya mendorong ibunya agar segera masuk rumah.


Deg!

__ADS_1


Rama benar-benar sakit hati mendengar kata-kata Bu Hajjah Tita yang menyebut Almarhumah adiknya sebagai arwah penasaran. Ingin rasanya merobek mulut wanita itu kalau tak ingat anaknya sebagai teman dan kebaikan suaminya, Pak Haji Makmur, yang telah membantu uang Rp 5 juta.


"Awas ya! Kamu jangan dekat-dekat lagi dengan anak saya dengan keluarga saya!" kata Bu Hajjah Tita, masih ngomel dan belum mau masuk rumah meski dipaksa oleh Warya.


Rama merasa perlu menjelaskan kepada Bu Hajjah Tita. Dia sudah paham apa sebenarnya yang menjadi pangkal kebencian Bu Tita kepadanya, yaitu sikap keras kepala Warya yang masih mencintai adiknya, Wiwi.


"Bu Hajjah, maaf ya saya pikir Ibu tak perlu memisahkan saya dengan Warya yang sudah berteman sejak kecil. Persoalan yang ibu hadapi yaitu kesal karena Warya masih mengingat-ingat adik saya, sebenarnya saya sudah berterus terang kepada Warya agar jangan sampai segitunya. Ingat waktu ibu pulang dengan seorang ibu dan anak gadis, pagi harinya aku telah bicara tentang masalah ini, agar Warya segera mencari teman baru, jangan lagi mengingat-ingat adikku yang telah wafat," kata Rama panjang lebar.


"Tapi kenyataannya dia membandel, Rama. Jika kamu terus berteman dengannya, sama saja dengan memberi peluang, dia akan lebih tergila-gila pada adikmu.


Gadis yang kubawa itu berniat kujodohkan dengan Warya. Tapi bagaimana sikap Warya? Ketika disuruh menemani di ruang tamu, malah Warya kabur meninggalkan gadis itu seorang diri. Itu pasti karena si Warya masih tegila-gila pada adikmu! Sudahlah, jauhi anakku. Dan juga uang yang lima juta harus dikembalikan, aku tak rela memberinya!"


"Buuuuu? Apa-apaan sih minta uang segala? Kan Bapak udah mengikhlaskan, masa yang sudah diberikan diminta lagi?"


Warya dengan segera menimpali ibunya.


"Maaf Kak Rama maaf. Jangan pikirkan uang itu lagi."


Bu Hajjah Tita tak menjawab ia langsung saja masuk ke dalam rumahnya dengan membawa hati dongkol. Ia begitu geram melihat Rama dan keluarga Pak Muslih akrab-akraban di masjid.


"Mohon maaf Kak Rama ya, sekali lagi mohon maaf atas ulah ibuku."


"Iya War. Tapi sebaiknya udahlah kamu jangan mikir-mikir lagi soal adikku. Segeralah cari perempuan lain, segeralah menikah. Aku tak enak adikku dikatai arwah penasaran. Tolong atas nama persahabatan kita, akhiri petualangan cintamu dengan adikku," kata Rama


Warya tak menyahut. Ia hanya menunduk menahan rasa sedih dan pilu dalam hatinya.


"Iya Kak," hanya kata itu yang keluar dari mulut Warya.


"Ya, begitu aja War. Aku pamit," kata Rama, seraya menepuk-nepuk bahu Warya.


Keduanya pun lantas berpisah. Warya masuk ke rumahnya dan langsung ke kamarnya, tak menoleh ibunya yang duduk di sofa tengah rumah bersama ayahnya.

__ADS_1


Samar-samar terdengar oleh Warya obrolan ibunya dengan ayahnya. Warya menduga obrolannya masih sekitar dirinya dan keluarga Pak Muslih.


Namun Warya tak ingin mendengarkannya, percuma, hanya bikin sakit hati. Dia pun lantas ke peraduan dan membaca doa tidur.


Sementara Bu Tita karena mengobrol dengan suaminya seolah tak ditanggapi, langsung memburu kamarnya. Tidur dengan wajah menghadap ke para-para rumah.


Tiba-tiba terbayang wajah perempuan yang selama ini menjadi impian anaknya, Wiwi, yang disebutnya arwah penasaran.


Wajah perempuan itu tampak jelas, mendekat, mendekat, dan tangannya seolah ingin mencengkeram leher Bu Tita. Sontak Bu Tita kaget, dia ingin menjerit minta tolong, namun mendadak tak bisa berbicara. Seolah tenggorokannya ada yang mencekik.


"Hihihihi........apa kabar Bu Hajjah?" tanya perempuan serupa Wiwi itu.


Sementara di belakangnya ada lagi perempuan yang lebih tua mengiringi perempuan serupa Wiwi.


"Ini orangnya sayang?" tanya perempuan yang tak diketahui oleh Bu Tita. Dia tampak asing.


"Iya, Bu," timpal perempuan serupa Wiwi yang memang dia penampakan Wiwi yang tengah merasuki dunia maya Bu Tita.


Adapun perempuan lebih tua itu Ratu Mayanggeni dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua yang tengah mengantar penampakan Wiwi ke dunia maya Bu Tita.


"He, perempuan jahat! Kamu berani-beraninya melukai hati putri kesayanganku ini!" kata Mayanggeni sembari menghampiri Bu Tita.


Bu Tita sangat ketakutan. Dia ingin menjerit sekuat-kuatnya untuk minta tolong. Akan tetapi, lagi-lagi tak bisa bersuara, tenggorokannya masih serasa ada yang mencekik.


"Ketahuilah perempuan jahat, negara kami terasa sangat panas. Ternyata itu berasal dari ulah kamu yang telah menghina putri kami da keluarganya. Kau sebut putri kami arwah penasaran, kau halang-halangi kekasihnya untuk terus setia pada putriku!!" kata Mayanggeni.


Bu Tita terkejut kenapa perempuan itu mengetahui apa yang tengah menjadi pikirannya. Dan mengapa mengaku Wiwi sebagai putrinya? Bukankah ibu Wiwi adalah Bu Ratih?


Mayanggeni mendekati Bu Tita. Wajahnya diperlihatkan dengan kondisi menyeramkan. Mata melotot menyala dan bercahaya seperti mengandung api, mulutnya betaring seolah siap menerkam tenggorokan Bu Tita dan mengisap darahnya.


"Hihihiiiiiiii........awas saja perempuan jahat, kamu menyebut-nyebut lagi putriku arwah penasaran. Bakal kucabut arwahmu! Jangan pula menghalang-halangi kisah-kasih antara putriku dengan putra kamu. Ketahuilah, putriku sudah berbicara kepada putramu bahwa jangan memikirkannya lagi, carilah perempuan yang sama di dunia nyata, namun putramu bersikeras. Mengapa harus putriku yang jadi kambing hitam, wahai perempuan jahat! Biarkan mereka urus sendiri, jangan usik putriku dengan sebutan tak pantas, jangan juga ganggu keluarganya!"

__ADS_1


Bu Tita ingin sekali berbicara memberikan penjelasan kepada dua perempuan itu. Namun lagi-lagi tenggorokannya masih terasa sakit, serasa ada yang mencekik sehingga dia hanya bersuara, "Emh, emh, emh........" (Bersambung)


__ADS_2