Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 87. Tak Ada yang Menangisi


__ADS_3

"Binatang tuh orang!" bisik Embah Sawi.


Meski begitu si Embah kasihan juga. Bagaimanapun si Embah berharap Danu bisa mengalahkan semua orang di sana sesuai dengan bekal azimat yang telah ia berikan sebelumnya yang membuatnya bisa sekasar Dasamuka.


Akan tetapi karena semuanya telah dikuasai perasaan manusiawi, kekuatan itu mulai luntur dan si Embah merasa perlu memberikan dukungan kegaiban kepada Danu.


Si Embah pun lantas mengirimkan kekuatan azimat genianggara level tinggi yang mampu mengaliri darah Danu dengan amarah superdasamuka.


"Windi! wanita terkutuk kau, berani-beraninya melawan suamimu!" koar Danu tiba-tiba.


Si Embah Sawi senang melihat Danu sudah 'berdarah' lagi dan kembali ke jati dirinya.


"Ya dilawanlah karena suaminya orang jahat. Kalau orang baik-baik mana mungkin berani melawan!" timpal Bu Windi.


"Baiklah kalau begitu, rasakan nih!" ujar Danu sambil memutar tubuhnya dengan kaki diangkat, lalu diterjangkan kepada Bu Windi.


Bu Windi segera menyadari ada terjangan kaki Danu, dia pun lantas berkelit ke samping. Terjangan kaki Danu hanya menerpa angin.


"Sejak kapan kau jadi pandai berkelahi?" sindir Danu.


"Sejak suamiku jadi penjahat level iblis! Anak sendiri dikorbankan demi ambisi pribadi! Saatnya kau menerima pembalasan Danu!" tutur Bu Windi sambil melayangkan sebuah pukulan tinju.


"Auaw...iblis betina!" Danu terkesiap menerima tinjuan sang istri yang begitu dahsyat, terasa sakit hingga ke ulu hati.


Namun Danu tak ingin berlama-lama larut dalam kemurungan. Bagai sengatan mentari dari pagi ke siang hari yang mulai memanas, demikian pula yang dialami oleh Danu.


Seiring dengan dorongan yang dilancarkan Embah Sawi, Danu mengambil parang tajam. Dengan membabi buta Danu menyerang siapa saja tanpa kecuali.


"Ayo maju semuanya kalau ingin menjadi mangsa parang ini!" tantang Danu.


Bicara begitu Danu membombardir orang-orang dengan parangnya kepada orang-orang. Keruan saja para jagoan cewek minggir mencari posisi aman agar tidak tertebas ayunan parang Danu.


Sial Pak Rudi yang sedikit lengah terkena ayunan parag Danu, mengenai tangannya. Darah mengucur dari tangan Pak Rudi.


"Auuuuuw....tanganku!" teriak Pak Rudi sambil memegangi tangannya yang luka.

__ADS_1


"Jahanam kamu Danu! Rasakan pembalasanku!" kata Pak Rudi.


Kini dia bangkit lagi untuk bertarung membantu Bu Windi yang tampak kewalahan menghadapi serangan-serangan brutal Danu.


Danu harus menghadapi dua lawan. Kedua bola matanya berputar mengawasi serangan Bu Windi dan Pak Rudi.


Bu Windi berhadapan dengan Danu, sementara Pak Rudi ke belakang tubuh Danu. Keruan saja Danu jadi keder. Maju menyerang Bu Windi, pasti Pak Rudi menyerang dari belakang. Pun sebaliknya jika membalikkan badan menyerang Pak Rudi, Bu Windi pastilah menyerang.


Danu semakin bingung ketika tiba-tiba Yati pun pasang kuda-kuda, disusul Imas, dan Wati. Pandangan Danu dibuat makin keder.


"Beraninya main keroyokan!" sungut Danu.


"Mau keroyokan, mau sendiri-sendiri itu bukan urusanmu Danu. Yang pasti, begitu banyak orang yang kau celakai Danu. Makanya jangan heran kalau mereka pun mengeroyok kamu karena kamu pun telah berbuat jahat pada mereka!" sahut Bi Utih.


Bi Utih sendiri tidak ikut bergabung dengan para pengeroyok. Biarlah anak buahnya yang melakukan. Lagian dia tak ingin kehilangan jejak si Embah Sawi.


Embah Sawi adalah target utama Bi Utih. Kalau dia ikut sibuk melawan Danu, bisa-bisa si Embah Sawi berbuat licik.


"Satu, dua, tigaaaa....hiaaaaaat!!"


"Aupppph....auw....sakit!" teriak Danu.


Danu kaget mengapa Yati dan Wati mempunyai tendangan dan tonjokan yang begitu keras padahal keduanya adalah perempuan.


Belum juga reda memikirkan kaki dan kepalanya kena terjangan, tiba-tiba Bu Windi menjambak rambut Danu lalu ditarik ke belakang.


Jambakan rambut itu cukup kuat bagaikan rambut mengenai getah nangka muda sehingga dengan mudahnya kepala Danu ditarik-tarik.


"Lakukan Pak Rudi!" titah Bu Windi.


"Siap!" ujar Pak Rudi sambil memukul dengan keras tangan Danu. Parang pun terlepas, lalu dengan segera diambil Yati.


Danu mulai kepepet. Pikirnya harus bagaimana lagi melawan musuh yang walaupun perempuan tetapi tenaganya bukan kaleng-kaleng.


Merasa malu jika harus kalah oleh perempuan, Danu mengerahkan segala kekuatan yang ada pada dirinya, terutama azimat-azimat yang dikasihkan oleh Embah Sawi dan Sodom.

__ADS_1


Dia pun kembali menyerang secara membabi buta. Tak peduli yang dilawannya perempuan. Sebab kenyataannya mereka cukup bertenaga dan membuat Danu kewalahan juga.


Danu pikir dengan serangan membabi buta, lawan akan kehilangan konsentrasi. Kenyataannya, baik Bu Windi. Inah, Wati, Yati, dan Imas, maupun Pak Rudi meskipun tangannya terluka, mampu membuat Danu kewalahan.


Di depan harus menangkis terjangan, di pinggir harus menghindari pukulan, pun dari belakang harus berkelit dari serangan bertubi-tubi.


Akhirnya Danu kehabisan akal. Namun tiba-tiba tangannya menyentuh benda di balik punggungnya yang diselipkan. Ya, pistol.


Segera saja Danu mengambil pistol itu dan dibidikkan kepada orang-orang sebagai ancaman nyata bahwa barangsiapa yang melawan, taruhannya nyawa ilang ditembus peluru.


"Ayo siapa yang berani maju menggangguku, harus siap diterjang timah panas ini!' ancam Danu.


Keruan saja lawan Danu yang mayoritas perempuan itu tak berkutik. Mereka mundur teratur mencari aman takutnya pistol diledakkan ke arahnya.


"Ayo mundur kalian, berjejer. Satu per satu kalian akan kuantarkan ke neraka, cepaaat.....!" titah Danu kepada Bu Windi, dan kawan kawan termasuk Pak Rudi.


Rama dan Warya serta Anwar was-was juga melihat Danu mengeluarkan pistol. Tak dapat dibayangkan bagaimana ngerinya melihat mereka dihabisi oleh Danu menggunakan pistol.


Tampak mereka sudah pasrah menghadapi Danu yang melawan mereka dengan jalan pintas, menggunakan pistol.


Bi Utih pun segera bereaksi dengan mencari cara bagaimana melumpuhkan Danu yang mengandalkan pistol.


Danu makin fokus menodongkan pistol ke wajah Bu Windi yang mulai ketakutan. Lalu kepada yang lainya termasuk Bi Utih tak lepas dari ancaman Danu.


Namun ketika Danu konsentrasi dan akan menarik pelatuk untuk ditembakkan ke wajah Bu Windi, tiba-tiba Danu berteriak menahan rasa sakit yang amat sangat.


"Blughhhhhh!"


Tubuh Danu ambruk seketika. Kakinya berkelojotan, matanya terbeliak, mulutnya menganga besar sekali. Sepertinya dia mau berbicara, namun tak bisa lagi.


Orang-orang yang melihatnya cukup terkejut, mengapa tiba-tiba Danu ambruk. Pistol yang dipegangnya pun terlepas.


Tak ada seorang pun yang berani mengambil pistol milik polisi yang dirampas paksa oleh Danu ketka dia mencoba kabur ketika ditangkap aparat polsek.


Suasana hening beberapa saat. Setiap orang menarik napas dalam-dalam menyaksikan keadaan yang mengerikan.

__ADS_1


Enam jenazah bergelimpangan di halaman rumah Embah Sawi. Tak seorang pun yang menangisi. Malah sebaliknya mereka senang karena jenazah yang bergelimpangan itu orang-orang jahat. (Bersambung)


__ADS_2