Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 36. (PoV Warya) - Mau Dijodohkan


__ADS_3

"Assalaamualaikum," kata ibu, ketika memasuki rumah tanpa membuka pintu karena aku telah membiarkan pintu terbuka selama ada Kak Rama.


"Waalaikumsalam," jawabku dan Kak Rama hampir bersamaan.


"Ayo masuk Bu Yani, Ira," kata Ibu kepada kedua perempuan tampaknya ibu dan anak itu. Aku tidak tahu siapa mereka.


"Terima kasih Bu Hajjah, assalaamualaikum," kata perempuan yang dipanggil Bu Yani oleh ibu. Keduanya lantas masuk.


Seketika Kak Rama bangkit dan permisi mau pulang.


"Ke mana Kak? Kok buru-buru. Ayo kita pindah ke ruang belakang aja," kataku.


"Nggak usah War. Kapan-kapan aja ke sini lagi. Mari semuanya," kata Kak Rama permisi.


"Bu, permisi aku pamit," kata Kak Rama kepada ibuku.


"Ya," balas ibu, pendek. Au terkejut melihat sikap ibu terhadap Kak Rama yang tampak tak seperti biasanya. Mungkinkah karena ada tamu? Atau ada hal lain? Entahlah.


"Silakan duduk Bu Yani, Non Ira," kata Ibu mempersilakan duduk kepada kedua tamunya.


"Iya, iya, terima kasih Bu Hajjah," sahut Bu Yani.


Aku segera bangkit sambil membereskan dua gelas bekas tadi bersama Kak Rama. Maksudku akan masuk ke kamar saja karena aku merasa tamu itu kepentingannya bersama ibu.


Akan tetapi, tak nyana ibu mencegah.


"Duduk aja War. Ini ada Tante Yani dan putrinya, Ira.Ayo kenalan. Biar gelas disimpan oleh ibu dan akan bikinkan minuman yang baru," kata ibu.


"Tapi....."


"Udah duduk aja dulu," kata ibu tak memberiku kesempatan melanjutkan pembicaraan.


Aku tak bisa berbuat apa-apa, kecuali kembali duduk di kursi semula. Hatiku sudah gak keruan, kesal, apa-apaan ibu menyuruhku duduk di sini sementara kedua tamu ini tak ada keperluan apa-apa denganku.


"Apa kabar Nak Warya?" tanya Tante Yani, ternyata dia sudah tahu namaku.


"Alhamdulillah baik Tante," jawabku pendek dan hanya menatapnya sekilas.


"Tante sengaja mau bersilaturahmi ke Bu Hajjah bersama putri Tante, Ira. Ayo Ira kenalan sama Kak Warya," ujar Tante Yani sambil menatap putrinya.


"Haduh, pakai kenalan segala. Apa urusannya kenalan sama aku?" gumamku dalam hati, kesal sekali.


"Kenalin, aku Ira Kak Warya," kata Ira sembari menyodorkan tangan mengajak salaman.


Aku tertegun sejenak dan membiarkan tangan Ira terulur tanpa kusentuh. Tiba-tiba ibu datang membawa tiga cangkir minuman, entah minuman apa.

__ADS_1


"Lho, lho, lho.....kok itu tangan Ira dibiarkan terulur, ayo sambut dong War!" kata ibu.


Apa boleh buat aku pun menerima uluran tangan gadis bernama Ira.


"Ira"


"Warya," kataku pelan, hanya memandang sekilas wajahnya.


Ira tampak berwajah oval, berkulit sawo matang namun tampak manis, tak jauh-jauh amat dengan ibunya, rambutnya hitam lurus dan diikat di belakangnya.


"Ayo Bu Yani, Ira, diminum gak ada yang bagus," kata ibu.


"Terima kasih Bu Hajjah," sahut Tante Yani.


"Makasih Tante," kata Ira.


"War ini teman ibu, Tante Yani, ayo kenalan!" titah ibu.


"Sudah tadi Bu Hajah," jawab Tante Yani.


"Oh sudah? Ya terima kasih, moga pertemuan pertama ini dapat menyambung tali silaturahmi yang lebih erat lagi antara keluarga Bu Yani dan kami di sini," kata ibu.


Aku heran kenapa ibu mengatakan menyambung tali silaturahmi lebih erat lagi, apa maksudnya?


"Ya begitulah harapanku juga Bu Hajjah. Moga-moga saja diridai Tuhan," timpal Tante Yani membuat aku tambah kesal.


"Ehmh," aku berdehem dan bermaksud angkat kaki meninggalkan ruang tamu. Akan tetapi, dengan gerak reflek ibu menggenggam tanganku.


"Mau ke mana kamu War? Ada tamu kok mau pergi?" tanya ibu menatap tajam wajahku.


"Aku mau ke belakang," kataku spontan.


"Ke belakangnya nanti saja. Temani Ira, kasihan dia jauh-jauh ke sini dicuekin. Bu Yani, ayo kita ke ruang belakang aja biar Warya dan Ira di sini," kata Ibu sungguh membuat jengkel hatiku.


Apa-apaan ibu ini membuat anaknya disuruh berduaan di kamar dengan wanita yang bukan muhrim. Apa ibuku lupa figur hajjah yang disandangnya?


Namun benar-benar tega, sepertinya antara ibuku dan Tante Yani sudah kompak untuk membiarkan kami berdua di ruang tamu.


Ibu dan Tante Yani keduanya beranjak dan masuk ke ruang tengah rumah entah mau pada ke mana. Mereka pun membawa cangkir kopi. Tambah kesal saja aku karena itu artinya mereka akan berlama-lama berbicara di belakang dan membiarkan aku berduaan tanpa mengetahui apa yang harus dibicarakan dengan wanita asing ini.


Ibuku dan Tante Yani sudah tak kelihatan lagi di ruang tamu. Tinggal aku berdua bersama Ira. Tadinya aku nekat mau beranjak dan masuk ke kamar, namun tak baik juga meninggalkan Ira seorang diri padahal tadi ibu memerintahku untuk menemaninya.


Demi menghargai ibu dan menghormati tamu aku pun bersedia menemani Ira.


Hanya saja karena ini pertemuan tak sengaja khususnya bagiku, kami pun cuma duduk bergeming. Ira pun tampak menunduk, aku pun demikian tak tahu harus mengawali perbincangan apa dengannya.

__ADS_1


Aku menunggu Ira berbicara, namun setelah lima menit ditunggu Ira tak berbicara juga. Hanya suasana hening di ruang tamu. Tadinya aku mau melihat-lihat HP yang kusimpan di saku celana, namun dipikir lagi tak baik membiarkan tamu dengan tak diajak bicara.


"Gak sekolah Ira?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Aku udah lulus SMA, Kak," katanya pelan.


"O ya? Udah kuliah dong?" tanyaku lagi.


"Enggak. Maunya sih kuliah, tapi...., tapi.....Mamaku..." kata Ira bicaranya terpatah-patah.


Kupandangi wajahnya yang tampak sedih usai aku bertanya melanjutkan kuliah.


"Mamaku gimana?" tanyaku penasaran.


Sebelum menjawab Ira larak-lirik ke tengah rumah. Tampaknya takut ada ibunya.


"Ibuku menyuruhku segera nikah," kata Ira lirih.


Deg!


Aku geleng-geleng kepala mendengar penuturan Ira yang berterus terang.


"Terus kamu maunya apa? Menikah atau kuliah?"


"Gimana ya Kak. Maunya kuliah tapi ibu menyuruh segera menikah, ya mungkin menikah aja......" ujarnya berterus terang lagi.


"O, ya? Kalau gitu ya menikah aja," saranku karena apa yang dikatakannya sudah cukup jelas bahwa dia ingin menuruti kehendak orangtuanya terutama ibunya.


Tak elok kalau aku mengatakan yang bukan-bukan, misalnya menyuruhnya lebih baik kuliah walaupun sebaiknya itu yang harus dilakukan. Bagaimanapun pendidikan itu penting untuk masa depan.


"Sudah punya calon suaminya?" tanyaku, namun cuma dalam hati. Apa-apaan kalau harus berbicara nyaring seperti itu. Tak ada urusan denganku.


"Kak Warya udah sarjana ya?" tanya Ira sambil menatap lekat.


"Kok tahu?"


"Bu Hajjah banyak cerita tentang Kakak," ujar Ira.


Deg!


Kok ibu tega-teganya banyak cerita tentang aku di mata orang lain. Apa maksudnya? Jangan-jangan perubahan sikap ibu terhadap Kak Rama tadi sinyal aku akan dijodohkan kepada perempuan yang baru kukenal hari ini dan ada di depanku?


"Apa saja katanya?" ujarku lagi ingin tahu saja apa yang diceritakan ibu. Moga saja ibu juga berceritera tentang hubunganku denan Almarhumah yang sulit dipisahkan walaupun kami telah berbeda alam.


"Iya, kata Bu Hajjah kakak udah beres kuliah, udah jadi sarjana, aktif di pemuda dan masjid. Kakak itu orang baik, penurut, penyayang, dan mau berkorban demi orang lain," kata Ira, entah benar entah tidak apa yang dia katakan itu sebagaimana yang ibuku katakan.

__ADS_1


Ternyata Ira tak menyebutkan hubunganku dengan Almarhumah. Padahal aku berharap itulah yang harus dikatakan ibu kepada setiap perempuan muda yang mencoba-coba mendekatiku.


Aku tetap tak ingin menikahi siapa pun wanita, kecuali dengan Almarhumah walaupun itu mustahil karena Wiwi telah berada di alam keabadian sedangkan aku masih di alam dunia. (Bersambung)


__ADS_2