Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 109. (PoV Warya) - Tepergok Lagi Berdekapan


__ADS_3

"Tok, tok, tok!" pintu kamarku ada yang mengetuk.


Aku terperanjat, lalu bangkit dari tempat tidur, menggosok-gosok mata yang terasa kesat.


"War, ada apa menjerit-jerit?" terdengar suara ibu memanggil.


Aku bangkit dan berjalan menuju pintu dengan agak sempoyongan karena jiwaku belum berkumpul sepenuhnya. Tampaknya barusan aku mimpi.


Kubuka pintu, benar saja ada ibu.


"Iya Bu," jawabku singkat.


"Kenapa kamu menjerit-jerit?"


"Oh enggak apa-apa Bu, hanya mimpi."


"Mimpi ketemu Wiwi dan Triana?" tanya ibuku.


"Kok ibu tahu?"


"Ya tahulah kamu menjerit-jerit memanggil nama Wiwi dan Triana? Sudahlah, Wiwi adalah masa lalumu. Dia kini sudah tenang di alam sana, kita tinggal doakan yang terbaik baginya, bagi keluarga yang ditinggalkannya. Sekarang hadapi Triana dengan sungguh-sungguh. Kapan kamu siap, ayolah pinta kepada orangtuanya minta bantuan Pak Muslih dan Bu Ratih," kata ibuku panjang lebar.


Aku tak menjawab, tetapi mencoba memberikan anggukan kepala tanda bahwa aku setuju dengan apa yang ibuku katakan barusan karena sejalan dengan ucapan Wiwi dalam mimpiku.


***


Siang harinya aku mengajak Triana jalan-jalan. Tentu saja atas seizin keluarga Rama dan kesediaan Triana.


Syukur Triana tak keberatan dan Pak Muslih serta Bu Ratih juga memberikan izin. Tentu saja aku senang.


Aku membawa Triana dibonceng di atas sepeda motor kesayanganku ke suatu tempat di pinggir jalan dengan pemandangan persawahan dan perkebunan nan indah.


Dari kejauhan tampak gunung besar dan gunung-gunung kecilnya yang mengelilingi kawasan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.


Tempat ini pula yang kujadikan tempat bercengkerama dengan Wiwi baik saat dia masih di SMP maupun saat dia sudah SMA dan aku saat itu sudah kuliah.


Aku dan almarhumah Wiwi biasa duduk di atas batu di bawah sebuah pohon rindang, ditemani semilir angin di area persawahan yang tentu saja terasa sangat romantis.


Aku masih ingat Wiwi curhat karena pesimistis bisa melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih


tinggi. Namun katanya ia akan berdoa sekuat tenaga agar bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi. Bahkan saat itu aku punya niat jika sampai menikah di usia Wiwi lulus SMA aku akan membiayai agar Wiwi bisa kuliah meski sudah menikah.


Namun takdir berkata lain, 'dedemit' Darpin cees telah merusak segalanya.


Pokoknya banyak lagi kenangan indah bersama Wiwi saat aku duduk di batu itu.

__ADS_1


Kini aku sudah melajukan sepeda motor membonceng Triana selepas pukul 14:00. Sengaja memilih jam itu agar agak teduh dan bisa pulang sore hari.


Tujuan utamaku ke sini membawa Triana ya tentu saja aku ingin mendengar langsung bagaimana kesediaannya menerima cintaku yang akan kukatakan padanya seiring dengan mimpiku semalam.


Mimpi itu seperti benar-benar nyata, Wiwi hadir bersama Triana. Wiwi merestui hubungan kami, Wiwi pun bertanya kepada Triana, dan pertanyaan itu akan kuulangi lagi. Di sini di dunia nyata bukan di dunia maya atau di alam impian.


Sesampainya aku turun dari sepeda motor setelah sebelumnya Triana turun. Sepeda motor kusetandarkan sebagaimana mestinya.


Kuraih kantong kresek yang digantungkan di setang motor. Di dalam kantong kresek itu camilan olahan kentang dan dua botol minuman dingin yang tadi kubeli di jalan.


"Ayo duduk di sini, Tri," ajakku.


Saat itu Tri sedang menikmati pemandangan sekitar yang kuduga dia sangat terpesona. Pastilah, kalau tidak mana mungkin dia anteng memandanginya.


"Oh iya. Maaf Kak aku terpesona pemandangan nan indah," ujarnya tersipu.


Aku sodorkan camilan dan sebotol minuman dingin kepadanya. Tri menerima, lalu duduk di sampingku, berdekatan. Jantungku mulai berdegup karena ada benih-benih kasmaran di aliran darah mudaku.


"Kakak juga terpesona, sungguh," ucapku merespons ucapan Triana yang menyebut terpesona oleh pemandangan nan indah.


"Oleh pemandangan?" tanya Tri. Mata bulat dan teduhnya menyorot mataku hingga aku makin degdegan. Mata itu mata Wiwi sekali yang berpadu dengan kulit kuning langsatnya.


"Oleh Wi, eh kamu," ujarku nyaris saja menyebut nama Wiwi.


"Ih, gombal," tukas Tri sambil mencubit pahaku.


"Mau lagi?" tanya Tri. Sama seperti yang dilakukan Wiwi saat itu.


Apakah Wiwi ada pada diri Tri. Seperti dikatakan Wiwi dalam mimpi semalam bahwa dia dan Tri sedarah, sekeluarga, entahlah.


"Tri," kataku pelan, tak ingin didengar oleh angin sekalipun.


"Ya, Kak." Lirih Tri, lembut. Persis kelembutan almarhumah.


"Bolehkah Kakak bertanya?"


"Asal jangan pertanyaan sekolah aja, aku gak sekolah tinggi seperti Kakak yang pastinya aku tak sanggup menjawabnya."


"Ini lagi di tempat rekreasi, sayang. Gak lucu nanyain pelajaran sekolah, lagian Kakak bukan guru."


"Tapi kalau Kakak jadi guru aku seneng, deh."


"Senengnya gimana?"


"Pak gurunya ganteng!" celoteh Tri membuat aku tersipu malu, tapi sumpah senangnya ke ubun-ubun banget.

__ADS_1


"Makasih, murid cantik," ucapku menimpali.


"Ya mau nanya apa?"


"Apakah Tri bersedia dijadikan teman hidup Kakak untuk selama-lamanya?" tanyaku.


Mataku menatap tajam mata teduh gadis yang berada dan berdekatan di hadapanku saat ini.


"Bukankah Kakak masih memimpikan bersatu dengan Kak Wiwi kan?"


Deg!


Aku terkejut mendengar pertanyaan Tri seperti itu. Pasalnya orang yang berwajah Wiwi tetapi kemudian mencemburui orang yang berwajah Wiwi pula.


"Yah, terus terang emang Kakak tak bisa melepaskan kehadiran kakakmu di taman hati kakak ini. Tapi di alam nyata kami bakal tak mungkin untuk bersatu karena takdir telah memisahkan kami berdua. Namun, kini justru almarhumah ada di diri kamu, seolah almarhumah hidup lagi, dan datang untuk membuktikan janji kesetiaan kami berdua," ujarku.


"Tapi bagaimana kalau di alam sana Kak Wiwi tak merestui hubungan kita, dia cemburu kepada aku?" wajah Triana tampak sayu.


"Tidak, tidak Tri. Justru Kakak ajak kamu ke sini untuk menyampaikan kabar gembira dari almarhumah. Semalam Kakak mimpi didatangi almarhumah dan kamu. Saat itu almarhumah menyatakan agar kita berdua bersatu, dia merestui hubungan kita, Tri," ujarku menjelaskan.


"Iyakah?"


"Kalau tak percaya boleh tanyakan kepada ibuku. Dia mendengar aku berteriak memanggil nama Kak Wiwi dan nama kamu Tri," tambahku lagi.


"Terus bagaimana kata Ibumu?"


"Ibuku bilang sudahlah Wiwi sudah menjadi masa lalu dan sudah berbeda alam. Kini hadapilah Triana, kapan aku siap orangtuaku akan meminang kamu," kataku akhirnya menjelaskan tujuan pokok.


Triana tak segera menjawab. Akan tetapi kemudian menatap wajahku dengan sangat seriusnya.


Entahlah apa yang sedang berkecamuk dalam hati Triana. Apakah keraguan atau sebaliknya kepercayaan penuh kepadaku.


"Serius?" tanyanya.


Aku mengangguk dan menatap kembali matanya yang sayu dan teduh. Aku sudah bisa membayangkan betapa akan sangat bahagianya jika bisa hidup berdampingan dengan wanita secantik Triana.


"Janji ya. Janji Kakak pada Kak Wiwi juga harus berlaku kepadaku. Aku siap dilamar jika Kakak siap menerima aku apa adanya," lirih Triana.


Sontak saat itu juga aku mendekap tubuh Triana dengan peluk kasih sayang. Triana pun hanya bergeming, tak melepaskan dekapanku sedikit pun.


Tentu aku sudah bisa menyimpulkan bahwa Triana bersedia menjadi pendamping hidupku. Aku hanya berdoa semoga niat kami berdua untuk mengarungi bahtera rumah tangga bisa kesampaian tanpa halangan.


Tiba-tiba di hadapanku ada sepeda motor lewat. Penumpangnya berboncengan lelaki dan perempuan. Saat wanita yang dibonceng melirik ke arah kami berdua yang sedang berdekapan, si wanita itu memukul bahu pria yang mengemudikan motor.


Sepeda motor itu pun berhenti dan berbalik menuju arah kami. Keduanya membuka helem. Tampaklah wajah keduanya yang sangat aku kenal.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2