
"Ya, maaf saja Bu," kata Warya tertunduk.
"Tak cukup minta maaf. Mulai sekarang, sudahi berhubungan dengan keluarga Pak Muslih. Ibu tak setuju Bapak memberikan bantuan lagi kepada mereka, uang yang lima juta sebaiknya diminta, dan satu hal lagi, Bapak jangan mempekerjakan Pak Muslih di kita," kata Bu Hajjah Tita mengultimatum sang suami dan anaknya.
"Lho, kok Ibu sejauh itu pikirannya?" Pak Haji Makmur terheran-heran atas keputusan sepihak sang istri.
"Kalau tak begitu, anak kita masih tetap tergila-gila oleh arwah penasaran anak si Pak Muslih. Anak kita itu sudah gila, buktinya tetap setia kepada orang yang sudah mati. Dia anak tunggal laki-laki satu-satunya Pak. Bagaimana kalau dia terus begitu? Sampai tua tak mau menikah gara-gara tergila-gila arwah penasaran!" kata Bu Hajjah Tita benar-benar meluapkan segala unek-uneknya.
Pak Haji Makmur tak bicara apa pun. Tangannya mengelus-elus dahinya, mungkin tengah memikirkan sesuatu atau pikirannya buntu menghadapi masalah yang dimunculkan oleh sang istri.
Sedangkan Warya hanya tertunduk lesu, dia tak berani menatap wajah sang ibu yang tengah menggebu-gebu meluapkan nafsu emosinya.
Hati Warya terasa dicabik-cabik mendengar omongan ibunya yang menyebut Wiwi arwah penasaran. Dia sungguh tak tega mendengarnya.
Padahal ia nekat tetap setia kepada Almarhumah, semata-mata ikut prihatin atas musibah yang menimpanya harus meregang ajal gara-gara dilecehkan si Darpin cees.
Dia bukan tak memahami keinginan sang ibu yang sudah tak sabar ingin menimang cucu. Tapi kepedihan hati memikirkan apa yang dirasakan Wiwi ketika meregang ajal dinodai dan dihina si Darpin membuatnya ikut amat terluka. Ini yang membuat tekad Warya untuk tetap setia kepada Wiwi sampai kapan pun.
Warya beranjak dari tempat duduk ingin menuju kamarnya karena pikirannya sudah demikian kalut. Pikirannya dibebani hal dilematis yang terasa rumit untuk diatasi, bagai benang kusut yang tak ada ujungnya, harus mulai dari mana mengurainya.
Namun sang ibu mencekal lengan Warya seolah menganggap dia anak kecil yang harus manut dan menuruti apa keinginan orangtuanya.
"Sekali lagi ibu ingatkan kamu War, jangan berhubungan lagi dengan keluarga Pak Muslih, jangan berikan bantuan apa pun kepada dia. Kini kamu sudah bukan siapa-siapanya lagi keluarga itu. Paham?" Sekali lagi Bu Hajjah Tita memberikan ultimatum yang menambah perih hati Warya.
Warya tak menyahut, dia terus beranjak menuju kamarnya. Sejenak langkahnya tertahan ketika terdengar ibunya kembali berbicara lantang.
"Bapak juga harus mengawasi, jangan malah mendukung dia. Emang Bapak gak malu punya anak jomblo padahal kita tak kekurangan apa pun? Malu Pak, maluuuu....."
Tak terdengar balasan katak-kata apa pun dari bapaknya. Warya pun meneruskan mengayun langkah ke kamar dan bersiap-siap akan pergi ke masjid berjemaah salat magrib.
__ADS_1
***
Keesokan harinya selepas asar Rama, Warya, Anwar, Wati, Imas, dan Yati, serta beberapa pemuda dan pemudi lainnya sudah bekumpul untuk rembukan tentang acara Ramadan tahun ini.
Beberapa anggota Irma Al Hasanah yang rata-rata para siswa SMP dan SMA di seputaran Masjid Al Hasanah ikut bergabung.
Karena tak ingin mengganggu orang-orang yang salat di masjid, pertemuan kawula muda Islami itu diadakan di gedung madrasah, sementara anak-anak madrasah diliburkan.
Bahkan libur itu untuk selama 40 hari agar anak-anak fokus menunaikan rukun Islam keempat itu serta menyambut Lebaran yang sudah lazim disambut dengan berbagai kegiatan, salah satunya mudik.
Rama yang ditunjuk sebagai ketua panitia kegiatan Irma, menampung saran-saran kegiatan yang bakal digelar. Akhirnya, forum menyepakati agar anggota Irma ikut terlibat dalam berbagai kegiatan Ramadan, mulai mengumpulkan sedekah makanan untuk takjil (buka puasa) di masjid, salat tarawih, ceramah remaja bakda tarawih, hingga membangunkan warga untuk makan sahur.
Untuk acara yang terakhir anak-anak remaja pria menyambutnya dengan bahagia. Mereka akan menyiapkan tetabuhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Atas kegiatan itu para remaja bakal menerima hadiah Lebaran yang diperoleh dari sumbangan warga.
"Ini sudah ada daftar yang akan sedekah untuk takjil, kalian harus siap menjemputnya dan dibawa ke masjid, ya?" kata Rama.
"Ya udah pertemuannya sekian saja, dan malam nanti kita harus sudah mulai salat tarawih karena besok sudah mulai puasa. Yang kegiliran ceramah nanti malam, siap-siap saja jangan pake takut. Namun, biar lebih jelas dan tak ragu, kita tunggu pengumuman dari pemerintah nanti malam ya," kata Rama menutup pertemuan Irma Al Hasanah.
"Horeeeeee...." anak-anak pun menyambut dengan ceria.
***
Sementara di kawasan lain, di sebuah kerajaan jin jahat, tak ketinggalan juga ada raker, rapat kerja, para jin terkait dengan bulan Ramadan di dunia nyata.
Kalau para anggota Irma bersiap-siap untuk beribadah agar diterima Allah, maka raja jin jahat sekutu iblis itu merancang kejahatan-kejahatan untuk menggoda dan mencelakakan umat beriman di bulan Ramadan.
"Raker kita kali ini untuk membahas upaya kita di bulan Ramadan," kata Raja Jin di hadapan para jin jahat lainnya.
"Gue harap kalian bekerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Ingat, pada bulan Ramadan ini moyang kita Paduka Iblis, Paduka Setan, dan anak cucunya serta kawan-kawannya seperti kita-kita ini tangan-tangannya diborgol, pintu neraka ditutup rapat, dan pintu surga dibuka lebar-lebar....."
__ADS_1
"Kita tak ada kerjaan, dong?" celetuk jin paling doyan berbuat jahat untuk manusia.
"Denger dulu, gue belum selesai bicara. Jangan ngikut manusia yang sukanya nyela omongan orang demi ingin terpakai atasan!" ujar Raja Jin jahat.
Si jin yang barusan bicara cuma terdiam malu karena dilihat terus oleh teman temannya.
"Kalian tahu apa artinya tangan setan dibelenggu atau diborgol, pintu surga terbuka lebar, dan pintu neraka ditutup?"
"Tidaaaaaaak.......!" kata para jin cukup menggema.
"Persis manusia. Mereka tak memahami apa artinya pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan tangan setan dibelenggu."
"Gak ngerti!" celetuk seorang jin jahat yang selalu kepo.
"Bagus. Kalau gak ngerti bilang, biar gue jelasin. Ketahuilah, emang benar pada bulan Ramadan itu tangan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Kenyataannya, pada bulan Ramadan masjid dipenuhi jemaah, pada ngikutin salat tarawih, puasa pasti itu dikerjakan. Artinya di bulan Ramadan banyak orang yang berbuat kebajikan, ibadah, perempuan mendadak hijab, dan menghindari perbuatan maksiat," kata Raja Jin, para jin lainnya mengangguk-anggukkan kepala.
"Lo, mengangguk-angguk kepala, nyadar mo tobat ya?"
"Gua ngantuk bro, bukan nyadar," timpal jin lainnya.
"Namun Paduka Raja, kok banyak juga yang tidak puasa, yang tidak salat, yang tidak tarawih, yang tidak mau bersedekah padahal di KTP-nya Islam. Kalau begitu, pintu surga tak terbuka lebar, pintu neraka masih terbuka, dan tangan setan tak diborgol?" Ada yang memberanikan diri berpendapat.
"Jadi seolah keterangan tak sesuai dengan faktanya, gitu?"
"Ya, begitulah."
"Baik akan saya jelaskan. Jadi yang dimaksud keterangan tangan setan diborgol, pintu surga terbuka lebar, dan pintu neraka ditutup rapat itu tidak dengan sendirinya, tetapi tergantung kepada manusianya. Artinya, keterangan itu hakikatnya perintah agar pada bulan Ramadan manusia beriman harus membuka pintu surga selebar-lebarnya dengan berbuat kebaikan sebab pahalanya berlipat ganda, tutup pintu neraka serapat-rapatnya dengan menjauhi segala perbuatan maksiat sebab kalau dikerjakan dosanya berlipat-lipat, borgol godaan setan, godaan iblis, godaan manusia, dan godaan jin jahat dengan borgol iman yang kuat. Nah, manusia seperti itulah yang bakal berhasil puasa Ramadannya," kata Raja Jin jahat itu kayak ceramah ustaz saja.
"Jadi, siapa bilang tak ada kerjaan di bulan Ramadan? Kerjaan kita ya terus menggoda manusia yang imannya rapuh. Kita lihat saja, hari pertama tarawih masjid penuh sesak. Tapi itu takkan lama. Selepas tanggal sepuluh, apalagi sudah mendekati Lebaran, berjemaahnya pindah tak lagi ke masjid untuk beribadah tapi ke mal untuk berbelanja. Kalau tak percaya, potong hidung kalian masing-masing!" kata Raja Jin jahat mengakhiri rakernya. (Bersambung)
__ADS_1