Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 52. Bersua Darpin Cees


__ADS_3

"Di mana sekarang si iblis Darpin itu hah? Ayo jawab!" kini yang berkoar giliran Warya yang baru saja mendaratkan tonjokan telak ke hidung Udin.


Warya begitu geram mendengar yang berulah masih juga si Darpin dan ini takkan lepas pula dari ulah bapaknya, Kades Danu. Apalagi tadi dia mendengar mereka bagi-bagi uang. Pasti itu dari Kades Danu.


"Ayo sekarang tunjukkan di mana Yati, Wati, dan si Darpin. Pilihan kalian hanya dua, menuruti perintah kami atau dilaporkan ke polisi!" kata Rama dengan tatapan mata tajam kepada si Udin.


Mendengar ancaman dari Rama, Udin saling pandang dengan kedua rekannya, si Odos dan si Somad. Lalu si Odos menganggukkan kepala, diikuti si Somad.


Anggukan itu dimaknai oleh si Udin sebagai isyarat bahwa mereka bertiga tak punya pilihan lain kecuali menuruti kehendak Rama dan kawan-kawannya.


"Baik, tapi janji kalian tidak menyakiti kami. Itu yang pertama. Yang kedua terus terang kami tidak tahu di mana Gan Darpin cees menyembunyikan keluarga kalian sebab kami kemarin hanya mengantarkannya ke suatu tempat, lalu mereka membawanya menggunakan mobil dan kami langsung kembali pulang," kata Udin berterus terang.


"Oke, oke kami turuti perkataan kamu. Tapi kami pun takkan segan-segan mengancam balik kalian seperti telah gue katakan tadi," balas Rama.


Maka, Udin pun segera menaiki sepeda motornya yang berwarna merah, diikuti oleh Odos dan Somad menaiki sepeda motor masing-masing.


Sementara Rama kembali megemudi sepeda motor milik Warya, Pak Rudi menaiki sepeda motor miliknya. Sedangkan Warya dibonceng oleh Anwar.


Udin cees pun melajukan sepeda motor di depan menelusuri jalan tak beraspal, hanya tanah dan batu koral kecil sebagian batu agak besar sehingga laju sepeda motor pun tak bisa dilarikan kencang.


Dari persimpangan jalan raya kondisi jalan lumayan tak begitu merepotkan penunggang sepeda motor karena di sana terdapat beberapa rumah penduduk di pinggir jalan tersebut.


Di sisi kiri dan kanan jalan juga masih terlihat persawahan dengan latar belakang pegunungan.


Namun setelah melewati perkampungan yang rumahnya tak begitu banyak, di sisi kanan dan kiri jalan hanya kebun dengan berbagai tanaman, selanjutnya jalan menanjak yang di sisi kiri kanannya cuma belukar.


Ini membuat Rama dan kawan-kawan makin miris dan sedih mengingat nasib Wati dan Yati di bawa ke tempat hutan belukar. Entah dibagaimanakan mereka.


Mengingat hal itu, Rama melajukan sepeda motornya dengan ngegas hingga terpaksa harus menahan oleng karena ban motor sempat menggilas beberapa biji batu agak besar di jalan itu. Namun Rama masih bisa mengendalikannya.


"Awas aja kalian menipu kami, kok dibawa ke tempat begini!" teriak Rama ke dekat sepeda motor yang dikendarai si Udin.


"Tenang aja, sebentar lagi kita sampai," balas si Udin.

__ADS_1


Benar saja tak berapa lama si Udin cees sudah tiba ke tempat kemarin sore menyerahkan Wati dan Yati kepada si Darpin.


"Kita sudah sampai. Kemarin sore kami menyerahkan keluarga kalian di sini," kata Udin kepada Rama.


Rama, Pak Rudi, Anwar, dan Warya turun dari sepeda motor dan diparkir di pinggir jalan. Demikian pula Udin, Odos dan Somad.


"Sekarang coba hubungi si Darpin!" kata Rama kepada si Udin.


"Itu yang akan kami lakukan. Tapi aku harus bilang apa biar aman untuk semuanya?" tanya Udin, dia bingung harus bilang apa kepada Darpin.


Kalau dia harus berterus terang bahwa dia tengah terancam oleh Rama cees, pastinya Darpin akan marah dan takkan mau ke sini. Sebab kalau ke sini berarti memperlihatkan diri dan itu bisa ditangkap.


"Begini saja, kau katakan kepada si Darpin kalian mendapat perawan lagi, ambil ke sini!" kata Rama.


"Wah itu amat berisiko bagi kami karena telah berbohong," kilah Udin.


"Ya terserah kamu aja. Mending lakukan perintahku, meding kami lapor ke polisi. Aku sudah bilang ke keluarga kami agar siap-siap melaporkan kasus ini ke polisi, penculiknya sudah tertangkap," ujar Rama, dia sedikit berbohong pula padahal belum kontak dengan keluarganya.


Bagi Rama yang terpenting bisa bersua Darpin yang memang sudah ditunggu-tunggu sejak peristiwa Wiwi dinodai dan sekarang ternyata dia masih hidup. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, termasuk melaporkannya ke aparat berwajib.


"Ya baiklah kalau begitu. Tapi awas ya, kami jangan sampai disakiti," harap Udin.


"Percaya kepada kami. Kami akan bertanggung jawab atas ucapan kami. Ayo lakukan, segera telepon si Darpin, jangan sampai gagal!" kata Rama.


Udin tampak mengambil HP dari saku jaketnya, namun seketika wajahnya terkesiap.


"Tak ada sinyal," ujar Udin.


Rama pun terbelalak, pun Pak Rudi. Dia baru sadar kalau tempat ini hutan belantara yang jauh ke sana ke mari mana mungkin ada sinyal. Pantas saja kemarin nomor Yati dan Wati tak bisa dihubungi karena dibawa ke tempat seperti ini.


"Kalau begitu kalian pasti berbohong!" hardik Rama.


"Kami tidak berbohong. Tanya teman kami Odos dan Somad. Kemarin keluarga kalian diserahkan di sini. Hanya selanjutnya dibawa ke mana kami tak tahu," kata Udin.

__ADS_1


"Iya, kami kemarin menyerahkan dua perempuan itu di sini. Mereka sudah berada di sini., kami tinggal bersuit. Namun kini mereka tak ada dan kami tak tahu harus ke mana mencarinya. Kami hanya tahu sampai sini," kata Odos membantu Udin memberikan penjelasan kepada Rama dan kawan-kawannya.


Ketika mereka sedang berbincang mencari solusi yang tampaknya


buntu, tiba-tiba terdengar mesin mobil dari arah atas jalan menuju ke tempat mereka berada.


"Tampaknya Gan Darpin ke sini, kita tidak perlu repot-repot mencari," ujar Udin.


"Awas saja kalau kalian macam-macam karena kedatangan si Darpin," kata Rama sambil menekuk leher Udin ditarik ke tubuhnya.


Pun dengan si Odos dipegang kuat Pak Rudi, si Somad oleh Warya dan Anwar. Mereka menghalangi jalan mobil.


Benar saja mobil itu ditumpangi si Darpin, Doma, Gonto, dan Benco. Mereka turun gunung untuk mencari perawan di kampung-kampung sekitar dengan pura-pura menanyakan jalan.


Akan tetapi perjalanan mereka saat ini terhalang oleh sekelompok orang yang ternyata dikenal semuanya.


Darpin terkejut ketika melihat si Udin, si Odos, dan si Somad, tengah dicekal musuh bebuyutannya, Rama, Warya, Anwar, dan bahan Pak Rudi.


Darpin langsung menduga keberadaan mereka terkait dengan Wati dan Yati. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa si Udin, Odos, dan Somad, bisa dicekal mereka?


Darpin dengan santainya turun dari mobil setelah mematikan mesin dan memarkirkan mobilnya di tengah jalan. Matanya melotot tajam ke arah si Udin, Odos, dan Somad.


Lalu beralih ke Rama, Pak Rudi, Warya, dan Anwar.


Sambil berjalan perlahan-lahan mendekati Rama yang tengah memegangi Udin, Darpin membuang ludah ke samping.


"Cuihhhh!!!"


Melihat ulah pongah dan sombongnya si Darpin Warya langsung menyerang dengan mengirimkan tonjokan ke arah muka Darpin.


Akan tetapi, belum sampai tonjokan itu di wajah Darpin. Telapak tangan kanan Darpin yang di jemarinya terdapat cincin azimat pemberian Embah Sawi, telah menjadi tameng.


"Bluuuuup!" tonjokan Warya dihadang telapak tangan Darpin. Akibatnya Warya menjerit histeris karena telapak tangan Darpin laksana tembok beton kerasnya. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2