
Ya, dia adalah Bi Utih yang memberikan instruksi kepada Inah agar menghadapi si Sodom yang kini dengan arogannya memelintir kumis, pamer cincin, dan gelang bahar.
"Siap Bi. Inah bakal maju, takkan takut menghadapi siapa pun. Jangan sebut Inah si cewek jagoan kalau tak bisa mengalahkan cecunguk macam orang ini!" teriak Inah percaya diri.
Teriakan Inah terdengar lambat-lambat oleh Iis.
"Itu suara ibuku," lirih Iis.
"Bukan Is, bukan suara ibumu. Diam saja di sini," kata Warya yang memang disuruh Rama agar menjaga jangan sampai Ira dan Inah lari ke medan laga.
Tadinya Rama pun mecegah Wati, Yati, dan Imas ke medan laga, namun tak mampu dicegah, bahkan terlihat mereka bertarung dan empat pemuda berhasil ditaklukkannya, yaitu si Doma, si Benco, si Gonto, dan baru saja si Darpin.
"Hahaaa....mimpi apa gue semalam? Seumur-umur baru kali ini harus berkelahi melawan betina. Sudahlah pulang saja kalian, jangan dilanjutkan! Percuma hanya akan membuang nyawa sia-sia," ujar Sodom dengan percaya diri.
"Buka matamu, bodoh! Dari tadi pertarungan dimenangkan oleh pihak kami. Lihatlah, empat cecunguk muda telah tewas dengan mengenaskan. Dan jangan menyesal, sebentar lagi giliranmu!" ejek Bi Inah.
Dia langsung saja mengambil dan memegang parang di tangan kanannya. Dia tahu, siapa Sodom, yaitu orang kepercayaan Embah Sawi sehingga yang layak menghadapinya hanya dedemit pilihan seperti dirinya yang tengah meminjam raga Bi Inah.
Sementara Sodom mengandalkan cangklong yang biasa digunakannya untuk merokok. Ternyata cangklong milik Sodom bukan secangklong-cangklongnya, melainkan cangklong azimat yang memiliki kekuatan tertentu.
"Rasakan ni tebasan parang, brengsek!" tantang Bi Inah.
Lalu Bi Inah menebaskan parang tajam itu ke arah kepala Sodom. Namun Sodom menghadapinya dengan cangklong yang dipegangnya.
Parang yang tengah dipegang Bi Inah terlepas. Bi Utih, terkejut.
"Hahahaaa.....buang tuh parang, memalukan! Kalah sama cangklong!"
ejek Sodom.
Lalu Sodom meloncat dan memukulkan cangklong ke kepala Inah. Seketika Inah menjerit kesakitan.
"Aukh, aukh. aukh....sakit!" lirih Inah sambil meraba-raba kepalanya yang baru saja ditimpuk cangklong milik Sodom.
"Hahahaaa......Rasakan betina tak berguna! Itu cuma dengan tenaga kecil-kecilan dan khasiatnya kamu sudah menjerit kaya bokong digigit serigala! Apalagi kalau aku gunakan tenaga besar-besaran. Hahahaaa....masih mau melawan?" koar Sodom dengan bangganya.
__ADS_1
"Jangan sombong kau!" hardik Bi Inah.
Dia pun mencoba mengadakan perlawanan dengan sedikit nakal. Dia membuka belahan baju bagian atas. Seketika mata Sodom bagaikan yang mau loncat, melihat gunung kembar milik Inah yang lumaya menggoda itu.
Bertahun-tahun Sodom cuma kebagian mencari gadis cantik dan seksi, tetapi giliran 'mencicipinya' cuma mengkhayal karena si Embahlah yang menikmatinya. Pun dengan wanita-wanita lainnya cuma ada dalam khayalan.
Tak heran ketika Bi Inah mencoba menggodanya dengan belahan dadanya, bahkan kini terlihat ada senyuman maut di bibir Inah, Sodom merasakan bagaimana darahnya naik ke ubun-ubun.
Inah suah membaca gejolak amarah bercampur nafsu berahi dalam diri Sodom. Makanya dia pun makin bersemangat melawan, lalu ketika Sodom sedikit lengah, dengan cekatan Inah menarik kupluk yang dikenakan Sodom.
"Aaaaaaaauw......!" giliran Sodom yang menjerit menahan rasa sakit.
Ternyata kupluk yang dikenakan Sodom, juga sama dengan cangklong miliknya mempunyai kekuatan dahsyat untuk menjadi andalan Sodom.
Itu terjadi karena kupluk Sodom juga bagian dari azimat yang dimilikinya. Dari dalam kupluk seketika berlarian azimat yang telah lama dipenjara oleh Sodom sehingga ketika kupluk itu ditarik, menimbulkan rasa nyeri yang tiada tara bagi Sodom.
"Pantas saja kepalamu berkupluk, ternyata kau botak, gundul!" ledek Inah.
"Setan betina, rasakan nih!" ujar Sodom dengan suara lantang.
Lalu Sodom menerjang tubuh Inah dengan tendangan kaki kanannya yang diarahkan ke dada Inah. Namun
Tendangan kaki Sodom, dijemput dengan tendangan kaki juga. Terjadilah benturan kuat dua kaki yang sama-sama kuat.
"Brukkk!!!!"
Tubuh Sodom dan Inah sama-sama terjengkang ke belakang. Lalu keduanya berusaha bangkit. Inah bangkit lebih gesit, sementara Sodom masih telentang, kesulitan untuk bangkit.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Inah. Dia mengambil parang lalu meloncat bersamaan dengan Sodom bangkit.
Parang yang diayunkan Inah saat meloncat, telak mengenai kepala botak Sodom. Tak ayal kepala Sodom terbelah bagaikan buah apel yang dibelah pisau tajam.
"Aaaaaau........heks!"
Sodom masih sempat menjerit menahan rasa sakit. Setelahnya, tubuh Sodom ambruk menimpa tanah dan tak bergerak lagi, terkapar tiada daya.
__ADS_1
"Sombongnya bukan main, ternyata kemampuannya cuma segitu!" koar Inah, tersenyum bangga telah mengalahkan tangan kanan si Embah Sawi.
"Ayo Sawi segera keluar kau? Lagi apa kamu? Pasti kamu lagi indehoi dengan cewek cantikmu bukan? Hahaaaa........!" ejek Bi Utih.
Sementara yang diledeknya sedang saling pandang dengan Danu. Ya, Embah Sawi sudah memberi isyarat kepada Danu agar maju ke arena laga.
Embah Sawi memegang janjinya bahwa kesatria harus maju secara jantan tanpa bantuan orang lain. Itulah sebabnya, sedari tadi ia memerintah konco-konconya untuk maju satu per satu. Lagian dia melihat musuh pun tidak main keroyokan, padahal mereka perempuan.
"Kamu saatnya maju Danu!" kata Embah Sawi.
"Tapi, tapi, saya takut mati, Embah. Cita-cita saya tidak akan terwujud. Padahal saya sangat ingin meraup harta lebih banyak lagi, ingin mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat di mata masyarakat, saya ingin segala-galanya, Embah....!" rengek Danu.
"Itulah yang membuatmu kalah sebelum bertanding! Kamu jadi budak nafsu yang tak terkendali dan itu musuh yang takkan bisa dikalahkan kecuali kamu harus menerima akibatnya sendiri. Dan kesatria harus sudah berteman dengan kematian ketika dia mulai mencanangkan niat untuk melakukan sesuatu dan bukan menakutinya seperti kamu!" ujar Embah Sawi, menasihati.
Danu hanya menunduk, namun tak disangka oleh Danu, seketika Embah Sawi menendangnya ke luar rumah agar segera menghadapi lawan.
"Maju, goblok!" hardik Sawi dengan sangat amarahnya.
Embah Sawi berpikir di saat genting seperti ini buka merengek minta tolong, bukan menyesal takut mati, namun justru harus siap menyongsong kematian dengan keberanian.
Danu tak bisa apa-apa. Akhirnya dia loncat ke kalang tanding. Matanya mengincar siapa gerangan yang akan menghadapinya.
Ternyata yang menghadapinya istrinya sendiri, Bu Windi.
"Sudahlah Ma. Jangan diteruskan. Kita ini suami-istri, apa-apaan harus berkelahi saling mencelakakan," kata Danu.
Tampaknya Danu belum apa-apa sudah dikuasi perasaannya sendiri. Perasaan yang begitu takut atas kematian.
"Hahaaaa......siapa bilang aku istrimu hah? Aku bukan istrimu, bajingan!" kata Bu Windi sambil berkacak pinggang.
"Mana ada suami punya istri, tapi suaminya tak memperhatikan? Cuma perhatian dengan mengandalkan duit. Dikiranya harta benda segalanya? Tak tahu malu punya jabatan diselewengkan demi ambisi pribadi yang kelewatan!" ujar Bu Windi dengan tatapan sinis.
"Anak kita sudah mati, masa kita harus mati juga?"
Danu masih dikuasai emosi pribadinya. Keruan saja Embah Sawi sangat kesal mendengarnya.
__ADS_1
Padahal sebelumnya dia melihat Danu adalah Dasamuka yang tak mengenal belas kasih kepada siapa pun.
Namun kini menjadi pecundang tanpa rasa malu. (Bersambung)