
"Tak sudi!" bentak Wiwi lagi semalam.
Hingga pagi ini Darpin masih membujuk Wiwi agar menuruti keinginannya dan juga menyuruh Wiwi untuk makan.
Semalam Wiwi disekap dalam gudang ditunggui keempat pria yang menculiknya. Mereka bergantian jaga yang lainnya tidur itu pun tidur dengan tidak nyenyak.
"Pikirkan baik-baik, sayang. Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan orangtuamu dari ancaman Bapakku. Kamu harus bersedia menjadi istriku dan menjauhi si Warya brengsek itu!" Darpin memberikan penawaran.
Wiwi tercenung sejenak memikirkan tawaran Darpin. Apakah dia harus meluluhkan hatinya menerima tawaran Darpin? Tapi itu berarti dia mengkhianati nuraninya yang telah berjanji untuk Warya.
Dia pun yakin kakaknya Rama takkan tinggal diam untuk membela orangtuanya termasuk melunasi utang yang lima juta itu. Atas pemikiran itu, Wiwi pun hanya diam tak berbicara apa pun.
"Ternyata kau tak sayang orangtua. Itu artinya nasibmu pun akan celaka. Tapi tenanglah sayang, aku takkan menodai wajahmu yang cantik sebelum aku mencicipinya. Ya, mencicimu," ancam Darpin lagi.
Tangan Darpin pun mendekati wajah Wiwi. lalu mengelus-elus pipinya nan glowing khas mojang (gadis) kampung. Namun, tak jadi karena dengan cepat Wiwi menangkisnya.
"Tangkisanmu membuat gejolak hasratku kian menggila Wi. Aku bisa mati penasaran kalau tidak menikmati kemolekan tubuhmu, sayang. Ayolah makan agar kamu tidak sakit!" Darpin bicara dengan penuh hasrat.
Bola matanya seolah membulat besar dibarengi nafsu berahi lelaki yang nyaris saja tidak tertahan. Dia hanya berdua di dalam gudang. Sementara ketiga temannya disuruh di luar berjaga-jaga jangan sampai diketahui orang lain.
Gudang itu entah milik siapa. Berada di persawahan yang kering kerontang mungkin hanya ditanami padi ketika musim hujan. Letaknya jauh dari perkampungan bahkan dekat kebun yang berbatasan dengan kaki gunung. Tak jauh dari situ ada sungai besar, Sungai Cilampit yang airnya kedengaran bergemuruh sepertinya air sungai itu selalu deras.
"Ayolah makan. Aku suapi ya?" tawar Darpin dan membuka nasi uduk yang tadi dibeli Benco di perkampungan pagi-pagi.
"Makan sendiri!" Hardik Wiwi.
Dia lebih memilih tak makan walaupun perutnya terasa amat lapar dan terasa perih. Pikirnya, memakan pemberian si Darpin sama saja dengan menyerahkan diri takluk kepadanya.
Dia berdoa semoga diselamatkan dari ancaman bahaya ini dan ada balasan bagi Darpin dan kawan-kawannya.
"Wi, aku tanya sekali lagi apakah kamu cinta aku?" tanya Darpin sambil memegangi tangan Wiwi yang terasa amat dingin sehingga timbul rasa kasihan di hati Darpin.
"Tidak!" dengan cepat Wiwi menjawab.
"Sekali lagi, cintakah kamu kepadaku yang anak orang kaya, mahasiswa, punya masa depan yang cerah?"
"Tidaaaaaak, tidaaaaaaak......!" jerit Wiwi sekeras-kerasnya sehinga ketiga teman Darpin yang tengah berjaga di luar gudang menoleh ke dalam.
Plak, plak, plak.......tiga buah tamparan mendarat di pipi Wiwi.
"Bunuh saja aku Darpin!" teriak Wiwi. Air matanya sudah membanjiri pipinya.
Melihat keadaan tersebut Darpin bukannya iba berbelas kasih, namun justru nafsu berahinya makin memuncak.
"Ayolah makan Wi," kata Darpin lembut. Kini ia bisa melihat Wiwi tanpa ikatan tangan, tutup mata, dan sumpalan mulut karena semuanya ketika tadi dia menyuruh makan Wiwi sudah dilepaskan.
__ADS_1
Namun kenyataannya Wiwi tak mau makan, bahkan melawan dengan kata-kata yang tak menyenangkan hatinya.
"Benar-benar wanita bandel, keras kepala!" hardik Darpin.
Harga diri Darpin sebagai lelaki yang tak jelek-jelek amat terbukti banyak mahasiswi yang ingin digaetnya namun dia ngebet justru kepada wanita buruh pabrik dan anak petani yang menggantungkan hidup pada orangtuanya, merasa terinjak-injak.
"Kurang apa aku, Sarwi? Wajahku lumayan ganteng, kedudukanku anak orang terpandang, pejabat desa, kaya raya. Tapi kamu tak terima cintaku?" ujar Darpin dengan sangat marah, terbukti wajahnya memerah.
Dan sekilat tangan kekarnya menggenggam mulut Wiwi dan diremaskannya kera-keras sehingga Wiwi meringis kesakitan.
"Aukh, uuukhhhh.....!" Wiwi mengaduh.
Ketika tangan Darpin dilepas dan mulut Wiwi kembali normal, tak dibiarkan kesempatan itu untuk memuncratkan saliva sebanyak-banyaknya. Wiwi benar-benar sudah kehilangan kendali emosi ketika tak henti-hentinya disakiti.
"****, ****, crooort.........!" ceceran ludah membasuh wajah Darpin.
Mata Darpin membelalak, gemuruh dalam dadanya membuncah bagai amuk erupsi Gunung Merapi.
"Domaaaaaaa........!" panggil Darpin kepada temannya si Doma yang tengah menikmati asap rokok gratis.
Mendengar Darpin berteriak dengan getaran emosional, Doma langsung bangkit dan meghampiri bosnya.
"Ya, Bos?!" Doma mendekati Darpin. Sejenak dia melihat Wiwi yang tengah dihadapi Darpin dengan keadaan yang mengkhawatirkan.
"Mana minuman!" ujar Darpin, matanya masih menatap tajam kepada wajah Wiwi, lengannya membersihkan ludah di wajahnya.
Wiwi terkejut. Degup jantungnya kian kencang melihat Darpin meminum cairan yang pastinya bukan minuman biasa melainkan minuman yang biasa digunakan para preman untuk bebuat jahat.
Darpin meminum miras dari botol seteguk demi seteguk. Tak lama sekujur tubuhnya meriang panas pengaruh minuman, menjalar ke ubun-ubun dengan tiba-tiba muncul perasaan lain dengan penuh keberanian.
"Hahahahaha........betapa nikmatnya minuman surga ini. Ayolah sayang, kau pun minum. Ayolah sayang kita bersenang-senang meski cuma di gudang, tapi anggaplah ini hotel bintang sepuluh," ujar Darpin mulai meracau.
Dia pun mendekat, menyodorkan bibir botol kepada bibir Wiwi. Bulu kuduk Wiwi terasa merinding menghirup bau alkohol yang sangat tidak nyaman itu.
"Jauhkan!" Wiwi menangkis sodoran botol. Namun Darpin masih bisa menggenggamnya.
"Domaaaaaaa....!"
Lagi-lagi Darpin berteriak kepada temannya.
"Ya, Bos!" Doma segera menghampiri Darpin lagi.
"Mana tambang!"
"Siap Bos!"
__ADS_1
Tak lama kemudian Doma kembali dan menyodorkan tambang yang diminta Darpin.
"Setan!" Darpin murka.
"Tadi 'kan Bos minta tambang, ini tambang bukan cak kue," kata Doma. Ia lupa sang bos lagi mabuk sehingga kalau diajak bercanda pasti murka dan benar saja seketika botol minuman mencium kepala Doma.
"Auw, maaf Bos!"
"Ikat wanita itu ke tiang oleh kamu, bukan menyuruh aku, gak sopan anak buah nyuruh bos, tahu?!"
Doma baru sadar bahwa dia salah menyodorkan tambang mestinya langsung diikatkan. Maka segera saja dia bertindak mengikatkan tambang di tubuh Wiwi ke tiang di gudang itu. Namun ternyata Wiwi berontak dan mencoba-coba mau kabur.
"Woy, Benco, Gonto, sini bangsat!"
Giliran Gonto dan Benco yang jadi sasaran amuk mabuk Darpin.
"Lo beloon dan bodoh amat sih?"
Dengan mata merah Darpin memarahi kedua sahabatnya.
"Maksud, Bos?"
"Orang lain sibuk di dalam kamu malah enak-anakan duduk di luar? Kan aku udah kasih rokok!" kata Darpin.
"Kan tadi aku disuruh nunggu di luar untuk lihat-lihat ada orang ke sini?" ujar Benco tak enak dimarahi sang bos tanpa alasan yang benar.
"Iya kan kalau tak ada maalah di dalam. Kini ada masalah, jadi mestinya kalian cepat ke sini!"
"Tapi saya tidak tahu di dalam ada masalah kan saya lagi di luar?" ujar Gonto.
Dan......blug, pantat botol meninju kepala Gonto.
"Rasain lu!' koar Darpin.
Gonto tak bicara lagi, apalagi Benco. Ia yakin kalau ikutan bicara, botol minuman pun bakal ikutan mencium kepalanya.
"Iiiiiiy.......aku tak mau," gumam Benco merinding.
Akan tetapi.......,"Bencoooooo.....!"
"Ya, Bos?"
"Dasar gendeng!"
"Saya waras, Bos. Buktinya saya masih bisa ngitung, satu tambah satu sama dengan dua. Tuh benar kan?"
__ADS_1
Dan.....bluk, botol minuman pun menclok di kepalanya, persis seperti yang diterima Doma dan Gonto. (Bersambung)