
"Wiwiwiii..............!!!" aku menjerit sekeras-kerasnya.
"Astagfirullah War, sudah mimpi lagi. Bangun Nak, istigfar. Kalau mau tidur jangan lupa baca doa dulu," kata ibuku yang sudah berdiri di sampingku.
Aku ketiduran di sofa sambil nonton TV. Lalu mimpi kedatangan Wiwi yang seperti di alam nyata saja.
Aku mengingat-ingat lagi mimpi itu, terutama mengingat kata-katanya yang menyuruhku agar melupakannya dengan alasan kami sudah berada di alam yang berbeda.
Akan tetapi aku tetap pada keputusanku untuk tidak mengkhianati janjiku bersamanya yakni untuk tetap setia. Emang dilema terutama dengan orangtuaku yang tentunya berharap agar aku melupakan Wiwi dan menjalani kehidupan secara normal dengan wanita lain.
"Sudahlah War jangan diingat-ingat lagi Almarhumah. Dia sudah takdirnya seperti itu, kamu pun masih menjalani takdirmu di alam nyata. Sadari dengan ketulusan. Ibu yakin, kalau Almarhumah tahu apa yang tengah kamu hadapi, dia pun akan sependapat dengan Ibu," kata ibuku.
Aku bergeming. Bibir terasa rapat untuk mengungkapkan isi hatiku di depan ibu. Yang pasti hatiku sangat perih mengingat nasib kekasihku yang harus mengalami nasib nahas.
Bahkan aku pun menyumpahi diriku mengapa tak bisa menjaganya. Andai tetap berdekatan, andai kuketahui kejadiannya, pastilah akan kubunuh bajingan-bajingan tak berperikemanusiaan itu.
Aku segera pergi dari sofa dan melanjutkan tidur di kamarku. Sebelum tidur kini aku membaca dulu doa agar tidak diganggu hal-hal yang membuat pikiranku tambah ruwet.
Namun dalam benak paling dalam, aku berharap bisa didatangi lagi oleh Wiwi, lalu bercengkrama, dan berbincang lagi. Habis kapan dan di mana lagi bisa bersua kalau bukan di dunia maya, dunia mimpi.
****
Keesokan harinya sekitar pukul 10:00 ketika aku sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil membuka HP dan melihat-lihat galeri foto yang di antaranya terdapat foto-foto Wiwi, di luar ada yang mengucapkan salam.
Aku segera bangkit dan membuka hordeng sedikit untuk memastikan siapa yang datang. Saat ini di rumah hanya ada aku sendiri, ibu dan bapakku entah sedang pergi ke mana.
Ketika kulihat di balik hordeng ternyata yang bertamu Kak Rama, aku sangat bahagia kedatangan kakaknya Wiwi tersebut.
"Assalaamualaikum," kata Kak Rama.
"Waalaikum salam Kak, ayo masuk," kataku setelah membuka pintu, lalu menyalaminya.
"Terima kasih, War."
"Ayo masuk, silakan duduk. Aku ambilkan dulu air ya, Ibu lagi pergi."
__ADS_1
"Nggak usah repot-repot War. Udah aja," jawab Kak Rama.
"Enggak, enggak repot kok," kataku, sambil ke dapur mengambil gelas lalu membuat kopi dengan air panas yang telah tersedia di termos.
Aku pun membawa dua gelas kopi panas itu ke ruang tamu, lalu ditaruh di meja.
"Duh ngerepotin War. Udah, udah...." katanya ketika aku bilang akan ke dalam lagi mengambil camilan yang sudah disediakan ibu jika ada tamu.
"Silakan diminum, Kak. Lumayan, enggak ada yang bagus," ujarku setelah jamuan sederhana terhidang.
"Makasih War," timpal Kak Rama.
"Apa kabar Kak Rama? Maaf aku belum sempat bertandang ke rumah," ujarku.
"Alhamdulillah kabar baik War. Kabarmu sendiri?" tanya Kak Rama, menatap tajam wajahku.
"Ya beginilah Kak, aku masih tetap mengingat Almarhumah," lirihku.
Tampak raut wajah Kak Rama berubah sayu. Dapat kubaca, pasti dia pun merasakan hal yang sama, apalagi dia kakaknya.
"Kakak juga sama masih mengingat dia, War. Dia adik yang baik, perhatian pada keluarga, tidak neko-neko, hormat kepada orangtua. Siapa pun pasti akan kehilangan ditinggalkan orang seperti dia War, apalagi aku sebagai kakaknya," kata Kak Rama dengan nada lirih.
"Benarkah?" Kak Rama menatap tajam.
"Benar, Kak. Bahkan dia meminta aku menjaga diri baik-baik dan titip salam katanya kepada Pak Muslih, Ibu Ratih, Kak Rama, dan Wati......" ujarku.
Aku tak menceritakan tentang permintaan Wiwi agar aku melupakannya lantas menerima kehadiran wanita lain untuk mendampingi hidupku.
Bukan apa-apa aku tak berani mengatakan hal itu, takut Kak Rama salah paham. Bisa saja kalau aku mengatakan sejujurnya kata-kata Wiwi dalam impian itu, Kak Rama akan mengira aku sudah tak mengingatnya lagi atau akan mengkhianati adiknya padahal kematian Wiwi murni karena musibah korban akhlak bejat si Darpin cees.
"Benar-benar salehah adikku itu War. Dalam mimpi saja masih mengirim salam kepada keluarganya. Ya Allah semoga adikku damai di alam sana, diterima iman Islamnya, diampuni segala kesalahannya.......aamiiin," kata Kak Rama.
Aku pun mengamininya.
"Tapi....War," kata Kak Rama tiba-tiba.
__ADS_1
"Tapi bagaimana Kak?" aku serius memandang Kak Rama sepertinya dia akan menyampaikan hal yang sangat penting.
"Tapi, tapi, di mimpi Kakak...." imbuh Kak Rama, dia tak melanjutkan omongannya seperti ada yang mengganjal di kerongkongannya.
"Tapi bagaimana Kak?" aku sungguh tak sabar ingin segera mendengar apa yang akan dikatakannya.
"Dalam mimpi Kakak, Almarhumah beramanat kepada Kakak dan harus disampaikan kepada kamu War," Kak Rama tak melanjutkan kata-katanya.
Dia mengambil gelas kopi yang kusajikan, dua teguk dia hirup gelas kopi itu sepertinya untuk menenangkan pikirannya.
"Dia beramanat dan sepertinya sangat serius, tampak dari raut mukanya yang agak pucat."
"Masyaallah....Kak. Lalu apa amanatnya?"
"Itulah sebabnya Kakak datang ke mari menemuimu War. Selain kangen karena kita sudah lama tak bersua dengan kesibukan masing-masing, ya Kakak juga ingin menyampaikan amanat Almarhumah...."
Kak Rama masih belum menyebutkan amanat apa gerangan dari Almarhumah kepadaku. Jelas aku makin penasaran.
"Iya Kak. Lalu amanat apa yang disampaikan Almarhumah dalam mimpi Kakak?" aku kembali bertanya. Entah mengapa Kak Rama tak segera menjelaskan amanat apa yang disampaikan Almarhumah adiknya.
"Dia, dia, beramanat kepada Kakak dan agar disampaikan kepadamu. Kata dia, kamu harus mengikhlaskan takdir yang menimpa adikku dan kamu boleh mencari wanita lain......" akhirnya Kak Rama menjelaskan amanat Almarhumah.
Aku terkejut mendengarnya. Ternyata amanat Almarhumah sama pula dengan yang aku terima dalam impianku.
"Amanat Almarhumah itu sebenarnya sama pula dengan keluargaku, baik ayah maupun ibu, dan juga aku serta Wati. Jadi jangan hatimu berat untuk meminang perempuan lain jika sudah ada. Kami ikhlas dan pasti juga Wiwi," kata Kak Rama lagi.
Aku terdiam. Harus berkata apa kepada Kak Rama. Sebab prinsipku sudah mantap untuk tidak mau mengkhianati cinta kami yang terluka oleh perbuatan biadap bajingan pemerkosa itu.
"Entahlah Kak Rama. Namun, aku ucapkan terima kasih Kakak sudah menyampaikan amanat Almarhumah yang sesungguhnya juga sama, dalam mimpiku Almarhumah menasihati aku agar tak lagi memberatkannya."
"O ya?"
"Iya Kak. Hanya aku berat menceritakannya kepada Kak Rama. Bagaimanapun aku tak terima cinta kasihku diputuskan oleh perlakuan biadap si Darpin cees. Wiwi pasti sangat sakit hati, aku dan keluarga Kakak pun pasti begitu. Itulah sebabnya, untuk menghormati ketulusan citanya aku ingin tetap setia...." kataku menjelaskan.
"Tapi itu tidak bagus War. Kamu masih di dunia nyata, adikku sudah di alam keabadian. Ya, jalani secara normal kehidupanmu termasuk berkeluarga dan punya anak keturunan. Aku yakin Pak Haji Makmur dan Bu Hajjah Tita sudah sangat merindukan kehadiran cucu, apalagi kamu anak tunggal," kata Kak Rama.
__ADS_1
"Gimana ya Kak, hati ini telah begitu terkunci untuk membukanya bagi wanita lain. Tapi entahlah ke depan-depan," kataku sedikit melonggarkan keegoisanku. Namun, itu cuma dalam kata-kata agar Kak Rama tidak terus menyambung pembicaraan tentang hubungan aku dengan adiknya yang telah terputus oleh ajal.
Menurutku ada yang jauh lebih penting lagi yaitu mencari keberadaan si Darpin cees untuk dimintai tanggung jawab. Hingga kini kami belum mendapat kabar keberadaan orang-orang itu dari pihak berwajib. Namun, aku yakin mereka pasti bekerja dan kelak menjerat mereka dengan hukuman yang setimpal. (Bersambung)