
"Sudahlah, sekarang Ira sudah selamat. Ayo pulang!" ujar Warya.
Namun tiba-tiba tubuh Warya dilabrak Yati.
"Apa? Pulang? Enak saja! Perjuangan belum selesai, baru dimulai! Jangan ajak-ajak pulang! Hai wanita , awas ya kau jangan ganggu dia! Dia punyaku!" kata Yati.
Rama terkejut mendengar ucapan Yati. Ternyata Yati punya hasrat juga kepada Warya. Ini artinya cinta Rama kepada Yati selama ini bertepuk sebelah tangan.
Demikian pula gadis bernama Ira, mendengar ucapan Yati dia benar-benar sakit hati dan terkejut juga.
Padahal ketika mereka bersama-sama disekap, Yatilah yang banyak membesarkan hatinya, membantunya, dan tak henti-hentinya memberikan semangat.
Akan tetapi sekarang, tiba-tiba Yati marah dan melarang mendekati pria yang dicintainya dan justru baru saat inilah bersua serta ada getaran cinta pertama setelah diabaikan beberapa waktu yang lalu dengan lari mengejar anjing.
Apa yang harus dilakukan? Menuruti kehendak Yati atau dia tetap berusaha mendekati Warya tanpa rasa takut kepada siapa pun? Apalagi tampak jelas Warya kini sudah mendekatinya bahkan mengkhawatirkan dirinya.
Fajar mulai menyingsing sehingga kerumunan orang-orang cukup jelas. Pertarungan pun makin seru antara rombongan Bi Utih dan anak buah Embah Sawi.
Anak buah si Embah menggunakan senjata tajam sejenis parang, sementara Bi Utih cees baru bisa mendapatkan parang setelah anak buah si Embah meregang nyawa.
Maka, bunyi beradu parang, jerit histeris, dan semangat tarung mewarnai pagi di tempat kediaman Si Embah.
"Sawi, ayo keluar kamu! Anak buahmu satu per satu sudah kukirim ke neraka!" koar Bi Utih, bicara sambil terus menghindari serangan bertubi-tubi anak buah Embah Sawi.
"Bagaimana Paman?" Danu minta pendapat Sodom.
"Ini pasti bukan sekadar betina biasa, ada yang menggerakkan dari kekuatan lain!" kata Sodom.
"Benar, itu yang bekoar-koar adalah pembantu saya! Yang seorang lagi istri saya yang seorang lagi istrinya si Tanu yang semalam kita habisi!" kata Danu.
"Kalian diam dulu di sini, aku akan ke si Embah," kata Sodom.
Namun baru aja membalikkan badan, tiba-tiba si Embah Sawi muncul menghampiri mereka.
"Embah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Sodom.
"Tak ada cara lain kecuali kita hadapi mereka. Sayang azimat yang kita miliki tak mampu mendeteksi siapa di balik mereka," kata si Embah, tiba-tiba keringat dingin merembesi tubuhnya.
"Bagaimana dengan saran guru Embah?" tanya Sodom menanyakan perihal usaha si Embah Sawi kepada gurunya di alam kejinan.
"Gagal! Guruku sudah tidak mau lagi menolong kita."
__ADS_1
"Apa?"
"Ya, karena kalian terlambat memberikan tumbal gadis. Dan sekarang, hei anak muda, keluar kau!" kata Embah Sawi sontak menunjuk si Benco.
"Aku?" si Benco terperangah. Lututnya gemetar, bibirnya terkatup rapat.
"Ya, engkau! Engkau saatnya berterima kasih kepada kami karena kau telah lama tinggal di sini, makan dan minum, diberi azimat, kekuatan. Ayolah maju! Lawan mereka hingga mampus!" titah Embah Sawi.
Malu oleh kata-kata si Embah, Benco yang nama aslinya Beni "Codet" karena di wajahnya ada luka codet akibat tergores pisau saat berkelahi, kemudian oleh kawan-kawannya dipanggil Benco, langsung loncat ke halaman tempat di mana pertarungan sengit masih berlangsung.
"Hentikan!" koar si Benco sepertinya benar-benar seorang jagoan tanpa rasa takut.
Para anak buah Embah Sawi pun menghentikan serangan. Mereka melihat Benco dan menunggu perintah darinya. Mereka paham pasti Benco ada dalam pengawasan si Embah.
"Hei Utih! Lancang kau membuat keributan di sini. Panggil-panggil si Embah! Jangan dulu si Embah, kalau berani langkahi mayatku!" tantang si Benco.
"Hahaaaaa......cecurut berkoar merasa sebagai gajah! He Benco, kau bebulan-bulan meninggalkan keluargamu hanya untuk membela si Danu dan si Darpin. Ayo maju kalau kau berani!" tantang Bi Utih dengan suara lantang.
"Hentikan, Bu! Biar aku yang menghadapinya!" kata Imas, tiba-tiba.
Bi Utih yang sudah siap-siap menghadapi si Benco mundur lagi karena anaknya, Imas, akan menggantikannya.
Dia hanya tersenyum manis melihat keberanian Imas. Dia tahu persis siapa
"Benco! Maju, kau!" tantang Imas.
Imas lantas pasang kuda-kuda layaknya jawara perempuan dari peguruan silat dengan suhu jagoan.
"Cuih! Tak tahu diri! Perempuan sok jadi jagoan! Malu aku menghadapimu, Imas. Sana minggir, masuk lagi di kamar penyekapan biar kamu selamat!" ledek Benco.
"Kurang ajar!" koar Imas.
Lantas Imas meloncat ke hadapan Benco yang sedikit lengah karena menganggap tantangan Imas sekadar lelucon yang sedikit pun takkan berpengaruh apa-apa.
Akan tetapi ketika telapak tangan Imas menghajar dada Benco, dia terkejut bukan alang kepalang.
"Blugh!" terjangan tangan Imas melabrak dada Benco.
"Auuuuuwwwww! Betina terkutuk!!!" hardik Benco.
Dia mundur sambil memegang dadanya yang serasa kena bakar, panas bukan main-main.
__ADS_1
"Hahaaaa.....rasain lu pria pengecut! Ngomong seenaknya, tahunya baru disentuh satu tangan saja sudah menjerit kayak pantat ditusuk jarum suntik segede obeng!" ujar Imas membuat Bi Utih dan Inah juga Bu Windi terkekeh-kekeh.
"Lawan, Imas! Kau anak ibu emang jagoan! Jangan kalah sama si Benco, jagoan yang hanya bisa berkicau, tenaganya nihil!" kata Bi Utih.
Merasa dilecehkan dan malu oleh Embah Sawi dan Sodom, Benco membetulkan kuda-kudanya. Matanya dipejamkan lalu memokuskan segenap kekuatannya untuk minta energi ekstra kepada azimat yang ada di tubuhnya, yaitu di lehernya berupa kalung, di jemarinya cincin, dan azimat genianggara.
"Rasakan nih betina tak tahu diri!" kata Benco sembari melancarkan tendangan maut ke wajah Imas.
Imas tak tinggal diam. Sedari tadi dia sudah pasang kuda-kuda tangguh, tak membuatnya lengah sehingga dengan mudah ketika kaki Benco melayang mau meghampiri wajahnya, sekilat tangannya mencengkeram kaki Benco, lalu dipelintir bagai montir memasukkan obeng kembang ke dalam baut kembang, dipelintir sekuat-kuatnya.
"Aw, auw, auw.......!" Benco menjerit-jerit, membuat Sodom dan Embah Sawi harus mengelus dagu saking kesalnya.
"Setan! Kau pelintir kakiku?!" sungut Benco.
"Ya, aku baru memelintir kakikumu, sebentar lagi aku akan pelintir leher atau 'anu'-mu sekalian, hahaaaaa......ayo maju Benco!" kata Imas lagi semakin berani.
"Hiaaaaaaaat.......blep!!"
Sebuah tonjokan Benco mengenai belikat Imas. Imas terjengkang, Bi Utih, Inah, dan Bu Windi, sempat terkejut.
"Hahaaaa......terasa? Benco, dilawan! Bagaimana, masih mau melawanku?" tantang Benco.
"Siapa takut!!!!!" kata Imas dengan tenangnya.
Benco yag merasa dipermainkan bahkan dipermalukan kian kalap. Dua jemari tangannya mengarah ke leher Imas dan seketika leher Imas sudah dikunci dengan cegkeraman kedua tangan kekar Benco.
Kedua mata Imas terbelalak, tenggorokannya sakit, sulit bernapas.
Namun mata Imas sejenak melihat kalung yang ada di leher Benco. Dia yakin kalung itu adalah 'dopping' Benco agar memiliki kekuatan.
Di antara sadar dan tidak karena begitu kuatnya cekikan tangan Benco, dengan sekuat tenaga Imas menarik untaian kalu di leher Benco. Berhasil terlepas hingga cekikan tangan Benco pun terlepas.
"Aaaaaaackh.......!" Benco berteriak.
Sekujur tubuhnya mendadak lemas hilang kekuatan.
"Hahaaaa......segeralah sebut nama orangtuamu, Benco! Sebentar lagi nyawamu bakal berpisah dari ragamu!" tantang Imas yang kini telah berubah menjadi singa betina.
Benco masih berupaya melawan karena ketika sejenak dia melihat Embah Sawi, matanya melotot. Itu tanda agar dia terus melawan meski sudah kehilangan sebagian kekuatannya.
"Kurang ajar!" koar Benco.
__ADS_1
Dia bangkit, mengepalkan tinju yang dijemarinya ada cincin berisi azimat kekuatan gaibnya.
Setelah tinjunya mengepal kuat, dia incar dagu Imas. Benco yakin, dengan sebuah pukulan tinju saja dagu dan wajah Imas bakal hancur lebur kayak telur tertimpuk cobek batu. (Bersambung)