
Darpin geleng-geleng kepala dan sangat terkejut karena wanita yang tadi berada di sebelah utara Sungai Cilampit, kini sudah pindah tempat ke sebelah selatan, tempat tadi Darpin menuruni bibir sungai.
Lalu wanita itu melambai-lambaikan tangan ke arah Darpin. Tak sadar Darpin pun tergoda lalu kembali menyeberangi sungai ke arah selatan.
Darpin kembali harus melawan derasnya arus sungai. Langkahnya tertatih-tatih karena harus menginjak batu licin dan terkadang menyeberangi bagian sungai yang dalam sehingga pandangannya fokus ke air.
Lebar Sungai Cilampit ini ada sekitar 20 meter sehingga kalau diseberangi dengan medan dasar sungai terjal tak bisa sebentar.
Begitu tiba di pinggiran sungai sebelah selatan dan Darpin mendongakkan kepala ke arah tempat wanita itu duduk, untuk ke sekian kalinya dia harus terkejut.
Pasalnya si wanita itu sudah tidak tampak alias menghilang.
"Sialan!" gerutu Darpin, sewot alias murka.
Ironisnya, dia masih penasaran ke tempat wanita di sebelah utara sungai. Dan...ternyata wanita itu sudah ada di sana, serta melambai-lambaikan tangan ke arah Darpin yang terbengong-bengong.
"Setan, iblis, mempermainkan gue!" murka Darpin dalam batinnya.
"Rasain lu gue ntar balas!" koar Darpin.
Dia amat murka kepada si hantu yang telah mempermainkannya sehingga ingin sekali balas dendam.
"Aku harus mengikuti jejak Bapak mendatangi Embah Sawi minta pertolongan," gumam Darpin.
Dia pernah dibawa oleh bapaknya, Kades Danu menemui orang pintar bernama Embah Sawi. Ketika bapaknya mencalonkan kades, bapaknya mengajak Darpin ke Embah Sawi dan minta bantuan agar Pak Danu sukses menjadi kades.
Kades Danu melakukan itu karena menurut Tanu, kaki tangannya yang adiknya Pak Muslih, mayoritas warga berharap kades itu dipegang oleh Haji Makmur, tokoh kharismatik, di Desa Mekarmulya.
Saat itu Embah Sawi memberikan azimat kepada bapaknya dan dijamin bakal mulus menjadi kades atau kepala desa.
"Ini sekadar usaha perantara Pak Danu. Adapun usaha syariat yang kasat mata, Pak Danu harus murah senyum kepada warga, rajin memberikan sumbangan sekecil apa pun," nasihat Embah Sawi kepada bapaknya saat itu yang masih diingat Darpin.
"Siap, siap, apa yang Embah nasihatkan akan saya turuti," kata Pak Danu .
Pak Danu menerima azimat dari Embah Sawi yang entah apa isinya. Yang terlihat oleh Darpin dibungkus kain putih sejenis kain kafan seukuran korek api.
Lalu Pak Danu memberikan amplop berisi uang yang cukup banyak tentunya. Entah berapa rupiah jumlahnya. Yang pasti Si Embah Sawi berkali-kali mengangkat amplop itu ke ubun-ubunnya, tanda sangat senang.
__ADS_1
Dan benar saja ketika tiba waktunya pencoblosan Kades Mekarmulya, Pak Danu mendapat suara mayoritas, disusul kedua diraih oleh Pak Haji Makmur, dan seorang lagi cuma mendapat 10 suara.
Pegaruh azimat itu memang cukup mencengangkan. Menurut penuturan orang-orang, ketika tangannya mau memberikan suara kepada Haji Makmur, malah membelot ke bungbung Pak Danu.
"Terbukti azimat dari Embah Sawi sangat ampuh. Aku harus mendatangi dia sekarang juga untuk minta azimat penangkal hantu-hantu brengsek itu. Semoga saja dia masih ingat aku," gumam Darpin percaya diri dan untuk sejenak kebuntuan pikirnya terobati.
Darpin pikir gangguan-gangguan misterius itu ada kaitannya dengan ulah buruknya yang telah menodai Wiwi. Dia ingat ketika berjalan dini hari usai ketiduran di dangau, diganggu penampakan wanita cantik dalam gudang.
Kemudian ketika sampai di jalan besar diganggu pula oleh wanita cantik penjual bakwan palsu. Dan baru saja dia diganggu lagi oleh penampakan wanita tenggelam dan mempermainkannya dengan pindah posisi serta diganggu ketika berada di air sungai yang seperti kolam dengan menariknya ke dalam sungai.
Dia pikir gangguan itu akan terus ada sebelum dedemit sumur tua itu tuntas membalas dendamnya. Jelas ini merupakan ancaman baginya. Oleh karena itu, ia kian bersemangat untuk segera mendatangi rumah Embah Sawi guna meminta azimat.
Darpin kembali ingat kepada teman-temannya si Doma, si Benco, dan si Gonto.
"Doooom, Gontoooo, Bencooo...di mana kau?" teriak Darpin memanggil-manggil nama temannya.
Tubuh Darpin terasa amat lemas, perutnya mulas-mulas, bahkan seperti memberontak ingin BAB. Boleh jadi kemasukan air sungai dalam keadaan perut kosong.
Darpin larak-lirik ke sekitar persawahan kali aja ada pohon pisang lagi berbuah. Namun sial tak ditemukan. Lama kelamaan tubuhnya kian drop, lemas, letih, dan perut perih. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Dia sudah tak sabar ingin segera menemui Embah Sawi untuk meminta azimat kesakten yang bisa menangkal pengaruh-pengaruh ganguan dedemit, iblis, dan konco-konconya.
Sayang tubuhnya sudah semakin lemas. Dan akhirnya dia bermaksud berisirahat agak lama serta tidur sejenak meski di atas rumput di bawah sebuah pohon besar. Udara panas dan sepoi-sepoi angin persawahan amat menggoda Darpin untuk memejamkan mata.
Namun, baru saja matanya terpejam, terdengar orang berteriak-teriak memanggil namanya
"Pin, Darpiiiiin........!" kata suara itu.
Darpin terbangun. Mengucek-ucek matanya. Lelah sedikit terusir.
"Seperti suara Doma," gumam Darpin sembari kembali membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar lebih jelas suara itu.
"Boooos....Bos Darpin....!" terdengar lagi suara yang memanggil namanya. Kali ini seperti suara Gonto.
Darpin merasa senang, pasti suara yang datang di hilir sungai itu adalah temannya yang sedang mencari-cari dirinya, sama seperti dirinya yang tengah mencari meraka.
"Boooos.....dengar suara saya, ayo siniiii....!' panggil suara lagi kini seperti suara si Benco.
__ADS_1
Yakin yang memanggil-manggil namanya temannya, Darpin segera bangkit dari duduknya dan meneruskan perjalanan ke hilir menyusul suara teman-temannya.
Dengan langkah agak tertatih-tatih, Darpin terus menelusuri bibir Sungai Cilampit ke hilir. Dia berharap ada lagi suara teman-temannya. Namun ditunggu beberapa saat, suara panggilan itu tak terdengar lagi.
Darpin cuma bisa geleng-geleng kepala dan curiga jangan-jangan dia sedang dikerjai lagi oleh dedemit Sungai Cilampit.
"Brengsek!" koarnya sambil meninjukan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.
Plak, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Darpin. Darpin terkejut, degup jantungnya mendadak berdegup kencang, lututnya bergetar dahsyat saking takut. Bulu roma mendadak merinding
Dia pikir yang baru saja menepuk pundaknya adalah tangan dedemit Sungai Cilampit. Penasaran siapa atau apa yang berulah, Darpin menoleh ke belakang, tak ada apa-apa, kecuali ranting kering yang jatuh dari pohon.
"Sialan, ranting!" gumam Darpin sadar kalau yang serasa menepuk pundaknya tadi adalah ranting pohon kering yang jatuh dari atas pohon diterpa angin.
Darpin pun meneruskan langkahnya, entah mau ke mana karena semakin ke hilir dia semakin asing dengan lokasi itu.
Yang pasti, jalan yang ditempuhnya di bibir Sungai Cilampit berupa belukar dan pepohonan tinggi dan rimbun.
"Pin, Darpiiiiin........!" tiba-tiba terdengar lagi suara panggilan seperti dari Doma.
"Boooos....Bos Darpin....!" lalu disusul suara yang mirip Gonto.
Darpin menghentikan langkahnya ingin memastikan suara panggilan itu.
"Boooos.....ayo siniiii....!' terdengar lagi suara mirip si Benco.
Darpin yang semula merasa senang mendengar kawan-kawannya memanggil namanya, kini malah bingung.
Betapa tidak, tadi ketika mendengar panggilan temannya di hiilir dan setelah dicek lebih dekat, ternyata teman-temannya tak terlihat.
Kini suara panggilan yang seperti teman-temannya itu berada di hulu sungai.
"Sialan!" hanya kata-kata umpatan yang bisa diucapkan Darpin. Dia yakin yang memanggil-manggil namanya itu bukan teman-temannya, melainkan dedemit yang tengah mempermainkannya.
Itulah sebabnya niat ingin segera menemui Embah Sawi utuk meminta azimat kesaktian makin menggebu. Kalaupun harus bayar, tak mengapa karena dia membawa uang.
Segera saja Darpin meraba punggungnya. Seketika Darpin menjerit. (Bersambung)
__ADS_1