
Guna melancarkan aksinya, Sarkawi menimba ilmu-ilmu hitam, ilmu gaib, dan memanipulasi kepribadiannya menjadi tokoh mayarakat yang disegani, tepatnya ditakuti karena dia menguasai berbagai ilmu hitam bekerja sama dengan sebangsa jin jahat dan dilengkapi berbagai macam azimat.
Dia pun tinggal di suatu tempat yang jauh dari kampung halamannya dan mengubah penampilannya sebagai dukun atau orang pintar yang kemudian dikenal dengan sebutan Embah Sawi. Dia dibantu Sodom dan puluhan anak buahnya yang mengabdi.
Semula kehadirannya disambut baik oleh warga karena sebagai orang pintar dan jagoan serta disegani oleh siapa pun. Warga berharap daerahnya aman dari gangguan orang-orang jahat.
Namun, belakangan warga juga kerap dibuat kesal karena anak buah Sarkawi kerap mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta jatah hasil panen mereka baik berupa padi, buah-buahan, maupun hasil kebun dan ladang lainnya.
Jika waga menolak apa yang diminta anak buah Sarkawi, akibatnya siksa kejam yang diterima.
Ternyata yang dimaksud sawah dan ladang oleh Sodom ketika menyuruh Darpin cees agar membantu mendapatkan penghasilan, tak lain tak bukan adalah merampas harta kekayaan penduduk. Itu dilakukannya hingga saat ini.
Selain itu, jika ada warga yang mempunyai anak gadis cantik, tak segan-segan diminta Sarkawi untuk dicicipinya bahkan dibunuh katanya untuk persembahan bagi gurunya.
"Jadi benar si orang pintar dungu itu si Sarkawi, Kentingmanik?"
Nyi Ratu Mayanggeni kembali bertanya.
"Benar Nyi Ratu. Bahkan kami membawa darah korban penodaan yang baru saja dia lakukan," timpal Kengtingmanik.
"Bawa ke sini!" pinta Mayanggeni.
Kentingayu membawa darah yang sudah mengering ke hadapan Ratu, lalu darah itu dimantrai dan seketika ada penampakan gadis cantik.
"Kasihan sekali anakku, kasihan sekali kamu menjadi korban kebiadaban si Sawi. Ayo sini sayangku, kita balas sama-sama bajingan kelamin itu!" ujar Mayanggeni, lalu merangkul dan memeluk gadis yang bernama Nani itu.
"Coba ceritakan apa yang kau alami, sayang?" tanya Mayanggeni.
Dan penampakan gadis Nani itu berceritera bahwa katanya dia menjadi pemuas nafsu Embah Sawi. Ia dipaksa oleh anak buah Embah Sawi untuk melayani karena orangtuanya tak mampu memberi upeti sawah dan ladang karena gagal panen.
"Aku dibawa ke rumah dia lalu aku pagi-pagi dinodai dan leherku dilukai dengan pisau dan dicekik hingga aku tak ingat-apa-apa lagi. Ini di mana?" ujar penampakan Nani.
__ADS_1
"Kini kamu menjadi penghuni alam maya Kerajaan Dedemit Sumur Tua. Tempat para korban penjahat kelamin di dunia nyata. Ya sudah, kamu gabung dengan kami. Kita akan balas perlakuan biadab bajingan Sawi tersebut...," kata Mayanggeni.
"Ketahuilah penampakan Nani, kami-kami ini sama korban kebiadaban lelaki penjahat kelamin. Tuh penampakan Wiwi pun sama," kata Mayanggeni sambil menunjuk penampakan Wiwi yang masih murung. Lalu Penampakan Nani menghampiri penampakan Wiwi.
"Sekarang kita balas dendam kepada musuh bebuyutan si Sarkawi!" koar Mayanggeni.
"Apakah tidak terlalu cepat, Ratu?" tanya Kentingmanik.
"Maksudmu?" Mayanggeni menatap tajam kepada Kentingmanik.
"Sebaiknya menurut aku kita perhitungkan dengan matang Ratu, kita dengar-dengar dulu apa rencana mereka. Tadi aku sempat mendengar Si Kades Danu berharap mendapat azimat paket komplet untuk mencapai ambisinya menjadi pejabat lebih tinggi daripada sekadar kepala desa. Adapun syaratnya harus ditebus dengan persembahan lima kuntum bunga alias perawan paling sedikit......" kata Kentingmanik.
"Apalagi kamu sudah mengetahui rencana busuk mereka seperti itu. Kita bertindak lebih cepat lebih baik dan akan terselamatkanlah anak-anak gadis dari cengkeraman manusia iblis itu!"
"Maaf Ratu. Keadaan Sarkawi kini tengah jaya-jayanya karena dilindungi raja jin jahat yang superkuat. Tadi aku mencoba-coba memasuki rumah si Sarkawi, auranya sangat beda, panas. Ini pun kami berhasil mengambil darah Nani karena berada jauh dari lokasi rumahnya. Jadi, intinya kita harus persiapkan secara matang hingga hasilnya bisa tuntas," ujar Kentingmanik.
Nyi Ratu Mayanggeni tercenung beberapa saat. Mungkin sedang mencerna apa yang dikatakan Kentingmanik.
"Terima kasih Ratu. Mari kita kumpulkan kekuatan, pantau terus apa yang akan mereka lakukan,' balas Kentingmanik, rasanya gembira dan bahagia usulnya diterima Sang Ratu.
***
PoV (Warya)
Namaku Warya, anak tunggal dari Haji Makmur dan Hajjah Tita. Kedua orangtuaku termasuk terpandang dan dihargai serta dihormati masyarakat. Kehidupan eknomi pun tak ada masalah karena orangtuaku di Desa Mekarmulya ini tergolong orang kaya, cuma beda sedikit dengan Pak Danu, Kades Mekarmulya.
Bedanya kekayaan Kades Danu ditambah punya penghasilan sebagai kades selain sawah dan ladang yang luas. Sehingga pantas kalau dia punya mobil, rumah bagus, termasuk menyekolahkan anaknya si Darpin jadi mahasiswa.
Aku pun sama mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di kota. Kini usiaku 25 tahun lebih sudah menggondol ijazah sarjana S1, namun kembali lagi ke desa usai menyelesaikan pendidikan dan berhasil membawa ijazah sarjana.
Sebelum aku memanfaatkan ilmu dengan bekerja, aku kembali dulu ke desa hitung-hitung rehat dari mencari ilmu.
__ADS_1
Ke depannya mungkin aku akan bekerja atau bahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi lagi. Kalaupun tidak melanjutkan pendidikan dan bekerja, menjadi petani penggarap sawah ladang milik orangtua pun tak mengapa, apalagi aku cuma anak satu-satunya.
Melihat aku tak bekerja dan melanjutkan pendidikan yang padahal ayahku sangat mendorong dan siap mengeluarkan dana berapa pun, orangtuaku kerap bertanya-tanya tentang rencana hidupku ke depan.
Seperti pada suatu sore, kira-kira 6 bulan lalu. Usai makan bersama di ruang tengah, ayahku menyapa dengan penuh penekanan.
"Kok kamu tampak santai, War?" tanya ayahku. Tatapan matanya terasa tajam, penuh penyelidikan dan penyesalan.
"Ya santai ajalah Yah. Baru lulus kuliah, aku capai mikir," ujarku enteng.
"Anak muda capai mikir! Mau jadi apa kamu kelak?" sela ibu, seraya membereskan piring dan wadah-wadah bekas makan.
"Ya namanya manusia ada capeknya Bu. Emang aku robot, apa?" jawabku kesal aja ibu menggampangkan urusan mikir.
"Maksud ayah dan ibu. Apa rencanamu ke depan? Kelihatannya kamu tak punya rencana apa pun?" kata ayah lagi.
"Ya pastilah punya rencana Yah. Namanya orang hidup," timpalku.
"Ya, rencana apa itu? Apa akan melanjutkan kuliah, bekerja, atau......." kata ayah tak lanjut bicaranya karena diserobot oleh ibu.
"Atau menikah saja. Kamu anak tunggal, War. Ibu sudah ingin menimang cucu......"
Deg!
Aku terdiam. Menyimak dalam-dalam ucapan ibu barusan. Apakah memang aku harus meneruskan kuliah, bekerja dan menikah, atau.....?
Tiba-tiba bayanganku kepada seorang gadis masih satu kampung yaitu di Kampung Mekarsari Desa Mekarmuya. Dia berusia 18 tahun baru lulus SMA setahun lalu dan kini sudah bekerja di pabrik yang lokasinya di desaku.
Kami sudah menjalin benih-benih cinta kasih sejak dia di bangku SMP. Keberadaan satu kampung tak menyulitkan kami untuk bersua, bahkan aku kerap mengantarnya ke sekolah menggunakan sepeda motor, pulangnya pun aku jemput.
Aku masih ingat sepulang dia sekolah mengajaknya untuk keliling kampung dan ke tempat-tempat indah di sekitar desa kami, misalnya ke pinggir sawah, lalu bercengkrama berdua melepas rindu dan kangen meski sebenarnya setiap hari pun kami bersua, tetapi rasa kangen terus menggebu. Maklum 'fisrt love' yang kata orang akan sulit dlupakan hingga kapan pun. (Bersambung)
__ADS_1