Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 13. Ditemukan


__ADS_3

Dalam waktu sekejap yang semula kasus penculikan Wiwi hanya diketahui keluarga terdekat, kini sudah menyebar.


Dipimpin RW dan RT, puluhan warga berangkat menuju gudang dekat Sungai Cilampit. Mereka membawa lampu petromak, sebagian lampu senter, dan ada pula yang hanya mengandalkan cahaya lampu HP sekadar mendapat cahaya.


Sekitar pukul 23:00 rombongan pergi menuju pinggiran Sungai Cilampit yang terdapat gudang. Kebetulan hujan sudah reda. Kang Didi dan Taryo pun ikut kembali ke gudang setelah sebelumnya ke rumah dulu untuk bersih-bersih badan dan makan dengan tergesa-gesa.


Begitulah kehidupan warga kampung masih besar rasa tolong-menolong dengan sesamanya, apalagi terhadap kasus penculikan.


Pukul 24:00 pagi rombongan tiba di gudang. Benar saja apa yang dikatakan Kang Didi dan Taryo bahwa di dalam gudang ada sobekan-sobekan baju wanita dan botol bekas miras.


Ketika Wati yang ikut serta melihat sobekan-sobekan baju itu seketika dia menjerit histeris.


"Kak Wiwi......," teriaknya.


Ketika dia mau menghampiri dan memunguti sobekan baju yang diyakini milik Wati, dia langsung dicegah oleh Pak RW.


"Jangan Wat!"


"Itu baju Kak Wiwi Pak RW. Di mana Kakakku, kok hanya tinggal bajunya?" ujar Wati dalam tangisnya.


"Ya, sabar dulu. Bagaimanapun ini termasuk peristiwa pidana, tindak kriminal, ada yang lebih berwenang mengatasi masalah ini. Ayo sekarang juga lapor ke pihak berwajib," titah RW.


"Ayo War!" ajak Rama kepada Warya.


"Siap, Kak," ujar Warya, lantas mereka pun kembali ke kampung dan mengambil sepeda motor untuk melapor ke polsek.


Ketika menunggu kedatangan aparat, rombongan berpencar mencari keajaiban untuk menemukan Wiwi siapa tahu masih ditemukan dalam keadaan segar bugar atau masih hidup.


Namun mereka tak menemukannya, bahkan ada yang melihat-lihat ke pinggiran Sungai Cilampit. Untung saja mereka tak sampai ke dangau yang di sana saat itu tengah tidur nyenyak Darpin cees. Kalau diketahui warga habis sudah riwayat mereka jadi korban amuk massa.


Anwar dibantu kawan muda lainnya mengitari gudang. Tiba-tiba Anwar melihat gundukan benda-benda ditumpuk di atas bangunan bundar seperti sumur.


"Pak, ada sumur di belakang gudang," kata Anwar kepada Pak RW.


"Sumur?" tanya Pak RW.


"Ya, sumur ditutupi kayu dan bambu," kata Anwar.


"Ayo kita periksa," ajak RW dan RT.


Semuanya mengikuti Pak RW ke belakang gudang. Benar saja ada sumur.


"Ayo buka tutupnya," seru Pak RW.

__ADS_1


Beberapa orang pun membongkar tumpukan kayu dan bambu serta benda-benda lainnya.


"Senter, ada yang bawa senter besar?" kata Pak RW.


Kebetulah ada warga yang membawa senter lumayan besar, lalu diberikan kepada Pak RW. Pak RW pun membidikkan cahaya senter itu ke dalam sumur.


Betapa terkejutnya Pak RW karena di dalam sumur itu tampak sesosok tubuh sudah tak bernyawa.


"Liha!" teriak Pak RW.


Beberapa orang merubungi sumur termasuk Wati, dan ketika melihat ke dalam sumur benar saja ada sesosok jasad tanpa busana.


"Kak Wiwiiiiii........!" lagi-lagi Wati menjerit histeris. Dia yakin jenazah yang berada di dalam sumur tua itu adalah jasad kakaknya.


"Sabar Wat, kita tunggu saja dulu kedatangan Pak Polisi," ucap Pak RW sembari mengelus-elus kepala Wati.


Pak Muslih dan Bu Ratih tak ikut dengan rombongan. Mereka hanya diam di rumah mempersiapkan segala sesuatu kalau-kalau ada hal yang tak diharapkan.


Tak berapa lama kemudian polisi tiba di area gudang. Langsung mengamankan lokasi TKP (tempat kejadian perkara) dengan memasang police line.


Ketika diberi tahu ada korban di dalam sumur, aparat pun segera melakukan evakuasi.


Benar saja mayat di dalam sumur itu adalah Wiwi. Wati tak kuat menahan emosi dia menjerit-jerit memanggil nama kakaknya, Rama dan Anwar menenangkannya.


Keluarga tak tega jenazah Wiwi yang sudah terluka harus disayat-sayat lagi. Mereka mengikhlaskan kematiannya meski berharap proses hukum tetap berjalan jika para pelakunya sudah ditemukan atau ditangkap.


Siang harinya sekitar pukul 11:00 jenazah Wiwi setelah dimandikan dan disalati di masjid terdekat, lalu dimakamkan di permakaman umum Kampung Mekarsari.


Warga, tetangga, dan teman Wiwi termasuk Imas dan Yati, dan beberapa teman pabriknya ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhir Wiwi.


Namun, tak tampak Kades Danu meski telah diberi tahu oleh RW. Kata yang di rumah Kades, Kades dan istrinya sedang bepergian ke kota.


Pun dengan Tanu, adik Pak Muslih tak terlihat batang hidungnya. Tapi istrinya, Inah, ikut hadir.


Sekitar pukul 13:00 prosesi pemakaman Wiwi telah selesai. Warga kembali pulang ke rumah masing-masing. Sebagian lagi menemui Bu Ratih dan Pak Muslih untuk menghibur atas duka nestapa yang pastinya tiada terhingga.


Dua hari setelah pemakaman Wiwi, malam sekitar pukul 19:00 Rama dan Pak Muslih bapaknya tengah berbincang. Rama menanyakan tentang uang yang dipegang oleh Bapaknya pemberian dari Warya.


"Bagaimana Pak apakah uang yang lima juta itu sudah dikasihkan ke Kades Danu?"


"Belum, Ram."


"Lho?"

__ADS_1


"Kades Danu enggak ada ke sini yang datang malah pamanmu."


"Paman Tanu maksudnya?"


"Iya, dia datang menagih utang Kades Danu yang lima juta itu."


"Bapak kasihkan?"


"Enggak, Bapak bilang uang akan dikasihka kalau Wiwi kembali dengan selamat."


"Terus?"


"Pamanmu marah-marah, malah mengancam katanya kalau tak dibayar Kades Danu akan mencelakai kita."


"Teganya Paman Tanu. Bukannya ikut prihatin dan menolong saudara yang tengah berduka."


"Ya begitulah pamanmu, dia sudah terpengaruh dengan harta. Apa pun yang dikatakan Kades Danu diikuti asal ada uang. Bahkan dia menyebut kalau tidak tolong dia, Bapak takkan punya pekerjaan atau penghasilan dari Kades Danu."


"Terus sekarang Bapak dan Ibu apakah masih akan terus bekerja di Kades Danu?"


"Bapak tegas tak sudi lagi kerja dengan dia, apalagi setelah terjadi kasus adikmu Wiwi. Biarlah Bapak mau kerja apa saja, toh pekerjaan banyak, dagang kek, kuli nyangkul di tempat lain kek."


"Syukurlah kalau begitu. Tak kerja juga gak apa-apa, biar Rama yang menanggung Bapak dan Ibu."


"Ya enggaklah Ram. Selagi Bapak masih bisa berusaha, tak ingin merepotkan anak-anak. Kecuali ibumu ya sebaiknya udahlah jangan ikut-ikutan lagi ke sawah, biar Bapak aja."


"Ya, nanti Rama katakan kepada Ibu," ujar Rama.


Dia kira ibunya sudah tidur padahal masih melek dan mendengarkan obrolan ayah dan anaknya itu. Wati sudah di kamarnya, dia masih terisak menangisi kepergian sang kakak yang bernasib malang itu.


***


Meski kasusnya telah ditangani polisi dan mendengar keterangan polisi bahwa sudah ada titik terang siapa pelaku pemerkosaan dan pembunuhan, Rama takkan tinggal diam.


Menurut polisi berdasarkan bukti-bukti dan keterangan para saksi yang telah dimintai keterangan, dugaan tersangka mengarah kepada Darpin cees. Yang lebih meyakinkan kesaksian korban Wati yang melihat mobil jeep ketika dia disergap 4 orang pria berkupluk.


Kemudian polisi pun mendapat keterangan dari Kades Danu, istrinya, dan pembantu bahwa sehari sebelum kejadian penculikan, Darpin kedatangan 3 orang temannya, yaitu Gonto, Doma, dan Benco. Boleh jadi mereka tengah merencanakan perbuatan jahat.


Selain itu sidik jari dari botol minuman keras dan tempat lainnya di sekitar gudang, mengarah kepada empat pemuda tersebut. Ditambah lagi kini keempatnya tak ada di rumahnya masing-masing.


Tak ayal lagi, polisi pun sudah menetapkan keempat pemuda itu sebagai target DPO (daftar pencarian orang). Keluarga keempat DPO itu diminta polisi agar segera melapor jika melihat, kedatangan, para pelaku yang diduga menculik, memerkosa, dan membunuh Wiwi.


Ketika Rama dan Bapaknya masih berada di tengah rumah usai berbincang, tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk beberapa kali.

__ADS_1


Rama segera menghampiri pintu. Ketika dibuka, dia sangat terkejut. (Bersambung)


__ADS_2