
"Iya, iya, kami akan berhati-hati," kata Imas dan Iis hampir bersamaan.
Mereka pun berpisah. Imas dan Iis melanjutkan perjalanan ke rumah Kades Danu, sedangkan Rama dan Warya pulang ke rumahnya masing-masing.
Tak lama kemudian Imas dan Iis sudah sampai ke rumah Kades Danu. Bi Utih, ibunya Imas, tampak sedang menyiapkan menu takjil atau menu berbuka puasa di hari terakhir.
Melihat kedatangan Imas dan Iis, Bu Windi langsung mengajak mereka berdua bergabung di meja makan untuk menikmati menu takjil.
Lantas Imas dan Iis pun membatalkan puasanya dengan air putih hangat dan kolak yang telah disediakan ibunya Imas.
Setelah membatalkan puasa, Imas dan Iis numpang salat magrib di kamar yang biasa ditempati Bi Utih atau ibunya Imas.
Bu Windi memperlakukan Bi Utih dengan sangat baik, dia disediakan kamar khusus yang berdampingan dengannya. Itu membuat Bi Utih seperti tinggal di rumah sendiri sehingga dia pun bekerja dengan sungguh-sungguh.
Setelah salat, Iis dan Imas bergabung kembali di meja makan untuk makan besar. Saat makan besar, tampak bergabung Kades Danu.
Imas dan Iis ketika makan bersama ingat kembali nasihat Rama dan Warya agar berhati-hati menghadapi Kades Danu sehingga tidak senasib dengan Yati, Wati, bahkan Wiwi.
Apalagi Imas yang telah mendengar cerita dari Rama cees bahwa penyebab hilangnya Wati dan Yati adalah si Darpin cees anak majikan ibunya, Bu Windi, yang saat ini sedang makan bersama dengannya.
Dan itu takkan lepas dari peran ayahnya, Kades Danu, sehingga wajar kalau Rama mewanti-wanti Imas dan Iis agar berhati-hati menghadapinya.
Kekhawatiran Imas kian menjadi-jadi Selagi makan, Kades Danu kerap melirik dirinya dan juga Iis. Ketika beradu pandang, Imas merasakan ada kekuatan gaib dari sorot mata Kades Danu.
Demikian pula Iis, ketika pandangannya beradu dengan Kades Danu merasakan hal serupa dengan yang dirasakan Imas.
"Kalau boleh tahu, kedatangan Imas dan Iis ke sini ada apa ya? Apakah hanya main atau ada keperluan lainnya?" tanya Kades Danu, masih dalam suasana makan-makan.
Imas menghentikan makannya, menyimpan sendok, lalu meneguk sedikit air agar lancar bicara, maklum bicara dengan majikan.
__ADS_1
"Hanya mau menjemput Ibu, Pak. Besok kan Lebaran," jawab Imas.
"Iya Pak, saya yang suruh habis Ibu ngasih hadiah Lebaran cukup banyak jadi perlu bantuan Imas," tambah Bi Utih.
"Oh ya. Lalu Iis ada perlu apa?" tanya Kades Danu kepada Iis, putri Tanu orang kepercayaan Kades Danu.
Iis pun seperti Imas menghentikan dulu kegiatan makannya lalu menjawab pertanyaan Kades Danu.
"Kalau Iis disuruh Mamah mencari Ayah kok belum pulang besok kan Lebaran, tapi ternyata gak ada ya Pak?" ujar Iis dengan nada lirih.
"Oh, oh, Bapak mengerti sekarang. Gini aja ya. Maaf nih untuk Bi Utih, jangan pulang sekarang besok aja, takutnya Ibu masih butuh bantuan Bibi. Juga Iis, maaf Bapak baru ngabari kalau bapakmu lagi disuruh menagih utang ke desa tetangga mungkin ada masalah dan akan Bapak jemput sekarang," ujar Kades Danu.
Imas dan Iis saling pandang. Seketika nafsu makan mereka hilang.
"Tapi kan Pak mereka butuh kumpul keluarga di malam takbiran ini. Biarkan saja Imas dan Bi Utih pulang sekarang, sekalian sama Iis," saran Bu Windi.
"Ibu ini bagaimana? Kan Bapak mau pergi sekarang juga, kalau ibu butuh bantuan, siapa lagi yang bisa diandalkan kecuali Bi Utih. Enggak apa-apa, dia kan kerja di sini digaji. Atau khusus untuk lembur malam ini Bapak akan tambah THR-nya lima ratus ribu!" kata Kades Danu.
Padahal sejatinya Kades Danu punya niat jahat untuk mencelakakan Imas dan Iis, yaitu akan dijadikan tumbal melengkapi kebutuhan lima perawan yang baru didapat dua, Wati dan Yati.
Kalu Imas dan Iis berhasil, maka tinggal satu perawan lagi untuk memenuhi batas minimal guna mendapatkan azimat paket komplet.
"Bagaimana Bi?" tanya Bu Windi kepada Bi Utih.
"Gimana ya Bu. Terserah Bapak dan Ibu aja lah. Tapi kalau Bapak mau pergi ya biar Imas tidur di sini," jawab Bi Utih.
"Enggak boleh Bi. Kan Bibi punya rumah, kalau ditinggal kosong, bagaimana kalau ada pencuri? Di malam Lebaran banyak pencoleng manyasar rumah-rumah kosong Bi, bahaya! Biar saya sekarang antarkan Imas dan Iis naik mobil sambil saya terus menyusul Tanu yang menagih utang belum kembali takutnya kenapa-kebapa," kata Kades Danu seolah bicara dengan maksud baik padahal itu merupakan siasatnya untuk menculik Imas dan Iis.
Karena itu sudah menjadi keputusan Kades Danu dan biasanya tak bisa dihalang-halangi lagi dengan berbagai alasan apa pun, akhirnya baik Bu Windi, Bi Utih, Imas, maupun Iis menuruti omongan Kades Danu.
__ADS_1
Kades Danu pun saat itu juga mengeluarkan uang dari dompetnya sebanyak lima ratus ribu rupiah lalu diberikan kepada Bi Utih sebagai tambahan THR katanya.
"Nah, sekarang habiskan makanan kalian Imas, Iis. Setelah ini langsung saya antarkan ke rumah kalian," kata Kades Danu bahagia karena apa yang dikatakannya tak mendapat protes dari siapa pun.
Pengaruh azimat yang dimilikinya telah mampu menghipnotis pikiran-pikiran sehat untuk mencurigai siasat jahat dan licik Kades Danu.
Akhirnya Imas dan Iis mengikuti ajakan Kades Danu. Keduanya duduk di ruang tamu menunggu Kades Danu yang tengah masuk ke kamarnya, lalu ke dapur mengambil dua botol minuman.
Agak lama juga Kades Danu di dapur, entah sedang mengerjakan apa. Namun anehnya Imas dan Iis menurut saja duduk menunggu di ruang tamu.
Tak lama kemudian Kades Danu muncul membawa tas, dan permisi kepada Bu Windi serta Bi Utih. Tak lupa Kades Danu amanat agar berhati-hati di rumah.
Kades Danu mengajak Imas dan Iis untuk memasuki mobilnya. Tapi tiba-tiba Imas mohon bisa membawa sebagian atau bahkan semua hadiah Lebaran ibunya dari Bu Windi, namun dicegah leh Kades Danu.
"Biar saja besok oleh Bapak sekalian. Udah gitu aja, lama lagi. Bapak lagi buru-buru, takutnya ayah Iis kenapa-kenapa, ayo cepat!"
Kata Kades Danu dengan suara tinggi penuh penekanan sehingga Imas pun tak bisa apa-apa.
Imas dan Iis masuk mobil. Tadinya disuruh masuk pintu depan oleh Kades Danu, namun Imas menolak demikian pula Iis.
Keduanya memilih duduk di kursi tengah. Kades Danu pun tak memaksa meski hatinya kesal karena dia harus mencari cara lain untuk menyiasati maksudnya menculik Imas dan Iis saat itu.
Mesin mobil dihidupkan Kades Danu. Pintu mobil pun sudah tertutup. Bu Windi dan Bi Utih memperhatikan di teras rumah.
Mendadak ada perasaan tak enak di hati Bi Utih ketika melihat Imas dibawa mobil Kades Danu. Entah mengapa, mungkin saja karena malam takbiran tak bisa berkumpul. Biasanya selalu berkumpul di rumah meski sudah tak ada suami dan itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Bi Utih.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah hingga tak terlihat lagi oleh Bu Windi dan Bi Utih. Keduanya pun lantas masuk ke dalam rumah.
Imas dan Iis tak bercakap-cakap sepatah kata pun. Namun kedua tangannya saling berpegangan seolah sudah mendapat firasat buruk yang akan mereka alami.
__ADS_1
Gema takbir dari segala penjuru arah terdengar saling bersahutan oleh Imas dan Iis membuat hati mereka bergetar terharu. (Bersambung)