Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 111. (PoV Ira) - Berakhir dengan Perdamaian


__ADS_3

Ada perasaan kasihan sih, tapi juga puas. Triana menjerit histeris melihat Warya tak berdaya, sebaliknya aku puas melihatnya.


Ketika Kak Ganda akan mengulangi mengayunkan tangan tinju, tiba-tiba ada sepeda motor lewat dan melihat kami. Ketika di melihat Kak Warya tersungkur dan bibirnya berdarah, penunggang sepeda motor yang diperkirakan seusia dengan bapakku dan mengenakan peci serta serban, dia menghentikan laju motornya, lalu menghampiri kami.


"Ada apa ini? Kenapa ini tersungkur dan berdarah? " tanya bapak-bapak yang tampaknya dia seorang ustaz.


Seketika aku merasa telah melihat wajah si bapak ini. Tapi di mana ya aku lupa lagi.


"Oh, kamu War?" kata bapak-bapak itu setelah melihat wajah Warya. Tampaknya dia mengenal Warya.


"I, i, ya Ustaz," ujar Kak Warya. Benar saja dia ustaz.


"Ayo bangun, lenapa kamu?' tutur pria ustaz itu sambil membantu Kak Warya bangkit dari tersungkur.


Kak Ganda masih berdiri dengan napas menahan emosi. Matanya masih terus menatap Kak Warya. Namun ketika ustaz itu balik menatap Kak Ganda, Kak Ganda memalingkan muka.


Boleh jadi ada rasa takut setelah menyiksa orang atau karena apa, aku tak tahu.


Yang pasti hatiku juga deg-degan karena ulah aku dan kakakku dilihat orang justru yang dikenali oleh Kak Warya. Ini pasti akan melibatkan orangtuanya. Aku malu jika hal ini diketahui oleh orangtua Kak Warya.


Ayah dan ibuku pun pastinya akan sangat marah jika mengetahui apa yang dilakukan aku dan Kak Ganda.


Akan tetapi, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Aku harapkan mereka memaklumi. Aku sedang begitu kangen pada kekasihku, Kak Warya, namun tiba-tiba melihat dia sedang berdekapan justru dengan teman sekampungku.


"Ada apa ini?" tanya ustaz itu kepada Kak Warya.


"Tidak ada apa-apa Ustaz Hamid," ujar Kak Warya.


"Masa iya tak ada apa-apa bibirmu sampai berdarah?" ujar ustaz yang ternyata namanya Hamid.


"Dia menghajar Kak Warya, aku pun dijambak," lirih Triana, tampaknya dia mewakili Kak Warya yang merasa sulit berterus terang kepada ustaz itu.


"Dia yang mulai! Yang membuat gara-gara, menyakiti adikku!" kata Kak Ganda tak kalah nyaring oleh omongan Triana.


"Siapa kalian?" tanya ustaz itu.

__ADS_1


Tiba-tiba aku ingat pada acara syukuran di rumah Kak Yati dan ustaz ini hadir memberikan ceramah, tetapi tidak tahu namanya. Ya aku baru ingat sekarang. Pantas saja kenal dengan Kak Warya.


"Ayo jawab, siapa kalian?" tanya ustaz itu kepada Kak Ganda dan aku yang belum juga memberikan jawaban karena aku kini sudah dikuasai rasa takut jika identitas kami berdua diketahuinya.


"A, a, aku dari Kampung Karangsari. Namaku Ganda, ini adikku Ira," akhirnya Kak Ganda mau berterus terang.


"Lalu kenapa memukuli Warya? Dia sekampung dengan Bapak. Makanya Bapak turun dari motor ketika tadi melihat dia tersungkur."


"O ya maaf saja kami salah paham," tutur Kak Ganda mencoba memberikan alasan.


"Salah paham bagaimana? Coba terangkan kronologinya bagaimana?" tanya Ustaz itu lalu mengajak kami duduk bersama saling berhadapan di batu lainnya yang kebetulan ada tiga buah batu besar.


Kak Ganda pun menerangkan kronologi kejadian sejak dari rumah dan bahkan ceritaku ketika diculik dan disekap serta hubungan orangtuaku, terutama ibuku dengan orangtua Kak Warya. Juga diceritakan sedikit tentang hubungan aku yang lebih spesial dengan Kak Warya.


"Siapa tak sakit hati melihat pacar adik saya selingkuh dengan teman adik saya juga. Saya emosi, makanya saya pukul dia!" ujar Kak Ganda sedikit melirik sinis ke Kak Warya yang kini tampak berwajah tenang.


"Oh...mengerti sekarang masalahnya. Lalu bagaimana menurutmu, War?" tanya Ustaz Hamid lagi.


Dan Kak Warya pun menerangkan katanya denganku hanya sebatas kenalan karena ibunya dan ibuku bersahabat dalam urusan bisnis. Tak bermaksud menjalin hubungan mendalam denganku.


Pedih rasanya hati ini mendengar ucapan Kak Warya seperi itu. Pantas saja selama ini sikapnya cuek meski aku pernah geer ketika diantarkan pulang semotor dengannya usai aku diculik dan disekap.


Mungkin aku takkan lagi merasakan bagaimana nikmatnya dibonceng berduaan di atas sepeda motor karena Kak Warya sudah terang-tarangan tak berharap bersatu denganku karena kini sudah ada Triana.


"Jadi mohon maaf saja Ira, Ganda, aku bukannya mengabaikan kalian, tetapi aku hanya merasakan hubunganku dengan Ira sebatas kenalan karena ibuku dan ibu kalian. Tak lebih," tegas Kak Warya.


Untuk ke sekian kalinya jantungku terasa copot. Sekujur tubuh terasa lemas. Ingin sekali mengajak Kak Ganda menghidupkan sepeda motor lalu segera pulang ke rumah atau sekalian menceburkan diriku ke Sungai Cilampit yang airnya selalu deras.


"O ya, Ustaz paham sekarang masalah kalian. Kalau boleh Bapak menasihati kalian ya sudahlah berdamai. Jodoh itu tidak bisa dipaksa-paksa, anakku," ujar Ustaz Hamid dengan lemah lembut.


"Orang tua kita selalu bilang bahwa jodoh, ajal, adalah rahasia Tuhan. Kita tidak bisa mengatur semau sendiri jika Tuhan tidak mengizinkan. Benar jodoh datang juga melalui ikhtiar. Tetapi ikhtiar manusia sebatas kemampuannya, tidak bisa main paksa, Kalaupun dipaksa alias dijodoh-jodohkan tetapi hati tidak mengizinkan, perjodohan dengan pemaksaan itu biasanya takkan lama," kata Ustaz Hamid lagi.


Kami menyimak dengan serius ucapan ustaz yang tentu saja merupakan nasihat yang bersumber dari ajaran agama, terutama tentang kekuasaan Ilahi dan keterbatasan kemampuan manusia.


"Oleh karena itu, anak-anakku, camkanlah oleh kalian. Bersabarlah dalam memilih jodoh, teruslah berikhtiar tetapi dengan cara yang baik-baik jangan dengan kekerasan yang notabene sebagai pemaksaan. Apa pun, jika diperoleh dengan pemaksaan pastilah akan melukai orang yang dipaksa."

__ADS_1


"Maaf, Dek. Siapa namanya?"


"Ira," kata Kak Ganda mewakiliku.


"Ya maaf Dek Ira. Mungkin Kak Warya bukan jodohmu, tetapi Allah SWT


memberkan jodohmu pria lain yang justru lebih baik daripada Warya. Dan kau Warya tak semestinya kau abaikan wanita yang tidak kau cintai, sampai-sampai kudengar kau lari pura-pura mengejar anjing. Hadapilah dengan sikap yang tetap baik, dan lebih baik lagi jika berterus terang sejak awal sehingga tidak berlarut-larut urusannya," ujar Ustaz Hamid.


Aku tertunduk. Batinku kini sudah terasa lebih adem disiram nasihat Ustaz Hamid. Seketika aku pun meneteskan air mata, air mata penyesalan mengapa harus mengorbankan harga diri sebagai wanita sekadar menjadi bucin.


"Nah, ayolah sekarang kalian bersalaman, anak-anakku," tutur Ustaz Hamid.


Kak Warya pun bangkit lalu mendekati Kak Ganda. Mereka sontak bersalaman lalu berdekapan dengan saling mengusap punggung keduanya.


Aku pun segera menghampiri Triana, lalu bersalaman dan berangkulan.


"Maafkan aku Tri," bisikku di telinga Triana.


"Iya sama-sama Ira, aku juga mohon dimaafkan," lirih Triana.


Kami pun melepaskan rangkulan lalu menyeka air mata yang sempat keluar karea teharu dan menyadari emua kejadian kesalahpahaan di antara kami.


"Terima kasih nasihatnya Pak Ustaz," kata Kak Ganda, kini dia menyalami Ustaz Hamid.


Aku pun sama mengucapkan terima kasih karena hati ini sudah merasa lebih tenang karena memahami apa yang disampaikan oleh Ustaz Hamid. Benar bahwa jodoh dan ajal; ada di Tangan Yang Maha kuasa.


Buktinya biarpun aku sampai mengejar-ngejar Kak Warya, sempat stres dan ingin bunuh diri ke Sungai Cilampit. ternyata Kak Warya sedikit pun tak ada rasa simpati dan empati kepadaku. Itu sebagai bukti bahwa aku bukan jodohnya.


Kemudian Kak Ganda mengambil helem, demikian pula aku bersiap-siap mengikuti kakakku, entah lansung pulang ke rumah atau ke kota kecamatan dahulu.


"Kalau mau main ke rumahku dulu, ayo Gan, Ir!" ajak Kak Warya.


Kedengarannya kini Kak Warya sepert saudaraku.


"Lain kali aja War, ini sudah sore mau pulang saja. Permisi semuanya," kata Kak Ganda lalu menghidupkan mesin motor, menunggangi. Aku pun duduk di belakangnya, kemudian melaju meninggalan Kak Warya, Triana, dan Ustaz Hamid. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2