
Ketika dia bekerja di pabrik selepas SMA hatiku berada antara bahagia dan sedih. Bahagia melihat kemandirian dan kesabarannya, sedih karena sejatinya Wiwi menginginkan melanjutkan kuliah.
Tiba saatnya aku beres kuliah dan menggondol ijazah lalu pulang ke desa, hubungan kami pun kian akrab. Dan aku pun berniat melamarnya dalam waktu dekat.
Kebetulan orangtuaku, terutama ibu mendesakku agar segera menikah. Ibaratnya gayung bersambut.
"Ya, War, kamu menikah aja. Ibu sudah tak sabar ingin segera menimang cucu. Bagaimana, apakah kamu sudah punya perempuan idaman?" tanya ibuku membuyarkan lamunanku terhadap kenangan dengan Wiwi ketika dia masih SMP dan seterusnya.
"Sudah punya perempuan idaman atau belum? Kalau belum ibu akan carikan," kata ibuku lagi.
"Udah, Bu," sahutku pelan, malu-malu, namun dengan suara jelas agar ibuku tak menyesali anak lelaki satu-satunya masih jomblo di usianya yang 25 tahun.
"Alhamdulllah.....kamu anak ibu," kata ibuku lalu merangkul dan mengusap-usap rambut kepalaku seperti pada anak kecil saja.
"Kok alhamdulillah sih Bu?" tanya ayahku dengan wajah sedikit masam.
"Ya alhamdulillah Pak. Anak kita sudah 25 tahun, sudah bergelar sarjana, saatnya dia menikah, berumah tangga, dan kita menimang cucu......Punya anak banyak ya War? Biar rumah kita ramai. Kamu anak nunggal...." kata ibuku membuat aku ingin tertawa dalam hati karena ibu menyuruh-nyuruh aku punya anak banyak.
"Bukan soal menikahnya, tapi kembali kepada perbincangan tadi Bu. Si Warya ini sepertinya tak punya tujuan hidup, santai, ongkang-ongkang kaki di rumah. Eh, mau nikah. Mau dikasih makan apa?" kata Bapakku membuat aku heran. Kok orang kaya sampai segitunya mengkhawatirkan anaknya tak bisa memberi makan istrinya.
"Bapak ini aneh-aneh saja. Bapak ini di desa terkenal orang kaya, sawah hektaran, kok membingungkan makan anak dan menantu?" kata ibu sepemikiran denganku.
"Emangnya kekayaan yang kita miliki jatuh dari langit, Bu? Itu hasil kerja keras kita, harus menguras tenaga dan pikiran, bukan dengan ongkang-ongkang kaki," kata ayahku lagi.
Kini aku baru sadar mengapa bapak berkata begitu, kesimpulanku bahwa bapak ingin aku hidup mandiri, bisa menafkahi istri dan anakku hasil jerih payah sendiri, tak sekadar menunggu warisan.
Terbaca olehku bapak tak beharap warisan yang banyak itu akan jatuh kepada anak dan cucunya yang tak bisa bekerja keras sehingga lambat laun hartanya bisa ludes dijual karena tak bisa mengelolanya. Masuk akal juga pemikiran bapak dan aku berjanji akan memperhatikannya.
"Kita sebagai orangtua harus percaya kepada Warya, Pak. Dia sudah dewasa, dia lulusan perguruan tinggi, dia sudah jadi sarjana. Ibu yakin Warya sudah mempunyai rencana matang dalam hidupnya. Iya kan War?" ujar ibuku lagi.
Aku mengangguk.
"Baikah kalau begitu, coba sekarang katakan, siapa perempuan idaman itu?" kata ibu dengan penuh penekanan.
Aku termenung sejenak, bingung mengatakannya. Apakah Wiwi bakal diterima oleh ibu dan ayahku? Bagaimana kalau ditolak dengan alasan Wiwi bukan keluarga anak orang mampu walaupun di mata masyarakat Pak Muslih dan Bu Ratih, orangtua Wiwi adalah orang baik-baik, pekerja keras.
Agar persoalanku tak belarut-larut dan tak ingin mengecewakan orangtuaku maka aku pun segera mengatakannya.
"Perempuan idamanku, Wiwi putri Pak Muslih dan Bu Ratih, Bu, Pak," ujarku dengan nada suara pelan terbawa dagdigdug jantung yang gak keruan.
"Wiwi?" kedua orangtuaku tampak terkejut.
__ADS_1
"Iya," jawabku, tegas.
"Apa kamu tak punya kenalan sama sekali dengan cewek kampus biar sama-sama lulusan perguruan tinggi?" tanya ibu.
Aku geleng kepala.
"Takkan menyesal punya bini dari kalangan orang biasa?"
Aku geleng kepala. Bapakku cuma menyimak dan bengong, entah apa yang tengah dipikirkannya.
"Takkan menyesal nanti jadi pembicaraan orang-orang karena orangtuamu yang boleh dikatakan terpandang di desa ini, namun punya menantu anak orang biasa-biasa saja?"
Lagi, aku geleng kepala.
"Ya sudah. Ibu setuju. Semoga kalian berjodoh," ujar ibuku membuat hatiku sangat bahagia.
"Benarkah Bu?" tanyaku
"Ya iyalah. Yang penting kamu menjadi suami yang bertanggung jawab, sayang istri, sayang anak. Pak, antar Warya ke rumah Pak Muslih, pinang perempuan idaman anak kita......." kata ibu kepada bapak.
Tampaknya benar-benar ibu sudah kebelet ingin menimang cucu. Bapak bergeming. Pandangannya lurus ke depan, tak menoleh kepada ibu yang mengajaknya bicara demikian pula kepadaku. Entah apa yang ada dalam benaknya.
"Pak!!!! Kok diam???" tanya ibu sembari menepuk bahu ayah.
Aku pun gembira. Kini saatnya harapanku untuk segera menikahi Wiwi yang kata ibu perempuan idaman dan menurutku pun demikian, akan segera terwujud.
Rencanaku, kalau sudah menikah, akan menyuruh Wiwi berhenti bekerja, dan akan menyuruhnya meneruskan pendidikan untuk mengejar cia-citanya seperti yang telah diutarakannya saat dia masih SMP.
Itu pun kalau dia yang meminta. Kalaupun tidak dan akan fokus menjadi ibu rumah tangga, itu juga lebih baik. Toh di era kini untuk menuntut ilmu tak mesti di lembaga pendidikan formal, banyak cara untuk menutut ilmu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terutama internet.
Akan tetapi, harapan tinggal harapan, rencana yang sudah matang untuk meminang Wiwi yang telah disetujui orangtuaku tiba-tiba terganjal oleh ulah si Darpin cees.
Ketika saat itu aku berolah raga di lapangan desa pada hari Minggu. Aku berolahraga hanya menelusuri jalan raya desa sambil berlari-lari kecil. Sesampainya di jalan tak jauh dari lapangan, aku melihat 3 orang wanita yang telah aku ketahui semuanya, yaitu Wiwi, Yati, dan Imas,
Aku pun menghampiri ketiganya ketika mereka sedang jajan bakso. Usai jajan bakso dan aku yang membayar ketiganya, kami pun berniat sama-sama pulang
Namun tiba-tiba datang si Darpin dan membikin gara-gara mengganggu kami.
Ternyata si Darpin masih ada rasa kepada Wiwi, bahkan dia mengancam selain menghina Wiwi dan keluarganya.
Saat itu aku mulai waswas hingga akhirnya terjadilah musibah yang benar-benar membuat aku sesak dada dan sakit hati yang amat sangat.
__ADS_1
Wiwi, kekasihku yang akan dipinang dan dinikahi itu dinodai si Darpin cees hingga tewas dan jenazahnya ditemukan di dalam sumur tua.
Aku benar-benar terpukul atas ulah si Darpin. Aku harus membalas perlakuan mereka. Tak rela hati ini jika belum membalas dendam dengan tuntas atas perbuatan mereka.
Orangtuaku pun ikut prihatin dengan kejadian itu. Dan ketika aku menceritakan ancaman Kades Danu dan bahkan Pak Muslih dipaksa membayar utang Rp 5 juta, orangtuaku membantunya dan mengikhlaskan uang itu tak perlu dikembalikan walaupun kakak Wiwi, Kak Rama, pernah mengatakan kapan-kapan uang itu akan dikembalikan.
Orangtuaku pun bersedia menerima Pak Muslih untuk menggarap ladang dan sawah ayahku jika dia berkenan karena tak lagi diterima bekerja di Kades Danu.
Aku pun pernah mendengar ceritera Kak Rama bahwa Kades Danu dan Mang Tanu datang ke rumahnya untuk mengajak damai atas kasus yang menjerat anaknya dan membebaskan utangnya yang Rp 5 juta. Namun Pak Muslih dan Kak Rama tak maladeni sehingga uang itu tetap dikembalikan ke Kades Danu.
Aku menyambut baik keputusan Pak Muslih dan Kak Rama seperti itu. Berdamai dengan orang seperti Kades Danu dan Si Darpin akan menambah korban kejahatan lainnya.
Setelah kepergian kekasihku dengan sangat tragis, batinku sungguh kalut dan sangat sakit. Aku selalu teringat kenangan-kenangan indah bersama Wiwi mulai masa dia SMP hingga pada hari Minggu kami bersenda gurau di tukang bakso.
Itulah pertemuan terakhir aku dengan Wiwi hingga aku menerima telepon dari Kak Rama tentang penculikannya yang saat itu masih menduga-duga bahwa pelakunya adalah si Darpin karena ketika dia bikin gara-gara dekat tukang bakso dia mangancam kami.
Aku hanya bisa berdoa semoga kekasihku tenteram dan damai di alam sana, diterima iman Islamnya, diampuni segala kesalahan-kesalahannya. Yang pasti aku berjanji takkan mengkhianati cintanya, aku akan menutup hati untuk wanita lain, apalagi kekasihhku meninggal dicelekai orang.
Akan tetapi, aku sangat terkejut ketika beberapa malam ini aku bermimpi kedatangan Wiwi yang seperti di alam kenyataan saja.
Dia datang dengan busana serba putih, rona mukanya bercahaya, berseri-seri, sepertinya dia sangat bahagia bersua denganku. Aku sendiri jelas sangat bahagia bisa bersua lagi dengannya meski hanya di alam maya, alam impian.
Bagiku Allah SWT sungguh adil menciptakan dunia maya atau impian bagi setiap manusia sehingga dengan orang yang telah berpulang ke alam keabadian yang notabene alam gaib masih diperkenankannya bersua seperti di alam kenyataan.
Ya, seperti aku saat kedatangan Wiwi, seolah-olah benar di alam nyata, bersitatap, berbicara, dan tersenyum.
"Alhamdulillah ya Allah dipertemukan lagi meski hanya di alam impian," gumamku.
Saat dia bertanya keadaanku aku jawab baik-aik saja. Dia tersenyum, senyuman yang penah kulihat ketika kami menanam benih-benih cinta dahulu.
Hingga pembicaraan menyangkut hubungan kisah-kasih kami pun dibicarakan dalam alam mimpi itu. Aku katakan padanya bahwa aku setia pada janji, takkan berpaling kepada wanita lain sebagaimana diikrarkan bersamanya.
Namun dia menasihatiku agar tidak berpaku pada janji itu karena katanya kami sudah berbeda alam. Dia sudah berada di alam keabadian, sedangkan aku masih berada di alam fana.
"Kita sudah berbeda alam Kak. Kakak harus membuka hati bagi wanita lain. Jangan lagi berharap kepadaku yang sudah pindah alam. Ayolah Kak, jangan menyiksa diri!" nasihatnya membuat aku terharu.
"Tidak sayang, Kakak tidak akan mengkhianati cinta kita. Sekali Kakak mencintai kamu, untuk selama-lamanya. Bukan hanya di dunia, tapi akan sampai di akhirat, apalagi Kakak yakin kamu akan ditempatkan di surgaNya karena kamu mati dalam ketidakberdayaan, dalam nafsu setan laknatullah yang kelak kamu akan melihat para bajingan itu menjerit-jerit di neraka jahanam seperti jeritanmu ketika dinodai mereka...." kataku panjang lebar.
"Iya Kak, aku mengerti. Tapi Kakak pun harus menerima kenyataan masih berada di alam nyata, alam dunia, ikutilah sunatullah. Menikah, mempunyai keturunan, dan mereguk kebahagiaan bersama wanita selain aku," katanya dengan penuh kata-kata bijak namun sekaligus membuat dadaku sesak.
"Begitu aja ya Kak, aku pulang. Jaga diri baik-baik, titip salam untuk Bapak, Ibu, Kak Rama, adikku Wati, bapak dan ibu kakak.............aku pulang Kak........"
__ADS_1
Dia pun pergi meninggalkan aku yang terpana. Pandanganku terus ke arahnya yang makin jauh dan tak menapak lagi di bumi, melayang ke alam keabadian meninggalkan luka di hatiku.
Seketika aku berteriak. (Bersambung)